bc

Purnama Merindu

book_age18+
28
IKUTI
1K
BACA
self-improved
drama
bxg
lighthearted
female lead
city
others
punishment
like
intro-logo
Uraian

Karena obsesinya terhadap Kemal Arjuna, laki-laki yang merupakan kakak iparnya sendiri, membuat Amara harus menanggung beban rindu pada Bian, mantan kekasihnya. Rindu yang begitu menyakitkan hingga membuat sesak dalam d**a.

Bian harus merasakan patah hati kedua kalinya diatas luka yang belum sembuh sepenuhnya. Menjalin hubungan dengan Amara dengan niat sebagai penawar luka hatinya atas Gita, justru seperti menaburkan garam diatas lukanya. Karena ternyata Amara hanya menjadikan hubungan mereka sebagai tameng, untuk semua rencananya terhadap kakak iparnya sendiri.

 

"Tidak ada yang mengerti rindu kecuali yang merasakannya. Tuhan, aku sangat merindukannya, rindu itu begitu menyesakkan d**a. Tolong aku Tuhan, aku merindukannya." Amara Putri Arkana.

"Tidak semua rindu tertunaika oleh sebuah pertemuan. Oleh sebab itulah doa diciptakan." Argetta Bian Chandra Dwi Mikail.

Dua orang yang saling merindukan. Namun terhalang oleh kenyataan.

Bagaimana kisah mereka? Akan kah rindu itu sampai pada pemiliknya?

 

