BESOK HARINYA, Vincent serius dalam menepati kalimatnya sendrii. Vanessa dibuat nyaris di pagi hari. Gadis itu harus kewalahan mematikan alarm yang berbunyi kurang lebih dua puluh kali. Sudah gila, tapi itu Vincent.
Dan bukan pertama kalinya juga dia dibuat kewalahan oleh kakaknya ini.
Dulu sekali, saat dia punya event penting perkara olahraga dan berbagai macam permainan yang Vanessa tidak tahu, Vincent harus memastikan kalau Vanessa bangun dengan tepat waktu sebab sebagai orang yang baru saja menerima lisensi pengemudinya, dia kala itu harus berubah menjadi supir pribadi Vanessa ke sekolah. Antar dan jemput tanpa boleh terlambat. Vincent, mengingat kalau Vanessa adalah adik tersayangnya yang tidak kenal waktu dan tempat, tentu saja harus memastikan kalau dia bangun sesuai dengan waktu yang sudah dia hitung.
Jadi, Vincent yang ratu drama dan sangat hiperbola memasang banyak alarm secara diam –diam di dalam kamar tidur Vanessa yang berbunyi setiap setengah menit.
Bayangkan, setengah menit. Tidak dengan jarak manusiawi seperti lima menit sekali, atau seperti pada dasarnya orang – orang yang sulit bangun akan memasang interval satu menit sekali.
Tidak. Vincent si hiperbola harus memasang alarm dalam jarak setengah menit. Tiga puluh detik saja. Alhasil, bukan hanya Vanessa yang dia bangunkan, tapi juga seluruh isi rumah saat itu.
Gadis itu menggerutu sepanjang bersiap – siap, sampai dia nyaris menusuk matanya sendiri dengan maskara yang hitam. Dia menatap jam weker yang kecil di samping duvet tempat tidur penuh sangsi.
Jika Vanessa tidak bisa sabar, mungkin gadis itu sudah akan melempar jam tersebut ke menjadi pecahan yang menyedihkan.
Vincent sendiri sudah siap di bawah. Pakaian suit kemaja dan celana miliknya halus dan mulus, memperlihatkan seorang pria tinggi dengan tubuha ateltis yang dibalut pakaian rapih.
Tampan.
Itulah Vincent.
Valentino sendiri tidak bisa hadir ke graduasi Vanessa, membuat gadis itu harus kecewa bukan main. Tidak perlu di tanyakan perkara orang tua mereka yang absen. Mereka sudah biasa. Vanessa bahkan tidak perlu bertanya apakah mereka bisa hadir atau tidak.
Tapi Valentino?
Pria itu sampai harus menjanjikan akan mengantar Vanessa ke sea world favorit gadis itu minggu depan sebagai gantinya.
Vincent meringis saat mengingat tiket masuk ke sea world yang sangat mahal. Tapi lagi, jika Vincent ada di posisi Vanno dan Vanessa sedang marah besar padanya, maka jurus terakhir pria itu juga sea world.
Tidak akan ada yang bisa menyembuhkan Vanessa kecuali hiu – hiu kecil dan lumba – lumba yang menggemaskan.
Vincent meminum jus jeruk miliknya sampai habis. Baru saat dia sudah selesai sarapan, gadis itu turun dengan baju dan toga yang siap. Ada rasa bangga terseendiri di dalam hati pria itu melihat adiknya sudah siap dengan baju toga.
Walau hanya lulus dari junior high school saja, tapi rasa kebanggan itu membuat Vincent tersenyum lebar dan sedikit merasa terharu.
Hmh, mungkin Vanessa benar.
Mungkin dia ini memang suka berlebihan dan ratu drama.
Pria itu berjalan dan memeluk adiknya erat. “Selamat. You made it.” Dia meremas dua bahu Vanessa dan tersenyum bangga.
“Orang akan mengira aku lulus kuliah, bukan lulus junior high.” Vanessa menggeleng tapi tetap tersenyum. Dia balas pelukan Vincent sebelum melepasnya. Gadis itu meraih piring yang berisi roti panggang dan mulai menyantap sarapannya.
“Yakin tidak ada yang ketinggalan?”
“Aku yakin,” jawab gadis itu. Dia meminum s**u dengan cepat. “Tidak ada yang ketinggalan sama sekali.”
“Kau yakin?”
“Sekali lagi bertanya dan aku akan berteriak,” Vanessa berdecak. Dia memakan habis roti di tangannya.
“Pelan – pelan. Kemarin kau telat tapi santai, sekarang masih ada banyak waktu, dan kau makan seperti sedang dikejar hantu. Kita masih punya banyak waktu, kok.”
“Bukan itu masalahnya,” Vanessa menghabiskan satu gelas s**u miliknya. Setelah selesai, dia mengelap bibir dan mengeluarkan suara ah yang kenyang. “Masalahnya, kita harus melakukan sesuatu dulu.”
“Hah? Melakukan apa?” tanya Vincent sembari membenarkan dasi di lehernya.
“Menjemput seseorang.”
Alisnya mengerut di depan kaca ruang tamu. “Siapa?”
“Theressa.”
Tangan Vincent nyaris mencekik dirinya sendiri di leher. Dia menarik napas panjang dan merasakan bahunya jatuh ke bawah. Bagus. Sekarang dia tidak bisa melepaskan diri dari gadis menuyebalkan itu.
Tangannya bergerak lagi dan membenarkan dasi, namun lidahnya gatal untuk protes. Sebenarnya, dia tahu dia bersikap seperti anak kecil begini. Tapi sungguh, baru pertama kali ini ada gadis yang bisa membuat Vincent kesal dan jengkel kecuali adiknya.
Dan jujur saja, baru pertama kali ini ada gadis yang tidak meluluh di depannya.
Biasanya, bukannya dia sombong, tapi semua gadis biasanya akan mengejar dia dan setuju dengan apa saja yang dia lakukan. Vincent sudah biasa dengan reaksi begitu. Jadi, dia merasa sedikit terganggu dengan fakta kalau orang baru seperti Theressa tidak terpengaruh dengan wajah tampan dia.
Baiklah. Itu terdengar sedikit sombong.
Pria itu merenyuk saat Vanessa melanjutkan, “Rumahnya cukup jauh dari sini. Jadi kita harus pergi sekarang agar tidak terlambat.”
“Apa ini? Kenapa kau tidak bilang dari awal kalau harus menjemput dia dulu?”
“Dia punya nama. Namanya Theressa. Dan kita tidak akan telat. Masih banyak waktu sepetri yang kau bilang, kan? Sekarang, kau sudah siap untuk berangkat?”
Vincent menggigit lidahnya agar tidak mengatakan hal yang sarkas.
Dia mengangguk dan meraih kuncil mobil. Dia tunggu Vanessa yang kewalahan dengan baju toga yang panjang, lalu mereka berdua berlalih ke garasi rumah mereka. Dengan cepat Vincent menyalakan mobil yang sudah dia panaskan sebelum sarapan.
Dia memakai sabuk pengaman, menunggu Vanessa siap, lalu melihat gadis itu berkutat dengan GPS mobil dan memasukkan alamat rumah Theressa.
Vincent keluar dari garasi rumah saat pintu garasi sudah tertutup rapat. Mereka membiarkan suara musik mengalun dari dalam pengeras suara mobil. Vincent melihat jalanan mereka. Ini perumahan yang cukup baik. Dia ingat pernah datang ke sini beberapa waktu yang lalu. Tempat rumah salah satu anggota tim miliknya.
Dia memutar kemudi setir dengan handal. Pekarangan rumah Theressa sangat cantik. Banyak sekali bunga dan taman hias yang mengitari sekeliling halaman rumah. Vincent mengobservasi sekitar. Jika Vanessa main ke sini, dia tidak perlu cemas. Banyak orang dan ini termasuk lingkungan yang cukup ramah.
Setelah merasa puas, Vincent bersandar di kursi pengemudi. “Di mana dia? Apa masih lama?”
“Bisa sabar tidak?” balas Vanessa. Dia berkutat dengan ponsel, yang mungkin sedang menghubungi Theressa. “Kita baru saja sampai.”
“Bilang padanya aku tunggu lima menit, kalau tidak keluar juga, akan aku tinggal.”
“Kita yang graduasi, kenapa dia yang sangat heboh, sih?” suara dari pengeras suara mendadak memenuhi mobil. Vincent terkejut, lalu dia melotot ke arah Vanessa. Gadis itu hanya terkekeh sembari memegang ponselnya di udara.
Theressa menggerutu dari balik sambungan telepon. Dia terdengar sedang melakukan sesuatu. “Apa kakakmu selalu begitu?”
“Selalu. Kemarin, aku yang terlambat tapi dia yang stres. Aku rasa dia punya semacam kelainan.”
“Biar aku tebak. Dia seorang atlet?”
“Benar. Dan biar aku tebak, pasti kau tidak pernah olahraga seumur hidupmu, kan?” sahut Vincent tidak mau kalah.
“Siapa bilang?”
“Aku yang bilang tadi, kurang jelas? Tidak dengar?” Vincent meringis di dalam hati mendengar dia yang berbicara seperti anak kecil.
Ini benar – benar memalukan.
Theressa hanya mendengus tapi tidak menajwab. Setelah Vanessa beritahu kalau mereka sudah menunggu di depan, gadis itu mengkonfirmasi dan segera ke luar. Vanessa menutup telepon dan tak berapa lama kemudian, figur Theressa muncul dari pintu depan. Gadis itu berlari kecil ke arah mobil Vincent dan masuk dengan baju toga yang sudah siap seperti Vanessa.
Dia mengangkat topinya dan tersenyum sarkas pada pria yang sedang duduk di kursi pengemudi. Gadis itu membiarkan surainya jatuh ke belakang dengan indah, dan fist bump dengan Vanessa di kuris penumpang.
Lalu, Vincent akhirnya menyalakan mesin mobil lagi dan mengabaikan rasa hati yang aneh di dalam tubuhnya saat melihat Theressa dengan surai yang terbang cantik.
“Baiklah. Let’s get this over with.”