Pagi itu, suara lakban yang disobek, kardus yang digeser dan denting pecah belah yang beradu memenuhi dapur. Marissa sedang membereskan perabotan, mengemas kenangan dan sisa-sisa kehidupan yang sebentar lagi akan ia tinggalkan, untuk memulai babak hidup yang terasa terpaksa. "Kamu enggak perlu bawa semuanya, Ris. Di sana kan, sudah ada yang baru." Armand tiba-tiba berdiri di hadapannya, menenteng kardus berisi barang-barang pribadinya. "Sayang, Mas," jawabnya singkat. Padahal ia hanya ingin membawa sisa kenangannya bersama Emma. Alasan yang akan membuat Armand melarangnya. "Oh ya, aku udah acak-acak isi lemari. Tapi gelang kamu enggak ketemu. Kamu benaran enggak ingat taruh di mana?" Tanya Armand, suaranya terdengar ragu. "Gelang?" Marissa mengernyit. Tatapan matanya seperti ia tak me