chap-preview
Pratinjau gratis
Penyesalan Amara
Tidak semua rindu tertunaikan oleh sebuah pertemuan. Oleh sebab itulah doa diciptakan. Amara membaca salah satu story' w******p yang berisi quote dari seorang ustadzah yang bernama Resti. Quote yang seperti menyindir dirinya yang tengah dilanda rindu teramat dan hanya bisa berharap lewat doa. Ya, seorang Amara Putri Arkana begitu merindukan seorang Argetta Bian Chandra Dwi Mikail. Seseorang yang pernah menjadi kekasih hatinya, Seseorang yang dulu hanya dimanfaatkan kehadirannya sebagai tameng di atas segala rencananya. Seseorang yang dulu menjadi teman masa kecilnya, seseorang yang Amara lukai hatinya, hanya karena obsesi nya terhadap sang kakak ipar. Dan sekarang, setelah dua tahun lamanya, di setiap harinya Amara selalu merindukan seseorang itu, yang selalu dipanggilnya dengan sebutan Kak Bian. Amara selalu bertanya pada Tuhannya, mengapa Dia mengirimkan rasa ini pada saat Bian telah pergi, mengapa kisah cinta Amara begitu sulit. Rindu yang setiap harinya selalu ia rasa, yang setiap hari rasanya bukan berkurang malah semakin bertambah kadarnya. Amara heran pada hati dan pikirannya sendiri, dulu saja ia dan Bian berpisah 18 tahun lamanya, tetapi rasa rindu itu hanya bertahan selama beberapa bulan saja. Tapi sekarang? Mengapa setelah dua tahun Bian pergi rasa rindu itu begitu menggerogoti hati dan pikirannya. Dua tahun lamanya Amara tidak pernah lagi bertemu dengan Bian, dan rasanya sungguh begitu menyiksa di setiap harinya. Tiga tahun lalu, hatinya harus menahan perih atas kemesraan yang ia lihat setiap harinya, dari pasangan suami istri yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Dan dua tahun lalu, baru ia menyadari bahwa cintanya pada seorang Kemal Arjuna hanyalah sebuah obsesi yang ditanamkan oleh Ibu asuhnya sendiri. Amara tidak pernah menyalahkan Sarti, Amara menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu bodoh, karena selalu menuruti perkataan wanita yang telah mengasuhnya sejak hari pertama dilahirkan. Masih begitu jelas dalam ingatannya, saat terakhir ia dan Bian bertemu di sebuah kafe di kawasan bandara Internasional Soekarno-Hatta. Saat itu Bian menyadari semua perbuatan Amara, yang menjadikan hubungan mereka sebagai tameng untuk segala rencananya. Padahal saat itu Bian juga sedang mencoba mengobati patah hatinya. "Kakak gak nyangka loh kalo selama ini kamu jadiin tameng di depan keluarga kamu," ujar Bian sebelum dirinya pergi meninggalkan Jakarta atas perintah Andra. "Mara gak jadiin Kakak sebagai tameng, Mara cuma gak bisa ikhlasin Kemal buat Amira!" Amara menyangkal semua tuduhan Bian. "Justru itu, kita menjalin hubungan, sementara kamu merencanakan sesuatu untuk memisahkan mereka berdua. Kamu berlindung di bawah hubungan kita, agar semua orang tidak curiga dengan semua rencana kamu? Apa namanya kalo gitu?" tanya Bian dengan tidak percaya. Amara bungkam, lidahnya tidak mampu digerakkan, semua pernyataan Bian benar. Ia memang berlindung dibawah hubungannya dengan Bian agar tidak ada orang yang curiga. "Kenapa diam?" Bian kembali bertanya. "Maaf, Kak." Hanya kata itu yang mampu diucapkannya. "Kamu tahu kita sama-sama sedang berusaha membuka hati untuk orang baru, bukan hanya kamu yang sedang berusaha, tetapi Kakak juga. Bukan cuma kamu yang patah hati ditinggal nikah, Kakak juga. Kakak sedang mencoba mengobati patah hati kakak sendiri juga kamu. Kakak berusaha ikhlas dengan semua keadaan. Kalo boleh jujur, Kakak juga belum bisa lupain orang yang Kakak suka. Tapi Kakak belajar ikhlas dengan mencoba membuka hati kembali, merajut kisah bersama kamu. Tetapi kamu?" Bian tersenyum miring untuk Amara. "Bukannya mengikhlaskan, malah berniat menghancurkan. Ingat Amara, Amira itu Kakak kamu sendiri, saudara kembar kamu, darah yang ada di tubuhnya sama dengan darah yang ada di tubuh kamu. Bahkan kalian berbagi rahim ketika di dalam kandungan. Jangan dikalahkan oleh perasaan yang disebut Cinta Mara. Karena seringkali kita salah mengartikan, antara cinta dan obsesi. Perbanyaklah istighfar dan sholawat, jangan dengarkan bisikan setan yang terkutuk. Karena sungguh, kamu sendiri yang akan menanggung akibatnya. Entah itu hukum karma ataupun rasa malu yang pasti akan kamu dapatkan jika mereka mengetahui semua perbuatan kamu." Bian mencoba membuka mata hati Amara. "Maaf, Kak." Amara tahu semua perbuatannya salah. Maka dari itu, sedari Bian berbicara dia hanya diam saja, dengan terus menggumamkan kata maaf. "Hentikan semuanya Mara, sebelum orang lain mengetahui semua rencana kamu. Bukannya Kakak mau menggurui, Kakak juga tau betapa tidak mudahnya menjadi kamu. Cobalah benar-benar ikhlas dari hati, bukan hanya sekedar ucapan. Sulit memang, tetapi jika kita bertekad, insya Allah kamu pasti bisa. Jangan meminta maaf pada Kakak, minta maaflah pada Kemal dan Amira. Mereka yang kamu sakiti." Bian bangkit dari kursinya untuk pergi, karena sebentar lagi waktunya ia pergi. "Kita masih bisa berteman seperti dulu, semoga kamu bisa menemukan seseorang yang benar-benar membuat hatimu lupa pada Kemal. Jangan pernah sungkan untuk menghubungi Kakak. Jaga kesehatan, Kakak pergi assalamualaikum." Bian benar-benar pergi setelah mengusap pelan rambut Amara. Meninggalkan Amara yang sedang merenungi semua ucapannya. "Kamu tidak pernah tau rasanya jadi aku, Kak." Amara yakin, tidak ada yang sanggup mengalami patah hati sepertinya. Patah hati berkali-kali oleh orang yang sama. Seandainya, seandainya saja Kemal mau melepaskan Ibunya dari segala tuntutan, mungkin Amara tidak akan seperti ini. Mungkin Amara benar-benar akan melupakan dan mengikhlaskan nya. Namun sekali lagi, Kemal maupun seluruh keluarganya tidak ada yang mau mengeluarkan Sarti dari segala tuntutan. Sehingga Sarti harus menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Amara lebih membenarkan semua ucapan Sarti saat ia pergi mengunjunginya. Amara juga berpikir ia tidak sepenuhnya salah dalam kandasnya hubungan mereka, Amara juga kadang merasa terabaikan oleh sikap Bian jika mereka bertemu dengan Gita. Bukan hanya Bian sebenarnya, tetapi semua temannya yang di panggil dengan sebutan Anak Onta. Perempuan yang menurut Amara jauh berbeda dengannya. Perempuan yang memiliki tubuh kecil dan juga pendek dengan kulit yang sawo matang. Senyumnya memang sangat manis dan meneduhkan. Para anak Onta seperti berebut perhatian dari perempuan itu. Entah apa istimewanya sampai membuat mereka seperti itu. Amara bisa merasakan bagaimana sikap Bian terhadap Gita. Lebih perhatian, dengan menggunakan bahasa kasar. Mereka berbicara memakai bahasa Indonesia gaul. Amara bukannya tidak bisa, hanya saja lidahnya terlalu kaku untuk menggunakan bahasa itu. Amara mendengar bahwa Gita memanggilnya dengan sebutan Mbak Yellow, yang Amara tidak tahu artinya. Karena yang Amara tahu Yellow itu salah satu warna, yang dalam bahasa Indonesia itu artinya Kuning. Entah memiliki maksud seperti apa, sehingga mereka semua memanggilnya dengan sebutan Yellow. Amara juga bisa merasakan bahwa Gita gadis yang baik dan sopan. Bahkan Gita terkesan rendah diri di antara mereka semua. Dalam bertanya pun Gita seakan canggung pada Amara. Hal itu membuat Amara mencibir akan selera Bian dan teman-temannya. Para pangeran yang begitu memperebutkan Upik abu dari kampung. Gita juga dijadikan alasan oleh Amara akan hambar nya hubungan mereka kala itu. Padahal Bian tahu dengan jelas bahwa itu semua hanya alasannya saja. "Mereka semua tidak pernah menyayangimu dengan tulus Putri. Buktinya saja, ketika anak buah Ibu menculik Amira, mereka bahkan rela menanggung malu daripada mengganti pengantin wanitanya. Perhatian mereka semua hanya tertuju pada Amira. Bahkan Kemal dengan tegas mengatakan tidak akan pernah menikahi mu walaupun Amira tidak berhasil ditemukan." Semua perkataan Sarti selalu terngiang-ngiang di pikirannya. Sarti akan berbicara normal hanya pada Amara. Sarti akan terus menanamkan kebencian pada Amara. Dan entah mengapa otak cantiknya selalu lebih menyerap perkataan Sarti dibandingkan dengan perkataan Yuka, sahabat sekaligus karyawannya di toko bunga miliknya. Juga perkataan Bian untuk yang terakhir kalinya waktu itu. Sehingga pada akhirnya, sekarang Amara harus menahan segala beban dalam hidupnya. Tidak hanya beban malu yang teramat bila berhadapan dengan Kemal dan Bima, jauh dari itu semua, beban rindu yang ia rasakan akan sosok Bian lebih mendominasi dalam hati dan pikirannya. "Benar kata Dilan, bahwa Rindu itu berat. Semakin hari terasa semakin bertambah berkilo-kilo bebannya, andaikan dia juga merasakan dan menanggung rasa rindu ini. Maka aku akan menyerahkan saja semuanya pada kamu, Kak. Aku tidak sanggup." Amara duduk didepan laptop yang menampilkan kolase gambarnya dan juga Bian, yang mereka ambil di berbagai tempat. Saat ini, Amara sedang berada jauh dari semua orang yang dikenalnya. Ya, Amara sedang melanjutkan kembali pendidikannya. Hal itu sebenarnya hanya sebagai pelarian dari rasa malu terhadap kakak iparnya, dan juga rasa rindu akan sosok Bian. Sudah dua tahun lamanya Amara tidak pulang ke rumahnya, hanya keluarganya yang mengunjunginya. Rindu terhadap orang tuanya kalah jauh dari rindunya terhadap Bian. Setiap malam hari, ketika ia akan mengistirahatkan tubuhnya, setelah seharian mengikuti kelas yang begitu memusingkan. Amara akan setia duduk memangku laptopnya dan memandangi kolase foto mereka berdua. Amara tidak pernah bosan akan hal itu. Seolah menjadi pengobat untuk rasa yang begitu menyesakkan dadanya. "Aku ingin sekali menghubungimu, Kak. Tapi aku tidak pernah berani, aku terlalu malu untuk itu. Secepat itukah kamu melupakanku? Karena tidak pernah sekalipun kamu menghubungiku?" tanyanya pada foto-foto yang sedang berputar. Dua tahun lalu Bian berkata untuk menghubunginya jika Amara butuhkan. Ingin sekali rasanya ia menghubungi Bian, karena saat ini Amara sungguh membutuhkannya. Amara ingin sekali memeluk tubuhnya, mendekap dengan erat untuk menghilangkan semua sesak di dalam dadanya. Mencurahkan segala jenis kerinduan pada sosok yang sangat ia cintai, yang sayangnya terlalu lambat untuk disadarinya. "Seandainya saja waktu itu aku mendengar perkataan Yuka, mungkin kamu masih disini, Kak. Dan juga aku mendengar perkataan mu yang terakhir, Mungkin kita juga akan kembali bersama. Mata ku sungguh tertutup akan semua obsesi terhadap Kemal. Aku begitu bodoh yang selalu mendengar perkataan Ibu, maafkan Aku, Kak." Kembali Amara terisak perih untuk semua penyesalannya. Seandainya waktu bisa diputar kembali, maka ia akan mengubah semuanya agar tidak terjadi hal seperti ini. Rasa rindunya lebih menyakitkan, daripada saat dulu hatinya terluka akan kemesraan Amira dan Kemal. Setelah mencurahkan segala penyesalannya di hadapan gambar Bian, Amara menyimpan kembali laptopnya di atas nakas, bersiap untuk tidur dan merajut mimpi akan pertemuannya suatu saat nanti bersama Bian. Semoga itu disegerakan. Doanya setiap malam disaat ia akan menjemput mimpi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook