Armand dengan sabar menggandeng tangan Marissa, menyusuri jalan setapak menuju tempat peristirahatan terakhir Emma. Sesampainya di sana, Marissa tertegun. Langkahnya terhenti begitu saja, seolah tubuhnya menolak bergerak lebih dekat. Matanya menatap nanar nisan putih bertuliskan nama Emma Tyarani. Tangannya terulur perlahan, bergetar hebat saat ujung jarinya menyentuh permukaan batu yang dingin. Sentuhan itu membuat hawa dingin menjalar cepat ke dadanya—dingin yang bukan hanya dari nisan, tetapi dari sesuatu yang coba ia kubur jauh-jauh di sudut ingatannya. Ia bersimpuh, meletakkan seikat mawar di atas pusara. Mulutnya seakan terkunci. Ada sesuatu yang ingin menerobos keluar dari tenggorokan, tapi tertahan, seperti ketakutan akan sesuatu yang lebih gelap dari kesedihan. Tubuhnya bergetar

