17.11

1294 Kata
VINCENT ABERNATHY tidak pernah bermain dengan apa yang dia ucapkan. Jika dia bilang A, maka A akan dia lakukan. Jika dia bilang B, maka tidak akan ada yang bisa menghentikan dia untuk tidak melakukan B. Jika dia bilang C, dan semua orang mencoba untuk menghentikan pria itu, maka dia akan melakukan A, B, D, E, F, apa saja, agar dia bisa melakukan C tanpa halangan. Dan pada dasarnya, Vincent itu suka menang. Tentu saja Vincent suka menang. Dia salah satu atlet terbaik di sekolahnya. Ravenhall High. Dia salah satu atlet paling berprestasi di kota kecil itu. Dan sejak dini, bukan hanya belajar menerima kritik dan komentar pedas saja yang sudah mendarah daging, tapi kegigihan dia untuk menang. Satu hal yang sangat dia sukai adalah berada di atas angin. Vincent itu sejak dulu punya determinasi yang kuat agar dia selalu bisa menang. Jadi, tentu saja dia akan memenangkan adu argumen ini. Tidak peduli jika itu melawan dua gadis remaja yang dua kali lebih kecil darinya. Mau dia terlihat payah, cupu, atau tidak keren saat ini sekali pun, yang penting Vincent menang. Olahraga saja bisa dia kalahkan, apalagi hanya adu argumen saja, kan? Dia melirik dua gadis yang kehilangan kata – kata di sekitarnya. Saat dia bilang kalau dia akan datang sebagia sukarelawan, dia tidak berbohong. Pria itu secara harafiah akan datang sebagai sukarelawan. Bukan hanya sebagai pendukung moral Vanessa saja. Tidak. Dia akan datang sebagai sukarelawan staff di kebung binatang lokal taman bawah kota. Jika itu yang harus dia lakukan agar bisa datang tanpa masalah, so why not? Dia akan melakukannya bahkan jika hanya untuk membuktikan kalau dia bisa. Memangnya, ada yang bisa melarang dia? Kebun binatang itu butuh orang. Mereka butuh volunteers yang banyak. Lagi pula, para sukarelawan ini juga tidak di bayar. Jadi, apa salahnya menerima banyak orang yang akan membnatu? Bahkan Theressa yang sudah kerja di sana pun tidak akan bisa menghentikan Vincent. Pria itu bersenandung saat turun dari tangga. Pakaian yang dia kenakan sudah siap temput. Semua serba hitam. Baju lengan pendek. Celana dengan model militer. Sepatu boot hitam yang bergerigi. Dan dia bahkan sudah menyiapkan topi hitam untuk menangkis sinar ultraviolet yang panas. Rasanya seperti mentari juga ikut mendukung Vincent dalam misi membuat Theressa dan Vanessa ini kewalahan. Dari pagi sekali, bias mentari di langit sudah terlihat begitu indah dan terang. Vincent bangun dengan perasaan yang tenang dan senang, dan dia mutlak akan melakukan ini sepanjang dia bisa. Jika Theressa pikir dia bisa menghalangi dirinya untuk menjaga Vanessa, maka dia salah. Pria itu berputar ke belakang. Dapur tentu saja masih kosong. Valentino pasti sudah sibuk dengan segudang urusan yang tak salah lagi ada hubungannya dengan nilai di sekolah. Vanessa pasti masih di atas, entah sudah bangun atau belum. Hanya ada Vincent di rumah ini yang bisa di andalkan untuk membuat sarapan. Pria itu mulai berkutat dengan berbagai macam alat, mulai dari panci, mixer, dan lain – lain. Vincent berdiri sejenak di depan konter dapur, lalu mengangguk mantap. Pancake it is. Pria itu mengambil tepung dari dalam lemari, telur dari dalam lemari pendingin, dan segala macam bahan untuk membuat panekuk, lalu mulai membuat sarapan untuk dia dan Vanessa. Tak lama, adonan panekuk sudah jadi, dan Vincent segera memasak adonan itu satu per satu. Vanessa suka panekuk yang banyak. Dia tidak akan selera makan panekuk jika menu sarapan itu tidak terlihat seperti menara, maka dari itu, Vincent membuat banyak sekali bulatan panekuk untuk dia. Terlalu serius dengan membuat panekuk di atas panci, dia tidak mendengar bunyi bel rumah yang berdering nyaring dari interkom. Baru setelah beberapa kali bunyi bel berbunyi, dia tersadar dan segera mematikan kompor. Pria yang bertubuh atletis itu dengan sigap dan cepat berlari ke depan pintu. Dia mengangkat dua alis saat melihat wajah yang familiar dari mesin interkom rumah. Dia buka pintu depan rumah dengan cepat dan menyambut satu orang yang akan dia ganggu selama satu hari ini. “Halo,” sapa Vincent saat pintu sudah terbuka lebar. “Maaf, kita sedang tidak terima tawaran asuransi.” “Ha. Ha. Lucu.” Theressa memutar dua bola matanya dan masuk tanpa di persilahkan. Dia dorong tubuh Vincent ke samping lalu menyeruak ke dalam. Gadis itu mengobservasi ruang tamu dengan tangan di pinggang dan wajah penuh kuriositi. Vincent menutup pintu lagi, tak lupa memasang kembali alarm rumah dan menghampiri Theressa di ruang tamu. “Aku tidak pernah ingat mengundang kamu masuk ke dalam rumah.” “Aku tidak perlu di undang. Aku bukan vampir.” “Jangan bercanda. Apa yang kau lakukan di sini? Dari mana kau tahu rumah aku?” “Aku di sini karena ada urusan. Dan aku bukan ke rumah kamu, tapi ke rumah Vanessa.” Theressa bersungut. “Wangi apa ini?” “Rumah Vanessa adalah rumah aku juga, in case you didn’t notice. Lagi pula, kita kan akan menjemput kamu nanti. Kau lupa?” “Aku pikir kenapa tidak aku saja yang ke sini. Dari sini lebih dekat ke kebun binatang taman bawah kota dari pada harus berputar ke rumah aku dulu.” Theressa lalu mulai berjalan lagi tanpa menunggu instruksi dari yang punya rumah. Dia berbelok ke dalam dapur seperti sudah tahu setiap letak dan lokasi rumah ini. Vincent mengikuti dari belakang seperti anak anjing yang tersesat. Dia menunggu Theressa untuk berkata lagi namun gadis itu hanya duduk di salah satu kursi bar konter dapur dan diam. Vincent kembali ke bagian dalam konter dapur dan mulai memasak lagi. Dia nyalakan kompor, mengaduk adonan, lalu memulai manuver masak panekuk di atas panci. Theressa mengumbang pelan. “Ah, panekuk. Pantas saja aku kenal aromanya.” “Kau mengikuti aroma panekuk seperti anjing pelacak,” ketus Vincent. “Kau punya indera ke enam atau apa?” “Aku hanya punya insting yang kuat tentang menu sarapan. Apa kau akan membuat banyak?” Vincent mematung dan menatap gadis di depannya dengan heran. Apa dia baru saja secara tidak langsung mengundang dirinya sendiri untuk masuk, lalu menawarkan dirinya sendiri untuk ikut sarapan? Pria itu mengangkat dua alis tak percaya. “Kau.” Vincent menunjuk dia dengan spatula yang panjang. “Kau ini tidak tahu malu, atau hanya tidak bisa membaca suasana? Apa ada yang mengundang kau masuk? Apa ada yang menawarkan kau makan panekuk ini?” “Vanessa bilang saat aku sudah sampai aku boleh langsung masuk saja,” Theressa mengedikkan bahu acuh tak acuh. “Apa ada masalah?” “Apa ada masalah, kau tanya? Kau sudah gila?” “Sedikit.” Vincent mengerang keras. Bagus. Jika Vanessa terus berteman dengan gadis ini, maka pria itu akan stres dan tua lebih dini. Frustasi dan kesal, Vincent tetap melanjutkan masak panekuk di atas panci tanpa peduli presensi Theressa. Pria itu menyiapkan dua piring, lalu melirik gadis yang tersenyum lebar di depannya, dan dengan mata yang berputar mengeluarkan satu piring lagi. Dia menaruh panekuk sama banyak di setiap piring dan menyodorkan satu piringnya ke depan Theressa. Dia keluarkan berbagai macam topping, mulai dari sirup, krim, bahkan buah – buahan berries. “Pilih salah satu. Ada banyak toppings. Kau mau yang mana?” tanya Vincent. “Kalau bisa semua, kenapa harus pilih salah satu?” balas Theressa sembari mengedipkan satu mata pada laki – laki yang berdiri di belakang konter dapur. Theressa menerima itu semua dengan dansa kecil dan senyum yang lebar. Vincent menatap itu semua dengan kagum, apalagi saat gadis itu tidak memilih satu topping melainkan menggunakan semua yang ada di depannya. Vincent terdiam. Jarang sekali dia melihat gadis seperti Theressa ini. Cantik. Berani. Dan unik. Dan memangnya Vincent pernah melihat gadis seperti itu? Tidak. Terlebih, gadis ini sepertinya tidak seperti banyak perempuan yang meluluh sangat mudah saat melihat Vincent atau Valentino. Siapa Theressa ini? Dan kenapa hatinya merasa sangat aneh begini? Akan sangat bodoh dan buruk jika Vincent suka pada teman adiknya sendiri, kan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN