Usul Rindu

1742 Kata
Rivano ketiduran. Ia duduk di lantai lorong sambil menekuk kedua kakinya. Kepalanya ia telungkupkan di atas kedua tangan yang menyilang di atas lutut. Alenta dibuat terkejut mendapati sosok Rivano ada di samping unit apartemen Dami. Semula Alenta ragu bahwa yang dilihatnya adalah Rivano. Setelah ia perhatikan lebih dekat lagi, ternyata itu sungguhan Rivano, bodyguard-nya. Tepukan tangan di sebelah bahunya membuat Rivano terbangun. Kepalanya mulai bergerak lalu mendongak. Detik itu Rivano terpana. Kedua matanya tertuju lurus menatap mata Alenta. Saat itu, Rivano terdiam bak patung. Alenta sama diamnya, namun dahinya berubah mengernyit seolah heran. "Heh," tegur Alenta menepuk bahu Rivano sekali lagi. Kesadaran Rivano kembali detik itu. Sontak ia memundurkan kepala lantas berdiri. Kedua kakinya terasa kaku karena terlalu lama ia tekuk. Ia menggosok belakang lehernya kemudian menyapa Alenta agak canggung. "Sejak kapan lo di sini? Tahu dari mana gue ada di apartemen Dami?" tanya Alenta menatap curiga. "Lo ngikutin gue ya?" Rivano mengangguk, ia tidak mengelak karena faktanya memang benar. "Iya, Mbak. Tadi saya ke sini sama Mbak Tiara." "Tiara?" gumam Alenta. Dalam hati Alenta bergumam. Rupanya Tiara tahu ke mana tujuan ia pergi.... "Sekarang Tiara ke mana?" tanya Alenta celingukkan. "Pulang," jawab Rivano. Alenta menjilat bawah bibirnya kemudian bersedekap. "Dan lo sendirian di sini? Kenapa nggak telepon gue aja?" Sebelah alis tebal Rivano terangkat heran. Ini kali pertama Alenta bersikap normal padanya. Bahkan, jika Rivano tidak salah menanggapi, Alenta menunjukkan raut wajah yang bersalah. Sedingin apa pun Alenta, tidak mungkin membiarkan ada orang yang menunggunya selama itu. Apalagi di lorong yang dingin seperti ini. Tiara juga! Kenapa tidak memberitahunya saja saat ditelepon tadi, kalau perempuan itu bersama Rivano sejak tadi. Kenapa malah membiarkan bodyguard-nya menunggunya hingga ketiduran. Alenta mendecakkan lidah. Ia mengulurkan sebelah tangannya di depan Rivano. "Mana?" "Apanya?" tanya Rivano bingung. "Kunci mobil," jawab Alenta. "Lo ke sini nggak mungkin jalan kaki atau ninggalin mobil gue di parkiran studio tempat gue syuting tadi, kan?" "Oh." Rivano tersadar lalu merogoh celana jins-nya. Ia memberikan kunci mobilnya pada Alenta. Alenta meraihnya lantas berjalan lebih dulu. Rivano pikir, perempuan itu pasti akan meninggalkannya seperti yang sudah-sudah. Namun, saat langkah kedua, Alenta memutar badan dan menegurnya. "Masih betah di sini emang?" "Hm?" Rivano memiringkan kepala. Alenta mendengkus sebal. "Lo masih mau tidur di bawah kayak tadi? Nggak mau pulang?" "Ah!" Rivano membulatkan bibir. Buru-buru Rivano mengikuti langkah cepat Alenta tanpa bertanya. Keduanya masuk ke dalam lift begitu pintu terbuka. Di dalam hanya ada mereka berdua. Rivano berdiri tepat di belakang Alenta. Diam-diam memerhatikan Alenta dari pantulan pintu lift yang tampak samar. Entah berapa lama Rivano menunggui Alenta di depan pintu apartemen Dami. Ia mengikuti sesuai arahan Tiara untuk tidak memaksa Alenta—kecuali Dami bersikap macam-macam pada perempuan itu. Kata Tiara, menghadapi Alenta gampang-gampang susah. Alenta tidak suka dipaksa. Jadi, yang dilakukan Rivano hanya berdiri menunggu Alenta keluar, lalu tanpa sadar malah ketiduran hingga perempuan itu keluar dan membangunkannya. Di tengah kesunyian di dalam lift, Alenta dan Rivano mendengar suara. Seperti suara perut yang keroncongan. Rivano membuang pandangannya ke arah lain. Sebentar menunduk, sebentar mendongak ke atas. "Barusan suara perut lo?" tegur Alenta. Intonasi suaranya kembali dingin. "Hm. Apa?" tanya Rivano pura-pura tidak paham. Alenta menengok sepintas. Ia memerhatikan Rivano selama tiga detik. "Lo laper?" "Nggak," elak Rivano. Kruyuuuk. Sontak, Alenta menahan tawa. Rivano mengubah ekspresi wajahnya lebih dingin. Dalam hati ia mengutuk diri sendiri karena ketahuan berbohong. Ting! Pintu lift terbuka. Mereka berdua sampai ke lantai yang dtuju. Alenta berjalan di depan Rivano. Sebelum ia menemukan mobil diparkir, Alenta berhenti sebentar, kemudian memberitahu Rivano. "Biar gue yang nyetir mobilnya." "Tunggu," ujar Rivano menahan langkah Alenta. "Biar saya aja Mbak. Saya nggak apa-apa kok." Alenta tersenyum sinis. Ditatapnya Rivano beberapa detik lantas membalas, "Jangan besar kepala dulu. Gue bersedia nyetir karena takut lo bawa mobil sembarangan. Lo masih ngantuk, kan? Gue masih sayang nyawa." Rivano merapatkan bibir. Ia akan menarik kata-katanya yang tadi. Ternyata, Alenta masih bersikap sinis padanya. Bahkan yang keluar dari mulutnya terdengar nyelekit di hati. *** Rivano heran pada Alenta. Sudah menawarkan diri menyetir mobil sendiri, sekarang perempuan itu mengajaknya pergi makan. Bahkan Alenta mengatakan akan menatraktirnya makan. Walau cuma ditraktir makan nasi goreng gerobakan, sudah begitu makan di dalam mobil pula, tapi Alenta tampak tulus. Biar nasi goreng di pinggir jalan, pun, rasanya tidak kalah enak dengan yang di restoran. Masing-masing di tangan mereka memegang piring berisi nasi goreng. Rivano menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya sesekali mengamati wajah Alenta dari samping. Benar kata orang, dilihat dari angle mana pun, Alenta memang cantik. Kalau Rivano boleh jujur, perempuan ini jauh lebih cantik dilihat secara langsung daripada di TV. "Udah lihatin gue-nya?" Alenta menegur Rivano untuk ke sekian kali. Rivano nyaris tersedak makanannya. Buru-buru ia mengambil sebotol air mineral dan meneguknya hingga tersisa setengah. Alenta tampak tenang, tidak marah, tapi tatapannya mengintimidasi. Rivano menelan ludah tanpa kentara. Ia mengatur napas, berusaha terlihat biasa saja walau ada rasa gugup. Mulut Rivano rasanya gatal ingin bertanya kepada Alenta. Ada banyak sih pertanyaannya. Tapi, Rivano menebak seperti apa reaksi yang Alenta tunjukkan nanti. "Tanya aja kalau ada yang mau lo tanya." Alenta mengunyah nasi goreng di dalam mulut. Rivano menyudahi acara makannya. Ia meletakkan piring di atas dua pahanya yang terapit. "Kenapa Mbak Alenta baik sama saya hari ini?" "Kenapa juga lo kelihatan canggung natap gue?" balas Alenta, sukses membuat Rivano menelan ludah susah payah. Bukan cuma Rivano yang merasa sikap Alenta kelewat dingin. Komentar pertama Alenta ketika pertama mereka bertemu, ah, bukan, lebih tepatnya setelah Rivano resmi menjadi bodyguard-nya. Rivano menatap Alenta dingin, tidak ada ekspresi. Namun hari ini, lelaki itu tampak berbeda. Jadi canggung. Bahkan Alenta mendapati Rivano gugup lewat gerakkan jarinya memegangi piring. Alenta menyuapkan nasi goreng terakhirnya ke dalam mulut. Rivano belum juga menjawab pertanyaannya. Memangnya Rivano harus menjawab apa? Atau ia harus jujur saja kalau ia gugup, itu karena menatap mata Alenta dari dekat saat membangunkannya tadi. Oh, tidak. Sangat tidak mungkin Rivano mengatakannya. "Hmm..." Rivano menggaruk ujung hidungnya. "Saya bingung aja kenapa Mbak Alenta baik hari ini. Saya jadi kepikiran. Mbak baik sama saya apa lagi merancakan sesuatu supaya saya mundur jadi bodyguard-nya Mbak Alenta?" Uhuk! Alenta tersedak dan terbatuk. Dengan cepat Rivano menyambar botol minum milik Alenta lantas membuka tutupnya. Alenta menerimanya dan meneguknya perlahan. "Lo mikir gitu?" tanya Alenta menunjukkan ekspresi terkejut. "Saya pikir begitu," gumam Rivano. Alenta meneguk sisa airnya yang tinggal sedikit. Nasi gorengnya sudah tandas, botol minumnya pun telah kosong. Ia menoleh ke samping tempat Rivano duduk. "Baik yang lo maksud ada di bagian yang mana? Karena gue nggak marah lo ketiduran karena nunggu gue? Atau karena gue traktir lo makan?" "Mbak Alenta nyetir mobil sendiri," gumam Rivano menambahkan. Alenta pura-pura terbahak. "Gue udah bilang kan. Gue takut lo bawa mobil asal-asalan. Kalau sampai kita kecelakaan, gimana? Lo mau tanggung jawab?" Jauh dari dalam lubuk hati Alenta berkata, ia tidak ingin ada orang yang kena sial karena dirinya. Karena menungguinya, Rivano sampai ketiduran di lantai lorong. Kalau ia memaksa lelaki itu menyetir dalam keadaan masih mengantuk dan terjadi sesuatu. Misal: kecelakaan atau semacamnya. Alenta akan merasa bersalah. Mereka mengalami kecelakaan karena Rivano kelelahan menunggunya. "Udah paham, kan?" Alenta mendorong pintu mobil hendak keluar. "Iya, Mbak," balas Rivano, mengakhiri pertanyaannya. *** "Telah ditemukan sebuah mayat perempuan di tumpukan sampah. Perempuan itu diketahui berinitial F. Sampai hari ini Polisi masih menyelidiki kasus ini...." Davian dan Rindu sedang ada di ruang tengah, menonton acara TV bersama. Rindu menyandarkan kepalanya ke bahu Davian, sebelah tangannya mengapit tangan lelaki itu sembari bergumam, "Setiap nonton berita di TV, terus ada berita pembunuhan gini, gue jadi inget sama Fano." Davian yang semula fokus menonton TV, jadi menoleh ke Rindu. "Kangen Fano, ya?" Rindu mengangguk-angguk. "Lo ngerasa jadi lebih sepi semenjak Fano meninggal nggak, sih?" "Hmm..." Davian bergumam, menarik lengannya yang diapit Rindu kemudian berpindah merangkul bahu perempuan itu. "Gue juga. Kadang, gue masih ngerasa Fano ada di sekitar kita." Yang dirasakan Davian memang benar. Fano masih ada di sekitar mereka. Fano berada di samping Davian, kadang Rindu atau Natla. Entah karena Davian yang peka, atau cuma perasaan Davian saja yang bisa merasakan keberadaannya. Fano merindukan teman-temannya. Juga kenangan yang mereka ciptakan. Walau kadang Fano suka berdebat dengan mereka, khususnya Rindu dan Natla, tapi Fano berkata jujur bahwa ia sangat menyayangi teman-temannya. Bukan satu atau dua tahun bersama. Tapi sejak mereka duduk di bangku pertama SMA. Andai saja Davian bisa melihatnya. Atau mungkin Natla dan Rindu, pasti kondisinya tidak serumit sekarang. Ia tidak perlu menyeret Dami lalu membuat semuanya jauh lebih kacau. Fano tidak perlu merasa sakit hati mendengar Alenta disebut sebagai pembawa sial oleh Dami. "Coba lo lihat gue baik-baik, Dav," ujar Fano memelas. "Lo bisa ngerasain gue ada di sekitar kalian, kan? Ayo, dong, lihat gue... nih, gue ada di depan lo, Dav." Mau memohon sekeras apa pun, nyatanya tidak ada yang bisa melihat sosoknya selain Dami. Mau Fano berteriak bahkan menangis meraung sekali pun, Davian dan yang lain tidak akan bisa melihat wujudnya. "Gue aja merasa kehilangan Fano banget. Walau semasa hidup dia nyebelin, dia bawel, dia rusuh, gue sayang sama Fano. Dia, tuh, salah satu temen yang baik ke kita." Davian mengangguk setuju. "Apalagi Alenta, ya?" Rindu mendongak, mengerjapkan matanya ketika menatap mata Davian. Fano jadi lemas lagi mendengar nama Alenta disebut. Setiap mengingat Alenta, Fano teringat apa saja yang dilakukan perempuan itu setelah ia meninggal. Bukan cuma menangisinya hampir setiap malam. Tapi Alenta sering pergi ke makamnya. Duduk berjongkok sendirian tanpa ditemani siapa pun. Tidak peduli panas atau kehujanan sekali pun Alenta tetap di sana sambil menatap batu nisannya. "Apa kita jodohin Alenta sama cowok aja ya?" usul Rindu penuh semangat. "Gimanapun Alenta harus move on, Dav! Emang lo mau dia nangis terus karena inget Fano?" Fano tidak jadi sedih. Usul Rindu malah membuatnya senewen! "Rin," ujar Davian sabar. "Biarin Alenta pake cara dia sendiri untuk move on. Jangan dipaksa. Gue nggak mau hubungan lo sama Alenta malah jadi renggang karena hal gini." "Tuh! Dengerin Davian, Rin!" Fano ikut nimbrung. "Lo tahu gimana sedihnya Alenta sedih kehilangan Fano. Semua butuh waktu, ada proses untuk sembuh. Gue tahu niat lo baik. Tapi, buat jodohin Alenta sama cowok lain bukan ide yang bagus," kata Davian. "Terus, lo mau biarin Alenta sedih sampai kapan? Dav, Fano udah meninggal. Dia udah ninggalin kita selamanya. Gue begini bukan berarti maksa Alenta buat lupain Fano. Justru gue sayang sama mereka. Apa lo nggak mikir Fano bakal sedih lihat Alenta nangis terus? Sedih terus, hah?" Ada benarnya juga. Fano ikut sedih melihat Alenta menangis. Tapi.... merelakan Alenta untuk lelaki lain, apa Fano bisa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN