BR#13

1030 Kata
Nancy menghela nafas panjang, setelah perkumpulan tadi rasanya masih aja ada yang berbeda, tidak sama seperti dulu. “Kenapa Nancy? Daritadi diem mulu terus ngehela nafas? Masih kefikiran sama ucapan Rose tadi? Kan emang bener kita masih cape, mungkin nanti kita bakalan di suruh buat pack-pack yang lain,” ucap Marcela yang sekarang duduk di samping Nancy di taman belakang rumah Rose. “Ini beda gak sih Cela, maksud aku ya kita sibuk bukan buat nolongin pack tapi nyari anggota yang pada ilang gak tentu tempat.”                 Marcela sekarang faham apa yang ada di pemikiran Nancy, khawatir lebih tepatnya dia, bukan karena gak bisa bebas bergerak tapi karena takut untuk kehilangan teman berjuang bersama. Marcela menepuk pundak Nancy, mencoba untuk menguatkan. “Rose juga belum mau jadi ketua lagi Cela, dia cuman inget golden guide tanpa mau untuk jadi ketua karena ngerasa gagal... huft apa lagi itu.” Nancy langsung menunduk sedih, perjuangan untuk menyatukan golden guide masih terasa kelabu. Beberapa waktu yang lalu...                 Setelah Rose berbicara mengenai tugas yang akan mereka lakukan beberapa waktu lagi, lebih tepatnya untuk Rose, Joan, dan Ken. “Wis... emang deh ketua paling the best itu ya Rose..” ucap Nancy dengan reflek, membuat Rose menggelengkan kepala. “Gak Nancy, aku bukan ketua kalian, aku cuman temen kalian di golden guide, aku bukan orang yang pantes buat jadi ketua kalian. Kalian dalam bahaya, itu semua karena aku kan?” irih Rose sembari melangkah kakinya ke ruangannya sendiri meninggalkan tanda tanya besar bagi Nancy. Joan langsung mendekat ke arah Nancy, menepuk pundak Nancy membuat fokus Nancy teralihkan sepunuhkan kepada Joan. “Kita gak bisa langsung maksa Rose untuk jadi ketua lagi, kita kasih dia waktu untuk berfikir, secara gak langsung juga dia udah jadi ketua dengan sifat serba nyuruhnya itu, jadi perlahan ya Nancy,” ucap Joan dengan pelan, Nancy langsung menganggukan kepalanya. “Kenapa kayak gini, maksud aku Rose inget ada golde guide tapi..” “Panjang ceritanya sih, tapi waktu kamu berangkat jemput mereka berdua,” Joan melirik Nich dan Marcela, “Rose itu manggil aku, kata Rose, dia pergi ke tempat yang ada di mimpinya, aku sih gak tau dimana, begitu juga sama Ken. Katanya tempat itu yang tau cuman Rose sama Ana, di sana ada beberapa bukti tentang golden guide, terutama waktu kita nyari tau tentang pengkhianat itu, makanya Rose minta ketemu sama aku, gak berselang lama Rose marah-marah karena kita gak ngasih tau kalau Rose itu ketua golden guide, dia ngerasa gak berguna untuk kita.”                 Joan menghela nafas panjang, kembali mengingat waktu itu ada perasaan bahagia yang gak bisa dijelaskan dengan kata-kata tapi juga khawatir, bagaimanapun kondisi Rose itu gak bisa dibilang stabil, terlalu meluap-luap. “Terus? Masa langsung inget gitu aja? Gak mungkin lah,” selak Marcela yang diangguki oleh Ken dan Joan. “Emang gak langsung inget, dia harus dibantu untuk mengingat,” tambah Ken, “setelah ketemu sama Joan, Rose nyari tau lagi tentang golden guide selama ini gimana, berapa anggotanya dan gimana mereka bisa sampe di titik menghilang kayak gini. Awalnya Rose gak terima, kadang suka tiba-tiba nangis sendiri, kalian pasti tau kalau suasana perasaan Rose apa yang bakal terjadi sama sekitarnya?” Ken mengangkat bahu acuh, males untuk menjelaskan secara mendetail bagaimana kondisi dan suasana waktu itu, terlalu mencekam rasanya. Mau begini salah karena bikin Rose nyalahin dirinya, tapi kalau begitu juga salah karena Rose ngerasa gak dihargain. “Huft... jadi sekarang kita harus gimana?” tanya Nich yang sedari tadi hanya mendengarkan. Joan menyurai rambutnya, “Mau gak mau kita turutin dulu kemauan Rose, Rose gak bakal sebodoh itu ninggalin kita tanpa ada arahan, jangan terlalu maksain, memorinya udah banyak yang hilang, ingat waktu kita akhirnya kebawa arus sungai? Buat bikin kita gak dalam bahaya, Rose ngobanin dirinya sendiri, ngeluarin semua kemampuannya dan pada akhirnya dia yang jadi korban.” “Oke... aku ngerti, kalian baik-baik saat berangkat nanti, jangan sampai ketauan pergerakan kaliannya.”                 Joan mengangguk begitu pula Ken, mereka berdua mulai menyiapkan diri untuk melakukan perjalanan nanti. Sedangkan Nich, Marcela, dan Nancy hanya bisa menghela nafas dan mulai berunding kembali. “Aku gak bisa diem aja saat yang lain dalam bahaya kayak gini!!” ucap Nancy pertama kali. “Aku juga sama, terlalu berisiko kalau kita terus berpencar.” sahut Marcela dengan berapi-api. “Aku tau kalian khawatir, tapi kita harus tau situasi yang kita hadapin sekarang kayak gimana, gak banyak yang bisa kita lakukan sekarang. Kita harus bisa liat bagaimana pergerakan lawan, jadi gak terlalu nguras energi kita. Paling-paling kita hanya bisa melindungi pack-pack yang ada di sekitar,” jelas Nich. Nancy berdehem, “Musuh hanya akan bergerak kalau ada cahaya matahari, mereka terlalu lemah kalau bergerak tanpa ada cahaya, dan utnuk pack-pack yang bisa kita selamatin untuk sekarang cuman ada 4, itupun pack yang sangat lemah, jadi kita harus bertiga untuk bisa membantunya, gak bisa kalau sendiri, terlalu berisiko.” “Ya udah.. sekarang kita istirahat, pulihin dulu tenaga kita, mereka bakal berangkat nanti sore jadi kita ada waktu untuk beristirahat dengan cukup.” Tutup Marcela untuk diskusi mereka.                 Marcela berjalan ke arah kamar yang tadi ia tempati, menyisakan Nich dan Nancy, kedua insan itu hanya bisa berdiam sebelum Nich memilih untuk duduk tepat di samping Nancy. “Jangan terlalu difikirkan, gak baik buat kesehatan kamu Cy.” Nich mengelus rambut Nancy sedangkan Nancy meletakan kepalanya di pundak Nich, mencoba untuk melepaskan bebannya saat ini. “Aku takut Nich... takut kalau mereka kenapa-napa, apalagi Rose, terlalu berbahaya.. dia yang menjadi incaran dari musuh.” “Aku tau Nancy.. aku tau.. tapi kamu gak bisa selamanya ngorbanin diri kamu, bisa-bisa kamu yang tertangkap, Rose udah bener ngambil keputusan itu, jadi jangan terlalu khawatir.” “Sekarang kamu istirahat dulu, nanti setelah mereka sudah berangkat kita bisa diskusikan pack mana yang harus kita lindungin lebih dulu...” Nancy mengangguk dengan penjelasan Nich.                 Nich memutuskan untuk pergi, memberikan waktu untuk Nancy sendiri. Tidak berselang lama Rose datang membawa beberapa tangkai Rose yang masih segar, Rose melihat Nancy yang menampikan wajah murungnya, membuat Rose memutuskan untuk singgah sesaat dan menemani Nancy untuk beberapa waktu sebelum bersiap kembali. “Nancy maaf tadi aku.. um.. kamu tau kan, ah sudahlah.” “Aku mengerti Rose, aku gak mempermasalahkannya, aku hanya... ya.. kahwatir, terutama kamu Rose.” Nancy menunduk saat mengucapkan kata-kata terakhirnya, tidak bisa untuk menunjukan betapa dia bahagia bersama mereka dan khawatir dengan kondisi mereka saat ini. “Aku tau..” Rose tersenyum ke arah Nancy dan untuk pertama kali Nancy bisa melihat betapa senyum Rose saat indah, “aku beruntung bisa ketemu sama sahabat yang luar biasa seperti kamu Nancy.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN