Kepingan Memori

1288 Kata
Suara televisi yang samar terdengar dari ruang tengah. Emma duduk di sofa, menatap layar tanpa benar-benar memperhatikan acara yang tayang. Di tangannnya, secangkir teh mengeluarkan uap tipis. Ia menatap jam dinding — hampir jam sembilan malam. Fandi belum juga pulang. Entah lembur, entah ke mana lagi. Ia menarik napas, meski di depan Fandi ia pura-pura tak peduli, tapi ia tak bisa memungkiri bahwa ia masih mengkhawatirkannya. Suara mesin mobil yang familiar di seberang rumah membuat Emma bergegas ke ruang tamu. Ia menyingkap sedikit tirai, menatap ke luar dengan debar aneh di d**a. Dari balik kaca, ia melihat Armand keluar dari mobil—kemejanya masih rapi, langkahnya tenang, wajahnya tampak teduh dan begitu tampan. “Dia memang laki-laki sempurna,” gumam Emma pelan. Rasa iri menjalari hatinya, perlahan namun pasti. Betapa beruntungnya Marissa. Meski sering mengeluh Armand terlalu posesif, kenyataannya pria itu selalu memanjakannya dengan kemewahan yang tak semua wanita bisa miliki. Tanpa sadar, tatapan kagum Emma terus mengikuti setiap gerak Armand. Namun tanpa ia sadari, dari seberang jalan, sepasang mata lain tengah memperhatikannya. Dari balik celah tirai rumah itu, Marissa memandangi bayangan Emma yang diam-diam mengintip ke arah suaminya. Matanya menyipit, diliputi rasa tak nyaman yang sulit dijelaskan. Pikiran buruk sempat melintas, tapi segera ia gelengkan kepalanya pelan—berusaha menepis bayangan itu dari benaknya. Malamnya, saat Armand sudah terlelap di sampingnya, Marissa tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya terus berputar. Bayangan Emma yang mengintip dari balik tirai kembali muncul, menyeruak bersama kepingan-kepingan kecurigaan yang beberapa hari ini ia rasakan. Sikap Emma dan Armand yang terasa berbeda. Kepergian keduanya beberapa hari ini yang nyaris berbarengan, dan sikap mereka yang seperti menyembunyikan sesuatu, semua itu sulit untuk ia abaikan. Perlahan Marissa bangkit dari tempat tidur, memastikan Armand sudah tertidur, sebelum kemudian ia meraih ponsel Armand yang tergeletak di nakas, lalu membukanya. Ditelusurinya daftar panggilan keluar dan masuk, lalu mengecek aplikasi perpesanan. Namun, nihil. Ia tidak menemukan jejak apa pun di sana. Marissa menghela nafas. Ia lalu meletakkan kembali ponsel itu di tempatnya semula, dan kembali membaringkan tubuhnya. Namun, tanpa Marissa sadari, Armand tidak benar-benar tertidur. Ia memang tak pernah melarang Marissa membuka ponselnya. Tapi malam ini, sikap Marissa yang membuka ponselnya secara diam-diam, membuatnya bertanya-tanya, apa yang membuat ia curiga? Apakah ia sudah tahu tentang rencana kejutan itu? Ataukah diam-diam Emma sudah memberitahunya? *** Pagi itu, Emma kembali melangkah ke rumah Marissa dengan riang. "Pagi, Ris!" sapanya saat meluncur masuk ke area dapur. Marissa, yang sedang berdiri di depan mesin pencuci piring, menghentikan gerakannya sejenak tanpa menoleh. Ia meletakkan sebuah piring dengan bunyi 'ting' yang tajam karena beradu dengan rak besi—sebuah nada peringatan yang tak tertangkap oleh telinga Emma. "Pagi, Em," jawab Marissa datar. Saat dia berbalik, senyumnya tidak lebar. Matanya menyapu penampilan Emma dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang menilai apakah ada sesuatu yang "salah" dari sahabatnya itu pagi ini. Bayangan Emma yang mengintip Armand dari balik tirai semalam masih menari-nari di kepalanya, memicu rasa posesif yang mulai mendidih. "Cerah banget mukanya? Ada berita bagus?" tanya Marissa. Nada suaranya sedikit menyelidik, tidak setulus biasanya. Emma, yang tidak sadar sedang diawasi, langsung membantu memasukkan piring kotor. "Kamu kan tahu kalau akhir bulan mukaku selalu cerah. Makanya aku mau ngajak kamu sekalian belanja bulanan." Marissa mengerutkan kening. Ia memperhatikan bagaimana tangan Emma bergerak di dapurnya—wilayah kekuasaannya yang sakral. "Tapi, aku belum minta Mas Armand uang bulanan," sahutnya pelan. Ada rasa tidak suka melihat Emma merasa begitu "nyaman" di sana. "Loh, memangnya harus minta juga? Bukannya tinggal gesek?" seloroh Emma tanpa dosa. Marissa tersenyum tipis, hampir seperti seringai. "Aku enggak berani kalau enggak bilang dulu. Mas Armand itu... paling nggak suka kalau ada sesuatu yang berjalan di luar sepengetahuannya. Dan aku juga suka begitu. Semuanya harus jelas, Em. Nggak boleh ada yang sembunyi-sembunyi." Emma sempat tertegun mendengar penekanan pada kalimat terakhir itu. Jantungnya berdesir sedikit, namun ia mencoba abai. "Iya, kalau bisa, kita pergi sekarang aja, sekalian ngopi di kafe. Sekali-kali..." Emma mengedipkan matanya. Marissa terdiam sejenak, menimbang-nimbang antara rasa curiganya dan keinginan untuk keluar dari penjara mewah ini. Akhirnya ia mengangguk. "Kamu bilang sama Armand kita mau pergi belanja ke supermarket, tapi jangan bilang pergi ke kafe," ucap Emma sedikit berbisik. Marissa hanya mengangguk tanpa ekspresi. Dingin. Sepanjang perjalanan di dalam taksi, Marissa lebih banyak diam. Matanya menatap kosong ke luar jendela, namun jemarinya terus bergerak gelisah, mencengkeram ujung tasnya hingga buku jarinya memutih. Emma mencoba mengajak bercanda, tapi Marissa seolah berada di dunianya sendiri—atau mungkin sedang mempersiapkan sesuatu. Sampai akhirnya, taksi itu melambat saat melewati gerbang megah Hotel Rosetta. Seketika, napas Marissa tersentak. Kepalanya berdenyut hebat, ada kilatan-kilatan bayangan kabur yang melintas cepat di benaknya. Aroma parfum lobi yang samar tercium hingga ke jalanan membuat perutnya melilit kaku. Tanpa ia sadari, tangannya mendadak dingin dan gemetar. Tubuhnya mengenali tempat ini, meski otaknya dipaksa lupa. "Masuk ke sana, Pak!" perintah Marissa. Suaranya terdengar asing di telinga Emma—datar, namun penuh penekanan yang tak bisa dibantah. "Rosetta Hotel?" supir taksi memastikan. "Hah? Ris, mau ngapain ke sana?" Emma mulai panik, teringat ancaman Armand. "Kita kan mau belanja?" Marissa tidak menjawab. Ia terus menatap bangunan itu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rindu yang gila dan ketakutan yang mencekam. Saat mobil berbelok masuk ke lobi, Marissa menggumam lirih, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri. "Aku harus ke sana... aku kenal tempat ini..." "Ris?" Emma memegang bahu Marissa, tapi Marissa seolah tak merasakan sentuhannya. "Kenapa, Em? Kamu takut?" Marissa menoleh perlahan. Matanya terlihat sedikit redup, seperti orang yang sedang berjalan dalam tidur. Ia meletakkan telunjuk di bibirnya, tersenyum tipis yang terasa dingin. "Sssttt... jangan bilang-bilang Mas Armand. Aku cuma mau... pulang sebentar." Seketika, Emma mematung. Jantungnya berdegup kencang. Ternyata kecurigaannya selama ini memang beralasan. Armand menyembunyikan sesuatu yang sangat besar dari Marissa—sesuatu yang terkubur di balik megahnya dinding Hotel Rosetta. Begitu memasuki lobi, Marissa tampak seperti orang yang baru terbangun dari mimpi panjang. Kakinya melangkah dengan pasti, seolah-olah lantai itu memiliki magnet yang menariknya ke arah tertentu. Ia menyusuri setiap sudut—menatap lukisan, menyentuh relief dinding, dan mengagumi lampu kristal—dengan gerakan yang sangat familiar. Terlalu familiar untuk seseorang yang mengaku belum pernah masuk ke dalamnya. Langkah Marissa terasa ringan, tak ada keraguan saat ia menyusuri lobi, hingga kemudian ia melangkah menaiki anak tangga berkarpet merah. Namun, tepat di tengah tangga, seorang staf hotel menghampirinya. "Selamat pagi, Bu. Bisa saya bantu, mau ke mana?" tanya pria itu ramah. Seketika, aura magis itu luruh. Marissa tersentak kaku, menatap tangannya yang gemetar di atas pegangan tangga. "Saya... saya mau ke..." suaranya terbata, matanya menatap liar karena kebingungan yang tiba-tiba menyerang. "Mau ke kafe, Pak!" Emma cepat-cepat memotong. Suaranya melengking karena panik. Ia segera menyambar lengan Marissa, menariknya menjauh dari tangga itu seolah-olah sedang menjauhkan sahabatnya dari bibir jurang. Emma segera menggandeng tangan Marissa masuk ke dalam kafe hotel yang terletak di sudut lobi. Ia hanya ingin mereka segera duduk dan menghilang dari pandangan orang-orang sebelum Marissa melakukan hal yang lebih aneh lagi. Di dalam kafe, di depan jendela besar yang menampakkan hiruk-pikuk kota di luar sana, Marissa hanya terdiam. Di hadapannya, secangkir kopi yang masih mengepul diabaikan begitu saja. Ia tampak seperti orang yang baru saja terlempar ke dunia asing. "Ris... Kamu kenapa?" tanya Emma pelan. Marissa menatap Emma dengan tatapan kosong yang sulit diartikan. "Kayaknya aku... pernah ke sini," jawabnya lirih, suaranya mengambang begitu saja di udara. Seketika, Emma mematung. Jantungnya berdegup kencang. Berada di dalam kafe hotel ini justru memperjelas segalanya. Ternyata kecurigaannya selama ini memang beralasan. Ia sadar, Armand bukan sekadar menyembunyikan rencana kejutan ulang tahun yang romantis. Pria itu menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih gelap—sebuah masa lalu yang sengaja dikubur dalam-dalam, namun kini perlahan mulai merangkak keluar melalui ingatan tubuh Marissa yang tak bisa berbohong.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN