RUANG RAWAT SEKOLAH Ravenhall sepi. Tidak ada satu orang pun kecuali kami. Tiberius sedang terduduk di salah satu tempat tidur, sapu tangan handuk yang sudah aku basahi masih dia pegang di dua matanya, sementara aku sibuk mencari suster sekolah. Setelah beberapa lama bingung, akhirnya aku melihat nomor telepon suster tersebut di salah satu meja yang tak terisi. Rupaya dia masih di lingkungan sekolah. Untunglah. Aku tidak tahu caranya mengobati mata yang iritasi seperti ini.
Tetapi sepertinya mata Tiberius sudah lebih baik. Ketika dia membuka handuknya, merahnya sudah tidak sekental tadi. Namun aku bisa melihat kalau matanya masih perih dan panas. Buru-buru aku mendorong tangannya lagi agar mengkompres mata itu. Tiberius hanya mengerang kesal.
Bisa – bisanya seseorang membuat Tiberius kesakitan. Maksud aku, bukannya aku cemas atau apa. Tapi aku hanya takjub. Karena sungguh, siapa lagi yang kapabel melukai pria paling berkuasa di sekolah ini? Setahu aku, tidak, aku memang tahu, kalau laki – laki ini adalah orang yang sangat mahir dalam berkehahi. Bukan hanya aku saja, tapi nyaris semua orang di sekolah ini pun tahu kalau tidak ada yang bisa melawan seorang Tiberius Florakis. Tapi seseorang seperti Lucas Willow bisa membuatnya berada di bawah angin? Membuatnya merasa sakit dan kesal begini?
Jika aku tidak sedang merasa seperti hidup aku diputar tiga ratus enam puluh derajat oleh sesuatu yang dahsyat, aku pasti akan merasa impresif dengan ulah Lucas Willow. Tapi tidak. Pria itu mungkin adalah pelaku dari semuanya. Jadi, aku merasa iba melihat Tiberius kesakitan begini.
“Apa sangat sakit?” tanyaku pelan. Aku tidak mau membuatnya merasa tambah kesal atau frustasi. Sudah bagus dia mau menolong aku yang kesusahan tadi. Lagi pula, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia tidak ada tadi.
Tiberius hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh, tapi masih meringis. Matanya sudah tidak separah tadi, namun masih terlihat merah dan sedikit membengkak. “I’ve been better.”
Baiklah. Aku mulai merasa bersalah.
Dan itu sesuatu yang sangat jarang terjadi sebab jika kita ada di situasi yang berbeda saat ini, mungkin aku malah akan tertawa melihat Tiberius yang kesakitan.
Bagi Tiberius Florakis ini mungkin sesuatu yang baru. Bagaimana tidak? Baru pertama kali aku melihat seseorang bisa mengalahkan Tiberius seperti ini. Dan lebih parahnya lagi, dia bahkan tidak sempat membalas karena pelakunya sudah lebih dulu angkat kaki dari hadapannya. Dan sialnya lagi, dia harus jatuh dengan cara yang tidak keren. Diserang dengan semprotan merica? Tiberius mungkin lebih baik ditembak dengan senjata api, karena setidaknya dia bisa mengatakan kalau dia punya luka tembak dan peluru di dalam tubuhnya.
Ugh, Tiberius and his ego.
“Kenapa aku melakukan itu tadi?” tanya Tiberius. Aku menoleh dari kursi meja suster sekolah. Satu matanya masih tertutup handuk basah, sementara mata yang lain terbuka lebar, menatap aku tajam dari arah tempat tidur.
Aku mengerutkan keningku. “Melakukan apa?”
“Memanggilku Ty.” Dia menjawab cepat. “Kenapa kau memanggilku dengan nama panggilan seperti itu?”
Aku kehilangan kata-kata. Apa pria ini sungguhan? Di saat aneh seperti ini, dia mempertanyakan pilihan nama panggilan dariku? Serius. Aku hampir saja dibawa oleh orang aneh yang mengaku kenal denganku dan berkata akan mengantar aku pulang. Dia baru saja diserang dengan semprotan merica. Dan kami berdua sedang menunggu suster sekolah. Lalu yang dia herankan adalah kenapa aku memanggilnya dengan sebutan Ty?
“Itu namamu,” aku merentangkan kedua tangan. “Apa itu salah lagi, hmh?”
“Jangan panggil aku seperti itu.”
“Ty . . .” Aku mengoloknya keji. “Aku suka itu. Ty. Mulai sekarang kau Ty di dalam kamusku. Lagi pula, Tiberius terlalu panjang. Terlalu menguras tenaga dan membuang napas. Aku ingin sesuatu yang instan ketika aku mengutuk dan mengumpat dirimu.” Aku tersenyum puas. “Ty.”
“Aku bilang—“
“Oh, sudahlah.” Aku mengibaskan tangan, mengikuti gayanya yang sengak. Satu kakiku aku angkat ke meja bak bos yang sombong. “Aku akan tetap memanggil kau Ty, partly because you hate it so much.”
Tiberius mendelik padaku, tetapi aku hanya membalasnya dengan seringai menyebalkan. Biarkan saja. Jarang aku mendapat momen di atas angin seperti ini. Biasanya, dia yang selalu menang, membuat aku sangat kesal dan jengkel. Jika aku bisa membuatnya sama kesalnya denganku sendiri, maka aku akan bahagia seumur hidup. Yah, walaupun Tiberius sedang kalah seperti ini.
Baguslah. Sekali-kali diserang oleh orang yang tak dikenal akan membuat dia tersadar kalau dia tidak selalu berkuasa di sekolah ini.
“Aku tidak mengerti kenapa aku menyelamatkan kau.”
“Aku juga tidak mengerti . . . mungkin kau sedang kedatangan malaikat hari ini,” kataku dengan senyum tipis tak berarti. “Malaikat pencabut nyawa.”
“Oh, kau maksudnya?”
“Kau pikir aku akan tersinggung? Jika aku malaikat pencabut nyawa, tebak hidup siapa yang akan aku ambil paling pertama?”
“Dirimu sendiri?”
“Aku sudah menjadi malaikat pencabut nyawa! Untuk apa aku mencabut nyawaku sendiri?”
Tiberius mengangkat bahunya. “Baiklah. Setidaknya kau sudah mati.”
“Heh—“
“Ada apa ini?”
Seseorang muncul dari balik pintu. Gadis itu berambut merah, parasnya lumayan cantik, tubuhnya tinggi dan langsing. Dia mengenakan pakaian serba putih. Jika dilihat, sekilas dia seperti malaikat yang datang untuk membantu para mortal yang kesusahan, namun secara dalam, dia hanya terlihat seperti manusia biasa dengan pakaian suster.
Gadis itu mungkin tidak terlalu jauh umurnya dari kami. Jika aku harus menebak, mungkin baru lulus dari universitas atau semacamnya. Dia melihat ke arah Tiberius, alisnya otomatis mengerut, rasa cemas tersirat jelas dari wajahnya. Lalu dia mnoleh padaku—yang buru-buru langsung menurunkan kaki agar tidak dicap tak sopan—kemudian wajahnya tidak setegang tadi.
“Apa yang terjadi dengan kalian?”
“Tadi ada—“
“Sedikit salah paham!” aku memotong Tiberius cepat. Lelaki itu melihat ke arahku penuh sangsi. “Aku tidak sengaja mengeluarkan isi semprotan merica ke arahnya. Biasalah, bercanda yang keluar kendali.”
“Itu sangat bahaya.” Komentar si suster dengan kening mengerut, dia tidak suka dengan perkatanku. “Kau bisa membuatnya cedera, dan jika lama, bisa-bisa dia buta.”
“Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi,” ucapku lirik dengan kepala yang tertunduk. Ketika aku mendongak, Tiberius sedang melototi aku. Aku hanya mengedikkan bahu ke arahnya. “Aku tidak sengaja.”
Suster sekolah itu membuang napas. Dia meraih sesuatu dari meja yang sedang aku duduki, dan berjalan ke arah Tiberius. Gadis berambut merah itu lalu sibuk memeriksanya, mulai dari detak jantung, tensi darah, kemudian memeriksa matanya dengan senter kecil yang biasa dimiliki dokter.
“Aku rasa ini tidak terlalu berbahaya,” sahutnya. “Kau akan mendapat mata merah selama beberapa hari tapi itu saja.”
“Sudah aku bilang, ini tidak seberapa. Tapi dia,” Tiberius menunjuk aku dengan dagunya. “Bersikeras aku harus diperiksa.” Gerutunya kesal.
“Oh, tapi Ty, jika sesuatu terjadi padamu, aku akan sangat sedih.” Kataku dengan nada palsu, sambil memegang dadaku seperti orang sakit hati.
Suster itu melirik aku lalu Tiberius. “Ty?”
Tiberius tidak menjawab. Dia hanya melengos dari tatapan yang diberikan suster sekolah, lalu turun dari tempat tidur. Diraihnya ransel yang tergeletak di lantai. Dia keluar dengan bantingan pintu yang kuat. Aku meringis di tempat. Ketika aku pikir suster sekolah akan murka atau semacamnya, dia hanya menggeleng dengan bibir tertutup rapat. Matanya melihat kepergian Tiberius di koridor sekolah.
“Maaf, sepertinya akibat aku yang ceroboh dia menjadi tidak tahu sopan santun,” ucapku pelan. “Aku akan memberitahunya untuk tidak berlaku seperti itu lagi.” Kataku cepat, sambil berjalan ke arah pintu keluar. “Terima kasih atas bantuanmu.”
“Tunggu dulu,” dia menahanku keluar. “Hmh . . . “
“Iya?”
“Siapa namamu?”
“Namaku?” tanyaku lagi untuk memastikan. Yang terluka di sini Tiberius, tapi kenapa dia menanyakan namaku, bukannya Tiberius Florakis? Ah, bodoh sekali kau Vanessa. Tentu saja dia hanya tak tahu namamu. Semua orang tahu siapa Tiberius. Untuk apa lagi menanyakan namanya?
“Iya, namamu.” Suster itu memberikan aku senyum tipis.
“Vanessa.”
“Vanessa,” dia mencoba namaku. “Ah, adik perempuan Abernathy bersaudara?”
Aku memberikan senyum kecut. Tentu saja. Seumur hidup, aku hanya selalu dikenal sebagai adik perempuan dari Abernathy bersaudara. Yah, sebagian salahku juga ‘sih karena sudah membuat mereka begitu berprestasi dan mendapat banyak penghargaan. “Iya, itu aku. Adik perempuan Abernathy bersaudara.”
Suster berambut merah itu mengangguk. “Jika kau ada butuh apa pun, jangan segan datang ke sini.” Ucapnya sambil berjalan ke arahku. Dia lalu menyodorkan satu tangan. “Namaku Chloe.”
“Halo, Chloe.” Aku menjabat tangannya. “Senang bertemu denganmu.”
“Kau juga.”
Aku pergi meninggalkan ruang rawat sekolah dengan langkah berat. Memang, yang buruk sudah berlalu. Tapi tetap saja, bagaimana jika Lucas itu menunggu dibalik kegelapan di lorong yang panjang ini? Sial. Kenapa ruang rawat harus berada di lantai dua ‘sih? Kenapa pintu keluar harus jauh sekali?
Aku menahan napas begitu aku harus belok ke arah tangga. Bagaimana jika Lucas sedang berdiri di sana, menunggu aku di saat yang lengah, lalu menyeret aku lagi? Tidak percaya aku bisa berpikir begini, tapi aku berharap Tiberius tidak dengan seenaknya pergi sendiri seperti tadi. Ah, aku benar-benar sudah gila. Aku baru saja berharap akan kedatangan musuh bebuyutanku.
Dengan mempersiapkan diri, aku berbelok ke arah tangga was-was. Tidak ada yang aku temukan di sana. Tidak ada Lucas. Tidak ada apa pun kecuali Tiberius yang sedang bersender di pegangan tangga, bertumpu pada satu kaki, tangan satu di dalam kantung celana, satunya lagi masih memegang handuk basahku di matanya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku heran. Aku berjalan ke arahnya, ketegangan tadi seketika menghilang, digantikan rasa bingung dan sedikit kesal karena ada Tiberius. Ah, dasar Vanessa! Tadi kau sedikit berharap akan ada Tiberius yang berjalan bersamamu?
“Memangnya kau pikir aku akan pergi begitu saja?”
“Hah?”
“Kau harus tanggung jawab.”
“Aku sudah mengantarmu ke ruang rawat,” jawabku. “Lagi pula, kenapa aku yang harus tanggung jawab?”
“Kau yang sudah menyemprot aku dengan semprotan merica.”
“Itu . . . itu ‘kan bohongan!”
Tiberus mengangkat bahunya seperti aku tadi, mengejek. “Aku hanya mengikuti skenario yang kau buat.”
“Dasar anak pemilik saham terbesar di sekolah!” seruku dengan sentakkan kaki penuh kesal.
“Sudah berapa kali aku bilang itu bukan sebuah hinaan?”
“Ugh,” geramku kesal. “Lalu apa yang kau inginkan dariku sekarang?”
Tiberius tersenyum miring. “Antar aku pulang.”
“Hah?” seruku lagi. “Kau sudah gila?”
“Aku tidak bisa melihat.”
“Chloe bilang matamu baik-baik saja!”
“Chloe, ya?” Tiberius menelengkan kepalanya. Dia tersenyum tapi sinis. “Sekarang ka sudah dalam fase nama panggilan dengannya? Bukan suster dan murid lagi?”
“Tidak sepertimu, semua orang bisa ramah, Ty.”
“Aku yang seperti ini saja sudah banyak dikejar ratusan gadis. Bayangkan jika aku ramah? Apa yang akan terjadi?”
Aku mengangkat tangan tinggi-tinggi, meminta ampun, berdoa agar aku diampuni dan orang ini dienyahkand dari hidupku selamanya. “Baiklah, jalan!”
Tiberius tersenyum puas, postur tubuhnya kembali tegak. “That’s my girl.”
***
Ketika kami sudah sampai di kediaman Florakis, aku harus menahan dari mempermalukan diriku sendiri. Rumah Tiberius tidak bisa dikatakan rumah. Ini namanya istana! Apa itu ada taman khusus? Ya ampun, kolam ikan sebesar itu ada di tengah-tengah halaman rumah? Dan ada air mancurnya pula? Itu juga, kenapa bisa ada pepohonan rindang setinggi itu di teras rumah? Tunggu dulu, apa itu mobil golf? Mobil golf diparkir di parkiran rumah?
TIBERUS MEMILIKI LAPANGAN GOLF DI RUMAHNYA?
Aku menelan ludah. Sudah bukan rahasia lagi kalau keluarga Tiberius itu kaya raya. Buktinya, Ayahnya adalah donatur sekaligus pemilik saham terbesar di yayasan sekolah. Bukannya sombong, tapi sekolahku itu termasuk salah satu sekolah yang cukup elit. Terbilang cukup mahal juga. Yah, hampir semua isinya juga anak borjuis yang tak tahu diri. Jadi bisa dibayangkan sekaya apa pemilik saham terbesar sekolah itu?
Tapi aku tidak pernah menyangka kalau dia akan sekaya ini. Siapa yang akan mengira? Dia di sekolah bertingkah seperti anak gelandangan yang tak punya arah. Kalau makan juga menunggu ditraktir dua sahabat dekatnya. Dengar-dengar, dia juga selalu menginap di rumah dua temannya itu. Dan jika dilihat, selain motor besarnya yang pasti mahal, dia tidak pernah memiliki barang elit atau semacamnya.
Aku menoleh ke arahnya. “Ini rumahmu?”
“Terakhir yang aku periksa ‘sih begitu,” dia mendongak ke atas, matanya menyipit melihat kediamannya sendiri. “Aku rasa begitu.”
“Kau rasa begitu?” ulangku. “Hei, kau tidak sedang membohongiku atau semacamnya, ‘kan?”
“Tidak,” dia terlihat tersinggung. “Kenapa?”
“Jika ternyata ini rumah orang dan aku baru saja membantumu masuk ke properti milik orang lain, aku akan menginjakmu hidup-hidup.”
Mendengar perkataanku sendiri, aku langsung terkesiap. Memori itu kembali datang. Apa yang kau lakukan dengan properti milikku?
Sial. Dia bilang aku ini properti miliknya? Memangnya dia pikir dia siapa? Memangnya aku barang?
“I promise you this is my house.” Kata Tiberius pelan.
“Lalu kenapa kau tidak percaya diri begitu? Seperti tidak yakin?”
“This is my house, but it doesn’t feel like a home.”
“Oh . . .” Aku bingung harus merespon apa dari pernyataan itu. Bagaimana caranya kau menghibur musuh bebuyutanmu?
“Iya, oh . . .”
“Well, setidaknya kau memiliki rumah, ‘kan?” kataku setengah percaya diri. “Banyak orang di luar sana yang tidak memiliki atap untuk melindungi mereka dari panas, hujan, salju, pagi, siang, malam—“
“Oke, aku mengerti.” Tiberius mengangkat satu jari.
“Baguslah kalau kau mengerti,” aku mengangguk. “Kompres terus matamu sampai besok, oke? Jangan terlalu banyak menonton televisi atau bermain ponsel dulu, aku rasa sinar radiasi dari mereka tak cukup bagus untuk matamu yang sedang iritasi.”
“Baiklah . . .” Tiberius menatapku dengan pandangan yang tak bisa aku jelaskan.”
“Baiklah . . .” Aku berdeham dengan canggung. “Aku pulang.”
“Baiklah . . .”
“Bye, Ty.”
Tiberius terdiam cukup lama. Lalu, entah aku mengarang dan berhalusinasi, tapi rasanya saat itu Tiberius tersenyum tipis. “Bye, Nessa.”