17.6

1350 Kata
PERJALANAN KE SEKOLAH merupakan perjalan paling lama yang pernah Vincent rasakan. Dia hanya sibuk diam, fokus pada jalan di depan, dan tentu saja, menguping konervasasi antara dua gadis bernama Vanessa dan Theressa di samping dia. Bagus, bahkan dua nama mereka terdengar seperti nama orang kembar. Jika ada orang yang tahu kalau dia sedang menguping konversasi dua gadis remaja di dalam mobilnya sendiri, Vincent akan kabur ke Antartika. Itu terdengar payah. Dan cupu. Dan jujur saja, bahkan Vincent sendiri tahu kalau itu salah. Tapi serius, bukan salah dia kan, kalau dua gadis dengan nama similar itu berbicara dengan sangat lantang? Lagi pula, apa yang akan Vincent lakukan, menutup dua telinganya dengan dua tangan? Lantas, siapa yang akan mengemudikan kemudi setir di depannya ini? Dia memasang telinga dengan seksama, mendengarkan apa yang sedang meraka bicarakan sepert pria payah yang tidak punya kerjaan. Dua matanya mungkin boleh fokus ke depan, patuh pada semua rambu lalu lintas tanpa salah sama sekali, tapi dua indera pendengaran di tubuhnya hanya fokus pada dua vokal berbeda di sekitarnya, yang sedang asyik berbicara seolah tidak ada orang lain di dalam mobil tersebut. Bagus. Baiklah. Vincent sekarang malah merasa seperti seorang supir pribadi dua gadis remaja kaya raya. Dia memutar dua bola matanya dan kembali fokus. Theressa yang saat ini sedang berbicara. Vincent merasa hidupnya akan terjebak bersama dengan Theressa lebih lama lagi. Berhubung mereka memang masih punya banyak waktu, sesuai dengan dugaan dari Vanessa, pria itu tidak membawa mobil dengan lajut yang cepat. Dia menikmati waktu dan bersantai, sesekali membiarkan orang menyebrang jalan. Mutlak, dia merasa seperti alien lagi di dalam mobilnya sendiri. Tapi kemudian telinga pria itu berdiri mendengar satu kata dari Theressa. “Dia sangat tampan.” Siapa yang tampan? Apa yang tampan? Vincent tidak suka arah pembicaraan ini. Pria itu segera menoleh dan mendapati Vanessa sedang berkutat dengan ponsel asing yang pasti milik Theressa. Gadis itu sedang memperbesar sebuah gambar di layar kaca, yang sudah jelas adalah foto seorang pria. Dengan kesal dia meraih ponsel itu dan melemparnya lagi ke belakang. “Hey,” Theressa menyentak tidak suka. “Aku bekerja paruh waktu untuk ponsel ini. Hati – hati!” Theressa mengeluh sembari mengusap ponselnya yang untung saja bisa dia tangkap tepat waktu. Gadis itu merenyuk. Ada setitik rasa bersalah di hati Vincent mendengar gadis itu, namun dia tetap bersikukuh untuk mempertahankan gelagat acuh tak acuhnya di depan gadis tersebut. “Makanya. Ponsel remaja kok isinya foto – foto pria.” “Er, bukankah itu normal?” balas Theressa. “Tidak normal. Hapus.” “Kau bukan ibuku,” Theressa mencibir. Dia mengantungi ponsel di baju toga yang ada kantungnya, dan melipat dua tangan di depan. “Dan kau tidak bisa seenaknya menyuruh aku ini itu.” “Kalau begitu jangan bawa – bawa Vanessa.” “Vanessa bukan gadis berusia lima tahu,” kata Theressa. “Dan kau juga bukan anak kecil. Biar aku tebak, kau sendiri pasti banyak punya foto perempuan, kan? sudah berapa banyak gadis yang kau kencani? Sudah berapa banyak orang yang kau goda? Jangan membuat double standard untuk adikmu sendiri.” Vanessa menggigit bibir. Dia terlalu terkejut untuk bereaksi. Baru pertama kali dalam hidupnya dia punya seorang teman yang mau membela dia di depan dua kakaknya. Sudah begitu, teman perempuan pula. Bagaimana tidak? Bahkan teman laki – laki saja menolak untuk berteman dengan Vanessa. Dia meremas pinggiran mobil, dan diam – diam menyemangati Theressa di dalam hati. Gadis itu melirik temannya dari kaca spion tengah dan memberikan senyum tipis. Vincent mendengus. “Jangan banyak bicara. Anak kecil diam saja.” “Siapa yang kau bilang anak kecil?” “Siapa lagi anak kecil di sini?” “Satu – satunya anak kecil di dalam mobil ini adalah pengemudinya,” ketus Theressa. “Oh, itu membuatku berpkir, apa kau bisa menyetir dengan benar? Apa kau punya lisensi mengemudi? Kau yakin sudah besar?” “Jangan buat aku menurunkan kau di jalan.” Vanessa akhirnya angkat bicara. “Kalau Tessa turun, aku juga turun.” Tessa? Vincent mencemooh di dalam hati. Mereka bahkan sudah masuk dalam fase saling memberikan nama panggilan satu sama lain? Vincent tahu kalau Vanessa sudah bilang mereka sebenarnya sudah kenal lama, dan berteman cukup lama, tapi Vincent baru pertama kali bertemu gadis ini. Gadis yang pertama kali bisa melawan dia dan tidak meluluh konyol. Pria itu memicingkan mata ke arah Vanessa karena merasa terkhianati. Sudah jelas di sini posisinya dua lawan satu. Vincent sendirian sementara adiknya mendukung gadis yang baru dia kenal. Oke, baiklah. Tidak baru kenal, tapi intinya sama saja. “Kau serius? Mau aku turunkan kalian berdua dan kalian harus jalan kaki ke sekolah?” ancam Vincent. Bagaimana pun juga, dia masih punya kendali yang besar di sini. Dia yang mengemudikan mobil ini, dan dia satu – satunya kendaraan bagi mereka ke sekolah. Theressa mencibir. “Lantas?” “Sekolah tinggal beberapa blok lagi, Vinny. Aku dan Theressa bisa jalan kaki. Walau aku tahu itu, tapi aku berharap kau tetap mengantar kami sampai ke sekolah. Lagi pula, kau kan tamu, bagaimana kau akan masuk tanpa kita berdua?” Vanessa menaikkan dua alis pada kakaknya. Vincent menyumpah rendah, membuat dua gadis di sebelahnya terkekeh. Beosk, dia akan membalas Vanessa. Masih untung dia bersedia membangunkan gadis itu dengan dua puluh alarm yang sanggup membangunkan dia dari tidurnya, dan ini balasan dari gadis itu? Tapi lagi, apa yang pria itu harapkan dari gadis remaja yang masih penuh hormon? Vincent hanya menggeleng tak suka. “By the way, kalau kau mau, hari rabu nanti kau bisa melihat – lihat kebun binatang sebelum mulai kerja dua minggu lagi,” kata Theressa mengganti topik. Dia menyibak surainya ke belakang, menarik perhatian Vincent dari kaca spion tengah. Pria itu menelan ludah, membuat adam apelnya naik dan turun. “Boleh. Tentu saja. Aku akan datang hari rabu,” kata Vanessa. “Kau akan kerja hari itu, kan?” Theressa mengangguk. Dia menyibak surainya lagi, sudah jelas merasa terganggu dengan rambutnya sendiri. “Aku kerja dari rabu dan kamis, dan sepetri yang aku katakan, akhir pekan. Kau bisa memiliih hari. Kira – kira kapan kau akan menjadi sukarelawan?” “Er . . . hari rabu dan kamis. Bisa tidak? Agar sama denganmu. Aku pikir akan lebih menyenangkan jika bisa bersama dengan teman sendiri dan orang yang kita kenal.” “Tentu saja.” Theressa mengeluarkan ponselnya lagi. “Akan aku beritahu Lee.” “Lee?” sahut Vincent. “Lee siapa?” “Salah satu staff di kebun binatang. Dia orang yang fotonya tadi aku lihat.” Vincent mengumbang pelan. Pria yang dia bilang tampan itu? Vincent melirik kaca spion tengah dan melihat kalau gadis itu tengah sibuk mengirimkan pesan pada orang yang dia duga adalah Lee. Lee. Dari namanya saja sudah bisa membuat Vincent kesal. Dia melirik Vanessa penuh arti. Yang kira – kira artinya, stay away from Lee. Yah, mau bagaimana lagi? Insting protektif dan posesif dari seorang kakak ini sudah terlalu besar. Vanessa hanya mencibir dan melengos. Belum juga apa – apa, dia sudah mendapat peringatan macam begini. Bagus. “Oke, aku sudah katakan padanya. Lee bilang tidak masalah. Yang penting ada yang membantu saja dia sudah bersyukur,” kata Theressa akhirnya. Dia mengantungkan ponselnya lagi ke dalam saku baju toga. “Aku akan menjemput kamu hari rabu.” “Untuk apa?” tanya Vincent. “Kau ini gidak mendengarkan sama sekali, ya?” Vanessa mengerang keras. “Aku akan datang ke kebun binatang hari rabu untuk melihat – lihat lokasi dan mencari tahu lebih banyak di lokasi sana. Belajar juga. Jadi hari rabu nanti Theressa akan menjemput aku.” “Ya, untuk apa? Menjemput kamu segala?” “Agar kita pergi bersama?” balas Vanessa dengan pertanyaan balik. “Tidak perlu,” Vincent berkata datar dengan rahang yang mengatup. Dia berusaha bertingkah seperti tidak peduli sama sekali. “Aku akan mengantar kalian pergi.” “Benarkah?” Vanessa berseru riang. Dia menoleh ke belakang dan fist bump dengan Theressa. Setidaknya, dua gadis itu tidak perlu naik bis ke sana. Vincent mengangguk dan bersungut. “Setidaknya, aku akan memastikan kalian tidak macam – macam di sana.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN