Sebenarnya, Afifah masih merasa ada yang aneh dengan dirinya. Seperti ada yang mengganjal di dadanya. Ketika ia mencoba berpikir dalam, ia mengalami kebuntuan. Entah apa hal mengganjal itu sebenarnya.
"Fah?"
Panggilan dari Tiara pun sering ia lewatkan begitu saja. Bukan karena ia tak acuh, tapi melainkan ia tidak dengar. Seperti ada suara-suara lain yang mengaung di telinganya.
"Afifah?"
Penglihatan Afifah terasa memburam. Ia bahkan mengerjap berulang kali untuk memfokuskan matanya, tapi tetap saja pandangannya terasa blur.
"AFIFAH!"
Afifah merasa dirinya dihentak dengan kuat hingga ia tersadar. Pandangannya menjelas seketika dan suara-suara di telinganya hilang seperti ditiup angin.
Afifah menoleh di mana Tiara sedang menatap ke arahnya dengan pandangan kesal. Ia bertanya-tanya, Tiara kesal karena apa?
"Kenapa, Ra?" tanya Afifah dengan raut polos. Seolah ia tidak melakukan kesalahan apapun, tapi memang ia merasa tidak melakukan kesalahan. Ia buktinya tidak mendengar panggilan sebelum-sebelumnya dari Tiara.
"Udahlah lupain aja. Kamu jangan bengong aja dong, Fa. Nanti kesambet loh, ini masih banyak yang harus kita beresin," ujar Tiara menunjuk semua perlengkapan yang masih berantakan di lantai.
"Iya, Ra. Sori ...." Walaupun Afifah tidak tahu untuk apa kata maafnya, tapi melihat Tiara yang tampaknya sebal dengannya membuatnya memilih mengucap maaf saja.
"Atau ada hal yang ganggu pikiran kamu, Fa? Apa kejadian kemaren masih terngiang di kepala kamu?" Tiara menatapnya khawatir, kentara sekali dengan mimik wajahnya.
Afifah bingung harus menjawab apa. Ingin menjawab iya, tapi ia tidak begitu yakin hal itu masih bercokol di pikirannya. Ingin menjawab tidak, entah kenapa ia malah merasa berbohong dengan dirinya sendiri.
Tapi akhirnya Afifah menggeleng sebagai jawaban. "Enggak kok, Ra. Gak ada kepikiran sama sekali." Ia melempar senyum meyakinkan. "Yauda lah kita lanjut aja ini beres-beresnya."
Mereka pun melanjutkan bebenah sampai tiba-tiba Mila datang dan menatap Afifah dan Tiara dengan datar. Tiara hanya menghela nafas melihatnya, ia sudah tahu jika Afifah sudah meminta maaf pada Mila, tapi sepertinya Mila belum memaafkan padahal jika dipikir-pikir, Afifah tidak punya kesalahan apapun terhadapnya.
Padahal ada banyak nilai persahabatan dalam Islam. Tiara bertopang dagu, mencoba mengingat apa yang ia tahu tentang nilai-nilai persahabatan itu.
"Em aku pernah baca kan kalau dalam Islam pun persahabatan sudah dianjurkan Sebenarnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang bersudara, maka damaikanlah di antara kedua saudara kamu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu memperoleh rahmat."
"Nih ya fa, pertama. Islam adalah fondasi yang kokoh untuk persahabatan. Jadi, Semua aturan dalam islam adalah satu fondasi yang kuat untuk bisa diterapkan dalam setiap aspek di hidup kita, begitupun dalam hal pertemanan atau persahabatan. Ketika sebuah lingkup persahabatan memiliki keyakinan yang sama dan juga beribadah kepada Allah SWT, maka itu akan menjadi fondasi terkuat yang pernah ada untuk sebuah persahabatan. Kalian dapat memperkuat keyakinan satu sama lain, dan meningkatkan kualitas iman bersama. Seperti yang dikatakan oleh Rasulullah : Teladan orang mukmin, dalam cinta dan belas kasih satu sama lain itu ibarat seperti satu tubuh, jika satu bagian merasakan sakit maka seluruh tubuh menderita sulit tidur dan demam."
Afifah menjentikkan jarinya. "Kayaknya aku tau itu deh. Kedua , Persahabatan itu penting dalam Islam. Manusia memang diciptakan sebagai makhluk sosial. Artinya, manusia akan selalu membutuhkan manusia lain di dalam hidupnya, Islam pun tak memungkiri hal ini. Pergaulan yang baik bisa membuat kehidupan yang lebih baik bagi siapa pun, tidak hanya karena dapat saling mendukung dalam kehidupan religius, tetapi juga dalam kehidupan duniawi."
Tiara mengangguk. "Ketiga, Teman adalah pemberi pengaruh yang kuat. Karena teman adalah orang yang cukup sering dilibatkan dalam kegiatan kita sehari-hari, maka tentunya pengaruh yang mereka berikan cukup besar, lho. Nabi Muhammad memperingatkan kita untuk memilih pendamping kita dengan hati-hati. Seseorang bisa dengan mudah dipengaruhi oleh teman-temannya, jadi berhati-hatilah dengan siapa kita berteman. Mudah bagi kita untuk mengambil sesuatu dari seseorang yang dekat dengan kita, maka kita harus menemukan kualitas terbaik dari teman-teman kita."
"Dan yang keempat. Persahabatan dalam Islam terhubung dengan Allah . Manusia dan imannya akan selalu terhubung kepada Allah SWT. Untuk itu penting sekali untuk menjaga iman yang berhubungan kepada sesama, salah satunya kepada sahabat sendiri. Seperti yang sudah dicontohkan Nabi Muhammad : “Seseorang mengunjungi temannya di kota lain dan Tuhan mengirim malaikat untuk menunggunya dalam perjalanan. Malaikat itu berkata, "Kemana kamu ingin pergi?" pria itu menjawab, "Saya berniat untuk pergi ke teman saya di kota ini." Malaikat itu berkata, "Apakah kamu telah membantunya, apa imbalan yang ingin kamu dapatkan?" Dia berkata: "Tidak, aku mencintainya demi Tuhan, Yang Mulia dan Mulia." Setelah itu malaikat berkata, "Aku adalah utusan untukmu dari Tuhan untuk memberi tahu kamu bahwa Tuhan mencintaimu seperti kamu mencintainya."
"kelima, Teman yang baik akan selalu membimbing kita di jalan Allah. Teman memiliki pengaruh yang signifikan dalam setiap tindakan yang kita lakukan, lho. Untuk itu, sebenarnya memilih kualitas pertemanan adalah hal yang cukup penting, karena lingkup persahabatan yang baik bisa menambah kualitas imaan kita dan selalu mengingatkan kepada Allah. Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-gerinya teringat mati. Sebaik-baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap tetangganya.”
"Ah ya aku tau itu hadis, Ra."
Tiar mengangguk dan tersenyum, dia melanjutkan, "Keenam. Persahabatan harus meningkatkan keberkahan Allah
Saat kita hendak memilih teman atau mencari teman di lingkungan yang baru, coba, deh, niatkan untuk melakukannya demi Allah SWT dan mencari keberkahann-Nya. Maka dengan niat seperti itu, niscaya Allah SWT akan memberikan nikmat-Nya yang sebesar-besarnya untuk persahabatan kita dan memberikan kepada kita sahabat-sahabat yang akan menambah nikmat-Nya."
"Terus kamu tau lagi nggak, Ra?"
"Tau dong, yang ketujuh, Rekan yang salah membawa kita ke jalan yang salah Sama layaknya seperti lingkup persahabatan yang membawa kebaikan, teman yang salah tentu juga akan membawa kita ke jalan yang salah."
"Terus yang kedelapan. Persahabatan adalah anugerah dalam Islam. Memiliki teman adalah sebuah anugerah, lho. Ini karena kehadiran teman bisa membuat kita terhindar dari rasa kesepian di dunia. Seorang teman sejati akan mendukung kita dalam suka dan duka dalam hidup kita, dan itu adalah salah satu anugerah terbesar dalam hidup."
"Kyaknya aku bisa nebak yang kesembilan deh, Ra. Ini yah yang kesembilan. Untuk meningkatkan cara hidup
Karena pengaruhnya yang cukup signifikan, maka tentunya lingkup persahabatan yang baik bisa meningkatkan cara hidup seseorang. Maka, Bela, penting untuk kita menemukan teman yang tepat. Kita bisa mengambil hal-hal baik untuk dipelajari dari teman kita, dan memberikan yang terbaik untuknya juga. Jadi, kita sama-sama bisa menjadi pribadi yang lebih baik melalui pertemanan."
"Bener banget Fa, dan yang kesepuluh. Teman yang baik bisa menjadi harta bagimu. Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan, Temukan teman untuk dirimu sendiri dari antara saudara seagamamu karena mereka adalah harta dunia ini dan juga dunia berikutnya.”
Ini menunjukkan bahwa sahabat sejati itu ibarat harta dunia dan akhirat. Mereka tidak akan hanya membuat kita bahagia di dunia, tetapi persahabatan berlanjut di akhirat.
Jadi ... Tiara berpikir kalau ini akan lebih baik jika mereka menjauhi Mila. Benar, bukan? Masalahnya Mila terlalu aneh, dibaikin salah dicuekin juga salah. Tiara jadi bingung sebenarnya mau dia apa.
Tiara pada Afifah yang masih fokus dengan barang-barang disekitarnya. Afifah tadi jelas-jelas tahu kalau ada Mila yang menghampiri mereka, tapi dia malah diam saja.
Mila juga aneh, dia datang tapi diam saja tidak mengucapkan sepatah katapun. Dan dia sekarang masih berdiri di tempatnya memandangi mereka dengan diam.
"Mila. Sebenernya kamu mau apa?" tanya Tiara yang membuat Afifah disampingnya terkejut. "Kamu dateng, diem, ngeliatin kita terus, kenapa? Kamu ada masalah sama aku dan Afifah? Ngomong aja tapi jangan kayak gini, aneh tau gak."
