Berbagi Itu Indah

1289 Kata
Afifah dan Tiara sedang duduk bersama ketika Tiara tiba-tiba bercerita. "Eh aku pernah baca, ada keutamaan orang-orang yang mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya. Kamu tau apa aja ngga, Fa?" "Kayaknya aku tau beberapa deh, Ra. Ini nih yang pertama, sebagai jalan untuk menambah semangat dalam menuntut ilmu. Sehingga setiap apa yang kita dapatkan, dapat bermanfaat pula untuk orang lain. Ya, kan? Terus yang Kedua, sebagai bentuk ajakan untuk diri kita sendiri dalam meluruskan niat menuntut ilmu. Sebaiknya tujuan utama kita menuntut ilmu adalah agar bisa diamalkan kembali. Aku bener nggak?" Tiara mengacungkan jempolnya. "Bener, yang, sebagai jalan untuk mendapatkan ilmu baru. Sebagaimana janji Allah, barang siapa yang mengamalkan ilmu yang telah didapatnya, maka Allah akan berikan ilmu yang belum diketahuinya. Sebagai bentuk jihad juga. Mengamalkan ilmu termasuk salah satu bentuk jihad, yakni jihad tafkiriy. Sebagaimana disebutkan dalam hadis: “Orang-orang yang menganggap pergi dan pulang menuntut ilmu bukan termasuk jihad, berarti akal pikirannya telah berkurang.” HR. Ad-Darimiy." "Hem iya iya aku juga kadang inget gitu sih, Ra. Kalau nggak salah juga, Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dan mengamalkannya. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. Al-Mujadilah ayat 11 yang artinya: “Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Jangan pelit. Jangan jadi orang berilmu tapi pelit ilmu. Enggak mau ngebagi ilmu sama orang lain. Enggak mau mengamalkan ilmunya juga. Allah enggak suka banget dah sama orang yang pelit ilmu. Allah sukanya sama orang yang mau berbagi ilmu." "Yep bener, tapi kalau udah dibagi ilmu, jangan sombong, jangan nggak tahu terimakasih. Aku kesel banget tuh sama orang yang begitu, Fa. HAHA." "Sama dong, Ra. Kamu nggak sendiri. Aku juga gitu, suka kesel sama yang nggak tau terima kasih." *** Afifah dan Tiara menghabiskan waktu mereka yang ada untuk belajar, belajar dan belajar. Mereka begitu semangat tentang lomba cerdas cermat ini. Ya! Mereka terpilih menjadi perwakilan jurusan tingkatan. "Fa ada yang kamu tau tentang ngamalkan ilmu, kayak manfaatnya gitu, apa aja? Soalnya kayaknya itu penting deh." Afifah mengangguk kencang. "Tau, ini ya aku sebutin." "Pertama ini Fa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : Sesungguhnya yang sampai kepada seorang mukmin dari amalannya dan kebaikannya setelah meninggal dunia ialah, ilmu yang ia ajarkan dan ia sebarkan, anak shaleh yang ia tinggalkan, mushaf AL-Qur’an yang ia wariskan, masjid yang ia bangun, rumah yang diperuntukkan untuk ibnu sabil yang ia bangun, sungai yang ia alirkan, sedekah yg ia keluarkan dari hartanya dalam keadaan sehat dan hidup.” "Terus yang kedua. Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : Sebaik-baiknya apa yang ditinggalkan oleh seseorang setelah ia meninggal dunia adalah tiga hal, yang pertama anak shaleh yang mendoakannya, sedekah jariyah yang terus mengalir pahalnya kepadanya, dan ilmu yang diamalkan setelahnya." "Nah yang ketiga Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu, kemudian ia meyembunyikannya, maka kelak ia akan dibungkam mulutnya dengan api neraka.” "Keempat. Bentuk Mengajarkan Ilmu. Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” "Oh ya, Kebaikan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah kebaikan agama maupun kebaikan dunia. Berarti kebaikan yang dimaksudkan bukan hanya termasuk pada kebaikan agama saja.Termasuk dalam memberikan kebaikan di sini adalah dengan memberikan wejangan, nasehat, menulis buku dalam ilmu yang bermanfaat. Gitu Fa." "Terus, Hadits di atas semakna dengan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” "Oke aku catet di dalam ingatan. Terus, Ra?" "Bentuk pengajaran ilmu yang bisa diberikan ada dua macam: pertama Dengan lisan seperti mengajarkan, memberi nasehat dan memberikan fatwa.Dengan perbuatan atau tingkah laku yaitu dengan menjadi qudwah hasanah, memberi contoh kebaikan.Khusus dakwah dengan qudwah hasanah, yaitu langsung memberikan teladan, maka jika ada orang yang mengikuti suatu amalan atau meninggalkan suatu amalan karena mencontoh kita, itu sama saja dengan bentuk dakwah pada mereka. " "Keutamaan Mengajarkan Ilmu Ia akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang ia ajarkan.Orang yang mengajarkan ilmu berarti telah melakukan amar ma’ruf nahi munkar, demi baiknya tatanan masyarakat lewat saling menasehati.Termasuk bentuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.Akan membimbing dan mewujudkan kehidupan bahagia pada tiap individu masyarakat dengan adanya adab dan hukum Islam yang tersebar. Walau Satu Ayat, Ajarkanlah! Intinya, ajarkanlah ilmu yang dimiliki walau satu ayat. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 'Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat' Yang dimaksud dengan hadits ini adalah sampaikan kalimat yang bermanfaat, bisa jadi dari ayat Al Qur’an atau hadits. Gimaa, Fa?" "Bagus, Ra." "Okey, karena kan Berbagi adalah cara seorang manusia untuk menyatakan eksistensi dirinya. Sesorang bisa saja kaya raya, namun jika saat dia bahagia maupun bersedih tidak ada satupun orang yang ada di sampingnya, maka dia bisa dikatakan sangat miskin. Berbagi bisa menjadi hal yang sangat melegakan, meskipun secara logika dengan berbagi kita kehilangan sesuatu." Afifah mengangguk setuju. "Apalagi jika yang kita bagikan adalah ilmu. Ilmu tidak akan pernah hilang dari diri kita. Ilmu yang dibagikan justru akan menjadi ilmu yang berkah, sperti pohon yang berbuah. Jika seseorang membagikan ilmu, maka ilmunya akan semakin bertambah. Dengan mengajarkan ilmu, ilmu yang dimiliki akan semakin menancap kuat dalam sanubarinya." "Coba kita renungkan deh Fa. Berbagi ilmu tiada ruginya, bahkan kita beruntung. Sebab, ilmu yang bermanfaat akan mendatangkan pahala bagi kita selama orang yang kita transferi ilmu menggunakannya di jalan kebaikan. Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” "Maka dari itu, jangan segan membagikan ilmu yang kita miliki. Berbagi imu termasuk tolong-menolong dalam kebaikan. Sekecil apapun itu. Berbagi ilmu seperti mengajarkan Alqur’an, akan mengantarkan kita menjadi sebaik-baik manusia. Usman ibn Affan ra berkata: Rasulullah saw bersabda: Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.” "Jadi, Bagi yang bisa berwirausaha, ajarkan ilmu wirausaha kepada orang lain yang belum memiliki pekerjaan, supaya orang itu bisa mandiri. Jika Anda ahli dalam suatu ilmu, tulislah buku agar ilmu Anda tidak hilang begitu saja. Membagikan ilmu yang bermanfaat dapat menjadi sarana menebar kebaikan dan mendulang pahala hingga kelak saat kita telah tiada." "Salah satu tugas orang yang telah berilmu agar ilmunya bermanfaat adalah mengamalkan apa yang telah diketahui. Terlebih ilmu itu adalah ilmu agama yang menjadi pegangan hidup sehari-hari. Selain itu, ia juga harus mengajarkannya kepada orang lain. Dan tidak boleh pelit berbagi ilmunya ketika ada yang bertanya kepadanya." "Bener, Ra. Imam Ibnu Hajar juga menjelaskan bahwa belajar ilmu adalah bertujuan untuk menyebar luaskannya agar bisa diambil manfaatnya oleh seluruh manusia. Oleh karena itu, menyembunyikannya adalah termasuk menghilangkan tujuan itu. Dan hal itu harus dijauhkan dari dalam diri para ulama dan hukama’. Namun, jika memang ia benar-benar tidak tahu jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepadanya, maka jangan malu untuk mengatakan tidak tahu. Jangan sampai menjawab sekenanya atau sekadarnya saja, tanpa didasari dengan ilmu. Sebaiknya, jika memang tidak tahu, maka ia mengatakan bahwa ia akan mengkajinya terlebih dahulu agar tidak sesat dan menyesatkan sang penanya." "Jadi itu dia, Ra. Hehe banyak banget ya yang aku bilang." "Bagus, Fa. Hebat, itu udah bisa tuh jadi bahan buat cerdas cermat nanti!" "Oke sip belajar lagi!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN