Marissa duduk gelisah, hatinya bergemuruh. Di depannya, Armand menatapnya dengan pandangan ragu dan penuh keputusasaan, seolah mencari kata-kata yang terlalu berat untuk diucapkan. Marissa tahu, ia akan mendengar permintaan sulit, permintaan yang mengikis sisa-sisa pertahanannya. "Ris..." Armand meraih kedua tangannya. Genggaman itu terasa hangat, namun justru memicu getaran ketakutan yang dingin di tubuh Marissa. "Sudah empat bulan Emma pergi, tapi kamu belum pernah ke makamnya." Seperti tersengat listrik, Marissa refleks melepaskan genggaman itu. Ketakutannya memuncak, d**a terasa sesak, napasnya tercekat. Benar saja, Armand meminta sesuatu yang tak sanggup ia lakukan, tak sanggup ia hadapi. "Sayang... aku akan temani kamu!" Armand kembali meraih tangannya, suaranya melembut, namun

