4

1287 Kata
Karmelion dipimpin oleh seorang kaisar. Bisa kalian bayangkan seberapa tangguh Karmelion hingga mampu menaklukkan sekian kerajaan agar sedia bernaung di bawah satu panji kepemimpinan? Dengan sumber daya manusia—kesatria, penyembuh, peramu, cendekiawan, dan penyihir—Karmelion mampu melebarkan sayap hingga ke utara, dekat Arcana. Kesatria Karmelion dijuluki sebagai mesin pembunuh karena saat mereka dilepaskan ke medan tempur, kalian hanya akan menyaksikan lautan darah, yang tentunya, milik musuh. Armel termasuk salah satu di antaranya. Untungnya suasana perang antarmanusia telah selesai jauh sebelum Armel lahir. Apabila tidak, mungkin dia akan menghadiahi kaisar Karmelion dengan kepala seseorang yang cukup sial memilih Karmelion sebagai musuh.  Kisah kengerian seorang Armel berawal dari penugasannya menyelesaikan masalah di daerah bernama El Vanto. Dahulu El Vanto merupakan kawasan damai yang ditempati oleh penyihir. El Vanto terletak di antara Luxerion, negeri cahaya tempat bangsa peri bernaung, dan Kerajaan Judeika. Singkat cerita ada sekelompok penyihir yang menolak kekaisaran dan berkomplot memanggil raja iblis. Kabarnya amat mengerikan, para penyihir menumbalkan sejumlah perawan dan anak-anak; menguras darah mereka hingga kerontang kemudian mempersembahkannya kepada kegelapan. Iblis menyambut undangan dan merangsek ke luar menuju dunia. Pada masa itu segalanya amat menyedihkan. Sebab iblis tidak bertuan selain kepada raja kaumnya, mereka menyerang pemanggilnya dan memangsa warga El Vanto. Perlahan-lahan keindahan sirna; pohon-pohon meringkuk seperti raksasa, bunga-bunga berubah rupa menanggalkan keelokan, dan udara berbau amis karena iblis-iblis berpesta menyantap manusia. Sebagai kaum cahaya, Luxerion sanggup membentengi El Vanto dan mengurung iblis dan monster agar tidak bisa ke luar. Namun, Raja Oberon—pemimpin tertua kaum cahaya—menuntut manusia agar mempertanggungjawabkan kesalahan. Karmelion menerima tuntutan Oberon dan mengirim pasukan agar masuk ke dalam El Vanto. Misi bunuh diri ini dilakukan demi menyegel jalan yang telah dibuka para penyihir demi mengundang iblis. Di sinilah keikutsertaan Armel berperan dalam p*********n. Konon Armel berhasil memenggal panglima iblis dan membuat pasukan berdarah itu kehilangan nyali untuk sementara. Bahu-membahu bersama pasukan terang, berjuang mendesak para iblis agar kembali.  Hanya karena bantuan kaum cahaya maka El Vanto bisa disegel. Sebagian. Beberapa monster rendahan berusaha merangkak ke luar dari rekahan kecil. Kebanyakan mati di tangan kesatria, yang bertugas jaga di sana, dan sisanya di bunuh kaum terang. Bagaimanapun kaum terang tidak suka diusik serta tidak ingin raja iblis berhasil lolos dan menghancurkan dunia. Sekarang tempat tersebut dinamai Jurang Kegelapan. Bencana besar berhasil dikendalikan. Raja iblis meringkuk di sarangnya. (Kemungkinan dia menunggu kesempatan menjulurkan tangan dan merebut jantung Oberon.) Semua karakter baik hidup bahagia. Armel pulang sebagai seorang pejuang dan ayah.  Sungguh luar biasa, menurutku, seseorang bisa jatuh cinta di musim perang. Maksudku, hei! Ophelia lahir di masa perang antara kegelapan melawan terang. Bagaimana bisa Armel menjalin hubungan di situasi semacam itu? Tapi, ya sudahlah. Aislinn menyerahkan Ophelia kepada Armel sebab dirinya tidak bisa meninggalkan Luxerion. Titania, ratu bangsa peri, memiliki pertimbangannya sendiri mengenai anak kaum campuran. Aislinn menerima perintah Titania dan tidak mendebat. (Akan kubayangkan peristiwanya semacam ini: “Kekasihku, napas hidupku. Tolong rawat buah hatiku sebab Ratu tidak mengizinkanku.” Lalu, Amrel akan berkata, “Cintaku, Bintang Hidupku. Percayalah aku tidak akan menyakiti hati dan jiwamu.”) Tamat. Ini membuktikan betapa tidak dewasanya diriku. Secara jujur aku ungkapkan: “Aku menyesal jatuh cinta kepada Alfred.” Bukan karena dia akan membunuhku, melainkan setelah aku bandingkan dengan Armel, dia tidak ada apa-apanya. Alfred bahkan belum tentu mampu memenggal kepala panglima iblis. Dia bahkan tidak bisa disandingkan dengan Armel. Ayahku itu berada di atas Alfred. Sungguh sia-sia perhatian yang aku curahkan kepada Alfred. Sia-sia. Buang-buang tenaga. Ingin rasanya memutar waktu dan membatalkan kedunguanku. Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang sana justru terlihat. Tidak masuk akal. Dengan begitu tantrum yang Alfred jatuhkan kepadaku terasa kekanak-kanakkan. Sebenarnya tidak masalah bila aku tidak diikutsertakan dalam kegiatan bermasyarakat versi bangsawan. Bahkan kalaupun mereka, para nona besar, menganggapku buruk-sangat-buruk-buruk-buruk pun aku tidak peduli. Dengan segenap kekayaan yang Armel miliki, rencana hidup damaiku bisa terpenuhi. Kuncinya hanya satu: Bersenang-senang. Apa salahnya? Sekarang aku memiliki uang. Bagian terbaik menjadi Ophelia ialah, tidak perlu ikut ujian skripsi. Aku bahkan tidak harus menghadapi ocehan dosen pembimbing (yang sulitnya bukan main saat dibutuhkan). Lihatlah makanan dan kenyamanan yang di duniaku hanya bisa dinikmati kelompok oligarki, diabaikan Alfred bukan masalah BESAR!  Hari ini contohnya. Aku menggelar alas di bawah pohon, ditemani teh dan sepiring biskuit. (Jangan lupakan pakaian berbahan halus dengan motif kuning. Donna bahkan mengepang rambutku dan menghiasnya dengan pita biru cerah.) Duduk bersama Donna. Bila menginginkan sesuatu, aku hanya perlu meminta. (Oh indah nian hidup ini! Selamat tinggal, Alfred. Aku bahkan tidak merasa patah hati. Benar-benar ringan dan riang!) “Lady, hari ini Anda menerima surat dari Lady Noyes.” Donna meraih nampan dari pelayan. Perlahan dia menyerahkan surat tersebut kepadaku. “Sepertinya dia menyukaiku,” kataku. Aku dan Fiona telah melakukan korespondensi selama liburan. (Aku tidak peduli Alfred menyebut pengusiranku sebagai pengasingan atau apa pun. Bagiku ini liburan! Liburaaaan!) “Coba kita lihat kabar yang ditulisnya.” {Kepada Lady Valentine.} {Terima kasih saya ucapkan atas kebaikan Anda. Saya sangat bahagia menerima hadiah yang Anda berikan. Apabila diperkenankan, bolehkah saya mengunjungi Anda? Terus terang saya khawatir akan kesehatan Anda selepas kejadian di sungai. Saya ingin menjenguk dan bertemu dengan Anda.} {Dengan penuh kasih, F.N} “Lady?” Donna memanggilku, cemas karena melihat senyum cemerlang berangsur redup dari wajahku. “Segalanya baik-baik saja?” Segalanya tidak baik-baik saja! “Aku baik-baik saja.” Fiona, tokoh utama Prince Lover. Segala sesuatu mengenai Fiona selalu baik dan indah; wajah, perilaku, cara bicara, bahkan perhatiannya. Sampai kapan pun aku, Ophelia, akan selalu berada jauh di bawah Fiona. Dia seperti peony sementara aku lebih mirip bunga putri malu—bunga liar yang tumbuh di pinggir sungai, hanya terlihat elok bagi mata yang kebetulan melihatnya.  “Donna, tolong ambilkan kertas dan tinta,” kataku. “Aku harus membalas surat Lady Noyes.” *** Kiel tidak bisa memahami jalan pikiran adiknya. Berkali-kali dia memperingatkan Fiona bahwa Ophelia tidak sebaik anggapannya. Hal terpenting bagi Ophelia, menurut Kiel, hanyalah Alfred. Ke mana pun Alfred pergi, Ophelia pasti muncul dan gadis itu tidak tahu malu—berani melarang siapa pun mendekati Alfred. “Mungkin seharusnya aku katakan saja bahwa kita memiliki hubungan khusus,” Alfred mencetuskan ide dan meminta Kiel menyetujui. Tentu saja Kiel menolak. Sebagai penerus Noyes, dia tidak boleh mencontohkan hal tabu. Kalaupun dia memiliki ketertarikan terhadap lelaki, maka itu sudah pasti bukan Alfred. “Fiona, pertimbangkan keputusanmu.” “Kenapa?” Fiona sibuk memperhatikan perhiasan di etalase. “Apakah Lady Valentine akan menyukai bros berbentuk kupu-kupu?” “Fiona, bukan itu maksudku.” Dengan terpaksa Kiel menerima ajakan Fiona menemaninya berbelanja. Beberapa kali dia berpindah toko karena Fiona menganggap perlu memberi sesuatu yang spesial demi sahabat barunya. Yeah, sahabat palsu. Kiel tidak bisa menurunkan kewaspadaan terhadap Ophelia. Tidak akan! Tiba-tiba manset dan kemeja yang Kiel kenakan terasa pengap, mengekang. “Batalkan,” katanya sembari melonggarkan kerah. “Aku tidak menyukai idemu.” “Kiel, sepertinya bunga merah muda jauh lebih cocok!” Fiona mengabaikan Kiel.  “Fiona, bukankah perubahan sikap Lady Valentine itu tidak wajar?” Fiona menghela napas, mengabaikan deretan perhiasan yang berkilau cemerlang. “Menurutku kau terlalu berlebihan.” “Aku?” Kiel menunjuk dirinya sendiri. “Berlebihan?” Fiona mengangguk. “Ber-le-bih-an.” Dia menekankan setiap suku kata sembari menunjuk d**a kakaknya. “Dia pasti menyadari perbuatannya tidak baik dan ingin berubah. Selesai.” “Fiona....” “Kau harus ikut ke sana,” Fiona menuntut. “Dan kita lihat seberapa baik dirinya agar kau tidak mengungkit masa lalu seseorang. Kiel, itu tindakan buruk. Setidaknya kita harus memberi kesempatan agar seseorang bisa membuktikan dirinya.” Titik. Kiel tidak bisa mendebat.  ***  Selesai diedit dan direvisi pada 16 Mei 2021. ***  Halo, teman-teman. Terima kasih telah mengikuti Ophelia hingga bab ini. Kalian memang yang terbaiiiiik! Love you! Salam hangat, G.C
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN