Cerdas Cermat

2754 Kata
Setelah kecelakaan itu, semua berbaikan dan tidak ada dendam sama sekali bagi si ibu. Satria begitu menyesal itu kenapa si ibu memaafkan dengan tulus. Keesokan harinya, suasana kelas masih biasa-biasa saja, damai-damai saja sampai tiba-tiba tiga senior masuk ke dalam kelas mereka. Dua laki-laki dan satu perempuan. Satu diantaranya sudah banyak dikenal oleh para siswa karena ialah ketua osis yakni Habib. Pesonanya dan juga kepintarannya membuatnya dikenal oleh seluruh warga sekolah. "Oke adik-adik. Mohon perhatiannya. Jadi ini ada informasi, tapi hanya untuk yang muslim saja ya," ujar senior perempuan berhijab. "Jadi!" Habib berseru dan menepuk tangannya sekali. "Sebentar lagi hari maulid nabi, nabi Muhammad SAW. Jadi, dengan ini, pihak sekolah ingin mengadakan beberapa lomba yang diadakan Jum'at ini. Rencananya sih cuma yang muslim aja ya yang diwajibkan sekolah, yang agama lain di perbolehkan tidak hadir. Untuk lombanya apa aja, tolong di catet ya. Ada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), pidato, Cerdas Cermat, Debat PAI, serta Penulisan Cerita Remaja Islam." Habib berhenti bicara dan diambil alih oleh teman laki-lakinya. "Dengar ya, perhatikan! Dari kelas satu sampai tiga. Ada kelas IPA dan IPS. IPA IPS kelas satu, IPA IPS kelas dua, IPA IPS kelas tiga, jadinya ada enam kan? Nah itulah, ada enam peserta yang mewakili tiap jurusan tingkatan. Ini enggak dipaksa banget, tapi kalau gak ikut ya kena denda sejuta satu kelas. Kenapa mahal? Ya karena biar kalian ikut." Habib tertawa dan kembali ia yang melanjutkan. "Jadi misal aja ...." Habib mengedarkan pandangannya. Sampai tiba-tiba matanya tertuju ke arah Tiara. "Nah misal Tiara ikut cerdas cermat berdua bersama teman sebangkunya. Yauda berarti IPA kelas satu untuk cerdas cermat dipegang Tiara dan temannya, mereka berdua udah enggak bisa ikut yang lain, cuma cerdas cermat doang. Paham kan semua?" "PAHAAMM KAKK!!" "Oke kalau paham. Kelas IPA yang lain juga udah dikasih tau tentang hal ini, kalau bingung baca aja pengumuman yang ditempel di mading. Bisa baca kan semuanya di sini? Jadi intinya kalian tinggal diskusi dan kasih hasilnya ke ketua kelas. Nanti ketua kelas kasih ke kita di ruang osis." Karena semua sudah paham maka ketiga senior pun pamit undur diri dan kelas riuh kembali, sibuk memikirkan tentang lomba. "Kita apa nih, Ra? Harus ikut nih." Afifah berseru. "Cerdas cermat aja gimana, Fa?" "Kamu yakin, Ra?" "Iya, Fa. Memang sih ya kemampuan kita masih kurang, tapi dengan begini, kita punya tanggung jawab dan karena tanggung jawab harus dilaksanakan dengan baik. Maka kita bakalan sekeras mungkin untuk mendapatkannya. Kalau kita beneran lakuin itu, ya yang ada ilmu kita bertambah dan semoga aja kita menang dalam lomba ini," tutur Tiara. "Bener banget, Ra!!" *** Keutamaan orang yang berilmu itu ada banyak. begitu yang dibilang Tiara pada Afifah. Afifah juga ingat semuanya. "Pertama. Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: Berlapang-lapanglah dalam majlis, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. " "Allah juga memuji orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia para Malaikat dan orang-orang yang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. "Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran. Hanya saja yang takut kepada Allah dari sekian hamba-Nya adalah ulama,” "Ya bener banget, Fa. Rasulullah juga memuji orang yang berilmu. Allah Swt memberi wahyu kepada Ibrahim, sesungguhnya aku maha mengetahui, Aku mencintai orang-orang yang berilmu. Rasulullah Saw. ditanya tentang 2 orang, yang satu orang alim dan yang satunya ahli ibadah. Rasulullah Saw. bersabda: keutamaan orang alim terhadap ahli ibadah seperti keutamaanku terhadap orang yang paling rendah di antara kalian.” Tidurnya seorang yang berilmu (yakni orang alim yang memelihara adab ilmu) lebih utama dari pada ibadahnya orang yang bodoh (yang tidak memperhatikan adabnya beribadah). Ucapan itu sungguh menohok relung hati Afifah. "Belajarlah ilmu, sesungguhnya mempelajari ilmu adalah suatu kebaikan, mencari ilmu adalah ibadah, mengingatnya adalah tasbih, membahas suatu ilmu adalah jihad, bersungguh-sungguh terhadao ilmu adalah pengorbanan, mengajarkan ilmu kepada orang yang tidak memiliki pengatahuan adalah sedekah” “Kedudukan tertinggi manusia di sisi Allah adalah para Nabi dan ‘Ulama (orang yang berilmu” Sebagaimana penjelasan di atas, dapat diketahui betapa luhur kedudukan orang yang berilmu. Maka tidak heran, para ulama terdahulu menghabiskan sebagian besar waktunya demi melestarikan ilmu, terutama ilmu syari’at Islam. Bahkan, di antara mereka ada yang rela tidak berkeluargan demi mengabdikan diri sepenuhnya untuk ilmu. Misalnya, Ibnu Jarir at-Thobari seorang mufasir ahli tafsir dan sejarahwan, Zamakhsyari seorang mufasir dan teolog, Imam Yahya bin Syarof ad-Din an-Nawawi seorang ahli hadits muhaddits, Ibnu Taimiyah dan sebagainya. Mereka mendedikasikan dan mengabdikan diri untuk melestarikan ilmu. Sehingga sejarah mencatatkan sebagai orang-orang alim yang mempengaruhi dunia Islam. "Oke aku paham , Ra, intinya berarti kita harus nuntut ilmu dengan bener-bener ya." "Iya bener banget, Fa? *** "OH ya, Ra. hadits tentang ilmu pengetahuan yang dikutip dari Jurnal Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Hadis Nabi tulisan Suja'i Sarifandi dan Jurnal Sumber-sumber Ilmu Pengetahuan dalam Al-Qur'an dan Hadits karya Sayid Qutub, dibagi ke beberapa, kamu mau tau?" "Boleh Fa." "Satu HR. Abu Dawud"Bersumber dari Anas bin Malik ra. Ia berkata, Rasulullah SAW., bersabda: Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim. dua HR. al-Darimi"Bersumber dari al-Hasan ra., ia berkata: Rasulullah SAW., bersabda: Barangsiapa meninggal dunia di saat sedang menuntut ilmu untuk menghidupkan Islam, maka ia masuk surga dalam satu tempat dengan para nabi-nabi tiga, HR. al-Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad"Bersumber dari Abdullah bin Mas’ud ra. berkata: Nabi saw bersabda: Tidak boleh hasud (iri), kecuali pada dua hal: orang yang dikaruniai harta benda oleh Allah kemudian ia menggunakan hartanya sampai habis dalam kebaikan, dan orang yang dikaruniai hikmah (ilmu) oleh Allah kemudian ia mengamalkannya dan mengajarkannya." "Yang keempat, HR. Muslim, al-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, dan al-Darimi "Bersumber dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah memudahkan baginya jalan ke surga. HR. Tirmidzi"Bersumber dari Anas bin Malik ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa keluar untuk menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembal HR. Ibnu Majah"Aku mendengar Rasulullah SAW., bersabda: Janganlah kalian mencari ilmu untuk menyombongkan diri kepada ulama, atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau untuk memalingkan muka manusia kepada kalian. Barangsiapa melakukan itu, ia masuk neraka HR. Ibnu Majah"Menuntut ilmu itu suatu kewajiban kepada setiap muslim. HR. Muslim, al-Tirmidzi, al-Darimi, Abu Dawud, al-Nasa'i, dan Ahmad"Bersumber dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: Ketika seseorang meninggal dunia maka akan terputuslah amalnya, kecuali tiga hal; kecuali sedekah jariah, atau ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakan kepadanya. HR. Ibnu Majah"Bersumber dari Jabir bin Abdullah ra. berkata: Rasulullah saw bersabda: Mohonlah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepadaNya dari ilmu yang tidak bermanfaat HR. Abu Dawud, al Nasa'i, dan Ibnu Majah"Bersumber dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. berdoa: Ya Allah aku mohon perlindungan kepadamu dari empat perkara; dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan dari hati yang tidak khusyu’, dan dari jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak didengar" "Keren banget, Fa. Sekarang aku mau ceramah tentang Beberapa keutamaan ilmu. Kamu harus dengerin!" Tiara memaksa. "Oke oke siap bos." "Jadi, Ilmu adalah kekhususan, ilmu adalah keistimewaan yang Allah subhanahu wa ta’ala khususkan hanya untuk manusia semata. Selain ilmu, manusia dan hewan memiliki kesamaan.Ilmu dapat mengantarkan seseorang menuju kepada kebajikan dan ketaqwaan. Dan sebab ketaqwaan itu, seseorang dapat memperoleh kemuliaan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, dan kebahagiaan abadi Diantara hal yang penting dalam menuntut ilmu yang harus diperhatikan adalah kesungguhan. Jika sesuatu dilakukan dengan kesungguhan, maka Allah subhanhu wa ta’ala akan memberikan keberhasilan di dalamnya. Selain kesungguhan, juga perlu diiringi dengan sikap kesungguhan yang terus menerus dan komitmen dalam menuntut ilmu. Tiga sikap ini harus ada dalam diri pelajar dan berjalan beriringan, tidak dapat hanya salah satu saja." "Wajib bagi setiap pelajar, bersungguh-sungguh, terus menerus, dan komitmen, tidak berhenti hingga tujuan dalam menuntut ilmu tercapaibarangsiapa yang mencari sesuatu dan dilakukannya dengan sungguh-sungguh, pasti dia akan mendapatkannya. Dan barangsiapa yang mengetuk pintu dengan terus menerus, pasti dapat masuk. Dikatakan pula, bahwa sesuai dengan kesungguhannya, seseorang. akan mendapat apa yang menjadi harapannya. Wajib bagi setiap pelajar, bersungguh-sungguh, terus menerus, dan komitmen, tidak berhenti hingga tujuan dalam menuntut ilmu tercapai. barangsiapa yang mencari sesuatu dan dilakukannya dengan sungguh-sungguh, pasti dia akan mendapatkannya. Dan barangsiapa yang mengetuk pintu dengan terus menerus, pasti dapat masuk. Dikatakan pula, bahwa sesuai dengan kesungguhannya, seseorang akan mendapat apa yang menjadi harapannya." "Bagaimana ilmu itu dapat diperoleh tanpa melalui kesulitan? Banyak diantara kita ini memiliki cita-cita, memiliki keinginan, namun jika tidak diiringi dengan kesungguhan, maka itu adalah kedustaan. Apapun cita-cita dan keinginan seseorang, jika diiringi dengan kesungguhan, maka insya Allah akan terwujud. Jika tidak diiringi dengan kesungguhan, maka itu adalah kegilaan. Kita harus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Tanpa kesungguhan, maka kita adalah orang yang gila. Orang belum dapat dikatakan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, jika dia belum mendapatkan kepayahan yang sangat dalam menuntut ilmu. Allah akan memberikan jalan keluar untuk kesungguhan tersebut." "Maka pentinglah bagi setiap diri kita untuk senantiasa bersungguh-sungguh dalam belajar. Semoga rangkuman materi ini dapat menjadi refleksi untuk diri kita, terlebih khusus bagi penulis pribadi. Insya Allah akan kita lanjutkan pembahasan mengenai kesungguhan dalam menuntut ilmu pada kesempatan berikutnya." "Gitu ya, Ra. Aku baru tau tentang ini." Tiara tersenyum. "Itu gunanya berbagi, Fa." *** Keesokan harinya, Afifah dan Tiara sedang duduk bersama setelah makan yang juga bersam. Tiara bingung harus mengangkat topik apa sampai ia melihat iklan di tv tentang orang yang begitu pintar. Ia baru teringat kalau sahabat nabi ada juga yang pintarnya diatas rata-rata. "Kamu ada tau tentang cerita sahabat nabi yang pandai nggak, Fa?" "Tau tau. Muadz bin jabal aku taunya, Fa." "Wah keren bisa ceiritain ke aku nggak, Fa? Aku malah belum tau tentag yang satu itu." Afifah tersenyum lebar, ia suka bercerita. Tentu saja ia akan menuruti permintaan Tiara. "Oke aku mulai ya. Negeri Urdun atau Yordania terkenal sangat kaya akan objek wisata sejarah religi. Hal ini karena Yordania pernah menjadi salah satu pusat peradaban Islam, dan bahkan negeri ini banyak menyimpan sejarah kenabian sebelum zaman Rasulullah membawa agama Islam." "Negara ini berada dalam jazirah Syam, termasuk negara Suriah dan Palestina. Yordania merupakan saksi penting bagi jatuh bangunnya kejayaan Islam. Negara ini juga pernah menjadi saksi Perang Mu'tah pada masa Rasulullah SAW dan Perang Salib pada masa Dinasti Ayyubiyah. Di daerah Irbid, utara Yordania yang berbatasan dengan Palestina, terdapat sebuah makam sahabat Nabi yaitu Muadz bin Jabal. Perjalanan kali ini cukup jauh, sekitar 3 jam lebih perjalanan dari kota Amman. Namun sepertinya tidak mudah untuk masuk ke daerah ini, karena daerah ini merupakan kawasan perbatasan Yordania dengan Israel, sehingga seluruh kawasan dikontrol oleh tentara Yordania." "Aku lanjut. Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, dengan nama julukan Abu Abdurahmancadalah salah seorang sahabat nabi, termasuk golongan Anshar yang pertama masuk Islam yang dikenal sangat diteladani oleh orang-orang di sekitarnya. Muadz terkenal sebagai cendekiawan dengan wawasannya yang luas dan pemahaman yang mendalam dalam ilmu fiqih, dan bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai sahabat yang paling mengerti yang mana halal dan yang haram. Mu'adz juga merupakan Duta Besar Islam pertama kali yang dikirim Rasulullah dan juga merupakan seseorang periwayat hadist." "Di komplek makam yang dapat ditempuh dalam satu jam perjalanan dari kota Irbid, juga terdapat perpustakaan yang lengkap dengan koleksi buku dan menyimpan berbagai literatur sejarah perjalanan dan riwayat Muadz bin Jabal.CAllah mengkaruniakan kepada Muadz bin Jabal kepandaian berbahasa serta tutur kata yang indah. Muadz termasuk di dalam rombongan yang berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang berbai'at kepada Rasulullah, padahal Muadz baru memeluk agama Islam pada usia 18 tahun. Muadz berislam berkat dakwah Musaib bin Umair ketika berada di Madinah. Sejak itulah, ia belajar Islam secara mendalam. Karena kepandaiannya, Muadz cepat menjadi seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Ia berhasil mengislamkan beberapa orang sahabat yang terkemuka, misalnya Amru bin Al-Jamuh." "Muadz, sebagai sahabat Rasul ini pernah diminta Rasulullah untuk membantu mengajarkan agama Islam di Makkah. Ajakan Rasulullah ini karena permintaan masyarakat Makkah yang ingin memperdalam agama Allah. Oleh karenanya Muadz bin Jabal diminta Rasulullah untuk menetap bersama masyarakat di Mekkah untuk mengajar Alquran dan memberikan pemahaman kepada mereka mengenai agama Allah." "Sifat terpuji beliau juga jelas terlihat manakala rombongan raja-raja Yaman datang menjumpai Rasulullah agar mengirimkan tenaga pengajar kepada mereka. Rasulullah menyambut baik permintaan raja-raja Yaman tersebut, dan memilih Muaz untuk kembali memegang tugas itu bersama-sama dengan beberapa orang para sahabat lainnya." "Di Yaman selain berdakwah menyebarkan dan mengajarkan agama Islam, Muadz bin Jabal juga berdagang sebagaimana para sahabat lainnya. Berkat kepandaian dan ketekunannya dia berhasil meningkatkan omset dagangnya dan menjadi seorang yang kaya raya, santun dan faqih." "Setelah beberapa lama berdakwah di Yaman, Muadz akhirnya mendapat misi untuk berdakwah ke negeri Syam untuk mengajarkan agama Islam ke penduduk negara tersebut." "Pada zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, gubernur Syam meminta kepada khalifah untuk mengirimkan guru bagi penduduknya. Lalu Khalifah Umar memanggil beberapa sahabat untuk berdakwah ke Damsyik, Palestina dan Yordania. Dalam syiar agama kali ini, Muadz bin Jabal mendapat tugas untuk pergi ke negeri Urdun dan tinggal di sana untuk mengajarkan Alquran kepada masyarakat setempat dan memberikan pemahaman kepada mereka tentang agama Islam." "Namun keberadaan Muadz bin Jalal di negeri Urdun tidak terlalu lama karena ketika beliau berada di daerah ini sedang terjadi serangan penyakit menular yang sedang mewabah. Muadz terjangkiti dan sakit. Muadz akhirnya dipanggil Allah untuk menghadapNya dalam keadaan tunduk dan berserah diri. Muadz wafat pada tahun 18 Hijriah dalam usia 33 tahun. Hingga saat ini, makamnya tak pernah sepi dengan para peziarah." "Panjang banget ya aku ceritanya? Jadi gitu, Terus Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda, "Hai Muadz!... Demi Allah, aku sungguh sayang kepadamu. Maka jangan lupa setiap habis salat mengucapkan: "Ya Allah, bantulah aku untuk selalu ingat dan syukur serta beribadat dengan ikhlas kepada-Mu." Mu'adz mengerti dan memahami ajaran tersebut dan telah menerapkannya secara tepat. Pada suatu waktu Muadz pernah berdialog dengan Rasulullah, beliau menyampaikan "Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi." "Untuk itu marilah kita untuk tetap bersyukur dan isilah hidup ini dengan berbuat kebajikan, karena kita tidak tahu kapan dipanggil Allah SWT. " Afifah menepuk tangannya dan terkekeh, Ia senang diirnya bisa menceirtakan segalanya dengan sedetail itu, ya walau tidak sedetail itu juga, tapi ia senang, dan ini kebanggan tersendii bginya. "Makasih ya Fa, ilmunya." "Sama-sama, Ra. Kamu sendiri apa nih yang kamu tau? Kamu bisa cerita balik juga ke aku." "Apa ya? Abdullah Bin Abbas aja gimana? Kmau udah tau tentang ini? Atau belum tau? Kalau belum biar aku ceritain ke kamu." "Belum, Ra, yauda gih cerita." "Abdullah bin Abbas merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang ’gila’ ilmu pengetahuan. Dia tak pernah bosan menggali ilmu sejak usia muda. Umar bin al-Khaththab bahkan menyebutnya sebagai pemuda yang matang, mempunyai lisan yang gemar bertanya dan hati yang cerdas. Abdullah bin Abbas adalah sepupu Rasulullah. Dia anak dari Abbas bin Abdul-Muththalib dan Ummu al-Fadl Lubaba. Ibnu Abbas lahir tiga tahun sebelum Nabi Muhammad hijrah." "Begitu anak muda dari Bani Hasyim ini lepas dari gendongan ibunya, dia langsung menyertai Rasulullah. Ibnu Abbas selalu berada di samping Nabi Muhammad, baik saat salat maupun ketika melakukan safar. Ketika Rasulullah meninggal dunia, Ibnu Abbas mengarahkan dayanya untuk menggali ilmu dari para sahabat Nabi. Dia mulai belajar dan berguru kepada mereka. Suatu ketika, Ibnu Abbas mendengar sahabat Nabi Muhammad menyampaikan hadis. Tak menunggu lama, dia langsung mendatangi rumah sahabat tersebut di waktu istirahat siang untuk belajar." "Ibnu Abbas membentangkan kainnya di teras pintu rumah sahabat Nabi. Angin beri hembus membawa debu menyapu tubuhku. Kalau aku ingin, maka aku bisa meminta izin kepadanya dan dia pasti memberikan izin. Aku melakukan hal itu agar jiwanya rela. Ibnu Abbas tak mau diperlakukan istimewa saat menuntut ilmu, meskipun dia sepupu Rasulullah. Menurutnya, guru harus didatangi bukan sebaliknya." 'Usaha Ibnu Abbas mencari ilmu membuahkan hasil. Dia akhirnya mencapai derajat keilmuan tertinggi yang membuat orang-orang tercengang. Setelah mencapai derajat keilmuan seperti yang diharapkannya, Ibnu Abbas mengubah dirinya menjadi seorang pengajar bagi masyarakat. Rumahnya menjadi sebuah universitas bagi kaum Muslimin. Salah seorang murid Ibnu Abbas menceritakan, universitas Ibnu Abbas dipenuhi penuntut ilmu. Orang-orang bahkan berdesak-desakan di jalan menuju ke rumah Ibnu Abbas." "Mereka menutup jalan tersebut bagi orang lain, aku masuk kepadanya, aku menyampaikan kepadanya bahwa orang-orang berjejal-jejal di pintu rumahnya." Afifah mednengar dengan cermat, hingga ia lupa kalau Tiara sudah menyelesaikan ucapannya. "Bagus banget, Ra, makasih juga aku jadi nambah ilmu hari ni." "Sama-sama Ra." ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN