SETELAH MENCARI parkiran selama kurang lebih sepuluh menit lamanya, Vincent akhirnya melihat parkiran kosong tempat orang baru saja keluar. Seorang ibu paruh baya yang mungkin hanya mengantar anaknya ke sekolah. Pria itu segera memarkirkan mobilnya di tempat itu dengan napas yang panjang.
Vincent itu terkadang seperti ratu drama. Tidak, dia memang ratu drama. Dia senang melebih – lebihkan sebuah situasi yang seharusnya tidak ada apa pun sebab dia tidak suka sesuatu yang terjadi di luar kendalinya. Dia pria yang suka berada dalam kontrol mutlak. Dan sungguh, terlambat begini membuatnya nyaris ingin berteriak frustasi. Vincent tahu adiknya itu paham benar seperti apa dia jika mereka sudah terlambat, itulah mengapa saat ini juga pria itu merasa seperti akan berteriak ke arah Vanessa dengan keras.
Dia mengatur kemudi setir sedemikian rupa agar bisa masuk ke dalam ruang parkir yang terbilang kecil untuk mobilnya yang besar. Setelah beberapa kali maju dan mundur di titik itu dengan presisi yang handal, sebab sungguh, jika dia harus merasakan kejadian mobilnya tergores di detik ini, Vincent mungkin akan meledak, akhirnya pria itu berhasil memarkir mobilnya.
Dia mengerang lega.
Berlebihan memang. Tapi pada dasarnya, pagi ini memang hari yang sangat melelahkan. Hari masih pagi, tapi rasanya dia sudah menjalani hari yang panjang dan lama. Vincent tidak akan terkejut saat melihat keluar dan mungkin mendapati hari sudah menjadi malam.
Dia memang hiperbola.
Tapi siapa yang peduli?
Dan pada dasarnya, tadi itu Vincent yang benar. Pria itu tahu. Tapi dia tidak punya waktu untuk adu argumen dengan gadis kecil keras kepala yang tidak merasa bersalah.
Ini memang sekolah yang aneh, gerutu pria itu dalam hati.
Vanessa di sampingnya berbeda tiga ratus enam puluh derajat. Dia malah tersenyum lebar dan bahkan beberapa kali bersenandung ria saat kakaknya kesusahan mencari tempat parkir. Vanessa ini memang tidak peduli, atau merasa dirinya tidak telat, sih?
“Ayo, kita turun,” kata Vincent saat sudah mematikan mesin mobil. Dia memeriksa jika ada barang yang ketinggalan, lalu membuka pintu. Pria itu menunggu sampai Vanessa sudah keluar, lalu mengunci otomatis mobil tersebut.
Keduanya berjalan di parkiran luar yang sangat jauh dari gedung sekolah. Vanessa dengan perasaan yang tidak jelas kenapa malah merasa bahagia, dan Vincent yang frustasi parah.
Pria itu menyenggol sikut Vanessa keras. “Kenapa bahagai sekali, sih? Sebegitu senangnya bisa lulus dan masuk high school? Aku akan beri tahu satu hal. High school is not that fun. Tidak seperti yang mereka perlihatkan di dalam film atau teve seri. Hanya akan penuh orang – orang mengesalkan, dan guru yang lebih menjengkelkan.”
“Jangan rusak kebahagiaan aku,” kata Vanessa datar.
“Tidak merusak. Hanya memberitahu. Lagi pula, kenapa kau sangat senang?”
“Tidak ada apa – apa,” Vanessa mengibaskan tangannya. Dia menatap pintu masuk sekolah dan berjalan mulai cepat. Tidak sabar, gadis itu menarik lengan Vincent agar melangkah lebih cepat.
“Kau ini. Sedari tadi tidak peduli dengan keterlambatan, sekarang kau mendadak jadi peduli begini?” Vincent membiarkan lengan dia di tarik oleh Vanessa yang tidak bisa sabar.
Gadis itu hanya mengedikkan bahu.
Tak lama, keduanya sudah sampai di pintu masuk. Lorong sekolah Vanessa itu sepi sekali. Namun samar, mereka bisa mendengar suara gemuruh tak jauh dari mereka. Itu pasti suara audiens di aula sekolah yang secara jelas sudah memulai gladi bersih untuk acara graduasi besok.
Suara gemuruh dan tapak kaki orang meresonasi ke seluruh gedung sekolah. Vibrasi yang kuat bisa dirasakan di bawah lantai gedung. Vanessa merasakan rasa yang elusif dan tidak dapat dijelaskan. Tak sengaja, matanya melihat loker miliknya di lorong sebelah dan memori yang penuh banyak hal menyerang benak gadis itu.
Dia mungkin bukan orang yang paling eminen di sekolah ini. Mutlak, masa sekolah Vanessa itu hanya penuh dengan orang – orang yang selalu mencoba untuk mendekati dua kakaknya itu.
Dan jika dipikir lagi, memang hanya Theressa, temannya sejak dulu yang tidak pernah begitu tertarik dengan topik kakaknya. Baru kali ini dia melihat secara langsung kalau Theressa memang imun terhadap daya tarik Vincent Abernathy.
Tapi mau bagaimana juga, sekolah pasti akan selalu menaruh nostalgia yang banyak bagi semua muridnya. Termasuk juga bagi Vanessa yang susah merasakan perubahan di hidupnya. Dia masih ingat masa – masa berjalan di lorong ini, tertawa bersama beberapa teman yang cukup baik dia kenal, dan berkativitas sebagai pelajar di sekolah.
Banyak memori.
Dan pada dasarnya, semua orang pasti akan kesulitan menghilangkan memori yang sudah melekat di dalam benak.
Tanpa sadar, gadis kecil itu membuang napas yang panjang sekali. Dia menelan ludah saat meninggalkan pemandangan loker tersebut.
Vincent menyenggol lengannya lagi. “Tapi high school bisa menjadi menyenangkan.”
“Jangan menelan ludahmu sendiri,” kata Vanessa.
“Sedari tadi kau yang sibuk menelan ludah.”
“Apa menurutmu, high school akan menjadi masa yang indah untuk aku?”
“Entahlah,” Vincent menjawab jujur. “Semuanya tergantung pada orangnya.”
Vanessa mengangguk kecil. Dan memangnya Vincent salah? Dia benar. Semua tergantung pada orangnya. Dan mengingat kalau dia punya Theressa sekarang, sepertinya masa sekolah menengah atas nanti akan tidak buruk seperti sekarang.
Gadis itu mengaitkan tangannya di lengah Vincent lagi. “Kau akan menjaga aku setiap hari, kan?”
Pada dasarnya, walau pun mengesalkan, dia adalah adik yang masih bertumpu kuat pada dua kakaknya. Vincent mengangguk dan mengacak surai adiknya gemas. Dia tertawa kecil saat gadis itu merenyuk. “Tentu saja. Siapa yang berani kepada kamu, bilang padaku.”
“Kau akan melindungi aku?”
“Tidak. Aku akan beritahu Vanno dan membuatnya membereskan segalanya,” kata Vincent bangga. Vanessa terkekeh dan mendorong lengan pria itu kuat.
Mereka berdua berjalan dengan santai ke arah aula. Tidak lagi mengingat kalau mereka pada dasarnya terlambat parah. Ah, sudahlah, yang penting nama Vanessa memang pasti akan ada di bawah kan?
Vincent menarik tangan Vanessa ke dalam aula sekolah. Benar saja. Gedung indoor yang cukup besar itu sudah di penuhi banyak orang. Banyak wakil murid yang berlalu – lalang di setiap sela kursi, banyak murid yang mencari tempat, panitia yang sibuk mengurus segalanya, guru – guru yang tidak bisa diam, dan semua orang heboh bukan main.
Pria itu langsung memucat dan berusaha kabur.
“Hey, kau sudah janji akan menunggu aku sampai acara ini selesai. Dan bukannya kau janji akan membawa aku makan es krim sesudah ini?” Vanessa segera menarik jaket yang dipakai Vincent kuat. Dia memcingkan mata pada pria itu. “Jangan berani kabur.”
“Penuh sekali,” bisik Vincent. Dia berusaha melepas pegangan tangan Vanessa yang kuat. “Ini gladi bersih untuk graduasi sekolah, atau acara konser boy band?”
“Jangan sarkas.”
“Aku serius, Vanny. Aku rasa graduasi aku dulu tidak sepenuh ini. Bukankan ini sedikit berlebihan? Memangnya ada berapa murid di sekolah ini?”
“Sekitar tiga ratus.”
“Aku akan menjemput kau nanti, oke?” pinta pria itu. Dia mematai barisan kursi penuh ibu – ibu paruh baya yang sudah jelas jenis ibu repot dan penuh komentar pedas. Vincent semakin pucat. “Sepertinya ini ide yang buruk. Kau lihat mereka semua? Aku salah tempat. Dan salah baju. Dan salah semuanya! Aku lebih baik pulang saja.”
“Kau sudah janji, Vinny!” protes Vanessa keras. Dia berusaha menarik tubuh kakaknya yang terlalu besar untuk dia yang kecil.
Vincent menyumpah rendah. Pada dasarnya, dia itu memang paling sulit menolak permintaan Vanessa. Dia membuang napas yang berat dan membiarkan tubuhnya ditarik oleh Vanessa. Gadis itu tersenyum lebar penuh kemenangan. Pria itu mematai segala sisi aula yang di penuhi oleh banyak orang.
Pelajar yang masih muda, orang tua yang sudah paruh baya, dan guru – guru yang tidak mungkin dia ajak bicara.
Bagus. Baiklah. Sekarang Vincent menjadi alien di dalam aula sekolah ini.
“Vanessa, berapa lama acaranya?” tanya Vincet tak sabar. Dia membiarkan Vanessa menarik dia tanpa melihat ke mana mereka berjalan. Pria itu sibuk tersenyum sarkas pada ibu – ibu yang melambaikan tangan ke arah pria itu.
Memangnya mereka kenal dengan dia?
Vanessa mengumbang pelan dan menjawab, “Er . . . sekitar dua jam kurang lebih? Entahlah. Tapi sepertinya gladi bersih sudah mulai seperempat jalan. Tenanglah, kau akan baik – baik saja.”
“Kau enak tinggal bicara. Aku? Aku yang harus menjalani semua ini,” ketus Vincent. Tapi dia tetap pasrah ditarik oleh adiknya. Gadis itu itu tidak merespon lagi.
Saat suara mikrofon terdengar melengking, dan seorang pria tua naik ke atas panggung, Vincent tahu kalau acara akan segera mulai. Vincent baru saja akan protes ke Vanessa agar gadis itu lebih cepat mencari tempat, namun dia sudah lebih dulu menyuruh Vincent duduk.
Vincent Abernathy duduk tanpa menoleh dan protes. Namun kepala pria itu menoleh sangat cepat saat melihat Vanessa duduk di kursi satu jarak antara merek. Saat pria itu menoleh, dia meringis tatkal melihat gadis yang tadi adu argumen dengan dia di parkiran.
Theressa.