Getta & Hatinya

1591 Kata
Argetta Bian Chandra Dwi Mikail, atau yang di panggil dengan sebutan Anak Onta oleh Gita, wanita yang dulu sangat dicintainya dengan sepenuh hati. Getta nama panggilan dari teman-temannya, atau Bian nama panggilan dari Amara. Mengingat nama Amara membuat Getta tersenyum miring. Wanita yang dulu ia harapkan sebagai pengobat patah hatinya terhadap Gita, ternyata wanita yang juga menorehkan luka yang cukup dalam pada hatinya yang rapuh. Selama tujuh bulan menjalin hubungan dengan gadis berparas cantik berotak cerdas itu, Getta tidak pernah menyangka, bahwa dirinya hanya dijadikan sebagai pelindung dari semua rencana yang telah di susunnya untuk rumah tangga saudari kembarnya sendiri. Getta kecewa, karena Getta menyimpan harapan pada hubungannya kala itu. Getta bahkan berencana untuk segera melamarnya, karena Getta tidak ingin berpacaran terlalu lama. Karena pacaran adalah sumber dosa menurutnya yang masih buta akan agama. Namun, harapan tinggallah harapan, jangankan untuk melamar, karena bahkan gadis itu menambah rasa patah hatinya. Bahkan Getta merasa marah dan sangat kecewa akan sikap Amara. Getta tidak bisa marah terhadap Gita, ketika gadis itu memutuskan untuk menikah dengan seorang pria bernama Hanif As-Syukur, seorang karyawan di tempat kerja yang sama dengannya, karena Gita bukanlah kekasihnya. Gita hanya seorang wanita yang selalu Getta dan Anak Onta lainnya lindungi, sayangi dengan sepenuh hati. Gita tidak bisa memilih diantara mereka berenam. Karena mereka semua sama di mata Gita. Tetapi dengan Amara? Wajar jika Getta marah, karena Amara adalah kekasihnya, orang yang memiliki hubungan spesial dengannya walaupun masih dalam tahap belajar mencintai. Getta sadar, bahwa mereka berdua sama-sama dalam keadaan terluka hatinya, maka dari itu Getta berani mencoba. Karena Getta berpikir akan lebih mudah memahami. Getta berpikir mereka sama, jadi apa yang Getta rasakan pasti dirasakan oleh Amara juga. Hanya saja Getta melupakan sesuatu, Getta lupa jika sumber patah hati Amara adalah kakaknya sendiri, mereka sering bertemu. Dan hal itu yang membuat luka di hati Amara tidak pernah kering dan semakin bernanah walaupun tanpa terlihat. Sedangkan dirinya, bagaikan pengecut yang langsung pergi karena alasan tugas dari bos-nya, padahal sebenarnya Getta lebih menghindari Gita dan kehidupan barunya. "Kenapa, Mara? Kenapa waktu itu kamu harus melakukan hal itu?" tanya Getta pada foto wanita cantik yang sedang dilihatnya dari galeri handphone miliknya. Foto Gita tetap menjadi wallpaper di handphonenya, sedangkan foto Amara tersimpan rapi di dalam galeri nya. Perasaan Getta yang tidak pernah berubah pada Gita lah yang membuat semuanya menjadi kacau. Getta terlalu mencintai gadis kecil yang telah memporak-porandakan hatinya itu. Sehingga sangat sulit rasanya untuk lepas dari bayang-bayang Gita, bahkan setelah empat tahun lamanya Gita dipersunting oleh Hanif. Namun, satu tahun terakhir ini perasaan rindu terhadap Amara selalu menghantui setiap malamnya, membuat Getta sering kali mendesah frustasi akan kisah cintanya yang tidak pernah beruntung. Sebenarnya mereka sama, disetiap malamnya, mereka selalu memandang foto satu sama lain. Foto yang mereka ambil disaat berlibur ke salah satu pantai yang ada di daerah Banten. Tidak berbeda dengan Amara, Getta pun begitu merindukan gadis cantik dan ceria itu. Getta merindukan kemanjaan dan keceriaannya. Getta selalu bahagia bila berada disampingnya, Getta selalu dibuat tertawa dengan segala tingkahnya. Setelan pertemuan terakhir mereka, Getta tidak pernah lagi bertemu dengannya. Amara pun tidak pernah menghubunginya, Amara mungkin sudah lupa terhadap dirinya, itulah pikiran Getta. Entah gadis itu berhasil atau tidak dengan semua rencananya, apakah gadis itu sudah menikah atau belum, Getta tidak pernah mengetahuinya. Karena setelah pertemuan terakhir mereka, Getta tidak pernah sekalipun berusaha untuk mencari tahu segala hal tentang Amara. Getta menutup hatinya untuk siapapun dan entah sampai kapan. Getta hanya berharap Amara yang akan menghubunginya. Walaupun rasa rindu begitu menggerogoti jiwanya, tetapi Getta selalu berusaha untuk menahannya. Karena Getta takut, jika ia menghubungi Amara terlebih dahulu, hal itu akan menggangu Amara. Getta takut jika Amara telah bahagia dengan pasangannya. Karena yang Getta tahu, jika sudah mempunyai pasangan apalagi sudah menikah, harus saling menjaga kepercayaan satu sama lain. Seperti Gita, yang membatasi komunikasi para anak Onta nya, Gita hanya mengijinkan mereka berkomunikasi dengannya melalui sebuah pesan email, buka menggunakan aplikasi yang lebih simpel seperti w******p ataupun telepon biasa. Hal itu dilakukan untuk menjaga perasaan suaminya, padahal suaminya sendiri telah mengijinkan Gita untuk tetap berkomunikasi secara bebas dengan para anak Onta nya. Itulah yang diterapkan oleh Getta untuk dirinya sendiri. Getta akan membatasi hubungannya dengan lawan jenis, apabila ia tidak mengetahui dengan jelas statusnya. Untuk saat ini, biarlah hanya lewat doa, Getta menyalurkan rasa rindunya terhadap sang mantan. Semoga setiap untaian doa baik yang ia pinta pada Tuhan-nya, akan dikabulkan pada orang yang ia rindukan sosoknya. "Ngelamun aja, woy!" Tania, adik sepupu Andra, yang artinya sepupu Getta juga yang sangat manja terhadapnya. Tania memang lebih dekat dan lebih manja padanya. Tania merupakan gadis cantik dengan perilaku yang selalu membuat Getta menggelengkan kepalanya. Tania begitu over protektif pada Getta. Tania akan berakting menjadi kekasih Getta jika sedang berada di tempat-tempat tertentu. Tania sudah memiliki tunangan yang sangat dicintainya dan mencintainya, dan tunangannya sangat tahu akan kelakuan Tania. Karena Antony tunangannya adalah manager keuangan di perusahaan Andra, yang otomatis adalah bawahan dari Getta. Getta menjabat sebagai direktur utama di Angkasa Groups. Tania yang mengetahui semua perjalanan cinta seorang Getta, kakak sepupunya itu terlalu drama dalam urusan cinta. Entah apa kurang kakak sepupunya yang ia panggil dengan sebutan Gentong atau Getget, panggilan yang sama denga Gita pada Getta. Getta nyaris sempurna sebagai seorang laki-laki. Getta tampan, sopan, taat beribadah, berakhlak baik, jangan lupakan Getta juga seorang yang berdompet tebal. Tania sering menyebut uang di dalam kartu Getta sudah tidak berseri lagi, nominalnya sampai berantakan karena saking banyaknya. Hal yang selalu membuat Getta menjadi ATM berjalan baginya. Padahal jika dibandingkan dengan Andra, Getta belum ada apa-apanya. "Kaget, Njir!" Tania hanya menunjukkan deretan gigi putihnya mendengar bentakan Getta. "Lagi jadi manusia ngelamun mulu hidup lu," balas Tania santai. "Ngapain lu?" tanya Getta, karena Tania pasti punya tujuan jika menghampirinya di jam sibuk seperti ini. "Gue mau jalan-jalan gak ada temennya, Kak." Dengan nada manja seperti biasanya, Tania mengungkapkan tujuannya kedatangannya. "Lah, terus harus gue gitu yang nemenin?" tanya Getta heran. "Salah lu sendiri cowok gue lu kasih kerjaan segitu banyaknya," sewotnya pada Getta. "Itu emang kerjaan dia, Koplak!" balas Getta tidak terima. "Ya gak perlu deadline juga, 'kan?" tanyanya dengan kesal. "Lu kalo mau protes sama si Onta, jangan sama gue. Dia yang minta," balas Getta santai. "Lagian ya, ini juga bagus buat target dia, karena yang gue tau, tahun depan Direktur keuangan bakalan pensiun. Siapa tau aja calon laki lu di promosiin 'kan kalo kinerjanya bagus." Tania tampak berpikir dan kemudian berkata, "Tapi jujur ya, gue selalu takut kalo jabatan dia makin tinggi. Karena cowok itu 'kan kalo jabatannya udah tinggi suka belagu dan banyak gaya. Gue takut kalo dia makin kaya, yang ada main cewek lagi nantinya." Dalam pikiran Tania memang seperti itu, Tania membenarkan sebutan untuk laki-laki antara HARTA TAHTA DAN WANITA, karena lelaki akan berubah jika sudah memiliki harta tahta, dan akan menambahkan wanita di akhirnya. "Si Bego! Mindset tuh yang bener, doa tuh yang baik-baik. Buang pikiran buruk lu. Lu pengen pernikahan mewah ala Disneyland, kalo laki lu cuma manager ya ketinggian. Bisa terwujud emang, cuma ntarnya lu kudu ngirit pake banget buat kehidupan sehari-hari lu." Tania berpikir sejenak. "Kan ada lu nantinya yang bakalan jadi atm berjalan gue kayak biasanya," jawab Tania enteng. "Dih, sorry ya. Ogah banget gue, ini aja setiap duit gue yang keluar udah gue itung. Nanti disaat lu nikah, bakal gue kasih catetannya sama laki lu buat bayar utang." Tania melotot mendengar perkataan Getta. "Anjir! Madesu sekali hidup lu," seru Tania yang tidak percaya. "Enak aja ngatain gue madesu, lu yang madesu. Penganggur tapi gaya nya selangit," dengus Getta. "Duit lu sayang banget Kak gak kepake gitu. Jadi sebagai alternatifnya, gue bantu abisin. Itung-itung lu sedekah buat gue," jawab Tania. "Mendingan gue sedekah sama anak yatim, ketauan gede pahalanya." Dan begitulah mereka jika bertemu, akan selalu terjadi perdebatan panjang kali lebar, yang entah siapa nanti yang akan menang. Karena tidak ada yang mau mengalah. Tania akan mengolok Getta terus menerus. Getta pun akan melakukan hal yang sama. Tania akan berhenti hanya jika Getta menuruti kemauannya. Untuk kali ini, Getta tidak ingin pergi kemanapun. Getta hanya ingin menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya, dengan tetap memandangi foto wanita cantik yang berada dalam handphone-nya. Menolak permintaan Tania tidak lah sulit, hanya dengan menggunakan sedikit ancaman, maka Tania akan pergi dengan bibir yang di majukan semaju-majunya. Dan itu akan menjadi hiburan tersendiri bagi Getta. Setelah Tania pergi dengan perasaan kesalnya, Getta memutar kursi kebesarannya untuk menghadap pada jendela besar dengan kaca yang begitu jernih. Melihat lalu lalang kendaraan yang berada di jalan raya dari atas gedung dengan pikiran entah kemana. Sesekali Getta seperti melihat sosok Amara yang berjalan diantara pejalan kaki lainnya. Namun dengan tegas, Getta menyatakan bahwa itu hanyalah khayalan atas rasa rindunya yang menggebu-gebu. Seperti kali ini pun sama, Getta melihat dari atas, seorang perempuan menggunakan skinny jeans berwarna blue ocean dipadukan dengan boots coklat, kaos berwarna putih juga cardigan sebatas lututnya. Rambutnya tergerai dengan indah. Ransel yang menempel di punggungnya juga beberapa buku berada ditangannya. Berjalan sendiri dengan headphone berada di telinganya. Sepertinya itu anak kuliahan, yang baru keluar dari dalam kafe seberang gedung Getta. Sekilas Getta melihat wajah Amara pada tubuh itu, sebelum terhalang oleh tubuh orang lain. Namun sekali lagi, Getta menyakinkan bahwa itu bukanlah Amara, itu hanya perempuan yang mirip sekilas dengan Amara. Karena banyak sekali wajah yang sama dengan wajah seseorang, walaupun tanpa adanya hubungan darah. Karena Allah dan segala kekuasaannya. Lagi pula, Getta tidak bisa melihat dengan jelas dan dekat wajah perempuan tadi. "Udahlah, Gett. Gak mungkin itu Amara." Dengan kembali menduduki kursinya, Getta mencoba untuk kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN