17.17

1355 Kata
VINCENT BUKAN PRIA yang banyak mau. Sungguh, bagi dia, segalanya sudah lebih dari cukup asalkan orang yang dia sayang sehat dan selamat. Apalagi masalah Vanessa. Asal gadis itu bahagia saja, sudah lebih dari cukup bagi Vincent yang tidak ingin banyak hal. Pada dasarnya, dia bukan pria yang punya banyak kebutuhan. Bisa dilihat dari segala kebutuhan yang itu – itu saja. Dia hanya membeli sesuatu jika dia butuh. Kecuali mobil gagah dan besar miliknya yang merupakan kendaraan pribadi impian dia sejak dulu. Vincent itu tidak butuh banyak hal, apalagi perkara hal – hal yang sekunder seperti sesuatu yang hanya akan menjadi kesenangan semata saja. Bahkan bisa dibilang, pria itu terlihat cukup sederhana. Tidak banyak pilihan, dan tidak terlihat seperti orang yang punya segalanya walau dia bisa. Tapi pada detik itu, Vincent ingin satu hal di muka bumi. Sungguh, dia tidak pernah seyakin itu di dalam hidupnya. Dan dia tidak pernah seingin itu di dalam hidupnya. Hanya satu yang bisa dia pikirkan. Hanya satu yang terlewat di dalam benak pria itu. Agar Theressa baik – baik saja. Gadis yang baru dia kenal beberapa hari dan bisa membuat pikirannya kacau balau itu menoleh dan terkejut. Vincent terpaku. Tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali diam mematung seperti orang bodoh. Posisi mereka benar – benar terpojok dan tidak bisa melakukan apa pun. Pada dasarnya, walau dia yakin rantai makanan di sini sedikit tidak bisa dijelaskan, tapi harimau bukanlah hal yang ingin dia coba jatuhkan ke rantai makanan paling bawah saat ini. Vincent merasa hatinya mencelus secara cepat. Vincent berteriak, setidaknya dia pikir dia berteriak. Telinganya berdengung. Dalam sepersekian detik itu, jantungnya mengalami fluktuasi ringan. Dia sadar kalau tangannya terulur ke depan. Untuk melakukan apa? Entah. Kotak P3K yang dia pegang jatuh ke bawah. Mungkin dia akan menarik Theressa ke belakang, and away from harm’s way. Atau mungkin dia akan mendorong Theressa jauh ke depan dan mengambil posisinya. Benak itu menyentak Vincent di hati. Dia rela untuk mengganti posisi dengan Theressa. Pria itu benar berteriak, sebab tenggorokannya terasa kasar dan serak. Tapi satu detik itu berlalu, dan Theressa masih mematung di tempat. Gadis itu memegang rompinya sekuat tenaga, sampai buku – buku jemarinya berubah menjadi putih. Wajahnya juga sama putih. Pucat pasi seperti orang yang sakit parah. Pada dasarnya, nyaris diterkam oleh harimau besar itu bukan pengalaman yang ingin orang rasakan. Dengan cepat Vincent menggerakkan tungkai kakinya. Dia berlari ke arah Theressa, menarik gadis itu dan mendekapnya ke belakang. Mereka menjauh dari posisi tersebut. Ternyata, di depan tempat Theressa tadi berdiri, Leo sudah menghadang harimau yang akan menerkam Theressa tepat di depan wajahnya. Leo menggeram, menghentak harimau itu ke belakang dan menahan lawannya itu ke bawah. Dia mengaung di atas wajah harimau tersebut, sampai dua telinga Vincent berdering. Vincent menahan tangan Theressa yang bergetar. Gadis itu menelan ludah dan merasakan tangannya bervibrasi sebab saking kagetnya. Dia melihat Leo yang baru saja menyelematkan hidupnya itu. Leo mungkin sedang sakit, tapi dari apa yang dia lakukan, bahkan orang yang bukan expert seperti Vincent sendiri tahu kalau Leo adalah ketua di sini. Seperti seorang raja hutan, kelas Leo jauh di atas harimau yang baru saja diam – diam akan menyerang Theressa. Harimau besar bernama Leo itu melepas lawannya. Sang lawan melunglung, seperti kucing yang takut dan mundur. Dia berjalan kembali ke belakang dengan manuver mundur dan masuk ke dalam semak belukar tadi. Tapi kali ini, Theressa dan Vincent bisa melihat jelas dua bola mata emas yang menatap mereka dari dalam kegelapan. Vincent membuang napas panjang. Tangannya melingkar di bahu dan bagian depan tubuh Theressa, mendekap gadis itu lekat padanya. Melindungi dia. Benak tadi datang lagi menghantui Vincent, namun kali ini, gadis itu sendiri yang membuyarkannya. “Kau tidak lihat dia?” tanya Theressa rendah. “Tidak,” bisik Vincent, masih sedikit terkejut. Baiklah, dia kaget bukan main, tapi dia di sini harus melindungi Theressa. “Tahu – tahu saja dia sudah berlari dari samping kita dan akan menyerang kau.” “Seharusnya dia tidak ada di sini.” “Bagaimana bisa?” “Seharusnya Leo sendirian di sini sebab dia sedang sakit. Apa ada yang salah? Apa Lee salah?” Theressa menelan ludah banyak. “Aku tahu dia. Theo. Dia salah satu harimau yang diurus oleh ahli di sini.” “Aku pikir kau juga ahli?” “Ahli Leo. Aku kenal Leo sebab aku sudah mengurus dia dari kecil.” Theressa bersungut. “Dia sudah kenal dan familiar denganku.” “Tunggu dulu, bukannya tadi kau bilang baru bergabung di kebun binatang ini enam bulan yang lalu? Kenapa bisa kenal Leo dari kecil?” Theressa mendongak ke atas dan menatap Vincent datar. Posisi itu membuat sesuatu di hati Vincent hangat, namun pria itu segera menendang dirinya sendiri di dalam benak dan kembali fokus. “Maksudmu . . . that thing is a child?” Vincent menunjuk Leo dengan tangan bebas. Suaranya tak percaya. Dia memandang harimau besar itu seperti dia punya dua kepala. “Dia baru, er, sekitar tiga atau empat tahun.” “Tiga atau empat tahun?” seru Vincent lagi. Pria itu langsung menutup mulut saat Leo akhirnya berputar dan melihat mereka berdua. Dari sorot mata hewan buas itu, sepertinya dia tidak suka dengan posisi mereka, sehingga Vincent melepas Theressa cepat. Gadis itu berdeham canggung dan meregangkan bahunya. “Iya. Dia masih kecil. Sepertinya kita harus kembali,” kata Theressa. “Aku tidak jamin kita bisa memberikan Leo obat dengan Theo di dalam sini.” “Lagi pula, kenapa bisa salah sih?” Vincent bersungut. Dia menarik Theressa perlahan. Dan ajaibnya, Leo si harimau pun ikut bersama mereka dengan manuver yang menjaga mereka dari depan. Takjub, Vincent memerhatikan hariamu yang masih kecil itu berani melawan rival yang buas. “Mungkin Lee juga tidak tahu. I don’t know.” Vincent memegang lengan Theressa, mengambil kotak P3K yang jatuh dan perlahan berjalan menyamping ke arah pintu keluar. Setelah berhasil mencapai pintu itu, Vincent melihat dengan takjub saat Theressa menggapai ke depan dan mengelus kepala Leo halus. “Thank you, big guy.” Dia menepuk kepala Leo, lalu menyuruhnya kembali ke dalam. Vincent menutup pintu cepat, tak sabar keluar dari kandang hewan buas tersebut. “Kita harus cari Lee sekarang.” “Tenanglah. Kau pasti menganggap ini tidak aman, kan? Tidak sering ini terjadi. Kau dan aku hanya masuk dalam posisi yang aneh saja. Nanti kita bisa tanyakan pada Lee. Dia mungkin sibuk sekarang.” “Iya, dia sibuk, sementara kita nyaris di makan harimau.” “Kau tahu kan kalau kamu itu berlebihan?” Theressa melepas rompi dan meminta milik Vincent. Pria itu mengikuti manuver Theressa. “Lagi pula, serius, tidak pernah terjadi hal begini sebelumnya. Seharusnya Leo ada sendiri di dalam sana. Dia sedang sakit dan diisolasi dari yang lain.” “Maaf, tapi dia tidak terlihat sedang sakit.” “Dia harimau, apa yang kau harapkan?” Vincent mengedikkan bahu. “Lemas? Tidak nafsu makan? Yang jelas aku tidak akan menyangka hewan sakit bisa sebuas Leo.” Theressa malah tersenyum lebar. “Leo memang yang paling kuat di sini,” gadis itu menepuk bahu Vincent. “Kau tidak perlu takut.” Vincent terdiam lama di tempat. Dia melihat gadis yang sedang berjalan keluar. Dari figurnya di belakang, Vincent mengatupkan rahangnya kuat. Benak tadi kembali berenang di pikiran. Dia rela menggantikan Theressa. Pria itu tahu semenjak awal dia merasa tertarik, and he felt intrigued with this strange girl that he will be intertwined with her for a long time. Dia bukan gadis biasa. Bukan juga gadis yang tipikal dan luluh di depan Vincent. Dia bukan gadis yang mudah terpana dengan wajah tampan, atau perilakunya. Theressa beda dari yang lain. Dan dari apa yang bisa dia lihat, sudah jelas gadis itu akan berada dalam hidupnya untuk jangka waktu yang panjang. Vincent berdiri tegak, merasakan hatinya berdetak kencang. Dia menatap figur Theressa yang keluar dari dalam ruangan itu. Vincent Abernathy menarik napas dalam dan mensupresi apa pun yang akan keluar dari dalam hatinya. Dia menekan apa pun yang dia rasakan dalam momen itu. Vincent Abernathy menutup rasa suka yang tumbuh pada Theressa. Dan tidak boleh ada yang tahu tentang hal itu. Apalagi untuk adiknya, Vanessa Abernathy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN