17.4

1487 Kata
“ER, MAAF, tapi apa yang dia lakukan di sini?” desis Vincent pada Vanessa yang duduk di sebelah sisi Theressa. Pria itu tidak peduli kalau kepalanya nyaris menyentuh sisi kepala Theressa yang duduk di sampingnya. Dan dia sudah jelas tidak peduli kalau pada dasarnya, memang Theressa yang seharusnya ada di sini dan dia tidak. Dia hanya wakil murid yang boleh datang menemani, dan tidak wajib berada di sana. Tapi memangnya Vincent peduli? Dia menatap gadis mungil yang setara dengan adiknya Vanessa dengan cepat, lalu melengos lagi agar tidak terlihat seperti baru saja melihatnya dengan lekat. Cantik, sih. Sungguh. Vincent itu tidak buta. Theressa terlihat menggemaskan dan jujur saja, dia salah satu gadis yang cantik yang pernah dia lihat di sekitar sini. Tapi sayang, rasa frustasi Vincent sudah lebih dulu membludak, dan Vincent selalu ingin naik pitam setiap kali melihat wajah Theressa si gadis menggemaskan itu. Baiklah. Dia memukul keningnya sendiri di dalam hati. Dia harus berhenti mengatakan gadis ini menggemaskan. Lagi pula, Theressa ini kan masih kecil . . . ugh, baiklah. Itu omong kosong. Dia pasti seumuran dengan Vanessa. Vincent mencibir dengki sebab dia kesusahan mencari hal yang buruk di gadis itu. “Apa dia tidak ada tempat lain?” tanya Vincent lagi. Vincent berbisik walau pun jika suaranya kencang sekali pun, dia yakin kalau tidak ada yang akan mendengarnya di tengah keributan, dan suara pria tua di mikrofon. Vincent mematai Theressa dengan mata yang sinis. Pria itu melotot ke arah Vanessa saat dia tidak menjawab. “Hey, ayo cari tempat yang lain.” “Tempat lain penuh.” Vincent mencibir saat mendengar Theressa menjawab datar. Dia tidak menoleh sama sekali, melainkan fokus penuh ke depan menatap pria tua yang mungkin adalah kepala sekolah. Ceramah yang dia berikan masuk ke telinga kiri dan keluar dari telinga kanan tanpa ada yang benar – benar mendengarnya. Vincent berdecak. Dia melirik Theressa penuh dengki. Pria itu tidak sadar kalau Vanessa di samping Theressa sedang tersenyum lebar. Mutlak. Gadis itu bisa berteriak yes sekeras mungkin di tengah gedung begini. Dia yakin seratus persen kalau Theressa itu imun pada daya tarik Vincent. Dan sudah tidak perlu di pikirkan lagi kalau gadis itu juga pasti imun terhadap daya tarik Valentino. Bukannya dia membandingkan sih, tapi Vinny memang sedikit lebih tampan dari pada Vanno. Vanessa memukul kaki Vincent dari tempatnya duduk. “Sshh, dengarkan kepala sekolah sedang berbicara.” Tapi Vincent terlalu sibuk mendelik ke arah gadis kecil di sampingnya. Tidak perlu seorang jenius (yang by the way, sudah jelas Vincent bukan seorang jenius) untuk tahu kalau Theressa sedang mengejek dia perkara argumen mereka di parkiran tadi. Parkiran yang lain sudah penuh. Saat pria itu tahu kalau tidak ada gunanya dia protes, dan sadar kalau memang kursi yang lain sudah penuh, akhirnya Vincent mencibir dan diam. Dia menghadap ke depan, benar – benar mengabaikan presensi seorang gadis yang duduk tegak di sampignya. Dia ini kenapa sih? Baru pertama kali di hidup pria itu seorang gadis tidak peduli dengan eksistensinya. Vincent termangu dan mengintip dari ujung mata pada figur Theressa yang duduk tegak. Cantik, sih. Tapi sangat sarkas dan datar. Manis juga. Terlihat dari senyum dia yang indah dan lebar. Dan bukannya Vincent mau memuji dia atau apa, tapi rasanya dia seperti sesuatu yang tidak pernah pria itu lihat sebelumnya. Cantiknya tidak biasa. Dan Vincent sedikit memikirkan hal itu. Dengan cepat pria itu mengaburkan lamunan dan memusatkan fokus ke depan. Apa dia sudah gila? Theressa di sampingnya menoleh pada Vanessa. “Jadi, apa yang akan aku lakukan sepanjang musim panas ini?” tanya gadis itu saat kepala sekolah sudah selesai memberikan ceramah dan turun dari atas panggung. Ada berbagai macam instruksi perkara acara graduasi besok, namun telinga Vincent hanya tertuju pada konversasi dua gads di sampingnya. “Er, aku tidak tahu. Kenapa memangnya?” “Kau mau menjadi sukarelawan di kebun binatang lokal?” tanya Theressa. “Itu kebun binatang yang dekat taman bawah kota. Kau tahu, kan?” Dua mata Vanessa menyala penuh ketertarikan. “Itu menarik. Sukarelawan macam apa?” “Menjadi staff di sana. Mereka sedang butuh orang sebab biasanya saat musim panas, pengunjung akan banyak yang datang. Dan akan ada lonjakan pendatang ke kota. Tapi mereka tidak cukup mampu untuk membayar lebih banyak orang.” “Pekerjaan seperti apa biasanya di sana?” “Hanya mengurus para hewan. Biasanya hanya hewan – hewan kecil yang tidak butuh banyak atensi atau pengerjaan yang rumit. Membantu para staff saat kebun binatang buka, dan membantuk membersihkan di sana.” “Wow, menarik. Aku suka fauna.” “I know. I like animals too.” Theressa tersenyum lebar untuk pertama kalinya. Dia meneruskan tentang banyak hal perkara kebun binatang itu sampai akhirnya, gladi bersih di mulai dengan nama yang paling atas. Dua gadis ini tentu saja bagiannya masih lama. Vanessa mengumbang pelan. “Aku akan sangat suka menjadi sukerelawan di sana,” dia mengangguk. “Vincent?” Pria itu berpura – pura tidak sedang menguping pembicaraan mereka sedari tadi. Dia menoleh dengan terkejut, dan mengangkat dua alis tinggi. “Kenapa?” “Apa kau sedari tadi tidak mendengarkan?” tanya Vanessa. Dia mengedikkan bahu acuh tak acuh, sembari berusaha mengabaikan tatapan dari gadis kecil di sampingnya. “Kebun binatang. Bolehkan aku menjadi sukarelawan di kebun binatang?” “Kebun binatang mana?” “Taman bawah kota.” Vanessa memutar dua bola matanya. “Masa iya kau sedari tadi tidak mendengar kita?” tanya Vanessa frustasi. Vincent hanya mengangkat bahunya lagi.Memangnya dia sudi mengakui kalau dia menguping sedari tadi? “Theressa menawarkan aku untuk menjadi sukarelawan di kebun binatang dekat taman bawah kota itu.” “Oh?” secara perlahan, dan pelan sekali, dia akhirnya membawa tatapan matanya ke arah Theressa yang duduk manis. Dan bodohnya, Vincent malah terkejut melihat tatapan mata inosen dari gadis itu. Berkat figurnya yang tinggi, Theressa harus mendongak saat melihat pria itu. Kenapa juga jantung pria ini harus berdegup kencang sekali? Dia memegang bagian depan tubuhnya dan berdeham canggung. Lalu dia mengalihkan atensi dari gadis di sampingnya lagi. Mungkin dia masih kesal terhadap gadis itu. “Menjadi apa?” “Hanya staff dan sebagainya. Membantu mereka.” “Dan hari apa saja kerjanya?” tanya Vincent. Dia menatap Vanessa melewati kepala Theressa yang ada di bawah dagunya. “Kenapa kau tidak tanya padaku saja?” sahut Theressa. “Aku yang tahu detailnya.” Vincent tidak mengabaikan dia. “Dan kenapa juga kau harus bertanya dulu ke pria ini?” Theressa menoleh ke belakang pada Vanessa yang tersenyum tipis dan terpaksa. Dia berdeham dan bingung. Bagaimana caranya menjelaskan pada gadis ini kalau dia punya dua kakak yang kelewat posesif dan protektf? Dia merenyuk dan hanya bisa mengecap lidah. “Yah, hanya . . . bertanya opini darinya.” Theressa mengerutkan kening dan menoleh lagi pada pria di sampingnya. “Kau bukan tipe kakak laki – laki yang selalu ingin tahu adiknya melakukan apa, kan?” “Memangnya salah?” balas Vincent. “Salah. Kau tidak lihat Vanessa? Dia sudah sebesar ini.” “Dan orang dewasa pun bisa terluka,” balas Vincent tak mau kalah. Dia mengibaskan tangan di depan gadis itu. Baru pertama kali ini ada yang protes padanya. Biasanya teman gadis Vanessa akan malah meluluh melihat sifat protektif dia, dan sirik karena Vanessa punya kakak yang perhatian dan baik. Tapi kenapa ini malah protes? “Kau pikir aku tidak tahu itu?” Theressa mencibir. “Ayolah, bahkan anak sekolah dasar saja tidak perlu ijin untuk berkencan hari begini. Yang by the way, aku tahu mungkin salah, namun memangnya apa lagi yang bisa kita lakukan perkara kemajuan zaman?” “Kenapa jadi kemajuan zaman segala, sih? Intinya, jangan ikut campur urusan keluargaku. Kau baru berteman dengan Vanessa, kapan? Satu detik yang lalu?” “Er . . .” Vanessa menyahut. “Sebenarnya kita sudah berteman dari lama. Kau saja yang tidak pernah melihat dia. Theressa tidak pernah datang ke rumah atau bertemu dengan kau sebelumya.” Gadis di samping Vincent tersenyum miring. Dia ikut mengibaskan tangan seperti Vincent dan berkata pada Vanessa dengan santai. “Jadi, kau bisa mulai kapan?” “Kau masih belum menjawab pertanyaan dariku,” sergah Vincent tidak sabar. Dia melotot ke arah gadis kecil itu. Vanessa sendiri hanya bisa diam sebab dia tahu tidak ada yang bias melawan Vincent perkara kesleamatan Vanessa. “Ugh,” Theressa mengerang kesal. Dia mengangkat empat jari. “Empat hari dalam seminggu. Dua hari di akhir pekan, dua hari lagi bisa memilih hari. Dari jam sembilan pagi sampai jam empat siang. Makan siang diberikan dari sana sebagai pengganti upah. Jadi, tuan Vincent yang baik hati, bagaimana menurutmu? Puas?” Vincent mengatupakn rahangnya kuat. Ada sesuatu yang membuat dia menyukai gadis ini. Sesuatu yang membuat dia merasakan jantung yang berdegup kencang. Pria itu tahu, jika pertemanan mereka berjangka panjang, Vincent akan mengatahui yang namanya kekacauan. Tapi dia tidak bisa menahan diri sebelum akhirnya menjawab dengan senyum miring. “Puas.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN