Maaf Dan Udin

1878 Kata
Kila sedang tertawa kencang bersama teman-temannya di belakang gedung sekolah, bukan hanya teman-teman perempuannya saja. Tapi juga bersama teman-teman Satria, pacarnya. Laki-laki yang memeluknya tadi. “Apaan sih haha,” tawa Kila. Satria sedang berada di sebelahnya dengan tangan merangkul bahunya. “Norak banget haha!” Ia sedang menertawakan seorang temannya yang menirukan gaya Tiara dan Afifah tadi bertengkar dengannya. “Eh tapi, Kil. Lo gak ngerasa kasian gitu? Mereka keliatan polos-polos gitu lo gertak. Ntar ngadu deh ke nyokap bokap haha,” ujar salah satu temannya. “Eh gue gak takut tuh. Tapi gue emang kasian sih, tapi abisnya ngeselin banget. Apalagi si Afifah itu, pengen gue—” “Kila.” Panggilan itu membuat Kila menolehkan kepalanya, begitupun teman-temannya. Mereka terkejut tentu saja. Kenapa ada Tiara di sana? Kapan datangnya perempuan itu kenapa tiba-tiba muncul begitu saja. “Eh lo kan yang tadi!” Kila tersenyum miring mendengar seruan dari temannya. “Mau apa ya, ukhti? Mau bertengkar lagi? Yok lah, gue masih gedeg soalnya sama kalian,” ujarnya dengan senyum semakin lebar. Tiara menundukkan pandangannya karena semua laki-laki di sana sedang menatapnya. Lagipula ia melihat dengan jelas jika Satria merangkul Kila, itu kan di larang. Mereka bukan mahram. “Eh kalau di tanya tuh jawab!” Tiara menghela nafasnya. Meskipun begitu, ia tidak menyesal sudah datang kemari dan berniat meminta maaf pada Kila. “Aku mau minta maaf sama Kila,” ujar Tiara berterus terang. Ia juga tahu semua orang di sana terkejut mendengar ucapannya, terutama Kila. “Maaf ya, Kil. Aku gak sengaja ucapin semuanya. Maaf banget. Aku … lepas kontrol,” ujar Tiara yang masih menunduk. Merasa selesai dengan tujuannya, iapun berbalik. “Kalau gitu aku duluan.” Kila segera bangkit mengejar Tiara, membuat Satria menoleh heran padanya. Kila menahan bahu Tiara lalu memaksanya untuk melihat ke arahnya. “Apa lo bilang?” Kila bersuara datar. “Apa maksud lo dengan minta maaf kayak gitu?” Ia terlihat marah dan Tiara mengernyit bingung karenanya. “Aku Cuma mau minta maaf aja, Kil. Murni minta maaf.” “Lo kira bisa nipu gue? Lo bermaksud apa hah? Pasti ada sesuatu di balik maaf lo ini! Jangan sok deh ya, sok baik sok apapun, gue benci banget tau gak,” ujar Kila marah. Ia mencekal tangan Tiara dengan kuat. “Aku murni mau minta maaf, Kil. Itu gak salah. Kamu ini kenapa?” Heran Tiara, ia juga mencoba melepaskan cekalan Kila pada tangannya. Kila sendiri menatap Tiara dengan pandangan tajam, ia … merasa ada yang aneh. Semua orang yang ia tindas selalu menyerang balik atau mendendam padanya, tapi yang ini berbeda. Tiara meminta maaf padanya seolah Kila lah yang benar. Tapia pa ia benar? Di tengah Kila yang masih mencerna dan berpikir keras tentang ini. Tiba-tiba dari arah belakang, teman perempuannya dengan sengaja menyiram Tiara dengan secangkir teh, dari atas kepalanya dan membuat jilbabnya basah. “Jihan?” Kila mengernyit dan melepaskan cekalannya. Ia menatap Jihan dengan tatapan marah. Tapi kemudian tatapan itu perlahan berubah menjadi Bahagia, Kilaa bahkan tertawa kencang dan memberi kedua jempolnya pada Jihan. “Haha bagus!” Tetes-tetes air berwarna oren kecoklatan itu menetes-netes dari jilbab Tiara ke tanah. Tiara termangu di tempatnya. Salahkah ia meminta maaf? Salahkah ia melakukan hal yang mulia? Kenapa ia malah mendapatkan perlakuan seperti ini? “Tiara?” Tiara mendongak dan kaget melihat Afifah dan Bayu berjalan ke arahnya. Keduanya tampak khawatir melihat kondisi Tiara yang jilbabnya sudah kotor terkena air teh. ”Tiara, kok … kamu diapain sama dia?!” Afifah menoleh kea rah Kila yang masih tertawa dengan Jihan. Tak peduli dan mengabaikan tatapan marah dari Afifah. “Gak papa kok, Fa,” gumam Tiara. Yang penting tujuan utamanya telah tercapai. Ia sudah meminta maaf dan apapun reaksi Kila, ia akan terima. Bahkan yang seperti ini pun, ia terima walau kecewa. “Kok gak papa, Ra?! Ini tuh keterlaluan!” seru Afifah sungguh marah. Ia hendak berjalan menuju Kila tapi Tiara mencegahnya. “Fa udah, gak papa. Jangan cari keributan lagi. Aku udah minta maaf ke Kila. Masalah kita selesai sama dia,” ujar Tiara cepat, ia juga menarik tangan Afifah agar mereka pergi dari sana. Kila sendiri hanya berdiri menatap interaksi Afifah dan Tiara. Ia menunggu serangan balik dari kedua perempuan itu. Tapi sepertinya mereka memilih mundur. Gak seru banget, batin Kila. Setelahnya pun ia memutuskan untuk kembali saja bergabung dengan teman lainnya. “Fa, udah ya kita balik aja ke kelas. Sekalian temenin aku ke kamar mandi soalnya jilbabnya udah basah banget,” pinta Tiara yang tidak bisa Afifah cegah. Selain itu, Bayu dan Satria dari tadi saling tatap. Dua pria itu cukup terkenal di sekoalah, apalagi Satria. Tapi keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang. Bayu memperingatkan Satria dari tatapannya sedangkan Satria menolak dengan tatapan sinisnya. Satria dan Kila memang tidak beda jauh. Sifat mereka hampir sama, itu mungkin alasan utama kenapa meraka bisa berhubungan. “Ra, Fa. Yauda balik ke kelas aja yuk,” ajak Bayu tersenyum teduh. Berempati pada kondisi Tiara. Niatnya baik tapi tidak disambut sebaliknya. Sebelum benar-benar pergi dari sana. Afifah berbalik dan menatap Kila. Ia sudah terlanjur emosi, tapi karena permintaan Tiara, ia jadi mengurungkannya. Namun, untuk yang satu ini, ia takkan bisa mengelak. “Kila. Menurut aku, Cuma orang gak waras yang balas permintaan maaf tulus seseorang dengan hal kayak gini. Ketawa-ketawa, kamu pikir ini komedi? Coba berpikir lebih dewasa lagi ya. Aku kasian banget li—” “Afifah udah.” Tiara menarik paksa tangan Afifah. Ia tak mau kejadian yang sama terulang lagi. Tiara tidak mau jika Afifah merasakan apa yang ia rasakan saat ini. Rasanya … sakit sekali. Puas dengan ucapannya barusan, Afifah pun mengikuti langkah Tiara yang sudah lebih dulu berjalan. Afifah tidak peduli bagaimana Kila marah padanya. Ia hanya ingin Kila sadar kalau perbuatannya barusan terhadap Tiara adalah hal k**i! “Lagian yang nyiram aku bukan Kila. Tapi Jihan, gitu sih tadi Kila nyebut namanya,” ujar Tiara memberitahu Afifah agar perempuan itu tidak salah paham. “Mau siapapun, harusnya Kila enggak kayak gitu, Ra. Masa dia ketawa-ketawa, dia pikir ini hal lucu?” Afifah masih sewot. Ia gedeg abis dengan sifat Kila. “Yaudalah gak papa. Kamu jangan terlarut sama amarah ya.” Afifah menghela nafas. “Astaghfirullah. Iya, Ra. Istighfar aja semoga Allah kasih hidayahnya ke Kila,” ujar Afifah dengan emosi yang mulai mereda. Tiara tersenyum, benar. Untuk apa terus berlarut-larut. Semua yang terlalu juga tidak baik. Harus berpindah dan yakin jika semuanya akan baik-baik saja. Kamu, akan baik-baik saja. “Kalian mau ke kamar mandi ya?” tanya Bayu yang dijawab anggukan oleh dua perempuan di belakangnya. “Yauda kalau gitu aku duluan ya.” “Makasih ya, Bay. Udah bantuin cari Tiara tadi,” ujar Afifah tulus dan Bayu menanggapinya dengan anggukan serta senyuman teduh sebelum benar-benar pergi dari sana. Tiara berdeham ketika senyum Afifah masih terukir di wajahnya walaupun Bayu sudah pergi dari sana. Membuat Afifah salah tingkah dan memerah karenanya. “Eh jadi gimana jilbab kamu? Ini kotor banget. Kalau di cuci kayaknya enggak bisa hilang,” celetuk Afifah mengalihkan topik pembicaraan. “Kamu bisa gak ke koperasi sekolah, Fa? Beliin aku jilbab sama anak jilbabnya ya. Soalnya basahnya udah kerasa,” pinta Tiara sembari memberikan Afifah beberapa lembar uang. Afifah menerimanya. “Yauda sebentar ya. Kamu di sini aja jangan kemana-mana,” ujar Afifah yang jelas diangguki oleh Tiara. *** Saat pulang sekolah. Tiara dan Afifah berpapasan dengan Kila dan teman-temannya. Tiara dan Afifah tahu hal ini tapi mereka bersikap seolah tidak mengenal Kila, apalagi pernah berurusan dengannya. Lain lagi dengan Kila yang memperhatikan mereka terus menerus dan kesal karena mereka berdua tidak membalas tatapannya. “Dia ngeliatin kita ya,” gumam Tiara dengan jilbab barunya. Ia sudah menggantinya tadi, sekaligus dengan anak jilbabnya. Untungnya basahnya hanya sampai anak jilbab, tidak sampai rambutnya. “Iya, Ra. Udah biarin aja. Cuekin aja. Orangnya emang aneh,” sahut Afifah dengan bibir melengkung ke bawah. Tiara dan Afifah berjalan kaki menuju kos mereka. Bercerita tentang ini itu tapi sama sekali tidak mengungkit tentang Kila. Mereka berdua sama-sama sepakat untuk melupakan kejadian hari ini. Sungguh sangat buruk, tapi mungkin di balik ini ada hikmah yang Allah beri pada mereka berdua. “Eh lihat ada kucing!” seru Tiara. Ia berjongkok dan melihat kucing oren itu dari dekat. “Ih imut banget. Pipinya gede, kucing imut begini apa enggak ada yang punya ya?” tanyanya sembari mengelus lembut kepala kucing itu. “Kayaknya kucing liar deh, Ra. Kemaren aku juga liat, Cuma ya aku gak ambil karena ada Ebo di kos. Ntar berantem,” jawab Afifah. “Eh iya ya ada Ebo. Kalau gitu kucing yang ini aku rawat aja deh. Boleh kan ya,” ujarnya hendak menggendong kucing itu. Namun sayangnya ia galak hingga hampir mencakar tangan Tiara. “Eh Ya Allah.” Tiara kaget tapi ia kemudian tertawa. “Kalau enggak bisa di gendong, yauda di panggil aja.” Afifah tertawa ketika Tiara terus mengoceh agar kucing oren itu mengikutinya. “Dia imut ya. Mukanya kayak macan versi mini,” ujar Afifah terkekeh pelan. “Eh terus, kamu mau kasih nama apa ke dia, Ra?” Tiara menegakkan punggunya, ia berpikir. “Apa ya? Yang anti mainstream buat kucing lah,” ia masih berpikir sebelum terkekeh pelan karena menemukan satu ide. “Namanya Udin!” Maouu Maouu Udin, nama baru itu membuat Afifah terpingkal-pingkal mendengarnya. “Haha Ya Allah, Ra. Itu sih emang anti mainstream banget,” ujarnya masih dengan tawanya yang mengudara. Tapi Tiara tidak akan menarik perkataannya. Nama Udin rasanya cocok di sematkan dengan kucing gembul berwarna oren ini. “Namanya lucu kok. Ya kan, Udin?” Tiara berjongkok dan bertanya pada Udin, ia mengelus kepala kucing itu. Maouu “Nah dia mau tuh di panggil Udin.” Afifah mengusap air mata yang keluar di sudut matanya, hasil dari tawa yang tidak mau berhenti. “Hehe.” Afifah dan Tiara terus melanjutkan jalan mereka. Tentu dengan Udin yang terus mengikuti mereka. Hingga akhirnya sampai di depan kos Tiara dan Afifah. Tiara dengan sigap membuka pintu kosnya dan Udin langsung segera masuk seolah itu memang rumahnya. Hal itu membuat Afifah kembali tertawa, begitupun Tiara. “Ya Allah, Ya Allah, Udin Udin.” Afifah menggeleng-gelengkan kepalanya. “Gimana ya kalau Udin sama Ebo barengan? Berantem enggak ya?” Tiara terkekeh. “Kemungkinan besar berantem deh, Fa. Secara dari segi kulit, mereka hampir sama haha. Mukanya aja mirip gitu. Ada oren gelap di dahinya.” Afifah membuka pintu kosnya dan Ebo langsung keluar dan mengeong padanya. “Ih dia masih di rumah ya, padahal jendelanya aku buka supaya dia bisa keluar pas mau buang hajat,” gumam Afifah berjongkok mengambil si kucing dan menggendongnya. “Dia nunggu kamu pulang dulu mungkin, Fa.” Afifah mengelus-elus kepala Ebo. “Iya juga kali ya. Eh mana Udin? Sini kenalan sama Ebo.” Tiara melirik ke dalam kos dan menemukan Udin sudah tertidur di atas lantai di sudut kamar. Dengan gaya tidur kaki dan tangannya ke atas. Membuat Tiara terkekeh pelan sebelum menatap Afifah. “Udin udah tidur.” “Hah? Mantep banget tuh kucing. Berasa rumah sendiri,” serunya yang membuat Tiara tertawa. “Yauda deh, Ra. Aku masuk dulu ya, kayaknya Ebo ngantuk.” Tiara mengacungkan kedua jempolnya. “Siap. Assalamu’alaikum, Fa.” “Wa’alaikumussalam, Ra.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN