Sore hari...
Mentari masih terlihat di ujung barat, memperlihatkan keindahan sinarnya, dan itu yang sedang dilakukan oleh Marcela dan Nancy yang sedang duduk dengan meminum secangkir teh herbal di taman Rose, menunggu dua sosok yang akan segera berangkat.
Rose melihat Nancy dan Marcela dari dalam kamarnya, ia akan berangkat saat mentari sudah terbenam dengan sempurna.
‘Kamu gak ikut kayak Marcela sama Nancy? Ayo Rose ke sana,’ suara Lucy terdengar.
“Iya serigala bawel..”
Rose berjalan ke arah taman sembari membawa beberapa cemilan untuk mereka, Nancy yang pertama kali sadar kedatangan Rose, memberikan tempat untuk Rose duduk.
“Joan sama Ken belum keluar?” Marcela menggeleng.
“Gak tau tuh, cowok kok lama.” Ucap Nancy.
“Kayaknya masih ritual biar gak kebakar mentari kalau keluar dari perisai nanti.”
Tidak berselang lama, dua sosok yang tadi diperbincangkan mereka datang dengan membawa bekal di perjalanan nanti. Rose langsung bangkit dan menghampiri mereka.
“Rose kita pamit..” ucap Joan dengan senyum tipis.
“Nancy... Marcela... kita pamit dulu!” teriak Ken, “salam buat Nich yang kebo ya!”
Nancy tertawa mendengar ucapan Ken dan mengangguk, “Laksanakan rese!”
“Kalian berdua hati-hati..” Rose mengeluarkan dua botol dari sakunya dan menyerahkannya kepada Joan dan Ken, “bawa ini untuk jaga-jaga selama perjalanan, kita gak tau apa yang bakal kita hadapin nanti.”
“Oke Rose, kamu juga hati-hati nanti, jangan lengah..” ucap Ken menepuk pundak Rose.
Joan mengacak rambut Rose, “Jangan asal keluarin emosi, kamu gak tau apa yang bakal terjadi di lingkungan sekitar kamu nanti.”
Rose mengangguk dan memeluk satu persatu Joan dan Ken, ada perasaan khawatir melepas dua sahabatnya ini, bagaimanapun juga mereka berarti untuk Rose.
“Jangan khawatirin kita Rose..” ucap Ken saat Rose memeluknya.
“Siapa yang khawatir, aku cuman takut kalian ngebocorin keberadaan golden guide,” elak Rose sambil membuang muka.
“Iya deh iya yang gak mau ngaku mah beda.”
Ken dan Joan melambaikan tangan kepada Nancy dan Marcela yang ikut melambaikan tangan untuk mereka, harapan mereka, Joan dan Ken bisa segera kembali dan anggota golden guide bisa utuh seperti sedia kala.
“Rose sini kita ngobrol-ngobrol dulu..” panggil Marcela saat melihat Rose yang berjalan masuk ke dalam rumah, sedangkan Rose menghentikan langkahnya dan memilih untuk ikut bersama Nancy dan Marcela.
“Rose rencananya kita mau bantu 4 pack yang ada di sekitar sini,” ucap Nancy membuat kening Rose mengerut bingung.
“Jadi.. selama kalian bertiga nanti pergi, aku, Marcela sama Nich mau nyoba bantu-bantu pack waktu malam buat ngelindungin diri, bagaimanapun itu udah tugas kita.” Jelas Marcela yang diangguki Nancy.
“Kalian kan baru datang,” ucap Rose tidak terima.
“Ya elah Rose... kita udah istirahat dari kapan coba, aku udah gak sabar buat keliling pack lagi kalau malam.” Sungut Nancy dengan sebal.
“Apalagi aku, udah lama gak bantuin pack, kan bakalan bosen kalau cuman diem-diem anteng aja, sedangkan di luar banyak yang butuh sama kita.”
Rose menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan, udah kalah telak ini, dua lawan satu, ya jelas Rose bakalan kalah.
“Tapi kalian hati-hati... jangan saling pisah, bareng-bareng aja.” Ucap Rose mengalah.
“Siap laksanakan...” ucap Nancy dan Marcela bersamaan.
“Ya udah, aku mau siap-siap dulu, kalian juga.”
Rose berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Nancy dan Marcela yang sekarang menghela nafas panjang, rasanya deg degan buat minta izin kayak tadi.
“Jadi sekarang apa yang harus kita siapin?” tanya Marcela saat Rose sudah masuk ke dalam rumah.
“Cela kamu transfer energi dulu buat bantu aku nerawang pack mana yang sekarang bener-bener butuh bantuan kita.”
Marcela mengangguk dan menggenggam lengan Nancy, menyalurkan energinya. Sedangkan Nancy mulai memfokuskan dirinya melihat pack yang berada di sekeliling perisai, melihat kondisi setiap pack yang memprihatinkan. Sampai...
“uhuk.. uhuk..” Nancy terbatuk dengan darah yang keluar dari mulutnya.
“Ya ampun Nancy!!” itu teriakan Nich yang sedang berjalan ke arah mereka.
“Nancy!! Nancy!!” teriakan Marcela membuat suasana menjadi mencekam.
“Aku gak papa..” lirih Nancy saat membuka matanya.
Nich menggelengkan kepalanya dan menarik tubuh Nancy untuk ia bawa ke dalam rumah, Marcela mengekori Nich dari belakang, bagaimanapun juga dia terlibat dari permasalahan ini. Nich meletakan Nancy di kamarnya, menghapus peluh di dahi Nancy.
“Tadi kenapa Cela?” tanya Nich saat Marcela duduk di sampingnya.
“Tadi dia berusaha buat liat pack di sekitar perisai, buat nanti kita datangin lebih dulu, tapi tau-tau Nancy malah droup kayak gitu, aku gak tau harus gimana.”
Nich menghela nafas, “Tolong bawain salah satu obat di dapur ya Cel.”
Marcela mengangguk dan berjalan ke arah dapur, membiarkan Nich berdua bersama Nancy. Nancy menatap ke arah Nich dengan sendu, ada sesuatu yang sudah ia liat tadi, dan itu yang membuatnya menjadi seperti ini.
“Ada apa? Kenapa kamu kayak gini hm?”
“Dia.. dia ada di salah satu pack Nich, aku gak tau lagi saat dia tanpa sengaja ngeliat bayangan aku. Aku kaget..” ucap Nancy dengan nafas tersenggal.
“Serius cuman itu?” Nancy menggeleng.
“Dia ngelempar panah, panah bayang. Makanya aku batuk berdarah, rasanya sakit..”
Nich langsung mengelus rambut Nancy, sedikit memberikan perasaan tenang, Nancy masih shock dengan kejadian tadi. Tapi ini berarti mereka dalam ancaman!
“Dia bakal tau kita di sini?” tanya Nich yang mendapatkan gelengan kepala.
“Gak bakal bisa, aku pake bayangan tanpa jejak. Aroma bayangannya juga gak bakal tercium sama dia, kita masih aman.”
“Nancy minum ini dulu,” ucap Marcela membawakan beberapa obat-obatan herbal.
“Em... maaf yang tadi ya.”
“Gak papa Cela, itu bukan salah kamu kok.” Nancy menepuk pundak Marcela.
“Tapi kan aku..”
“Udah, aku mau istirahat dulu sebelum kita bikin rencana buat nanti malam. Makasih ya obatnya.”
“Iya sama-sama.”
Nich menarik lengan Marcela untuk membiarkan Nancy beristirahat, membawanya ke ruang tamu. Sedangkan di ruang tamu Rose sudah duduk dengan beberapa kertas usang yang tergeletak di atas meja.
“Dia terkena panah bayang..” ucap Rose tanpa menatap dua insan yang sekarang duduk menghadap Rose.
“Iya Rose,” jawab Nich.
“Kalian gak perlu khawatir, ini tempat aman untuk kalian.”
“Oh iya, ini ada beberapa kertas yang bisa bantu kalian untuk nanti malam.”
“Kertas apaan Rose?” tanya Marcela yang mengambil kertas-kertas usang itu.
“Di situ ada beberapa poin yang harus kalian perhatikan sebelum nanti berangkat. Ada beberapa pack yang terlalu sensitif saat kedatangan orang baru,” jelas Rose.
“Maksudnya Rose?” tanya Nich yang mengambil salah satu kertas di tangan Marcela.
“Lebih lanjutnya kalian bisa baca sendiri. Aku gak bisa lama-lama di sini, aku harus berangkat.”