17.7

1290 Kata
GEDUNG AULA sekolah sudah cukup ramai saat mereka sampai. Kali ini, mereka tidak rumit untuk mencari tempat parkir. Sesuatu yang membuat Vincent menghela napas lega dan berkata sarkas perkara seorang gadis yang memarkir sepedanya di tempat mobil. Dia tidak peduli jika dia terdengar seperti anak – anak yang mengeluh terus. Vincent memang mengeluh, tapi dia bukan anak kecil. Dan jujur saja, menggoda dan mengganggu Theressa ternyata cukup menyenangkan. Ugh, dia harus berhenti berpikir seperti itu. Theressa hanya tersenyum sarkas ke arah pria itu. Pada dasarnya, Theressa memang sadar sih kalau dia sedikit salah. Penekanan dalam kata sedikit ya, sebab sungguh, dia memang benar saat dia mengatakan kalau sekolah ini tidak punya parkiran khusus untuk sepeda yang besar. Atau sama sekali. Dan yah, dia memang keterlaluan memilih untuk menaruh sepedanya di ruang parkir mobil yang jelas – jelas sudah sempit dan mulai tidak ada tempat bagi orang yang membawa kendaraan roda empat tersebut. Tapi lagi, Theressa itu memang keras kepala. Dan dia tidak akan membiarkan seorang pria yang sama keras kepalanya akan menang di lahan parkiran sekolahnya sendiri. Dengan mudah, Vincent mendapatkan tempat duduk sementara dua gadis yang dia antar sampai ke gedung ini akan segera pergi ke tempat yang sudah di sediakan untuk mereka. “Hey, you got this, oke?” bisik Vincent saat Vanessa hendak pergi. Adik gadisnya mengangguk. Dia meremas jari – jari tangan Vincent dan tersenyum lebar. Kali in lebih tulus dan lebih cantik. Dia memeluk kakaknya itu erat. “Aku harap Vanno ada di sini,” kata Vanessa pelan di balik bahu Vincent. Pria itu memeluk adiknya keras sekali sampai Vanessa memekik ringan dan tertawa. Dia lepas gadis itu dan dia menangkup dua pipinya gemas. Dia remas dua pipi itu sampai wajah Vanessa berubah menjadi mainan. “Dengar, Vanno, di mana pun dia berada, dia akan merasa sangat bangga padamu. Kau lulus dengan nilai yang sangat baik, di terima di high school yang sama dengan kita tanpa harus susah payah. Serius. Aku beruntung bisa masuk karena prestasi atletik aku, dan Vanno karena berkerja keras. Dan kau?” Vanessa mengedikkan bahu. “Kapan sih kau belajar?” Vanessa memukulnya keras di bahu. Pria itu tertawa keras dan memeluk adiknya sekali lagi. Dia lirik Theressa yang berdiri tidak jauh dari mereka, dua tangan di depan, dan dengan canggung menunggu interkasi dua kakak beradik itu selesai. Dengan terpaksa, dia melepas Vanessa. “Kau adalah orang paling pintar yang pernah kau temui. Dan jujur saja, aku dan Vanno sangat bangga because you turned out good, Van. Kau tidak menjadi anak remaja yang rebel, atau merasa butuh sesuatu karena kekurangan afeksi dari dua orang tuanya.” “Itu karena aku punya kalian berdua,” kata Vanessa jujur. “Itu karena aku punya kau, dan Vanno.” “That’s righi,” seru Vincent sembari mengangkat tangan untuk adu high five dengan Vanessa. Gadis itu tertawa riang dan memukul telapak tangan Vincent. Dia melirik Theressa lagi. Entah kenapa gadis itu terlihat kesepian sepetri itu. Berdiri sendirian seperti kehilangan arah. Jujur saja, dia yakin pasti akan ada rasa seperti kehilangan arah di dalam diri gadis itu. Sedari tadi dia mencoba menghibur diri dengan banyak bicara bersama Vanessa, membuat canda dan tawa, dan mengalihkan atensi dari dirinya sendiri. Tapi Vincent bisa melihat kalau dia terlihat sedikit kecewa dan sedih. Bukan berita baru. Sudah dia bilang kan perumahan Theressa itu termasuk perumahan yang cukup bagus? Berani taruhan dua orang tuanya juga pasti tidak bisa datang. Tapi bedanya, Vanessa punya mereka berdua. Itu karen aku punya kalian berdua. Dan Theressa juga bisa memilikinya . . . baiklah itu terdengar salah, tapi kalian paham intinya. Pria itu merentangkan satu tangan lagi sembari satu tangan memeluk adiknya erat. Dia menaikkan dua alis pada Theressa yang membeku tidak jauh dari mereka. Gadis itu menelengkan kepala. “Ayolah, apa lagi yang kau tunggu?” Vincent berseru keras. Dia tersenyum miring saat gadis di depannya menengok ke kanan dan kiri sepeti mencari orang lain yang mungkin sedang di ajak bicara oleh Vincent. Dia menunjuk dirinya dengan mimik wajah penuh tanya? Vanessa terkekeh dan ikut membuka tangannya. “Tentu saja kau, Tes! Ke sini!” Vanessa memanggilnya. Theressa terdiam untuk beberapa lama. Sejemang, pria itu pikir dia tidak akan datang. Dia akan menolak pelukan dari mereka berdua. Namun, akhirnya perlahan gadis itu bergerak. Tak lama, hanya dengan beberapa langkah saja, dia sudah berada di dalam dekapan dua Abernathy bersaudara. Vanessa yang memelukdia loebih dulu, kemudian Vincent ikut memeluk dia dari sisi satunya lagi. Bertiga, mereka berpelukan seperti satu grup konyol yang merasa dunia miliknya sendiri. Vincent mengacak surai dua gadis di pelukannya dengan gemas, membuat dua gadis itu memekik kencang dan mengeluh perkara rambut mereka yang sekarang berantakan dan banyak hal lain. Vincent memutar dua bola matanya. “Baiklah. Sudah cukup adegan drama Korea ini. Cepat ke posisi kalian masing – masing.” Dua gadis itu saling mengangguk dan akhirnya pergi, meninggalkan Vincent yang merasa aneh. Kenapa, ya? Dia memerhatikan langkah dua gadis itu. Tak lama, setelah merasa kalau tempat duduknya akan di ambil oleh orang lain, pria itu akhirnya duduk dan meningalkan visual Vanessa dan Theressa yang pergi ke belakang panggung. Setelah beberapa kali sambutan dari kepala sekolah, kepala dewan, guru terbaik, dan bla bla bla, akhirnya acara pun di mulai. Satu per satu para pelajar keluar dari belakang panggung dan duduk di kursi yang sudah di atur dan disediakan untuk mereka. Vincent mencoba untuk menangkap visual Vanessa, namun dia malah melihat Theressa yang duduk di pinggir, dua tangan di atas pangkuan, dan senyum tipis di bibir. Dia sudah memakai topi toga miliknya, membuat surai yang sedari tadi mengalihkan atensi Vincent menjadi kacau akhirnya tertutup. Gadis itu memainkan jari – jarinya dengan canggung. Mungkin dia sedikit merasa nerveous, atau memang Theressa tidak sekuat yang dia perlihatkan. Gadis itu mendongak, matanya berkeliran ke mana – mana, mencari apa entahlah. Dia melihat semua orang, teman di sekelilingnya, para guru di depan, dan panggung yang masif. Lalu, saat gadis itu menoleh ke belakang, dua korteks visual milik gadis itu menabrak Vincent yang jelas masih menatapnya dari kejauhan. Vincent membuang napas panjang. Dia mengerutkan kening saat Theressa menatap dia lekat. Dan begitu juga sebaliknya. Pria itu menahan bagian depan hatinya dengan telapak tangan. Entah kenapa dia merasa begini. Dan entah kenapa Theressa juga malah mengunci tatapan mata pria itu. Dengan satu tatapan kalau memang benar Theressa itu sedang gugup bukan main, Vincent mengacungkan dua ibu jari ke arahnya sebagia penyemangat. Garis harsa yang terurai di bibir Theressa membuat hati Vincent menjadi hangat. Apa maksudnya ini? Dia mengangguk sebagai balasan senyum tipis dari Theressa. Gadis itu menoleh ke depan lagi, meninggalkan Vincent yang masih merasa aneh sebab interaksi mereka tadi. Ini bodoh. Kenapa sih dengan hatinya yang konyol ini? Dia harus berhenti melakukan hal bodoh yang tidak keren. Dia melanjutkan mencari adiknya, gadis yang seharusnya dia semangati dan beri afirmasi kalau semuanya akan baik – baik saja. Pria itu melihat figur familiar yang, by the way, benar duduk di barisan paling belakang. Vincent tertawa dengan dirinya sendiri melihat fakta itu. Pada dasarnya, semua Abernathy pasti akan mendapat bagian yang paling terakhir. “Adik?” tanya seorang pria di samping Vincent. Dia terlihat masih muda, dengan wajah yang tidak ada keriput. Namun, semua orang pasti langusng bisa mengenali kalau dia dalah seorang ayah yang datang ke graduasi anaknya. “Iya. Yang itu,” tunjuk Vincent ke depan. Dia melihat toga milik Vanessa dan tersenyum sopan ke arah pria di sampingnya. “Kedua orang tua kita tidak bisa datang, jadi aku yang menemani dia ke sini.” Pria di samping Vincent mengangguk simpatik. Tapi lalu dia bertanya satu hal lagi, yang membuat Vincent Abernathy nyaris tersedak. “Ah, kalau begitu gadis yang pertama kau acungkan ibu jari itu, kekasihmu, ya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN