Fakta Baru

1036 Kata
Emma membuka pintu rumah dengan langkah gontai, membayangkan pemandangan yang akan menyambutnya. Piring kotor, bantal sofa yang berantakan, dan remah-remah makanan yang pasti berserakan. Namun, ia tertegun. Aroma wangi pembersih lantai menyambutnya, membuat perasaannya terasa dingin. Ruang tamu tampak begitu rapi; bantal-bantal sofa tersusun sempurna, meja kopi bersih tanpa noda. Bahkan karpet pun tampak bersih tanpa sisa makanan. Ia tahu, Fandi yang melakukan semua itu. Senyum sinis terukir di bibirnya. Sebuah upaya yang terlambat. "Kamu udah pulang?" Suara Fandi terdengar dari arah dapur. Senyum manisnya menyambut Emma. Emma mengangguk, memaksakan seulas senyum tipis, lalu bergegas masuk ke dalam kamar, sengaja menghindari Fandi. Semua yang dilakukan Fandi belum mampu meluluhkan hatinya. Ini bukan hanya tentang nasi goreng Anindya. Ini adalah akumulasi dari kekecewaan yang ia pendam selama ini. Sikap acuh Fandi, kata-kata yang sering menyakitkan, dan rasa diabaikan telah membuatnya begitu tertekan. Ia tak akan luluh begitu saja. Ia akan memberikan pelajaran lebih lama lagi. Emma menarik napasnya. Kebersamaan sesaat bersama Armand seolah membuka matanya, bahwa ia berhak untuk dihargai. Ia layak diperlakukan dengan penuh cinta dan perhatian. Tangan Emma terulur untuk menutup pintu kamar, namun tiba-tiba suara Fandi mengagetkannya. Ia sudah berdiri di ambang pintu, wajahnya dipenuhi raut penuh harap. "Gimana meeting-nya, lancar?" tanyanya, mencoba memulai percakapan. Emma hanya menjawab dengan anggukan, tanpa menatap matanya. "Aku mau mandi dulu," ucapnya, suaranya terdengar dingin, seolah ingin segera mengakhiri interaksi. Fandi tidak menyerah. "Mau dibikinin teh hangat?" tanyanya, suaranya melembut. "Enggak usah," jawab Emma singkat, lalu bergegas masuk ke kamar mandi. Ia menutup pintu di belakangnya, meninggalkan Fandi yang hanya bisa menghela napas putus asa. Fandi kembali ke dapur, menuangkan teh hangat yang sudah ia buat ke dalam mug. Ia menyesapnya perlahan, matanya menatap kosong cangkir di tangannya. Sikap dingin Emma tadi terasa seperti pukulan telak yang membuat semua usahanya sia-sia. Ia lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan membaca kembali sebuah pesan yang ia simpan: "Bersikaplah yang manis. Rapikan rumah, buat dia terkesan." Fandi kembali menghela nafas, putus asa. Di dalam kamar, Emma sudah berganti pakaian. Ia lalu membuka tasnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru. Di bawah cahaya lampu kamar, cincin berlian di dalamnya berkilau, memancarkan pesona yang begitu hidup. Emma kembali takjub. "Beruntung sekali hidupmu, Ris..." gumamnya lirih. Ia menutup kembali kotak itu dan menyembunyikannya di dalam laci paling bawah lemari. Cincin itu harus tersembunyi dari Fandi. Sebagai mantan jurnalis berita kriminal, Fandi sangat paranoid. Kalau Fandi melihat cincin itu, dia pasti akan memintanya untuk mengembalikannya. Malam harinya, di atas ranjang, sikap Emma masih dingin. Ia berbaring memunggungi Fandi, menciptakan jarak yang terasa jauh. Emma bahkan menghindari pelukan Fandi. Ia tahu Fandi hanya berusaha merayunya karena merasa bersalah. Kecurigaannya kembali muncul. Jangan-jangan dia memang punya hubungan spesial dengan perempuan itu, batinnya. Emma berusaha memejamkan mata, memaksakan diri untuk terlelap, namun benaknya terus memutar setiap detail kebersamaannya dengan Armand seharian tadi. Mobil mewah, cincin berlian, dan makan siang itu. Semuanya terasa begitu hangat. Perhatian Armand yang tulus, percakapan mereka yang ringan, dan senyumnya yang menenangkan, semuanya terasa begitu nyata dan nyaman. Berbeda sekali dengan kehangatan Fandi yang terasa dipaksakan. Ia merasa terperangkap dalam pernikahan yang membuatnya semakin