SEMENJAK KEJADIAN itu terjadi, aku menjadi orang yang tidak tenang. Tanpa aku ketahui, atau aku sadari, aku akan menoleh ke belakang, memeriksa di dalam gelap, atau membawa benda apa pun yang bisa aku gunakan sebagai senjata. Rasanya seperti ada yang mengikutiku, mengawasiku, melihatku dari kejauhan.
Bukannya aku menjadi orang yang paranoid atau semacamnya. Tapi jika kalian mendapat sesuatu seperti itu, apa kalian pikir bisa hidup kembali normal? Setiap makan, satu hal yang selalu aku ingat adalah tikus penuh darah menjijikan. Mendadak nafsu makanku akan menghilang saat itu juga. Sudah begitu, setiap aku ingin tidur dan memejamkan mata, tikus itu akan menari di pikiranku seperti menghantuiku. Dan jika aku sudah terlelap pun, aku akan mimpi buruk. Memimpikan sebuah hadiah di dalam kotak yang berisikan teror dari seseorang.
Tidak ada yang bisa aku lakukan perkara mimpi buruk. Memangnya semua perkataan tentang dream catcher atau sebagainya itu asli? Mungkin saja tidak. Aku tidak pernah punya jurus tersendiri untuk menghilangkan pikiran yang buruk atau mimpi buruk di saat malam hari. Dulu aku hanya sering kabur ke kamar Vinno dan tidur bersama dengan pria itu, atau membangunkan Vinny agar dia mau pindah ke kamar aku. Jujur, sekarang pun aku mungkin masih bisa melakukan itu, tapi memangnya aku sudi? Bisa – bisa mereka menertawakan aku karena aku ini payah. Dan aku harus menjelaskan tentang semua hal yang baru saja terjadi, perkara tikus kecil menjijikan, dan pernuh darah pula.
Theressa terkesiap ketika dia melihat sosok aku yang muncul dari balik pintu gerbang sekolah. Dia menunggu aku dengan seragam yang rapih dan sepatu yang bersih mengkilat. Sudah jelas akhir pekan ini dia baik-baik saja. Tapi tidak untuk aku. Akhir pekan ini bagaikan neraka di bumi. Aku juga tidak heran. Saat aku berkaca pagi ini, rasanya aku sedang melihat makhluk mayat hidup di depanku. Mataku bengkak, kantung hitam dan besar menghiasi wajahku. Bibirku pecah-pecah. Hidungku merah. Dan rambutku acak-acakan. Aku terlihat seperti pasien rumah sakit jiwa.
“Apa kau tidak tidur satu tahun?” Theressa menggaet tanganku. Dia menarik aku jalan ke arah pintu masuk sekolah.
“Sepertinya . . .” Gumamku pelan. “Aku tidak bisa tidur atau memejamkan mata sama sekali.”
Ravenhall High pagi ini belum terlihat ramai. Di sana-sini masih kosong melompong. Lapangan sekolah belum banyak dipakai oleh para atlit. Dedaunan berjatuhan dari pohon-pohon besar di halaman sekolab Ravenhall. Saat aku dan Theressa masuk ke dalam sekolah, koridor tempat loker berjejer pun masih sangat sepi.
Aku berterima kasih di dalam hati karena belum banyak murid. Setidaknya, aku bisa kabur lebih dulu ke dalam kelas yang masih kosong agar menghindar dari tatapan menghakimi para murid borjuis Ravenhall High.
“Mengapa?”
“Rasanya aku seperti diteror pagi dan siang dan malam,” jawabku lesu. “Jika aku menutup mata, maka aku akan melihat tikus tidak bersalah itu. Saat aku sudah tertidur, aku akan mimpi buruk. Isinya hanya aku diteror oleh hadiah berisikan hal yang sama. Tikus kecil penuh darah yang mengerikan.”
“Ya ampun, Vanny . . .” Theressa mengelus rambutku dengan halus. Bibirnya memberengut, prihatin dengan keadaanku sekarang. “Kenapa kau tidak memberitahuku?”
“Lalu apa? Membuatm ikut tersiksa denganku?” Aku hanya memberikan dia sebuah senyum tipis yang mengatakan aku berterima kasih karena tawaran dan kecemasannya. “Tidak, terima kasih. Cukup aku yang menderita karena hal aneh ini.”
“Aneh? Ini keterlaluan. Ini kriminal, Vanessa. Kau harus melaporkan ini.” Theressa membisikkan kalimat terakhirnya.
Melaporkan ini? Lalu apa? Jika aku melaporkan hal ini, bisa-bisa Vinny akan naik pitam. Aku tidak akan heran jika dia mendatangi setiap murid Ravenhall dan memaksa mereka untuk mengaku. Menodongkan senjata tajam atau semacamnya. Atau lebih buruk lagi, dia akan membakar habis gedung ini sampai ada yang keluar dan mengaku kalau mereka sudah mengganggu dan meneror aku. Parahnya lagi, yang paling aku takuti adalah, Vinno akan berperilaku ekstra dan datang jauh dari New York.
Ya ampun, kenapa aku memiliki dua kakak lelaki yang super protektif seperti ini?
“Aku rasa itu tidak perlu . . .” Namun saat aku mengatakan itu, aku tidak seratus persen setuju dengan diriku sendiri. Aku rasa itu perlu, tapi kehebohan dan kebodohan yang akan dua kakak lelakiku lakukan tidak setimpal.
Lagi pula, ini pasti ulah seseorang yang usil, bukan? Jika aku diam dan tidak bereaksi, mungkin orang itu akan jera dan tidak melakukan hal yang sama kembali. Sebuah harapan bodoh. Tapi, setidaknya harapan itu akan membuatku tetap berani memulai hari yang baru.
“Vincent akan menemukan siapa pun itu yang sudah melakukan ini padaku.”
“Itu dia,” aku menoleh pada Theressa. “Jika Vinny, atau lebih parahnya lagi Vinno, tahu tentang ini, kau tahu apa yang akan terjadi, ‘kan?”
Teman dekatku itu mengangguk pelan. “Kiamat.”
“Benar sekali.”
“Lalu, kau akan diam saja? Ini tidak benar. Kemarin banyak yang melihat kejadian ini, sampai Tiberius juga. Kau pikir Vincent tidak akan mendengar beritanya?”
“Aku berharap tidak . . .” Kataku lesu. “Namun jika iya, setidaknya aku bisa tenang untuk beberapa saat.”
“Yang kau lakukan hanya menunda apa yang belum terjadi, V.”
“Teror itu tidak masuk akal. Siapa yang mau melakukan hal sebodoh itu padaku?”
“This is high school. Everything doesn’t make sense.”
“Kau pikir . . . ada psikopat jahat di sekolah ini?”
“Aku tidak akan terjekut jika memang iya.”
“Tapi kenapa aku!” teriakku kencang.
“Kau seperti sasaran empuk bagi para penjahat, itu mengapa.” Sahut seseorang dari ujung koridor.
Aku dan Theressa otomatis menoleh. Mata kami bertabrakan dengan dua pasang mata yang tajam dan menyeramkan. Penguasa Ravenhall High yang bernama Tiberus Florakis sedang berdiri sambil berkacak pinggang. Dia berjalan menghampiri kami dengan langkah pelan dan mengejek. Sebuah seringai jelek tersungging di bibirnya. Aku mencibir ke arah laki-laki itu. Ketika dia sudah berjarak dekat dari kami, aku membuka mulut.
“Sepertimu maksudnya? Sasaran empuk bagi orang seperti dirimu?”
Tiberius memegang dadanya seperti orang yang tersinggung. “Aku? Oh, Vanessa Flo Abernathy. Aku merasa terharu kau mau menganggap aku seperti itu.”
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Ini koridor sekolah, aku bisa lewat ke sini kapan saja.”
“OK . . . kau boleh lewat.” Kataku sambil mempersilahkan dirinya untuk pergi. Theressa terkekeh di sebelahku.
Tiberius tersenyum manis. “Aku juga bisa berhenti kapan saja,” ucapnya datar. “Bagaimana denganmu?”
“Apa?”
“Bisa aku lihat tikus itu cukup ampuh.”
Aku terdiam lama. Salah satu orang yang mengetahui dan menyaksikan sendiri kejadian beberapa hari yang lalu adalah Tiberius Florakis. Dia melihat jelas apa yang terjadi padaku saat itu. Lelaki itu bahkan menolongku agar tidak dilihat banyak orang. Aneh, tapi itu memang terjadi.
Terutama saat diakhir. Karena hanya aku yang boleh mengganggumu. Apa pula itu artinya? Kenapa dia mendadak berubah menjadi seseorang yang bertolak belakang dengan Tiberius yang selama ini aku kenal? Sial. You’re mine.
Aku baru saja mendaratkan diriku sendiri pada orang posesif lainnya. Tapi ini lebih parah. Di posesif sebagai orang yang boleh merundung aku. Memangnya aku ini properti yang bisa dirundung kapan saja? Aku mengumpat di dalam hati.
“Ya . . . ya . . .” Aku mengibaskan tangan, berpura-pura sok. “Tikus itu cukup lumayan.”
Wajah Tiberius mengeras. “Kau sudah tahu siapa pelakunya?”
“Belum.”
“Kau sudah melaporkannya?”
“Belum.”
“Apa kau sudah gila?”
“Belum.”
Tiberius melempar kedua tangannya di udara dengan frustrasi. Dia berdecak kesal melihat aku yang santai saja. “Ini tindakan kriminal. Kau harus melaporkan kejadian ini, atau hal yang sama akan kembali terulang.”
Dari ujung mataku, aku bisa melihat Theressa mengangguk kecil, setuju dengan apa yang Tiberius katakan. Sial. Bahkan teman dekatku pun sudah masuk ke dalam perangkapnya. Kenapa dia malah setuju dengan lelaki di depan kami ketimbang aku sendiri, teman dekatnya semenjak dulu?
“Ini hanya tindakan usil dari orang yang tidak memiliki kehidupan.”
“Serius? Kau benar-benar berpikir begitu?”
“Memangnya kenapa?”
“Jika iya, maka kau lebih bodoh dari yang aku pikir.” Tiberius menyibak rambut hitamnya ke atas. “Yang terjadi kemarin bukan tindakan usil belaka. Itu teror, Vanessa.”
Aku bergidik ngeri mendengar satu kata itu keluar dari bibir Tiberius. Nadanya rendah dan mematikan. Matanya tidak berkedip sekali pun ke arahku.
“Dan kau akan menyesal karena tidak mengatasi masalah ini dari awal. Akar akan selalu tumbuh, Vanessa.”
Lalu dia pergi meninggalkan aku dan Theressa yang termangu di koridor loker sekolah.
***
Nyatanya, siapa yang mau aku bohongi? Ini memang masalah yang serius. Seharian ini aku tidak bisa fokus di kelas. Selama pelajaran, atensiku hanya berputa pada satu fakta yang dilontarkan oleh Tiberius secara terang-terangan padaku. Tanpa penyaring sama sekali. Ini teror.
Ketika bel pulang sudah berbunyi, aku masih termangu di tempat dudukku, memikirkan siapa yang bisa melakukan ini semua. Theressa dan Tiberius memang benar. Ini namanya sudah tindakan kriminal. Teror. Seharusnya aku melaporkan kejadian ini. Bukan menutupinya. Anehnya lagi, Vinny belum muncul dari balik pintu atau apa pun, meledak dalam amarah dan mempertanyakan kejadian kemarin. Gosip ternyata belum beredar sejauh itu, atau Vinny seharian ini sibuk di lapangan.
Aku rasa pilihan terakhir yang benar.
“Lantas . . . siapa yang berani melakukan itu semua di depan orang banyak? Di koridor loker sekolah pula.” Kataku pada diri sendiri. Gumaman dariku menggema ke seluruh ruangan kelas yang sudah kosong.
Aku menarik napas. Ugh, so much for a calm and quiet high school years. Apa ini adalah karma karena aku sudah membodohi dua kakak lelakiku?
“Oh, kau belum pulang?”
Kepalaku menoleh ke arah suara. Di ambang pintu, seorang lelaki yang aku lupa namanya sedang berdiri sambil tersenyum ke arahku. Giginya putih dan tajam. Seringainya terlihat aneh. Aku mendadak merasa tak enak saat melihat wajah lelaki itu. Dia mengenakan baju hangat besar dan tebal, disertai kaca mata hitam yang sama tebalnya. Wajahnya sedikit merah. Seperti anak kecil yang hilang arah. Aku meringis di dalam hati. Dia terlihat sedikit aneh.
“Siapa ya . . .?” tanyaku pelan. Aku tidak ingin menyinggung dirinya.
“Oh . . . hmh . . . Lucas.”
“Lucas?”
“Lucas.” Seringainya tambah lebar dan lebar dan lebar. Aku merinding. “Kau tidak tahu siapa aku?”
“Hmh . . .” Aku mencoba untuk berpikir dan menebak siapa Lucas di ambang pintu itu, namun nihil. Aku tidak mengenalnya. “Maaf.” Kataku sambil menggeleng pelan.
Aku berdiri dari kursi. Aku rangkul tas sekolahku dan berjalan menuju pintu dengan was-was. Lucas ini memang terlihat tidak mengancam atau sebagainya, tapi rasanya aku tidak nyaman berada dekat dengan lelaki itu. Dia mengeluarkan aura yang aneh. Aku ingin lari jauh dari hadapanya.
Saat kami sudah bersebelahan di ambang pintu, mendadak tangannya meraih lenganku. Aku membeku di tempat, mataku membesar melihat jemarinya yang melingkar di pergelangan tanganku. Sial. Sial. Sial!
Pikiranku terus kembali pada tikus menyedihkan di dalam kotak bingkisan. Teror. Teror. Teror. Aku sedang diteror. Dan mendadak ada lelaki aneh yang muncul di ambang pintu kelasku, berseringai menyeramkan, lalu menahan aku seperti ini? Semoga ini hanya kebetulan. Semoga aku salah sangka.
“Ada apa, ya?” aku berterima kasih di dalam hati karena suaraku tidak bergetar atau memberikan kesan kalau aku takut.
“Kau mau ke mana?” tanya Lucas masih dengan senyum lebar. Tapi aku mendengar nada kesal dan manja dari suara itu. Seperti anak yang ditinggalkan Ibunya. Aku merasa dingin di sekujur tubuhku. Lucas tidak boleh diremehkan. Berbagai macam peringatan menari di pikiranku. Kabur. Kabur. Kabur.
Aku memberikan dia senyum tipis. “Pulang, tentu saja. Bukankah sekolah sudah berakhir?”
“Oh . . . pulang. Ayo!”
Aku tidak sempat mengatakan apa-apa saat dia menarik lenganku dengan kuat dan secara teknis sedang menyeret aku di lorong kelas yang sudah kosong. Bibirku tertutup rapat. Aku beradu mulut dengan diriku sendiri di dalam hati. Apa yang sedang terjadi?
“Lucas,” panggilku. “Lucas,” aku mencoba sekali lagi. Kali ini, aku mencoba melepaskan tanganku. “Lucas!”
Lelaki itu berhenti. Bibirnya merajuk ke depan saat aku masih berusaha melepas pegangan mematikannya. “Ada apa?”
“Lepaskan aku.”
“Kenapa?”
Aku mulai merasa takut. “Lucas, lepaskan aku.”
“Tapi kan . . . kau mau pulang?”
“Iya, lalu apa hubungannya denganmu?” tanyaku rendah. Aku masih berusaha melepaskan jemarinya. Kulitku mulai memerah.
“Ya . . . kau akan pulang bersamaku.”
Senyum yang aku berikan sangat tipis dan terpaksa. “Tidak terima kasih, aku bisa pulang sendiri. Tolong lepaskan.”
“Pulang sendiri?” Lucas menelengkan kepalanya. “Tapi rumahmu bersamaku, Vanessa.”
Rasanya napasku tercekat. Aku akan terkena serangan panik saat itu juga. Rumahmu bersamaku. Sial. Sial!
Aku berusaha melepaskannya, namun lelaki itu kembali menyeret aku. Ketika aku akan berteriak, tahu-tahu saja Lucas sudah menarik aku ke dalam dekapannya dan menutup mulutku. Tapi untung saja. Untung saja. Satu orang bodoh masih ada di lorong sekolah.
“Hei,” panggilnya. “Mau apa kau bersama properti milikku?”
Untuk pertama kalinya di hidupku, aku merasa senang karena kehadirannya.
TIberius Florakis terlihat membunuh di ujung lorong kelas. "Apa yang kau lakukan memegang sesuatu yang milikku seperti itu?"