AKHIRNYA SETELAH beberapa hari menghindar dan berharap kalau ada keajaiaban sehingga kakak lelakiku tidak mengetahui tentang kejadian beberapa hari yang lalu, pada akhir pekan Vinny masuk ke kamarku dengan wajah merah, urat leher terlihat jelas, alis menyatu, dan tangan dikepalkan di samping tubuhnya. Dia terlihat naik pitam, sementara aku hanya membuang napas panjang dan berat.
Ini dia. Hal yang sangat aku harapkan tidak akan pernah terjadi. Jangan salah, ini bukan yang paling parah. Dulu sekali, ada pria yang berani mengajak aku kencan, dan saat mendengar berita itu, Vinny lebih parah dari sosoknya saat ini. Sungguh, aku pikir dia akan terkena serangan stroke saat itu juga. Matanya akan melompat keluar, dan semua jemarinya akan membeku berubah menjadi putih saking kuatnya dia mengepalkan tangan.
Hiperbola? Lebih dari itu. Aku sudah terbiasa dengan segala macam reaksi dari dua kakak laki – laki yang kelewat posesif dan protektif. Jujur, aku bahkan sudah tidak sering banyak pikir lagi perkara semua aturan dan perlakuan mereka terhadap aku yang membuat aku tidak bisa seperti gadis remaja pada umumnya. Tapi ada kalanya aku merasa sangat tidak mood dan tidak ingin meladeni tingkah laku mereka. Terutama jika masalahnya seberat ini.
Kalau Vinny tahu, aku bisa menjamin dia akan bertindak seperti sedang berada di tengah perang dunia ke tiga. Dia akan melakukan berbagai macam cara akan aku selamat, termasuk lompat ke tengah granat dan mengorbankan dirinya bagi aku. Pada dasarnya, Vinny ini ratu drama yang tidak bisa dihentikan.
Aku menatap pria itu dengan perasaan yang campur aduk.
Akhirnya gosip itu sampai juga di telinga atlitnya.
“Kenapa kau tidak memberitahuku?”
“Ayolah, Vinny. Itu mungkin hanya perbuatan usil dari orang lain. Menjijikan aku tahu, tapi aku rasa tidak perlu membesarkannya.”
Iya, faktanya, aku memang berpikiran seperti itu. Kejadian kemarin memang terlalu mengerikan, dan sudah melampaui batas. Jika siapa pun orang yang mengirim itu padaku hanya berniat usil atau mengerjai adik perempuan Abernathy bersaudara, maka itu sudah keterlaluan. Tetapi, yah, jika niat mereka hanya sampai sebatas itu, maka lebih baik aku melepaskannya. Jangan membuat ini lebih besar dari yang sudah terjadi.
Sungguh, aku lelah mendapat masalah demi masalah setiap harinya.
“Kau bilang ini tidak perlu dibesarkan?” teriak Vinny. “Ini tindakan kriminal, Vanny! Teror namanya!”
Mataku terbelalak lebar. Jika dia terus berteriak seperti itu, Ibu dan Ayah akan mendengar perkataannya. Aku tidak perlu berurusan dengan Ayah yang pasti akan membesarkan masalah ini dan mungkin menuntut pihak sekolah segala. Kalau Ibu . . . ugh, dia mungkin akan pergi ke sekolah dan mengacaukan segalanya hingga siapa pun itu yang mengirim kotak tersebut mengaku dan meminta maaf di depanku.
Iya, kedua orangtuaku ekstrem semua.
“Kau sudah gila?” aku menarik lengannya agar masuk lebih jauh ke dalam kamarku dan menutup pintu. “Kecilkan suaramu!”
“Kenapa? Kau tidak ingin Ibu dan Ayah dengar?” Vinny melipat dua tangannya di d**a. “Biarkan mereka dengar! Jika begitu, mungkin otakmu akan terbuka dan sadar kalau ini sudah keterlaluan. Kejadian seperti ini perlu ditindak lanjuti, Vanny!”
“Vinny, dengar. Aku memang terkejut saat itu. Tapi, pikirkan lagi. Besar kemungkinan ini hanya permainan bodoh yang diberikan oleh seseorang. Jika kita mengabaikannya, dia tidak akan melakukan hal ini lagi.”
Bohong. Sejujurnya, aku tidak begitu yakin dengan perkataan aku sendiri. Siapa yang ingin aku kelabui? Buktinya, hadiah seperti itu memang bisa dibilang sebuah teror. Pesan mematikan dari seseorang kalau aku baru saja menjadi target mereka. Dan parahnya, tidak lama sejak kejadian itu, seorang lelaki yang aku tidak ketahui identitasnya hampir saja membawa aku ke suatu tempat.
Lucas Willow. Nama itu membuat aku bergidik ngeri. Dengan santai dan tanpa rasa bersalah, dia menarik pergelangan tanganku dengan kuat dari dalam kelas, membawa aku pergi menelusuri lorong sekolah, lalu memaksa agar aku ikut ke mana pun yang dia inginkan. Rumahmu bersamaku. Ya ampun, apa yang sedang terjadi padaku? Mengapa setiap kejadian aneh ini terjadi padaku dan dalam kurun waktu yang tidak lama pula?
“Vanesaa, kau melamun.”
Aku mengerjapkan mata. “Hmh . . . maaf. Dengar Vinny, bagaimana jika kita menunggu?”
“Menunggu? Itu rencana besarmu? Serius Vanny, kau pikir ini bukan masalah besar? Aku harus melakukan sesuatu. Adik perempuanku baru saja menerima sebuah hadiah macam itu.”
“Vinny, aku baik-baik saja.” Kataku pelan, sambil memeluknya. Ini selalu manjur. Taktik ini sudah aku pelajari selama bertahun-tahun menjadi adik perempuan Abernathy bersaudara. Pelukan maut ala Vanessa Flo Abernathy. “Sungguh. Jika kau khawatir, apa akan membantu jika aku sama sekali tidak takut?”
Bohong lagi. Siapa yang mau aku kelabui? Aku hampir tidak bisa bergerak saat itu. Rasanya seluruh tubuhku mati rasa. Yang bisa aku pikirkan hanya tikus tak bersalah, berdarah begitu banyak keluar dari perutnya. Sampai sekarang, aku masih bisa mencium bau tak sedap dari dalam kotak itu. Aku bisa melihat wajah ngeri Theressa. Aku bisa mendengar teriakan dari Tiberius.
Tunggu dulu. Hadiah. Tikus. Lucas . . .?
Apa mungkin lelaki itu yang telah mengirimkan hadiah ini? Maksudku, waktunya begitu cocok. Lucas mendadak datang di hidupku, beberapa saat setelah hadiah itu aku temukan di dalam loker. Lucas yang bertindak gila, tak tahu diri, tidak masuk akal, dan sangat kasar. Lucas yang mau menyeret aku ke tempat di mana pun dia inginkan. Bisa jadi, dia juga Lucas yang mengirimkan aku hadiah teror, bukan?
Sial. Itu kemungkinan yang sangat besar. Jika iya, itu berarti dia sudah dengan mudahnya memperlihatkan diri di depanku, namun aku tidak bisa mengenali sosok orang yang sudah meneror aku di tengah koridor sekolah. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus mengetahui siapa itu Lucas Willow.
“Bagaimana bisa kau tidak takut?” tanya Vinny membuyarkan lamunanku.
“Well, aku tahu aku memiliki dua kakak lelaki yang siap melakukan apa saja padaku . . . dan pasti tidak akan membiarkan siapa pun terjadi padaku. Aku punya Theressa. Aku punya Ayah dan Ibu. Apa yang perlu aku takuti di dunia ini?”
Ternyata kalimat itu menjadi sebuah keyakinan bagi Vincent. “Baiklah . . . tapi jika sesuatu terjadi lagi, aku tidak akan membiarkannya lagi. Kau mengerti itu, Vanny?”
“Tentu saja.” Aku mengangguk sambil memeluk Vincent lebih erat.
“Bayangkan jika Vinno mengetahui hal ini . . .” Gumam Vincent pelan, kepalanya terkubur di atas kepalaku. Semoga dia tidak mencium bau rambut tak sedap karena aku belum mandi sama sekali hari ini.
Aku bergidik ngeri. “Jika Vinno tahu . . . ah, aku tidak bisa membayangkannya.”
“Dia akan membakar isi sekolah demi mencari siapa yang telah mengirimkan hadiah seperti itu padamu.”
“Oke, mari kita jangan berpikiran tentang apa yang akan dia lakukan.”
Vincent terkekeh geli. “Vinno dan kecintaannya pada api.”
***
Gosip tentang apa yang terjadi padaku begitu heboh hingga saat aku masuk ke dalam sekolah dari pintu depan, setiap orang yang berdiri di koridor menoleh. Begitu dia melihat aku, adik perempuan Abernathy bersaudara berdiri di ambang pintu sekolah, mendadak mereka langsung berbisik pada siapa pun orang yang berdiri di sebelah mereka, mata tertuju padaku.
Sial. Jadi begini rasanya menjadi bahan gosip?
Tentu saja, aku pernah merasakan sekali dua kali menjadi bahan berita dan pembicaraan murid Ravenhall High. Bagaimana tidak? Aku ini ‘kan terkenal sebagai adik perempuan Abernathy bersaudara. Yang satunya sangat jenius, yang satu lagi atlit kebanggaan sekolah. Lalu, yah . . . aku juga musuh bebuyutan anak pemilik saham terbesar di sekolah ini. Siapa yang tidak ingin membicarakan perkelahian, adu mulut, dan prank yang kami lakukan satu sama lain?
Tapi ini berbeda. Aku menjadi pusat perhatian karena sesuatu yang mengerikan dan menjijikan. Tiap pasang mata yang menatapku dari balik rambut mereka membuat aku ingin muntah. OK . . . Vanessa kau bisa melakukan ini. Tetap berjalan ke lokermu tanpa melihat mereka. Jika kau menganggap mereka patung jelek, kau tidak perlu merasa canggung, malu, dan takut.
Ketika aku berpikir akan berjalan di koridor sekolah sendirian penuh tatap dari orang lain, mendadak aku merasakan kehadiran tubuh hangat orang berjalan di sampingku. Aku mendongak, mendapati Tiberius sedang berjalan di sebelahku, wajahnya datar, dan matanya lurus ke depan, tanpa berkedip sama sekali. Dua tangannya masuk ke dalam kantung celana, sementara gaya jalannya sengak.
Apa yang dia lakukan?
Karena ulahnya, bisikan para murid di koridor sekolah rasanya semakin keras saja. Aku mulai merasa wajahku memerah akibat perbuatannya.
“Apa ada yang aneh?” suara berat Tiberius menggema ke seluruh lorong. Aku melebarkan mataku, terkejut karena pernyatannya yang tiba-tiba itu. “Ada yang ingin kalian katakan? Jika iya, maju dan jangan berbisik.”
Entah kapan langkah kakiku dan langkah kaki Tiberius sudah berhenti di tengah lorong. Namun seperti menunggu ada yang menantang lelaki itu, Tiberius menyapu matanya ke seluruh koridor, mengantisipasi siapa yang berani maju.
Tentu saja tidak ada. Seumur hidup, aku tidak pernah melihat ada yang berani pada Tiberius kecuali yah, Lucas Willow kemarin. Dan juga aku tentu saja. Jika tidak, aku tidak akan terkenal menjadi musuh bebuyutan anak pemilik saham terbesar di Ravenhall High. Pandangan semua orang yang tadinya tertuju pada kami menjadi tunduk, bisikan itu reda. Tiberius mencibir dan terus berjalan.
Tanpa basa-basi, aku ikut di bersamanya. Merasa sedikit lebih baik karena ada yang berjalan di sampingku, walaupun itu musuhku sendiri.
“Apa yang kau lakukan?” tanyaku.
“Berjalan.”
“Iya, tapi kenapa di sini?”
“Ini koridor milikku. Apa alasanmu?”
“Ini sekolahku . . .” Jawabku payah. Tiberius tidak menjawab itu. Dia hanya terus berjalan hingga kami sampai di lokerku. Parahnya, dia ikut berhenti. Menunggu aku membuka loker.
Aku mengernyitkan dahiku padanya. “Ada yang bisa aku bantu?”
“Bisa kau menghilang dari bumi?”
“Tidak . . .”
“Kalau begitu tidak ada yang bisa kau lakukan untuk aku.”
Aku mencibir dengki padanya. “Asal kau tahu ya, aku jika tidak ingin melihat kau di bumi.”
“Baiklah, satu kesamaan yang kita miliki.” Dia hanya mengedikkan bahunya tak acuh.
Aku sudah tak ingi lagi berdebat dengannya. Lalu, dengan kasar, aku membuka pintu loker. Saat aku melakukan itu, sesuatu yang terselip di pintu loker jatuh ke bawah. Rasa dingin langsung menjalar di tengkuk. Aku menatap sebuah amplop merah, disegel dengan lilin. Menelan ludah, aku menyiapkan diri untuk mengambil amplop itu dan mengangkatnya. Tiberius di sebelahku mendadak menjadi diam.
Aku lihat wajahnya, dan rahangnya mengatup keras. “Apa itu?”
“Aku tidak tahu . . .” Jawabku pelan sambil menggeleng. Aku berusaha untuk tegar dan membuka apa pun isi amplopnya.
Tiberius dengan sabar terus menunggu di sampingku. Isi amplop tersebut adalah sebuah surat. Dengan jemari yang sedikit bergetar, aku membuka suratnya. Napasku rasanya tercekat ketika tulisan dengan tinta merah menyambutku.
Vanessa . . . Vanessa . . . Vanessa . . .
Apa kau tidak menginginkan aku seperti aku menginginkan dirimu?
Aku ingin kau, Vanessa . . .
Dan aku tidak suka kau bersama Tiberius Florakis.
Ingat, kau hanya milik aku, Vanessa Flo Abernathy.
Milik aku seorang, bukan Tiberius!
Vanessa . . . Vanessa . . . Vanessa . . .
Tunggu aku . . . !
Aku menatap Tiberius. Lelaki itu terliat membunuh. Lalu, dia bergumam dengan geram, “Aku akan menemukan orang ini dan membuatnya menyesal telah meneror dirimu.”