Keesokan paginya, Armand duduk di ruang makan berhadapan dengan Ayahnya. "Jadi," suara Armand rendah dan menekan, "kemarin Marissa pinjam mobil Ayah dan pergi sendirian?" Ayah mengangguk. "Iya. Katanya cuma mau ke supermarket." Armand mencondongkan tubuh ke depan. "Kenapa Ayah enggak bilang ke aku? Ayah tahu kan, Marissa enggak boleh pergi sendirian." "Ayah enggak tega, Man! Kasihan dia... Kamu terlalu ketat jaga dia. Padahal dia sudah baik-baik saja." "Bukan itu alasannya, Yah. Dia..." Armand menghentikan ucapannya, bibirnya kaku. Ia tak sanggup menceritakan rahasia yang ia sendiri tak mengerti sepenuhnya. Ayah menarik napas panjang. "Armand," katanya lembut, "kadang terlalu banyak menyembunyikan kebenaran, malah bisa menghancurkanmu sendiri. Kamu jaga dia seperti kaca, jangan sampa