Afifah melongo dibuatnya, Tiara memang kalau sudah emosi, ucapannya tidak terkontrol lagi, ya walaupun perkataannya sebenarnya masih dalam batas normal.
Mila menatap Tiara dengan pandangan sakit hati. Ini dia yang tidak disukai Tiara.
"Aku bukannya bermaksud jahat. Tapi aku kesel. Mil. Kamu tuh aneh banget. Kamu penasaran kenapa kemaren itu kita jauhin kamu? Itu karena kamu enggak suka ke Afifah. Padahal kan Afifah enggak punya salah apa-apa sama kamu. Tapi kamu gak suka sama dia. Aku sama Afifah itu udah lebih lama kenal dibanding kamu, kita juga klop. Jadi kita mutusin jauhin kamu, maaf tapi ini faktanya kalau kamu penasaran.
"Trus karena ngeliat kamu sedih, Afifah inisiatif buat deketin kamu, sekaligus minta maaf, tapi kamu malah gak peduli, kalau kamu emang enggak mau berteman sama kita, jauh-jauh aja ya, gak usah deket-deket kayak gini padahal sebenarnya kamu gak suka. Kamu tau Kila, kan? Aku tuh gak suka sama dia, jujur aja, aku sering kesel ke dia, dan jangan buat diri kamu ada di posisi yang lebih jauh dari Kila. Aku mohon," ujar Tiara panjang lebar.
Afifah benar-benar terpaku di tempatnya, ia tak sanggup berbicara sedikitpun karena ucapan panjang lebar Tiara. Ia menelan salivanya susah payah, melirik Mila yang terlihat pucat pasi membuatnya iba.
Mila menunduk sebelum bergumam maaf. Kata yang mengejutkan Afifah namun terdengar biasa di telinga Tiara. Tiara hanya merassa Mila begitu telat mengucapkannya, seharusnya dari kemarin itu, bukan sekarang ketika semua orang terlanjur kesal padanya.
"Maaf ... Tiara, Afifah. Aku emang salah. Maaf ... aku bakal jauhin kalian, kok. Aku bakal keluar dari sekolah ini," ujar Mila dengan kepala yang masih menunduk. "Dan untuk Afifah, maaf aku enggak manggil kamu padahal tau kalau kamu lagi ngejer kucing itu, aku terlalu kesel sama kamu makanya ngelakuin itu."
Pengakuan Mila itu membuat Afifah dan Tiara terpelongo. Mereka tidak menyangka kalau sebenarnya Mila tahu hal itu, ia menyadari Afifah yang menjauh tapi tidak mau repot-repot memanggilnya atau apa agar Afifah tidak terjerumus semakin dalam.
"Kamu ... kamu tau Afifah bisa tersesat tapi kamu diam aja?!" Tiara meringsek maju, membuat Afifah cepat-cepat menahannya. Tiara benar-benar bisa diluar kendali sekarang ini. "Aku ... kekesalan aku sama kamu udah gak bisa dihitung lagi, Mil. Kamu emang mending pergi aja dari sini, jangan deketin aku sama Afifah lagi. Kamu aneh, kamu egois, kamu jahat! Temen sendiri dalam kesusahan kamu gak peduli! Kamu pikir hal itu enggak bisa balik ke kamu?! Hah!"
"Tiara, udah!" seru Afifah sembari menarik mundur tubuh Tiara. Sudah banyak orang yang menonton mereka.
Mila sendiri sudah berkaca-kaca, ia seperti di tampar oleh tangan tak kasat mata berulang kali. Ia bukan hanya sadar akan kesalahannya, tapi ia juga menyesalinya. Kalimat Tiara benar-benar tajam hingga mampu mengoyak hatinya yang dingin.
"Maaf Afifah, Tiara." Itu adalah kalimat terakhir yang Mila ucapkan sebelum ia pergi dari sana, memebelah kerumunan dan berlari ke kelasnya berada.
Kerumunan yang terjadi tanpa arahan pun perlahan bubar, Afifah dan Tiara masih saling diam sebelum Tiara yang lebih dulu angkat suara.
"Astaghfirullah, tadi apa aja yang aku bilang ke Mila, Fa?" tanya Tiara yang sudah dingin kepalanya. "Aku lupa sama kata-kata ku sendiri."
Afifah menatap Tiara dengan mata lurus. "Aku juga lupa, Ra. Kamu ngomong panjang banget. Tapi intinya kamu udah nyakitin Mila."
Tiara menoleh menghela nafas panjang. "Yaudalah ya, yang penting dia sadar kalau dia salah. Biar aja biar sadar, aku gak bakal minta maaf."
Afifah tersenyum kecin menatap Tiara, kalau begitu ia juga tak bisa melakukan apapun lagi. Dan juga, sebenarnya ia cukup lega jika Mila memang sadar akan kesalahannya dan berharap kejadian yang sama tidak terulang kembali.
***