TIBERIUS FLORAKIS adalah lelaki yang notorius. Dia dipenuhi banyak masalah. Begitu banyak catatan kriminal, protes dari murid dan wakil murid atau orangtua, perkelahian di dalam mau pun luar sekolah. Lelaki itu selalu membawa masalah ke mana pun dia pergi. Biasanya aku akan kabur beribu langkah dari masalah itu. Aku akan menghindar dari Tiberius yang sepertinya selalu membuat agenda pribadi untuk mengganggu aku setiap hari. Tapi sekarang, aku merasa bersyukur atas agenda pribadi tersebut. Aku merasa berterima kasih karena Tiberius adalah pria yang selalu mencari masalah.
Tidak akan pernah kalian melihat seorang Vanessa Abernathy merasa tenang dan merasa lega melihat sosok Tiberius Florakis di depan dia sendiri. Di depan dua bola matanya. Seperti yang aku bilang, aku akan lebih memilih menghindar dari laki – laki itu jika kita bertemu di lorong sekolah, atau aku akan lari ke arah yang lain jika aku melihat sosok pria yang tinggi menjulang itu sudah terlihat keluar dari kelas yang akan aku lewati koridornya. Aku sendiri tahu itu tindakan yang payah, tapi jujur, ada hari di mana aku lebih baik menelan pasir dari pada harus meladeni tingkah laku Tiberius yang tidak pernah bisa aku tebak apa maunya. Pria itu seperti gempa bumi, bisa sih dilihat dan ditebak kemungkinan datangnya, tapi tak pernah bisa diprediksi secara tepat sama sekali.
Yah, itu sih Tiberius. Aku tahu dia laki – laki yang punya banyak reputasi buruk di sekolah ini. Jadi, sungguh, saat aku melihatnya saat ini, untuk pertama kalinya dalam hidup aku dan selama aku bersekolah di sini, aku merasa senang melihat presensi pria tersebut.
Lucas tidak bergeming sama sekali. Yang ada, pegangannya di pergelangan tangan aku semakin kuat. Baru pertama kali aku menemukan orang yang berani menantang Tiberius Florakis si Ravenhall High. Tepat di lorong kelas sekolah ini pula. Tepat di lokasi kekuasaan Tiberius sendiri. Bisa dibilang, Lucas memiliki nyali yang tinggi.
Orang asing itu menyeringai sosok Tiberius yang semakin lama sekain dekat. Setiap langkahnya pria itu seperti mengeluarkan api yang membara. Jika aku Lucas, aku akan mengubur diriku hidup-hidup. Tapi nyatanya, pria bodoh yang memegang aku dengan erat ini tidak bisa membaca situasi darurat.
Yang ada, seringai jelek dia semakin lebar. “Oh, halo Tiberius Florkasi.”
Bagus . . . jadi dia tahu siapa Tiberius, tapi Lucas tidak menciut sama sekali nyalinya. Sial. Kami sedang berurusan dengan orang yang bodoh dan tidak tahu diri. Orang tidak waras. Aku bisa melihat Tiberius sudah berhenti beberapa senti dari kami. Tubuh tingginya menjulang dibandingkan aku dan Lucas. Dia memasukkan kedua tangan ke dalam kantung celana. Aura mematikan bertolak belakang dengan posturnya yang santai.
“Jangan membuat aku mengulang kembali pertanyaanku.”
“Pertanyaan apa?” Lucas bermain dengan api. Dia menelengkan kepalanya, mengejek Tiberius. Mungkin dia pikir ini tindakan yang berani, tapi bagiku yang sudah mengetahui sifat dan kekuasaan yang Tiberius miliki, ini bukan berani, tapi bunuh diri.
Tiberius mencemooh pada Lucas. “Siapa kau?”
“Lucas.”
“Dan aku seharusnya tahu siapa dirimu?”
“Lucas Willow.”
“Aku masih tidak mengetahui siapa kau . . . hmh, apa kau salah satu penggemar rahasiaku?”
Wajah Lucas memerah. Aku menahan tawa. Nyatanya, memang Tiberius itu lelaki pembuat onar. Selalu mencari masalah. Hidupnya dipenuhi perkelahian dan adu mulut. Argumen dengan Tiberius itu sama saja berperang bibir dengan dahan dan ranting pohon. Tidak akan pernah menang. Seperti berbicara dengan patung yang tinggi berwajah dewa Yunani.
Tapi dari itu semua, tidak bisa dipungkiri jika Tiberius itu . . . yah, kelewat tampan. Tubuhnya yang atletis, mata birunya, semuanya, mulai dari ujung kepala sampai kaki seperti diukir secara perlahan dan hati-hati. Sudah bukan rahasia umum lagi jika para kaum hawa mengejar-ngejar seorang Tiberius Florakis. Berharap suatu hari menjadi seseorang yang beruntung yang mampu menjinakkan api yang menyala itu. Tapi sayang, lelaki itu tidak pernah melirik seinci pun pada setiap gadis yang melempar diri mereka ke arah Tiberius.
Aku heran. Tapi keheranan itu selalu dilampaui dengan rasa kesal dan marah karena bukannya sibuk dengan gadis-gadis yang mau membuang waktu bersamanya, dia malah memutuskan untuk membuat hidupku seperti di neraka. Baiklah, mungkin dia merundung aku bukanlah suatu kalimat yang tepat karena aku selalu bisa membalas perbuatannya. Tapi ‘kan tetap saja. Tiberius yang selalu mencari gara-gara terlebih dahulu dibandingkan aku. Dan dia tidak pernah menyerah.
“Jangan asal bicara,” Lucas mencibir. “Aku lebih baik meminum racun dari pada harus memujamu sepeti kaum hawa bodoh di luar sana.”
“Hei!” aku menyahut. “Jangan menghina para kaum hawa, ya!”
“Kau berbeda . . .” Ucapnya pelan, nada bicaranya melemah. Aku bergidik ngeri saat dia menyapu pandangannya ke arahku. Raut wajahnya terlihat aneh.
“Sudahlah, cukup bicara omong kosongnya,” Tiberius mengibaskan satu tangan yang sudah keluar dari kantung celana. “Aku ulang, dan aku ulang sekali saja, apa yang kau lakukan dengan properti milikku?”
“Enak saja! Memangnya tertulis di keningku, ‘ini adalah properti milik Tiberius Florakis’ begitu?”
Tiberius menerka perkataanku. “Hmh . . . ide yang bagus.”
“Itu bukan ide!”
“Tapi nyatanya kau baru saja memberikan aku gagasan yang menarik.”
“Kau keterlaluan.”
“Memang.”
“Dasar anak pemilik saham terbesar di sekolah!”
“Aku rasa itu bukan hinaan.”
“Diam kalian berdua!” Lucas berteriak kencang. Aku meringis di tempatku. Pergelangan tanganku sekarang sudah terlihat biru keunguan. Jemari Lucas tidak pernah melonggar sedikit saja.
“Kenapa kita yang harus diam?” Tiberius bertanya penuh sangsi. Aku tahu wajahnya saat dia sedang bersandiwara. Saat ini, lelaki itu sedang berpura-pura tersinggung. Satu tangan dinaikkan ke dadanya yang bidang. “Kenapa?”
“Tiberius Florakis, jangan ikut campur. Aku sarankan kau pergi sekarang dan tinggalkan kami.”
“Kami? Vanessa, apa ada kami di antara kau dan . . .”
“Lucas.”
“Oh iya . . . Lucas ini?”
Aku menimbang pilihanku. Sudah jelas, walaupun seburuk dan semenyebalkan Tiberius saat dia bersamaku, lelaki itu adalah pilihan yang paling baik. Selama ini dia selalu mengganggu aku di sekolah, namun permainannya tidak pernah lebih dari sesuatu yang bisa membuat aku atau orang di sekitarku terluka.
Sedangkan Lucas ini. Aku bahkan baru bertemua dengannya hari ini. Aku tidak tahu dia siapa. Dan tahu-tahu, dia menarik aku hingga pergelangan tanganku membiru. Dia mengatakan akan membawa aku pulang . . . bersama dengannya. Aku bergidik ngeri. Dengan cepat, pandanganku tertuju pada dua mata biru Tiberius.
“Tidak,” kataku pelan. Aku berusaha untuk melepaskan tanganku dari pegangan mematikan Lucas sekali lagi. “Aku baru bertemu dengannya. Dia datang ke kelasku lalu menarik aku pergi.”
Aku tidak tahu mengapa aku membeberkan semua ini pada musuh bebuyutanku, tapi untuk sekarang, aku rela jika harus gencatan senjata dengannya.
“Begitu . . .”
“Vanessa, apa yang kau bicarakan?” Lucas mengerutkan keningnya padaku, nada bicaranya terdengar sakit hati. “Aku tidak melakukan apa-apa padamu.”
“Kalau begitu, lepaskan aku.”
“Tidak bisa.”
“Kau dengar katanya . . .” Tiberius berkata rendah. “Dia ingin kau melepaskan tangannya, Lucas Willow.”
Tiberius terdengar dingin. Tetapi Lucas tidak mundur sama sekali. “Vanessa akan pulang bersamaku.”
“Aku rasa tidak.”
“Siapa kau?”
Tiberius maju beberapa langkah, menghilangkan jarak antara aku dan Lucas bersamanya. Matanya menusuk tajam dua mata Lucas. Saat dia berbicara, giginya gemeretak. “Mimpi burukmu jika kau tidak melepaskan tangan itu sekarang juga.”
Kali ini aku melihat Tiberius berhasil mengintimidasi Lucas. Pria yang sedang menahanku agar tidak bisa lepas dari pegangannya itu terlihat sedikit menciut. Memang benar, reputasi Tiberius Florakis tidak salah sama sekali. Aku pun sempat merasa mundur saat dia mengatakan kalimat tersebut. Mimpi burukmu.
Tapi sayangnya, aku bukan Lucas Willow. Dia baru melihat Tiberius seperti ini. Sedangkan aku? Aku sudah melihat dia bertingkah seperti itu setiap hari. Bagiku, ancaman dan perkataan yang keluar dari bibir Tiberius seperti musik di telingaku. Memang awalnya aku merasa takut juga. Namun setelah bertahun-tahun aku harus berurusan dengannya, perilaku seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi diriku. Mimpi buruk? Cih. Siapa yang mau dia takuti? Dia sudah menjadi mimpi buruk berjalan bagiku selama masa sekolah menengah atas.
Dan aku bahkan tidak tahu mengapa dia menjadi mimpi buruk untuk aku.
“Mimpi buruk, ya?” Lucas kembali melakukan postur santainya lagi, mencoba untuk tidak memperlihatkan dirinya yang sudah jelas merasa terintimidasi dengan kemunculan Tiberius. Aku menahan tawa. Lucas bukan bandingan yang sepadan untuk Tiberius. “Tapi sayang, aku sudah memiliki banyak mimpi buruk, jadi aku imun.”
“Imun? Baiklah . . . kita lihat seberapa imun dirimu jika kau tidak melepaskan tangan dia selama satu menit ke depan.”
“Dengar Tiberius, bukankah kau membenci gadis ini?”
Aku melirik Tiberius yang terdiam. Bibirnya tertutup rapat. Dia melirik aku, dan saat dua mata kami saling bertabrakan dia menyeringai aku tipis. Sial. Dasar anak pemilik saham terbesar di sekolah! Aku tahu dia benci padaku, tapi jangan memperlihatkannya seperti itu juga. Oh tidak, apa sekarang dia sudah tersadar dan akan menolak untuk menolong aku? Tidak! Seberapa besar benci dia padaku, dia tidak mungkin meninggalkan aku sendiri bersama orang asing dan gila ini, ‘kan?
Aku buru-buru membuka mulut, muak dengan kejadian ini. “Kau yang dengar Lucas . . . Lucas apa lah namamu itu! Aku tidak kenal kau, dan aku minta sekali lagi, lepaskan aku!” Aku bersusah payah untuk menarik pergelangan tanganku lagi.
Aku hampir saja berhasil, namun ketika aku hampir lepas, Lucas langsung menarik tanganku ;lagi, bahkan sampai memelintir pergelangan tanganku dengan kuat. Aku otomatis meringis dan merintih, merasa perih di tanganku. Lucas terlihat marah. Tapi aku tidak sempat melihat lebih banyak lagi, atau melontarkan protes, menghajar Lucas dan kabur. Karena tahu-tahu saja, Tiberius sudah berada tepat di belakangku, tubuhnya menempel pada punggungku. Dia merangkul aku dari belakang, memegang tangan Lucas yang memelintir tanganku, lalu dengan kekuatan penuh yang aku rasa tak semua orang miliki, Tiberius memutar tangan terkutuk itu hingga Lucas menjerit dan jatuh berlutut di hadapan kita.
Mataku terbelalak. Tiberius baru saja menyerang Lucas dengan cara barbar. Aku ingin menoleh padanya, namun aku terperangkap di dalam dekapan Tiberius. Dia terus memutar tangan Lucas tanpa ampun. Aku bisa mendengar deru napasnya di belakangku. Apa Tiberius marah? Tapi kenapa? Bukankah dia membenci aku?
“Lepas! Lepas! Lepas!”
Seperti tak mendengar rintihan dan permohonan itu, Tiberius tidak bergeming sama sekali. Malah, aku melihat kekuatan dia semakin bertambah. Tangan Lucas semakin memerah dan berbentuk aneh. Tidak lama, aku mendengar suara tulang patah. Aku segera membalikkan badan, tak peduli jika tubuhku berhadapan langsung dengan tubuh besar milik Tiberius. Aku jatuh langsung pada dekapan dadanya.
“Ty . . .” Ucapku pelan. Aku memanggil namanya, namun lelaki itu masih sama. Tidak mendengar sekeliling. Matanya hanya tertuju pada Lucas, penuh marah dan benci. Rahangnya mengatup rapat. Aku bisa melihat kalau Tiberius sedang kehilangan kendali. “Ty! Ty!” masih tak ada respon apa pun dari lelaki di hadapanku. Jadi, aku melakukan apa yang aku bisa. Aku pegang wajahnya dengan dua tangan, membawanya dekat denganku agar matanya beralih padaku, dan memanggil namanya tegas. “Tiberius.”
Dia terdiam. Tangannya berhenti memberikan tekanan kuat pada Lucas. Untuk beberapa saat, aku pikir dia tidak mendengarku lagi, terlalu termakan oleh api yang membara di kepalanya. Namun, setelah beberapa detik penuh ketegangan, lirikan mata Tiberius beralih padaku. Pupilnya membesar. Dia menelan ludah beberapa kali, lalu melepaskan tangan Lucas seperti dia baru saja memegang sesuatu yang menjijikan.
Aku membuang napas lega. Aku pikir aku baru saja akan menyaksikan pembunuhan atau semacamnya. Tiberius yang tadinya menegang, kini sudah mulai luluh. Dia menutup mata untu beberapa saat, dan saat dua mata itu terbuka, aku hampir aja terkesiap. Dia menatap aku begitu lekat, seperti akan melulis diriku di dalam pikirannya. Lelaki itu tidak berkedip sama sekali. Baru ketika aku sudah bisa bergerak lagi, buru-buru aku melepas wajahnya yang tampan itu dan mundur satu langkah. Namun satu tangan Tiberius menangkap tubuhku dari belakang, tak membiarkan aku jauh dari dekapannya.
“Tunggu,” napasnya masih menderu saat dia berkata seperti itu. “Dia masih di sini.”
Karena aku bingung harus bagaimana, aku hanya mengangguk lemah. Aku berputar, membiarkan punggungku bertabrakan lagi dengan dadanya yang bidang. Saat aku sudah membalikkan badan, aku melihat Lucas merintih sambil memegang satu tangannya yang mungkin patah tulang akibat Tiberius. Dia mendongak, melewati aku yang berdiri di depan Tiberius, dan hanya melihat lelaki itu penuh benci.
Lucas mencibir dengki. “Atas dasar apa kau melakukan ini?”
“Maksudmu?”
“Kau tidak berhak melakukan ini!” aku terlonjak karena bentakan darinya. Satu tangan Tiberius melingkar di pinggangku, dan entah kenapa gestur itu membuat aku sedikit tenang. Ya ampun, aku tidak menyangka akan berlari ke dalam pelukan musuh bebuyutanku demi mendapat pertolongan. “Kau pikir kau siapa?”
“Tiberius Florakis, kau sudah tahu itu.”
“Dan kau hanya seorang murid pembuat onar yang tidak tahu diri! Lintah darah kekayaan Ayahmu. Kau bukan apa-apa jika bukan anak orangtuamu yang kaya raya itu! Kau selalu membuat hidup Vanessa seperti di neraka, lalu mengapa sekarang kau membantunya? Aku tidak pernah sekali pun berbuat jahat padanya!”
“Kau baru saja menyakiti pergelangan tanganku!” sahutku penuh sangsi. Lucas akhirnya menatapku, tatapannya meluluh. Aku tidak membiarkan dia melihat ketakutan yang aku rasakan padanya. Sebaliknya, aku mendongak, mengangkat daguku tinggi.
Biarlah aku berlari ke dalam pelukan musuh bebuyutanku sendiri, yang penting aku selamat dari orang gila ini. Sungguh, dia siapa ‘sih? Aku bahkan tidak mengenalnya. Jangankan kenal, aku tidak pernah sama sekali mendengar yang namanya Lucas Willow.
Mendadak pikiranku tertuju pada sebuah kotak berisikan tikus menjijikan. Tikus yang penuh darah. Tikus tidak bersalah yang harus menjadi korban kegilaan seseorang. Aku tidak tahu siapa yang mengirim hadiah mengerikan itu. Tapi apakah mungkin . . . Lucas adalah pelakunya?
“Siapa kau sesungguhnya?” tanyaku pelan. “Siapa kau? Dari mana kau mengenalku? Apa kau murid di sini? Aku bahkan tidak pernah tahu namamu!” aku berkata penuh kesal. “Apa kau yang . . . mengirimkan aku hadiah?”
Aku bisa merasakan Tiberius kembali menegang di belakang tubuhku. Kami menunggu satu detik, dua detik, tiga detik. Hingga beberapa menit terlewat, Lucas hanya menatapku dengan wajah sedih, bibirnya maju beberapa senti, seperti anak anjing yang tersesat.
“Jawab dia, bodoh!”
“Tiberius . . .” Aku memberikan peringatan kecil.
“Well?”
“Aku Lucas Willow, Vanessa . . . kau suka padaku.”
“Hah?”
“Hah?”
Aku dan Tiberius terkesiap bersamaan. Aku rasa kami pasti memberikan tatapan terbingung yang pernah kami buat. Aku tidak bisa berkata apa-apa, sementara secara perlahan aku bisa merasakan bahu lelaki di belakangku bergetar. Tahu-tahu saja Tiberius sudah tertawa terbahak-bahak, suaranya terdengar jelas di telingaku. Aku merinding, merasakan napasnya di tengkuk.
“Apa kau sudah gila?”
“Tiberius!”
“Memang benar! Kau sudah mengatakan tidak mengenal dia, bukan? Lalu orang aneh ini mengatakan kau sudah padanya.” Tiberius terkekeh geli. “Memangnya dia pikir dia siapa?”
“Aku Lucas Willow!”
“Ya . . . ya . . .” Tiberius mengibaskan tangan lagi. “Mau berapa kali kau memperkenalkan diri?”
“Lepaskan Vanessa.”
Untuk sekian detik, aku pikir Tiberius akan melakukan hal itu. Namun lelaki di belakangku itu justru semakin menguatkan pegangan tangannya di pinggangku. Jika ini adalah kondisi yang berbeda dari sekarang, aku pasti akan bertingkah seperti Lucas dan memelintir jemarinya karena sudah berani memegang aku seperti itu. Dia musuh bebuyutanku! Tapi berhubung aku lebih memilih bersama Tiberius, biarlah dia melakukan ini sekali saja. Yang penting, agenda dia hari ini adalah utuk menolong aku dari Lucas si orang gila.
“Maaf . . . tapi tidak bisa.”
Lucas menggeram kesal. Dia membuang ludah di depan kami, dan akhirnya berdiri. Aku bisa melihat tangannya membengkak, memerah dan membiru. Oh my god, Tiberius benar-benar memberika kerusakan yang cukup signifikan pada jemarinya. Hampir saja aku merasa iba, tetapi rasa nyeri dan perih di pergelangan tanganku sendiri membuat aku mengabaikan rasa sedih itu.
Aku menelan ludah sebelum berkata, “Aku sarankan kau pergi saja dari sini.”
“Apa?” sahut Tiberius. “Tidak bisa! Dia harus diserahkan ke pihak yang berwajib.”
Seperti alarm yang berbunyi di pikirannya, mata Lucas terbelalak lebar. Pihak yang berwajib. Mungkin Lucas tidak berpikir panjang. Orang aneh itu mengambil satu langkah mundur. Tiberius melihat gerakan itu. Sesaat, aku merasa kehilangan kehangatan Tiberius di punggungku. Pria itu dengan gesit mencoba meraih Lucas, namun Lucas lebih licik lagi. Lucas mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya, dan menyerang Tiberius tanpa basa-basi.
Tiberius tidak menyangka hal itu sama sekali. Siapa yang berpikir kalau dalam perkelahian antara dua lelaki di lorong kelas sekolah akan melibatkan semprotan merica? Tapi itu benar-benar terjadi. Lucas menyiram wajah Tiberius berkali-kali, lalu tanpa menunggu sama sekali, dia kabur ke arah pintu luar sekolah.
Lelaki yang menolongku itu merintih, memegang dua matanya. Aku buru-buru menghampiri pria itu, berusaha untuk meredakan sakitnya. Aku keluarkan sapu tangan handuk yang aku miliki, membasahinya dengan air dari botol minum yang aku bawa, lalu membasuh mata Tiberius pelan.
“Aku akan membunuhnya,” kata Tiberius dengan geram. “Akan aku temukan lelaki itu dan aku akan membuat dia menyesal. Tunggu aku, Lucas Willow.”