Malam itu, Marissa tak bisa tenang. Kegelisahan merayap, merenggut nyenyak tidurnya. Ia keluar dari kamar yang terasa menyesakkan, dan menyalakan televisi. Teka-teki itu menyita pikirannya, bagai puzzle yang kehilangan kepingan pentingnya. Ia yakin peti kayu itu dan Tante Soraya tahu isinya, tetapi apa yang membuatnya begitu ketakutan? Misteri ini jauh lebih gelap dari yang ia bayangkan. Marissa menatap kunci tembaga di tangannya, jari-jarinya memainkan lekuk logamnya berulang-ulang. Ada sesuatu yang familiar sekaligus asing, seperti bayangan masa lalu yang samar menembus kabut ingatannya. Ia menghela napas pelan, mencoba menenangkan diri, tapi rasa penasaran tetap menggelitik. Bukankah ini kunci dari sesuatu yang penting? Ia menatap foto peti kayu itu di ponsel, mata menyipit sedikit. Ha

