5

1321 Kata
Andai diizinkan memilih, maka Ophelia dengan senang hati mengabaikan kedatangan Fiona dan Kiel. Namun, dia telanjur menciptakan masalah dan harus memperbaiki keadaan apabila tidak ingin dinilai sebagai Lady Valentine yang “dulu”. Bahkan air mata darah takkan menghapus kekonyolan di masa lalu; menguntit Alfred ke mana pun lelaki itu berada, menyatakan cinta berkali-kali padahal jelas dirinya bertepuk sebelah tangan, menyerang Fiona dan terang-terangan menyatakan kebencian. Sayang seribu sayang, tidak ada guna menangisi s**u yang tumpah. Ophelia terpaksa menyanggupi pertemuan dan berharap dirinya tidak mengacaukan acara. Donna membantu Ophelia berdandan, tentu saja Ophelia tidak berdandan berlebihan. Dia hanya mengenakan gaun musim semi berwarna biru, renda putih menghias bagian pinggang dan lengan. Satu-satunya perhiasan mewah yang dia kenakan hanya jepit bunga berwarna ungu.  “Lady, mereka sudah tiba,” Donna mengabarkan. “Sajikan teh dan kudapan terbaik,” Ophelia menyarankan. “Dan oh Donna. Apa maksudmu dengan mereka?” “Lady Noyes datang bersama kakaknya, Sir Noyes.” Rona perlahan menyurut, wajah Ophelia tampak pucat. “Sir Noyes?” Dia tidak mengantisipasi kedatangan Kiel. Dalam surat hanya disebutkan bahwa Fiona ingin berkunjung, tetapi dia tidak menuliskan mengenai kehadiran Kiel.  “Apa saya perlu mengabarkan bahwa Anda tiba-tiba tidak enak badan?” Donna menyadari perubahan suasana hati Ophelia dan menyarankan pembatalan. “Sepertinya Anda butuh istirahat.” “Ti-tidak,” Ophelia menolak, perlahan ia meluruskan kerutan tidak kasatmata yang ada di gaunnya. Gerakan pengalih perhatian agar dia bisa merasa tenang. “Tidak perlu. Aku akan segera menemui mereka.” “Anda yakin?” “Sangat yakin.” “Lady, apa saya perlu mengirim surat kepada Duke?” “Jangan,” Ophelia melarang. “Ayah sibuk mengamankan perbatasan di Jurang Kegelapan.” Donna mengangguk.”Bila sudah diputuskan, saya akan mengantar Anda menemui mereka.” “Oh ya. Aku tidak sabar.” Dalam hati Ophelia ingin menangis. ***  Aku. Ingin. Melarikan diri. Tidak, tidak, tidak, dan tidak.  Bagaimana bisa keberanian mengkhianatiku dan memutuskan sekarang waktu yang tepat mengurus surat wasiat? Mengingat hubungan di antara kami berdua, Fiona dan aku, terbilang tidak baik. Di mata Kiel aku akan terlihat sebagai ular beracun—orang yang tidak tulus dan hanya menginginkan penderitaan Fiona. Demi ribuan bintang di langit, aku sungguh menyesal.  [Kiel, tidakkah bisa kaulihat kesungguhan di mataku? Lihat mataku, ayo. Di sana tertulis penyesalan. Berhentilah memelototiku!] “Terima kasih menyanggupi permintaan saya, Lady Valentine.” Aku berusaha duduk senyaman mungkin, mengabaikan pelototan Kiel di seberang meja. “Lady Noyes, tolong jangan gunakan formalitas ketika berbicara dengan—” Kata-kataku tertahan begitu melihat tatapan tajam yang dilemparkan Kiel kepadaku. Dia bahkan tidak mau repot-repot berpura-pura ramah kepadaku. Oke, aku bersalah. Namun, sedari awal aku berniat memperbaiki situasi di antara kami dan tuan yang satu ini tampaknya tidak bersedia diajak kerja sama. Aku berani bertaruh dia tidak mau meminum ataupun makan kudapan yang kami sajikan lantara isu “racun yang mungkin aku masukkan”. Hei, aku sudah mencontohkan diri; minum teh dan makan untuk menunjukkan bahwa semuanya aman—tidak beracun. Apa ramah tamah akan membuatmu masuk neraka?  “Maksudku,” kataku melanjutkan, sekuat tenaga berusaha mengabaikan tatapan beracun milik Kiel. Jemariku sedikit bergetar ketika berusaha melepaskan tatakan. Beruntung cangkir teh tidak jatuh dan pecah, benda itu berhasil mendarat di meja dengan aman. “Aku ingin kita bicara sebagai....” Aku melirik sekilas ke Kiel. Oh, terima kasih. Dia tetap tidak menurunkan kewaspadaan. Ha ha ha. Semoga aku bisa selamat. “Teman. Aku ingin kita bicara sebagai teman.” “Benarkah?” Fiona mengatupkan tangan, kebahagiaan terpancar ke luar dari dalam dirinya. Sama seperti corak bunga mawar yang tersulam di gaun hijaunya. “Terima kasih, Ophelia. Aku sangat senang. Bolehkah aku memanggilmu Ophelia?” Aku mengangguk, pelan, nyaris seperti robot karena tatapan Kiel yang berarti, beraninya-kau-mendekati-adikku terus saja disorotkan kepadaku. “Tentu,” jawabku sembari mengabaikan Kiel. “Kau boleh memanggilku Ophelia.” Kau bahkan boleh memanggilku sahabat karib tak tergantikan.  “Kiel, kaudengar? Dia mengizinkanku memanggil namanya.” Kiel yang duduk di samping Fiona tidak mengatakan apa pun. Lelaki itu bersedekap, suasana hatinya sesuai dengan warna baju yang dipilihnya: Hitam. (Kenapa kau datang ke rumahku memakai baju duka? Dengar, ya, aku berusaha bersikap baik dan tidak mengusirmu ke luar karena adikmu. Mengerti?)  “Ah, Ophelia. Terimalah pemberianku.” Fiona menyodorkan kotak mungil seukuran telapak tangan.  “Wah, terima kasih.” Demi memperlihatkan rasa-syukur-terhadap-protagonis-dan-tidak-ingin-memicu-pertumpahan-darah, aku membuka kotak tersebut. “Emmm, Fiona.” “Apa kau menyukainya?” Kedua mata Fiona berpendar seperti zamrud. “Saat melihatnya aku langsung teringat dirimu.” Jepit rambut berbentuk mawar. Kelopaknya berwarna merah muda dan sepasang daun berhias permata yang menyerupai embun tampak kemilau. Ujung jemariku bergetar ketika meraba permukaan kelopak yang seolah akan gugur bila terlalu mendapat tekanan. “Indah,” kataku. “Terima kasih.” “Kiel menyarankanku memilih mawar. Ternyata sarannya tidak meleset.” Oh ternyata.  Romantisme dalam diriku berakhir secepat kedatangannya. Jadi, aku artikan jepit rambut ini sebagai peringatan: 1. Jangan ganggu adikku. 2. Jangan berani merencanakan kejahatan terhadap adikku. 3. Jangan sentuh adikku dengan kedua tanganmu yang penuh dosa. Entah karena tekanan batin yang kini kualami atau jepit rambut di tanganku terasa seberat beban hidupku, tiba-tiba saja dorongan untuk meletakkan benda tersebut sejauh mungkin dariku terasa menggoda. Terima kasih atas perhatianmu, wahai tokoh utama. Namun, kakakmu sepertinya mempertimbangkan menyewa jasa pembunuh bayaran. Otak, halooooo. Coba pikirkan sesuatu! “Fiona, terima kasih.” Berhati-hati aku mengutarakan kalimat demi kalimat agar tidak menyinggung siapa pun (dan tentunya tidak membahayakan keselamatanku). “Maaf atas seluruh tindakanku di masa lalu. Aku benar-benar menyesal dan berharap bisa memperbaiki keadaan, walaupun, tentu saja waktu tidak bisa diputar, tetapi aku sungguh menyesal.” “Oh Ophelia, kita semua pasti pernah khilaf. Jangan terlalu dipikirkan. Aku senang kau selamat dan kita berdua bisa bersahabat.” Astaga. Kenapa tokoh utama bisa semanis dan sebaik ini? Kata-kata Fiona justru menancapkan belati rasa bersalah ke dalam diriku.  “Sir Noyes.” Kali ini aku memaksa diriku menatap Kiel, meskipun keberanianku mulai ciut dan mengempis, tapi sekuat tenaga aku memaksakan senyum yang semoga tidak menyinggung dirinya. “Terima kasih atas pertolonganmu. Anda benar-benar murah hati.” Lelaki itu masih memasang tameng kewaspadaan, sama sekali tidak ada niatan menampilkan keramahan.  Tidak ada balasan. *** “Kiel, kau tidak sopan.” Keduanya kini berada dalam kereta. Kuda berderap melewati jalanan beraspal menuju kediaman Noyes. “Sangat tidak wajar.” Kiel melonggarkan cravat yang melilit lehernya, dua kancing teratas terbuka. “Dia pasti merencanakan sesuatu.” Fiona mencubit lengan Kiel. “Apa kau tidak lihat perubahan dalam dirinya? Dia bahkan tidak mendatangi pesta mana pun, termasuk acara minum teh. Bagaimana bisa kau menilai seseorang sejelek itu?” “Itu karena Alfred.” “Kurasa, melihat kepribadian Ophelia di masa lalu, dia pasti akan memaksa ikut walaupun dilarang. Namun, sekarang dia bahkan tidak memperlihatkan diri di pesta. Hei, Kiel. Asal kau tahu saja, Ophelia membalas seluruh surat. Lady Farlough juga mendapat surat yang sama sepertiku, ditulis tangan langsung oleh Ophelia. Beberapa di antara kami bahkan setuju bahwa Ophelia harus diajak ke acara minum teh. Mungkin pandangan sebagian orang bisa berubah setelah melihat langsung dengan mata kepala mereka.” Kiel menatap jalanan yang kini menampilkan kumpulan pohon berbunga merah muda. “Apa kau tidak bisa melihat keanehan dalam diri Lady Valentine?” “Hanya dirimu seorang yang berpikir demikian, Kiel.” “Segalanya akan berubah begitu Alfred muncul.” Fiona mengetuk dagunya menggunakan jari telunjuk. “Sepertinya Ophelia tetap akan bersikap manis seperti hari ini.” “Lihat saja saat Perburuan,” Kiel manantang. “Kalau dia tidak mengejar Alfred aku akan dengan senang hati meminta maaf kepada Ophelia-mu.” “Benarkah?” Fiona berseru. “Janji?” Ya, ya, kata Kiel dalam hati. Itu tidak mungkin terjadi. ***  Selesai diedit dan direvisi pada 16 Mei 2021. ***  Terima kasih saya ucapkan kepada teman-teman yang telah mengikuti Ophelia. huhuhu. Saya sayaaaang kalian. (0_0) Rada bingung mau nulis apa di bagian ini, tapi hmmm, pokoknya saya benar-benar berterima kasih. Hehe. Salam hangat, G.C
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN