17.10

1418 Kata
VINCENT ABERNATHY tahu kalau dia itu bertindak seperti anak kecil di depan dua orang gadis yang lebih mudah darinya, tapi memangnya pria itu peduli? Vincent sudah lama memiliki imun terhadap apa yang orang pikirkan tentang dia. Setelah menjadi atlet yang cukup terkenal di kota kecil mereka, Vincent sudah sejak dini berhasil menerima banyak kritik dan komentar pedas dari banyak orang. Dan tentu saja, dia berhasil membuat daya imun sendiri terhadap kritik dan komentar pedas tersebut. Dari usia yang dini, Vincent sudah mahir dalam yang namanya tidak memedulikan komentar orang dan terus melanjutkan hidupnya seperti dia tidak punya banyak salah. Pada dasarnya, Vincent memang pria yang tidak tahu diri. Yah, tapi kalau sudah menyangkut masalah Vanessa, dia dan Vanno memang banyak tidak tahu dirinya. Ini adalah dunia yang menakutkan, begitu pembelaan dari Vanno setiap kali Vanessa protes keras. Vincent sendiri tidak pernah benar – benar membela dirinya. Dia hanya ingin yang terbaik untuk Vanessa dan selalu inign melindungi adik perempuannya itu. Vicent berdeham pelan. Dia menarik botol yang ada di depannya dan duduk termangu di kursi. Pernyataan tadi menjadi satu – satunya alasan kenapa mereka semua terdiam sekarang ini. Es krim di dalam tempat es milik Vanessa sudah mencair banyak. Dia tidak lagi fokus makan, melainkan sibuk mematai meja tempat mereka duduk seperti baru saja ada Henry Cavill yang duduk di atas sana. Ah, tidak. Henry Cavill mungkin terlalu bagus. Harusnya, jika melihat Henry Cavill, Vanessa tidak stres dan kesal seperti ini. Vanessa menarik napas panjang dan memijat keningnya. Sejemang, Vincent pikir dia akan teriak, tapi rupanya dia masih tahu malu. Dia mencengkeram otot lengan pria itu dengan keras hingga Vincent meringis. “Apa kau bilang tadi?” desis Vanessa rendah. Vincent bersungut dan berusaha melepas diri dari adiknya, tapi gagal. Pria itu menelan ludah saat dia lihat ke samping dan Theressa juga sedang memicingkan mata dengan kesal. Untung saja es krim dia sudah habis sebab jika tidak, maka akan ada dua gelas es krim yang terbuang. Pria itu meremas tangan Vanessa dan melotot. “Jangan pakai kekerasan,” rintih Vincent. “Bicarakan ini baik – baik.” “Baik – baik katamu?” Vanessa malah semakin keras memijat lengan Vincent. “Iya. Baiklah, lepaskan aku dulu.” “Siapa bilang kau boleh ikut?” sentak Vanessa. Dia terlihat sangat kesal dan marah. Adiknya itu jika tidak tahu malu, pasti sudah akan menyiksa pria itu tanpa belas kasihan. Memang pada dasarnya, Vanessa yang paling brutal di antara mereka jika sedang dalam perkelahian. “Itu kan tempat umum,” bela Vincent untuk dirinya sendiri. Dia menunjuk satu jari pada Vanessa. “Kau juga hanya sukarelawan di sana.” “Itu dia. aku sukarelawan di sana. Bisakah kau tidak mengganggu? Kau mau mengikut aku sampai mana sih? Bukannya kau ada latihan atau semacamnya?” “Aku latihan setiap senin, selasa, jumat dan satu hari di akhir pekan.” Vanessa merentangankan tangannya ke atas dengan frustasi. “Bagus. Itu artinya kau bebas selama aku bekerja di kebun binatang?” Walau dia tahu kalau lengan pria itu masih dalam bahaya dan adiknya bisa melukai dia kapan saja, tapi tetap saja Vincent berseirngai lebar tanpa bersalah. “Iya. Kebetulan sekali kan? Jadi, aku bisa ikut kamu kapan saja.” “Tidak.” “Tidak.” Dua gadis itu berkata secara bersamaan. Bukan main. Dalam satu hari, Vincent diremuk hatinya oleh dua orang gadis sekaligus. Pertama, dia bersungut ke arah Vanessa. Ke dua, dia mendelik ke arah Theressa. Tatapannya lebih lama ke arah gadis itu, sembari memastikan kalau dia sadar Vincent tidak akan mendengar apa yang keluar dari mulutnya. Dia saja tidak mendengarkan apa kata Vanessa, apa lagi gadis ini. Iya, kan? “Dan siapa kalian untuk bisa menolak aku datang? Yang punya kebun binatang? Bukan. Aku bisa saja datang menjadi pengunjung. Tidak akan ada yang bisa mengusir aku. Lagi pula, anggap saja ini seperti antar – jemput gratisan. Kalian tidak perlu naik bis.” Itu tawaran yang sangat luar biasa, tapi tentu saja dua gadis kerasa kepala itu tidak begitu mudah untuk di luluhkan. Bagi mereka mungkin berpanas – panas di dalam bis itu lebih baik dari pada harus memberikan ijin untuk Vincent ikut. Theressa mendengus. Dan benar saja, dia setuju dengan sentimen Vanessa. “Kita bisa naik bis kok tidak masalah dengan itu,” gadis tersebut memutar dua bola matanya. “Kita selalu ke mana – mana sendiri tanpa perlu bantuan darimu. Well, aku.” “Aku juga bisa sendiri,” sergah Vanesa. “Kebun binatang taman bawah kota itu dekat, Vinny. Jangan ngaco. Kau tidak perlu cemas dan menjadi ibu beruang yang protektif lagi.” “Ibu beruang,” Theressa terkekeh. “Itu sebutan yang sangat cocok.” “Aku tahu.” “Diam kau,” kata Vincent. Theressa hanya tertawa semakin kencang melihat wajah malu Vincent. Dengan tubuh yang masif walau dia tidak terlalu tua dari dua gadis itu, Vincent terlihat cukup besar. Dia tinggi. Dan berotot. Dan tentu saja, deskripsi beruang cocok untuknya. Vanessa mengibaskan tangan tanda topik harus diganti. “Aku bilang juga kalau tidak perlu, tidak usah kan? Kalau aku butuh bantuan, baru aku akan minta. Sungguh, jika kau terus begitu, dan Vanno juga, kapan aku bisa menjadi gadis yang mandiri?” “Kau tidak perlu menjadi gadis yang mandiri. Ada aku dan Valentino yang akan selalu mengurus kamu.” “Dan nanti saat kalian sudah punya pasangan? Saat kalian sudah punya anak dan istri?” “Whoa, oke baikla, kau bisa berhenti di situ. Anak dan istri? Itu terlalu jauh.” “Tapi Vanessa benar,” sahut Theressa lagi. Dia tidak peduli dengan peringatan untuk tidak ikut campur dari Vincent. Dia akan ikut campur jika dia berpikir harus ada yang dia katakan pada pria itu. “Kalau nanti kalian sudah dewasa dan punya keluarga masing – masing, memangnya Vanessa akan terus tinggal bersama kalian?” “Aku tidak mau bersama gadis yang tidak bisa menerima Vanessa.” “Bukan itu masalahnya,” tegas Theressa. “Masalahnya adalah jika kau sudah punya anak nanti, punya pasangan, dan pekerjaan sendiri, kau akan punya prioritas yang lain. Dan Vanessa? Dia harus tahu dan bisa caranya menjaga diri sendiri.” Yang menjadi bahan topik pembicaraan mengangguk setuju. Dia mengacungkan ibu jari pada Theressa. Ada rasa hangat dan bangga di dalam hatinya melihat gadis itu membela dia mati – matian begini. Memang benar sepertinya. Theressa ini imun terhadap daya tarik Vincent. Gadis itu bersungut. “Dan tentu saja, aku akan bilang kalau Vanessa itu masih prioritas utama kamu,” lanjut dia lagi. “Lantas, bagaimana jika suatu saat ada sebuah kebetulan yang harus membuat kau memilih?” Vincent menggeleng dan sudah akan protes, namun dari mimik wajah pria itu, dia terlihat akan tidak setuju. Theressa segera memotong dengan sengit, “Dan jangan bilang kau yakin akan memilih Vanessa. Bagaimana kalau ada sesuatu yang buruk terjadi pada anak atau pasangan kamu nanti?” “Oke, satu,” Vincent berkata cepat. “Berhenti memotong kata – kataku. Dua, apa kau baru saja menyumpahi anak dan pasangan aku di masa depan?” Dua gadis di samping dan depannya mengerang kesal. “Bukan itu maksudnya!” seru Theressa. “Intinya adalah, tidak selamanya kalian bisa ada untuk Vanessa. Ayolah, ini hanya menjadi sukarelawan di kebun binatang lokal. Dari persimpangan rumah kalian hanya butuh lima menit.” “Iya, dan tetap saja aku akan cemas.” Theressa membuang napas mendengar jawab Vincent. “Lagi pula, kau tidak bisa menjadi pengunjung terus – menerus.” “Memangnya kalian bisa melarang pengunjung datang?” “Bisa,” balas Theressa. “Aku bisa mengatakan pada supervisor aku kalau kau adalah pengunjung yang mengganggu.” “Aku akan bilang kalau itu adalah laporan salah dan masalah pribadi yang kau bawa ke pekerjaan.” Theressa menendang dia dari bawah. Vincent melotot dan mendengus tak percaya. Baiklah, sekarang dia semakin menjadi. Apa dia tidak ingat Vincent ini lebih tua darinya? “Aku akan terus datang, terserah kalian mau bilang apa. Lagi pula, aku tidak akan mengganggu. Aku hanya ingin menjaga Vanessa.” “Menjaga dia dari apa? Monyet? Kelinci? Domba – domba dan serangga?” Theressa mencibir. “Aku serius akan melaporkan kamu jika aku berani datang.” “Dan aku akan tidak peduli.” Vincent mendelik. Lalu, satu ide gila terbesit di dalam benaknya, membuat pria itu tersenyum miring dan penuh kemenangan. Dia menatap Theressa lekat dengan senyum manis yang selalu bisa membuat semua hati gadis meluluh. “Lantas, siapa bilang aku akan datang menjadi pengunjung?” Vincent menaikkan satu alisnya. “Aku akan datang sebagai sukarelawan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN