Pagi itu, keheningan di meja makan terasa begitu berat. Marissa menatap Armand—wajahnya tampak kusut, seolah ada sesuatu yang ingin ia sembunyikan. Armand menunduk, pikirannya dipenuhi keresahan. Ia terus memikirkan cara agar Marissa mau pindah rumah. Permintaan Anita terasa seperti perintah mutlak. Ia tahu betul Marissa mencintai rumah ini—rumah yang penuh kenangan bersama Emma. Dan ia juga yakin, Marissa pasti akan menolak. “Ris…” panggilnya pelan. Suaranya terdengar ragu. “Ada apa, Mas?” tanya Marissa lembut. “Kayaknya… kita harus pindah rumah,” ucap Armand akhirnya, suaranya berat, nyaris tak terdengar. “Pindah rumah?” Kedua alis Marissa terangkat tinggi. Armand mengangguk, berusaha tampak yakin. “Aku kepingin kita tinggal di lingkungan yang lebih nyaman.” Marissa menatapnya lek