hampa. .... Pagi itu mobil Armand baru saja keluar dari halaman rumah, saat Emma melangkah ringan menuju rumah Marissa. Ia membuka pintu belakang, lalu menghampiri Marissa yang sedang membereskan meja makan. "Hai, Ris," sapanya ceria, senyumnya mengembang lebar. Marissa menoleh, alisnya bertaut. "Tumben, lebih pagi ke sininya? Memangnya rumah udah beres?" tanyanya, tersenyum. Emma mengangguk. "Udah diberesin tadi sama Mas Fandi sebelum berangkat kerja," jawab Emma, ekspresinya tampak biasa saja. Marissa mengernyitkan keningnya, tak percaya. "Fandi beresin rumah?" tanyanya. Emma mengangguk, memaksa bibirnya tersenyum. "Biasa... buat merayu aku, supaya dimaafin," sahutnya, sedikit sinis. "Oh ya?" Marissa terkejut sekaligus senang. "Dari kemarin malahan... aku pulang sore, tahu-tahu rumah udah rapi," imbuh Emma. "Kamu... kemarin pulang sore?" tanya Marissa. Suaranya terdengar ragu. Kedua alisnya bertaut. Melihat reaksi Marissa, Emma seketika tersadar Marissa mencurigai waktu kepulangannya yang sama dengan Armand. "Iya... acara ultah sepupuku itu ternyata lama banget, sampai sore," sahutnya, buru-buru menambahkan detail, berharap kebohongannya terdengar meyakinkan. "Oh... Mas Armand juga pulang sore kemarin," ucap Marissa, suaranya datar. Jantung Emma serasa berhenti berdetak. Benar saja dugaannya. "Oh, memangnya Armand pergi ke mana?" tanyanya, pura-pura. "Katanya, sih, ketemu klien..." sahut Marissa, suaranya terdengar ragu. "Ooh... Hm, kamu udah bikin kopi belum?" tanya Emma, buru-buru mengalihkan topik pembicaraan. Marissa menggeleng pelan, tangannya sibuk merapikan piring-piring kotor. Senyum tipis kembali terukir di wajahnya. Melihat Marissa yang tak lagi curiga, Emma merasa sedikit lega. Ia bergegas membantu Marissa membawakan gelas-gelas kotor ke ke dapur. "Aku aja yang bikin kopinya, ya?" tawarnya, mencoba mengembalikan suasana santai mereka. Tak lama kemudian, mereka duduk di kursi taman, menikmati kopi sambil memandangi bunga mawar yang bermekaran. Aroma harumnya memenuhi udara. Tiba-tiba saja ingatan Emma kembali pada rangkaian bunga mawar indah di lobi Rosetta Hotel. "O ya, kamu tahu gak, di Rosetta Hotel itu, banyak banget bunga mawar di Lobinya. Kamu pasti suka kalau ke sana." "Oh ya?" Mata Marissa terbuka lebar. "Kapan-kapan kita kesana yuk?" Ajak Marissa. "Hm... boleh..." Emma menjawab ragu. "Tapi kamu minta ijin Armand dulu." Wajah Marissa tiba-tiba berubah. "Aku malas kalau minta ijin. Soalnya Mas Armand itu banyak banget larangannya. Enggak boleh ini, enggak boleh itu. Enggak boleh ke sana, enggak boleh ke sini...." "Masa sih?" Emma menatap Marissa, tak percaya. "Mas Armand itu kan, posesif," imbuh Marissa. Nada suaranya datar, seolah itu bukan masalah besar baginya. "Posesif?" Kini Emma tak bisa menyembunyikan keheranannya. Selama ini, ia tak melihat tanda-tanda sifat posesif dalam diri Armand. "Iya, aku kan enggak boleh pergi sendirian. Harus ditemani Mas Armand atau sama orang yang dikenal," lanjut Marissa, menyesap kopinya. "Ooh, kalau itu kan, demi kebaikan kamu, Ris..." ucap Emma, tersenyum lega. Ia masih berusaha melihat sisi positif dari Armand. "Dan aku juga cuma boleh berteman sama kamu," tambah Marissa, suaranya terdengar seperti sebuah keluhan. "Tapi... kata Armand, kamu memang enggak punya banyak teman?" tanya Emma, mengklarifikasi. Marissa menggeleng. Sebuah senyum pahit terukir di wajahnya. "Sejak menikah sampai sekarang Mas Armand sengaja menjauhkanku dari orang-orang. Aku bahkan enggak tahu keluargaku yang lainnya. Cuma kamu yang boleh dekat." Ucapan Marissa membuat kecurigaan Emma yang sempat hilang, kembali merayapi hatinya. Kini ia percaya, Armand memang memiliki rahasia yang disembunyikannya dari Marissa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN