SAAT MOBIL yang di kendarai oleh Vincent dan Vanessa masuk ke dalam parkiran sekolah, tentu saja mereka kesulitan untuk menemukan tempat parkir. Mutlak, mereka sangat telat. Gedung sekolah pun sudah sepi, pertanda kalau semua orang sudah ada di dalam aula sekolah.
Yang seharusnya adalah tempat Vanessa berada saat ini. Gadis itu berusaha melihat ke pintu depan, namun Vincent sudah lebih dulu membelokkan mobil mencari tempat parkir yang masih kosong. Pria itu mengusap dagunya yang terlihat mulai ada rambut – rambut halus. Sudah jelas kalau Vincent saat ini terlihat frustasi berat sebab masih belum bisa menemukan tempat parkir untuk mobilnya yang super besar dan menurutnya terlihat sangat maskulin itu. Sungguh, kenapa juga sih, malah Vincent yang repot dan tidak bisa tenang padahal Vanessa yang saat ini harusnya terlambat? Gadis itu hanya duduk tanpa masalah di kursi penumpang, sembari ikut membantu mencari tempat parkir yang juga kosong.
Dia menoleh pada Vanessa dan memicingkan matanya. “Ini semua karena kamu.” Dia berkata ketus sembari mencengkeram kemudi setir dengan kuat. Pria itu berdecak saat lagi – lagi tidak ada parkiran kosong di tempat mereka mencari. Barisan demi barisan sudah terisi penuh oleh mobil orang tua murid yang sudah jelas akan datang lebih awal demi tidak telat.
Tidak seperti adiknya yang tidak tahu konsep waktu.
“Bisakah kau berhenti menyalahkan aku?” ketus Vanessa. “Lagi pula, ini kan gladi bersih untuk acara aku, Vinny. Kenapa kau yang repot dan frustasi? Aku yang telat tapi aku biasa saja.” Vanessa merenyuk tidak senang. Dia menggeleng saat melihat Vincent malah tambah kesal. Baiklah, mungkin Vanessa seharusnya merasa bersalah sedikit. Dua kakak laki – lakinya memang orang yang perkfeksionis dan dia sudah membuat Vincent merasa seperti semua rencananya hari ini gagal. Tapi sungguh, bisakah dia tenang sedikit?
“Karena kau tidak mengerti konsep waktu dan ruang,” kata Vincent asal. “Karena kau tidak peduli dengan ketepatan waktu dan sebagainya. Kau ini hanya tahu yang namanya bermain saja. Apa sih yang kau lakukan semalam?”
Vanessa tidak menjawab. Dia hanya mendengus kesal dan melengos ke luar jendela mobil.
Vincent berdecak. “Benar, ya? Apa yang kau lakukan semalam?”
Gadis di kursi penumpang itu melumat bibirnya. Dia mengerang saat dia sadar kalau kakak laki – laki di sampignnya itu tidak akan melepaskan topik ini sebelum dia berkata yang sejujurnya.
“Aku menonton satu musim the walking dead,” kata Vanessa. “No big deal.”
Vincent membuka mulut, tapi tidak ada kata – kata yang keluar. Pria itu secara dramatik menoleh ke arah Vanessa, lalu ke depan. Lalu mengulang lagi seperti dia tidak bisa memutuskan hendak melihat siapa. Pria itu memutar kemudi setir hingga mereka berada di parkiran paling belakang.
“Kau sudah gila, ya? Pantas saja wajahmu seperti tidak tidur satu minggu!”
Vanessa menutup dua pipinya kesal. Dia merenyuk ke arah Vincent. “Jaga bicaramu! Aku terlihat baik – baik saja,” protes Vanessa. “Dan aku tidak tidur terlalu larut. Hanya jam dua pagi. Itu tidak ada apa – apanya, di bandingkan kau dan Valentino yang selalu begadang untuk bermain personal computer games sampai pagi hari.”
“Dan kita selalu melakukannya jika besok harinya kita tidak punya aktivitas, Van.” Vincent melihat parkiran kosong dan segera mengemudi ke arah sana. Namun, pria itu menyumpah rendah saat seorang gadis dengan sepeda berwarna merah muda masuk ke dalam parkiran kosong dan memarkir sepeda itu.
Apa dia sudah gila?
Vincent membunyikan klakson mobil, yang tentu saja, tidak dia abaikan.
Pria itu menunjuk ke depan penuh sangsi. “Are you kidding me?” teriaknya penuh frustasi. Dia menoleh pada Vanessa, sementara gadis itu hanya mengedikkan bahu. Apa yang harus dia lakukan?
Vincent menggerutu keras tentang gadis tidak dewasa dan anak – anak, lalu dia membuka pintu di sisinya dengan langkah yang pasti. Vanessa segera mengikuti dari belakang, takut kalau kakaknya yang dramatis itu akan melakukan sesuatu yang salah.
Dia berhenti tidak jauh di belakang Vincent saat pria itu berdiri di belakang sepeda yang sedang terparkir manis.
Gadis di depan mereka membuka helm. Vanesaa mengenali gadis itu. Bahkan, sejujurnya da berteman dengan gadis itu.
Vanessa melambaikan tangannya. “Halo, Theressa. Selamat pagi,” kata Vanessa pendek.
Vincent menatapnya serius. “Oh, kau kenal dia? Bagus. Katakan padanya kalau ini parkiran mobil, bukan sepeda. Jadi, aku harap dia bisa memindahkan sepeda ini.”
“Er . . . dia bisa mendengarmu dengan jelas, Vinny.”
Vincent melotot ke arah Vanessa yang tidak membantu. Pria itu mengalihkan atensinya lagi ke arah Theressa yang sedang melepas pelindung lutut. “Hey, halo. Bisakah kau memindahkan sepeda ini?”
“Tapi parkiran yang lain sudah penuh,” kata gadis yang di panggil Theressa oleh Vanessa. Dia menunjuk ke seluruh parkiran. “Tidak ada tempat kosong lagi.”
“Iya, aku tahu itu. Aku bisa melihat itu.” Vincent berkata dengan gigi gemeretak. Dia menarik napas panjang mencoba untuk menyabarkan diri sendiri. Gadis di depannya malah mengerutkan kening membuat dia semakin frustasi.
Jujur, apa semua gadis di sekolah ini tidak peduli yang namanya terlambat dan mengambil apa yang bukan pada tempatnya, ya?
“Kalau begitu kenapa masih bertanya?”
Vincent membelalakan matanya. “Apa aku tidak mendengar aku tadi? Ini parkiran mobil. Bisakah kau sadar? Ini bukan tempat untuk sepeda.”
“Lantas, apa aku harus mengulang diriku lagi? Parkiran lain sudah penuh.”
“Cari parkiran di tempat sepeda!”
“Aku bilang sudah penuh!”
“Dan memangnya itu urusanku?” Vincent berteriak keras. “Cari tempat lain. Sepeda bisa kan di taruh di sisi pohon atau sebagainya. Kenapa mengambil spot parkiran mobil sebesar ini? Ini namanya ilegal. Kau menaruh sepeda bukan pada tempatnya.”
Vanessa menahan diri agar tidak tertawa. Vincent terlihat sangat frustasi melawan seorang gadis kecil yang sebaya dengan Vanessa. Tidak setiap hari dia melihat seorang perempuan yang tidak termakan daya tarik kakaknya.
Vincent itu seperti magnet bagi hati wanita.
Dan ini pertama kalinya Vanessa melihat temannya tidak berusaha mendekati dia untuk bisa mendekati kakaknya. Gadis itu mengumbang pelan dan mengobservasi Theressa.
Setahu dia, Theressa adalah gadis yang baik. Pemberani. Dan sangat cantik. Vanessa sudah kenal gadis itu selama beberapa lama dan menurutnya, Theressa itu memang seorang gadis yang layak untuk di jadikan teman.
Dia kenal Theressa sebab memiliki beberapa kelas bersama dulu.
Vincent memicingkan matanya pada gadis kecil di depannya itu. “Kau harus memindahkan sepeda ini.”
“Dan jika kau tidak mau?” balas Theressa tidak mau kalah. Gadis itu memegang helm sepedanya dengan keras, alisnya terangkat naik, dan bibirnya merenyuk. Dia tidak takut pada Vincent. Tidak juga mundur sebab daya tarik dari Vincent.
Theressa itu seperti tidak peduli sama sekali dengan Vincent Abernathy yang selalu bisa meluluhkan setiap hati wanita.
“Aku tidak punya waktu untuk ini!” teriak Vincent sembari membuang tangannya ke atas dan beranjak pergi naik ke dalam mobil lagi.
Vanessa memerhatikan gadis di depannya untuk beberap saat, lalu mengangguk puas. Dia imun. Theressa ini imun terhadap daya tarik kakaknya. Dia gadis yang selalu di cari – cari oleh Vanessa. Gadis yang bisa menjadi temannya.
Gadis yang tidak akan memanfaatkan Vanessa demi bisa dekat dengan dua kakaknya.
Vanessa sudah lebih dulu tersenyum dan melambaikan tangan. “Maafkan kakak aku. Theressa, aku akan duduk di sebelah mana nanti?”
Vanessa Abernathy punya firasat, mereka akan menjadi teman dekat di masa depan. Dia melihat gadis yang memasangkan helm sepedanya di sisi sepeda, lalu dia berdiri menghadap Vanessa tegak.
Senyum di bibirnya manis. Wajahnya cantik. Dan dia imun terhadap daya tarik Vincent Abernathy? Ini adalah harta karun yang di nantikan oleh Vanessa seumur hidupnya.
Theressa mengibaskan tangan dan menawarkan dia senyum yang indah. “Tidak masalah. Aku akan mencari bagian kursi yang paling belakang saja nanti.”
Vanessa tahu pada dasarnya memang gadis ini yang salah, tapi berhubung dia sangat tertarik untuk berteman dengan Theressa, adik kecil Abernathy bersaudara itu tidak peduli sama sekali. Dia menanyakan perihal ke mana Theressa akan masuk ke sekolah menengah atas, dan begitu mendengar jawaban darinya, Vanessa tersenyum lebar.
“Kau mau duduk bersamaku?”