Chapter 2

2505 Kata
"Sarapan sudah siap. Semuanya, cepat ke ruang makan sekarang!!" Teriakan Jin terdengar menggema di seluruh dorm BTS. Pagi itu, suasana dorm yang ditinggali ketujuh member boygroup papan atas bergelar 'The Princes Of Global Pop 2022' itu sangat kacau. Hari ini adalah hari pertama syuting acara reality show terbaru mereka, 'BTS - BACK TO SCHOOL' dan mereka mengawali hari penting itu dengan bangun terlambat. Dan begitulah, pagi super hectic itu dimulai. Jungkook adalah orang pertama yang selesai bersiap dan datang ke ruang makan. Penampilan Sang Maknae tersebut sudah terlihat rapi dan tentu saja, tampan. "Apa kau perlu bantuan ku, Hyeong?" Tanya Jungkook begitu melihat Jin yang masih sibuk menata meja makan. "Gwaenchanh-a, sebentar lagi aku selesai." Jin mengangkat wajahnya dan menyempatkan diri menatap penampilan adik termudanya itu.  Model Seragam "Bagaimana?" Tanya Jungkook menyadari tatapan menilai Jin. Jin menggosok dagunya dan memasang wajah seolah sedang berpikir keras. "Tidak buruk, kau terlihat tampan dengan seragam itu," pujinya. "Tapi tentu saja masih tidak bisa mengalahkan ketampanan worldwide handsome sepertiku." Sambungnya kemudian dengan senyum percaya dirinya. Mereka berdua lalu tertawa singkat karena lelucon receh itu. "Cepat duduk dan makan. Kita tidak punya banyak waktu." Perintah Jin kemudian. Jungkook langsung menurut dan mendudukkan diri disalah satu kursi meja makan. Ia mengambil sandwich tuna buatan Jin dan melahapnya dengan gigitan besar. "Hati-hati, jangan sampai seragam mu terkena saus," peringat Jin. "Maaf, karena hanya ini yang sempat ku buat." Ucap pemuda berumur menuju 30 tahun itu, merujuk pada sarapan buatannya yang menurutnya terlalu sederhana. Jungkook menggelengkan kepalanya, "Aniyo. Ini enak, Hyeong. Aku suka sandwich." Jin tersenyum dan menepuk kepala Jungkook pelan. "Makan yang banyak." Jin lalu menatap jam dinding yang tergantung di ruang makan. Ia menghela nafas frustasi melihat waktu mereka sebelum berangkat hanya sekitar sepuluh menit lagi. "Hei para berandal!! Kalian tidak mau sarapan?!" Jungkook hampir tersedak karena Jin tiba-tiba kembali berteriak. Dan itu, tepat di sampingnya. "Mau, Hyeong. Tentu saja mau," Suara Jimin terdengar menjawab teriakan Jin, pemuda itu memasuki ruang makan dengan berlari kecil. "Jangan berteriak terus, Hyeong. Nanti urat lehermu bisa putus." Kata Jimin mengingatkan dengan nada bercanda. Jin mendelik kesal. "Ya! Bagaimana caranya aku tidak terus berteriak, kalian yang membuatku seperti ini. Aku sudah membuatkan kalian sarapan, lalu kenapa hanya untuk menyuruh kalian makan saja sangat sulit? Aku melakukan ini untuk kebaikan kalian." Omel Jin dengan nada tinggi dan kecepatan bicaranya yang khas. Jimin terlihat segera menunjukkan senyum terbaiknya dan memeluk Jin dari samping, "Aigoo, Hyeong kami sudah bekerja keras." Ucapnya dengan nada dibuat semanis mungkin, sepertinya sedang berusaha meredakan kekesalan kakak tertuanya itu. "Tenang Hyeong, biar aku saja yang memanggil mereka. Dengan kekuatan super ku, mereka pasti akan langsung datang setelah ini." Jimin menarik nafasnya dalam-dalam dan menaruh kedua tangannya di sekitar mulut. Jin dan Jungkook yang langsung mengerti apa yang akan di lakukan Jimin segera mengantisipasi dengan menutup telinga mereka. "Yoongi Hyeong, Hoseok Hyeong, Namjoon Hyeong, AYO MAKAAAAAN !!" Teriak Jimin sekuat tenaga. Bahkan sepertinya teriakan itu berhasil sedikit menggetarkan perabotan di atas meja makan. Jin dan Jungkook tertawa puas dengan teriakan super melengking Jimin. Terutama setelah mendengar umpatan kaget dari orang-orang di lantai atas. For your information, kamar para Hyeong Line (Jin, Suga, RM dan J-hope) ada di lantai dua, sedangkan Maknae Line (V, Jimin dan Jungkook) di lantai satu. Dan teriakan itu sepertinya memang terbukti efektif, karena tidak lama setelah itu terdengar langkah-langkah kaki terburu dari arah tangga. "Ya ya, kami datang. Kenapa kalian berisik sekali." Ucap J-hope begitu masuk ke ruang makan bersama Suga. "Aku merasa telingaku akan jadi tuli. Kalian seperti orang-orang yang tinggal di hutan." Ujar Suga dengan raut sedikit kesal. "Oh? Kenapa kalian hanya berdua? Dimana Namjoon, dia belum selesai bersiap?" Sahut Jin tidak memperdulikan ucapan mereka sebelumnya. "Sebentar lagi dia pasti turun, Hyeong." Jawab J-hope sembari mendudukkan diri dan tanpa basa-basi langsung memulai acara sarapannya. Seperti ucapan J-hope, tepat setelah itu RM berlari menyusul masuk keruang makan dengan nafas sedikit memburu. "Teman-teman, kalian melihat pasangan kaos kaki putihku yang ini?" Tanya pemuda itu sembari menunjukkan sebuah kaos kaki putih dengan sedikit aksen garis warna-warni di bagian atasnya. "Namjoon-ah, jangan bawa benda seperti itu ke meja makan," tegur Suga karena RM meletakkan kaos kaki itu tepat di samping piringnya. Walaupun kaos kaki itu terlihat bersih, tetap saja. "Ah, mianhaeyo (maaf)." RM segera mengambil kembali kaos kakinya dengan cepat. "Kalian tidak lihat?" Tanyanya sekali lagi. Mereka semua hanya menggeleng. "Aku tidak lihat, tapi aku yakin, pasti kau sendiri yang lupa menaruhnya dimana." Ucap J-hope. Semuanya menyetujui ucapan J-hope dalam hati. Setelah tinggal bersama selama belasan tahun, mereka sangat mengenal pribadi satu sama lain. Begitu juga dengan kebiasaan baik dan buruk masing-masing member. Dan sering mengalami 'amnesia ringan' hanyalah salah satu dari kebiasaan buruk RM, mereka sudah sangat terbiasa dengan itu. RM menggaruk belakang kepalanya sembari berpikir. "Dimana aku menaruhnya?" monolognya pada diri sendiri. Tak Jin meletakkan segelas s**u di depan Jungkook dengan sedikit tekanan. "Ya inma, pakai saja kaos kaki yang lain. Kita akan terlambat jika kau harus menemukan kaos kaki itu dulu. Cepat ambil kaos kakimu yang lain, dan kembali kesini untuk sarapan. Sekarang!" RM terdiam mendengar omelan Jin. Pemuda itu hanya mampu mengangguk kikuk. Walaupun dia adalah leader di BTS, tetap saja ia hanya bisa menurut jika dihadapkan dengan Kim Seokjin yang sedang dalam mode kakak tertua seperti sekarang. "Baik, Hyeong." Jawabnya sebelum kemudian membalikkan badan dan melangkah cepat kembali ke kamarnya. "Seokjin Hyeong, kau juga harus makan." Sahut Jungkook mengingatkan setelah memperhatikan Jin yang hanya sibuk mengurusi para member sejak tadi. "Benar, Hyeong. Ayo sarapan dulu." Sambung Jimin. Jin menghela nafas sembari mengangguk. Ia kemudian mendudukkan dirinya di samping si Maknae. Pemuda itu langsung melahap satu potong sandwich sekaligus. Maniknya kembali melirik jam dinding seperti menjadi kebiasaan. "Ya, ceh-pat habiskhan mhakanhan kahlian, sebhentar lahgi managher kitah akhan menjhemphut," ucapnya terdengar seperti gumaman tidak jelas karena makanan yang memenuhi mulutnya. "Makanlah pelan-pelan, kau bisa mati tersedak jika makan seperti itu," ujar Suga dengan nada datar. "Kihta bisha terlhambat." Jin menghiraukan perkataan Suga dan terus memakan sandwich nya dengan cepat. Jungkook yang duduk disisinya dengan sigap mendekatkan gelas s**u milik Jin, takut jika kakaknya itu benar-benar akan tersedak. "Oh ya, sepertinya masih kurang satu orang. Taehyung dimana?" Tanya J-hope menyadari tidak terlihatnya satu personil maknae line. Jimin meneguk habis susunya sebelum menjawab. "Tadi dia kembali ke kamar mandi, katanya tiba-tiba sakit perut." Ucapnya yang hanya di tanggapi gumaman rendah J-hope. "Jimin-ah, kau sudah selesai?" Tanya Jin memandang Jimin yang tengah membersihkan bibirnya dengan serbet. "Ne (iya), Hyeong." -Jimin "Kalau begitu aku minta tolong masukkan sandwich untuk V ke kotak bekal ya, sepertinya dia tidak akan sempat sarapan." Jin. Jimin berdiri dari kursinya. "Baik, akan ku laksanakan." Sahutnya dengan nada bak prajurit yang menerima perintah. Membuat member lain yang berada di meja makan tertawa kecil dengan tingkahnya. . . -BTS- . . Matahari terus semakin meninggi, dan para member BTS kini hampir siap untuk berangkat. Ya, hampir karena masih ada satu orang yang membuat mereka semua menunggu dengan gelisah di samping mobil. "Ah itu dia. Taehyung-ah, cepat, kita akan terlambat!" Seruan J-hope membuat V yang baru saja keluar dari dorm segera menghampiri member lain dengan langkah setengah berlari. "Yaedeul-a (teman-teman) jeongmal (sungguh) mianhaeyo (maafkan aku), sembelit ku sedang kambuh." Jelas V dengan ekspresi memelas begitu berhadapan dengan mereka. "Kau baik-baik saja?" Tanya Jimin terdengar sedikit khawatir. "Eoh, gwaenchanh-a." Jawab V. "Makanya, kau harusnya mendengarkan ku. Aku selalu menasehati mu untuk banyak makan sayur dan buah." Tutur Jin. "Sudahlah, ayo masuk ke mobil. Kita harus berangkat sekarang." Para member pun satu-persatu memasuki mobil atau lebih tepat disebut mini bus yang sudah disiapkan oleh agensi. Di dalam mobil terdapat Sang Manager yang akan mendampingi mereka hari ini. "Maafkan kami Hyeong-nim, sudah membuatmu menunggu lama." Ucap RM dengan sopan kepada Manager mereka yang sudah siap di bangku pengemudi sejak tadi. Sang Manager sekilas memperlihatkan senyumnya. "Gwaenchanh-a." Pria itu lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Tapi sepertinya aku harus sedikit mengebut, kalian siap berangkat sekarang?" Lanjutnya kemudian. "Ne," jawab mereka semua bersama. Selama diperjalanan, para member hanya diam dan menghindari obrolan karena tidak ingin menganggu konsentrasi Manager mereka yang kini sedang fokus mengendarai mobil. Kata 'sedikit' mengebut itu tentu saja hanya sebuah kiasan. Kenyataannya, mereka semua harus berpegang erat karena Sang Manager yang kini mengemudi seperti tengah mengikuti turnamen balap. "Bisakah kita lebih pel.." Suga segera membekap mulut V ketika pemuda itu hendak protes. "Kita tidak boleh terlambat di hari pertama syuting, pegang saja tanganku jika kau takut." Bisik nya. Dan V hanya mampu diam menuruti perkataan Suga. 30 menit kemudian, mobil mereka akhirnya berhenti tepat di depan gerbang sebuah sekolah yang berada di pinggiran kota Seoul. Para member seketika menghela nafas lega. Lega karena mereka tiba dengan selamat dan masih dalam keadaan utuh, juga lega karena mereka akhirnya tiba tepat waktu, terimakasih pada keterampilan mengemudi Sang Manager yang sangat bisa diandalkan. Sang Manager berbalik menatap mereka semua. "Ayo turun, anak-anak. Sebelum jam masuk, akan ada briefing singkat dari Produser," beritahu nya. Para member pun turun dari mobil. Ketujuh pemuda itu menatap gedung sekolah di depan mereka.  Seungri High School. Begitulah yang tertulis di papan nama besar tepat di atas gerbang. Sekolah itu terlihat seperti sekolah biasa, bangunannya tidak terlalu besar, tapi terlihat asri dengan taman yang terawat dan tumbuhan rambat yang menjalar di seluruh dinding gedung. Arsitekturnya lebih sederhana dibanding bangunan megah seperti sekolah-sekolah bergengsi di pusat kota. "Jadi disini kita akan bersekolah?" Gumaman Jimin terdengar seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri. Para member masih sibuk memperhatikan bangunan sekolah serta suasana di sekitarnya. Ada banyak siswa dan siswi yang terlihat berlalu-lalang di sekitar gerbang dan halaman. Beberapa siswi tampak menoleh menatap mereka, saling berbisik kemudian berteriak tertahan. Sepertinya mereka adalah ARMY. Tentu saja, tidak ada tempat yang tidak dihuni para penggemar BTS, termasuk sekolah ini. "Semuanya, ayo masuk ke dalam." Ucapan Manager berhasil mengalihkan perhatian mereka. Mereka kemudian segera mengikuti langkah Sang Manager memasuki halaman sekolah. Begitu masuk, para member bisa melihat para kru acara yang telah berkumpul di salah satu sudut halaman, menunggu kedatangan mereka. Hal itu membuat mereka semua segera mempercepat langkah. "Ah, itu mereka." Seorang kru perempuan lebih dulu menyadari keberadaan BTS dan berseru memberitahu rekan-rekannya. "Annyeonghaseyo," sapa Manager mewakili. Di belakangnya, para member ikut menyapa sembari membungkukkan badan dengan sopan kepada para kru. "Annyeonghaseyo. Akhirnya kalian datang juga. Senang bertemu kalian lagi." Balas sapa seorang pria yang merupakan produser sekaligus sutradara acara itu dengan nada ramah. "Senang bertemu anda juga, PD-nim. Maaf karena kami sedikit terlambat." Ucap Sang Manager berbasa-basi. Produser acara itu tertawa pelan. "Ah tidak-tidak, kalian datang tepat waktu. Ternyata seperti yang kudengar selama ini, BTS memang profesional dan disiplin, tidak heran kalian bisa sangat sukses seperti sekarang." Matanya beralih menatap penampilan para member. "Woah, kalian semua bahkan tetap terlihat keren dengan seragam sekolah." Para member tersenyum dan mengucapkan terimakasih atas pujian Produser itu. "Nah, cukup sapaan paginya, karena kalian sudah disini, kita mulai saja briefing singkatnya. Tolong dengarkan baik-baik ya." Ucap Sang Produser. Ketujuh pemuda itu langsung menegapkan tubuh dan berdiri dengan sopan, mereka mulai mendengarkan briefing dengan serius. "Jadi seperti yang sudah sedikit ku jelaskan di rapat Minggu lalu di kantor agensi kalian, di acara ini kalian hanya perlu menjadi seperti pelajar biasa. Lakukan segala kegiatan seperti yang di lakukan pelajar lainnya di sekolah ini, ikuti arahan para guru dan sisanya kalian bisa melakukan apapun yang ingin kalian lakukan. Karena ini acara reality show, kalian tidak perlu berakting, bersikap alami lah, seperti bagaimana kalian biasanya." Para member menganggukkan kepala tanda mengerti. "Jangan lupa, selama acara ini kalian juga harus mematuhi seluruh peraturan sekolah. Kami sudah bekerja sama dengan pihak sekolah agar memperlakukan kalian seperti murid biasa. Jadi, sebaiknya kalian mendengarkan ucapan para guru baik-baik. Jika kalian membuat masalah dan di hukum, kami tidak akan membantu. Tugas kami hanya merekam setiap aktivitas kalian." V tiba-tiba mengangkat satu tangannya ke atas, menarik seluruh perhatian para kru termasuk para member BTS sendiri. "Berarti, kami tidak boleh terlambat atau membolos? Kami benar-benar akan di hukum? Begitu?" Pertanyaan beruntun V yang terdengar polos membuat Sang Produser memusatkan atensi pada pemuda itu. "Benar, jika kau melanggar peraturan di sekolah ini, kau akan dihukum sungguhan. Begitulah yang terjadi di acara reality show." Bahu tegap pemuda itu seketika merosot lemas. "Gawat, kurasa acara ini akan jadi siksaan untukku." Ucap V pada teman-temannya dengan bibir mencebik cemberut. "Biar ku tebak, apakah V-ssi adalah tipe siswa pemberontak di sekolah dulu? Apakah menaati peraturan itu sulit untukmu?" Tanya sang Produser. V tampak berpikir sebentar sebelum membuka bibirnya untuk menjelaskan. "Mmm.. aku bukan siswa pemberontak, tapi juga tidak bisa dibilang siswa teladan. Dulu sewaktu sekolah, aku cukup baik di pelajaran, walaupun aku memang juga sering terlambat atau membolos." "Tapi bukan karena aku nakal!" Tambahnya cepat, menghindari kesalahpahaman. "Tapi, karena sebenarnya, aku susah bangun pagi." Aku V dengan ekspresi malu-malu, membuat Produser dan para kru acara tertawa melihat sisi imut pemuda itu. Jimin merangkul bahu V. "Tenang saja, ada kami yang akan selalu membangunkanmu," ucapnya berusaha menyingkirkan kekhawatiran sahabatnya. "Benarkah?" -V "Benar, jika kau susah bangun, aku tinggal langsung memandikan mu di tempat tidur." Celetuk Jin. "Aaah Hyeong~" rengek V tak terima. "Aah wae~" balas Jin meniru nada rengekan adiknya dengan ekspresi jahil. "Haji ma (jangan lakukan itu)!! Pokoknya jangan berani menyiramku dengan air, aku tidak akan memaafkanmu!" Ucapnya seraya menyerang Jin, dan terjadilah pertengkaran kecil khas adik kakak yang justru kembali memancing tawa semua orang. "Kurasa acara ini akan menyenangkan." Ucap Produser itu disela tawanya, memperhatikan interaksi diantara para member. "Ya ya, geumanhae (hentikan)." V dan Jin akhirnya berhenti bertengkar setelah dipisahkan oleh RM dan member lainnya. RM segera meminta maaf atas perilaku dua saudaranya yang hanya ditanggapi santai oleh Produser dan para kru. "Baik, kita lanjutkan. Kalian perlu tahu, kalau kami juga akan merekam aktivitas kalian saat di rumah. Saat ini beberapa kru kami sedang memasang kamera di dorm kalian." "Apa seluruh ruangan di dorm di pasangi kamera?" Sahut Suga. "Tidak, kami hanya memasangnya di ruang tengah dan ruang makan. Kami tidak memasangnya di kamar kalian jika itu yang kau khawatirkan, kami tetap akan menjaga ruang privasi kalian." "Ne, algessseubnida (baiklah)." Ucap Suga mengerti. "Kami akan merekam aktivitas kalian selama dua bulan penuh, termasuk hari libur sekolah. Mulai dari jam 6 pagi sampai jam 9 malam, kamera kami akan mengikuti kalian. Aku tahu kalian mungkin akan merasa kurang nyaman, tapi mohon pengertiannya. Ini hanya pekerjaan kami, kuharap kalian tidak akan melaporkan kami sebagai penguntit setelah ini." Ucap Produser itu diakhiri dengan tawanya. Para member ikut tertawa menanggapi candaan Sang Produser. "Kurasa penjelasan ku cukup sampai disini, apa ada yang kurang di mengerti?" RM menatap seluruh membernya, melihat tidak ada dari mereka yang ingin memberikan tanggapan, ia segera mengambil alih sebagai leader. "Kurasa penjelasan anda cukup jelas PD-nim. Sampai disini kami sudah mengerti." Produser itu menganggukkan kepala sembari tersenyum. "Bagus kalau begitu. Tapi jika suatu saat ada yang ingin kalian tanyakan, kalian bisa menanyakannya padaku atau kru yang lainnya kapanpun, jangan sungkan." "Ne." Jawab semua member. Sang Produser menoleh menatap seluruh krunya, ia lalu menepukkan kedua tangannya dengan kuat. "Oke, mari kita mulai syuting hari ini!!" Serunya dengan semangat. . . -TO BE CONTINUE-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN