"Udah jelas sekarang?"
Dami merapatkan bibir menahan malu. Ia sendiri yang menuduh Alenta datang tanpa izin, padahal Dami sendiri yang menelpon Alenta untuk datang ke apartemennya. Terlihat dari daftar panggilan dari ponsel lelaki itu.
Alenta meletakkan ponsel milik Dami ke meja. Dami diam-diam memerhatikan Alenta sedang mengobati luka di punggung tangannya sangat telaten. Dami berdeham ketika perempuan itu menggerakkan kepala dan menatapnya tanpa menegur. Dami membuang tatapannya ke arah jendela sebelum ketahuan jika sejak tadi memerhatikan perempuan itu.
"Gue nggak tahu apa alasan lo banting semua barang di apartemen," ujar Alenta sambil memasang perban pada punggung tangan Dami. "Dan gue nggak paham kenapa lo hubungin gue. Bukan Raka atau...," Alenta mengatupkan bibir. Nyaris saja ia menyinggung soal keluarga Dami. "Adam atau anggota Missing You yang lain."
"Bukan urusan lo," balas Dami menarik tangannya yang selesai diperban.
Alenta tidak mau ambil pusing atas sikap Dami. Hal seperti ini bukan yang pertama. Sebelumnya ia juga diperlakukan tidak kalah sinis dari ini.
Ia membereskan kotak obat lalu keluar kamar. Dami melirik kepergian Alenta dari kamarnya kemudian menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Diam-diam Dami menyeringai sinis. Tanpa Alenta sadari, Dami sedang menjebaknya. Tidak. Dami tidak berpikir menjebak Alenta agar terseret skandal kencan atau semacamnya. Tapi, Dami sengaja menarik perhatian Alenta untuk memancing emosi Fano.
Ya... semua yang terjadi di apartemennya, berpura-pura mabuk dan menghancurkan seluruh perabotan adalah idenya lalu menelpon Alenta—memang rencananya. Ia melakukannya agar Fano menyesal karena sudah menyeretnya sejauh ini ke dalam masalah yang dibuat hantu lelaki itu! Suruh siapa Fano memaksanya menjaga Alenta? Dari awal Dami sudah menolak! Tapi Fano memaksa terus dan terus sampai Dami muak!
Teringat kejadian kemarin sewaktu Fano dan dirinya bertengkar. Dami marah besar kepada mantan rivalnya itu. Fano begitu lancang menyebut keluarga dan mendiang ibunya. Fano sok tahu! Kalau pun bahaya mengancam Papa dan keluarga barunya, Dami tidak peduli. Biar saja orang-orang menjijikan itu dibunuh!
Pengkhianat keluarga, tukang selingkuh, dan wanita ular itu tidak pantas hidup terlalu lama! Perasaan saja mereka tidak punya! Untuk apa hidup di dunia terlalu lama jika kedua orang tua itu tidak berguna?!
Mendengar suara langkah Alenta akan masuk ke kamar, Dami pura-pura berbaring dan lemas. Padahal ia baik-baik saja. Ia memang meminum alkohol, namun masih dalam batas wajar. Tidak sampai jatuh pingsan apalagi tidak bisa berbuat apa-apa. Dami sadar, sangat. Bahkan yang dilakukan Alenta sejak tadi ia memerhatikannya.
Alenta kembali ke kamar sembari membawa nampan di tangan. Entah apa isinya. Kalau dipikir lagi, Alenta tipikal perempuan yang mudah dibohongi. Sandiwara yang dilakukan Dami ternyata berhasil. Begitu bodohnya Alenta mempercayainya. Alenta membantunya berbaring di sofa, menyapu, mengepel, kemudian membantunya pergi ke kamar setelah berpura-pura bangun. Dan sekarang.... Alenta memasak untuknya. Astaga, pantas saja Fano menyukai perempuan ini! Atau Fano memang suka tipikal seperti Alenta? Lemah dan ceroboh? Menjaga dirinya saja tidak bisa!
Diletakkannya nampan ke atas meja nakas. Ia duduk di pinggir ranjang lantas mengambil semangkuk bubur. Dami mengernyit, apa makanan orang sakit harus bubur?
"Gue bukan orang sakit yang harus lo kasih makan bubur!" ketus Dami. "Mending lo bawa pergi dari sini."
Alenta meletakkannya kembali ke nampan. Ia bersedekap lalu bertanya, "Oke. Lo mau makan apa? Bilang aja..."
"Nggak perlu. Masakan lo nggak cocok sama lidah gue," jawab Dami.
"Lo tinggal bilang dan gue bisa beli keluar atau pesan." Alenta belum mau menyerah.
"Gue punya uang, dan gue bisa beli sendiri."
Astaga! Alenta salah bicara lagi. Alenta bukan bermaksud membuat Dami tersinggung. Alenta hanya berniat menawarkan. Tapi reaksi Dami tetap saja buruk seperti yang sudah-sudah.
"Maksud gue lo bisa beli pake uang lo. Gue cuma bantu buat pesan aja," ujar Alenta sabar. "Apa dengan kondisi lo kayak gini masih bisa pergi keluar? Kan, nggak."
Kepala Dami bergerak. Sepasang mata hitam legam Dami tertuju lurus pada Alenta. Sepintas muncul pertanyaan di kepala Dami. Kenapa Alenta masih sabar menghadapinya padahal ia sudah memperlakukan perempuan itu sangat buruk. Ditambah Dami pernah menyebut Alenta sebagai pembawa sial. Seharusnya Alenta terus marah padanya. Jangan sesaat, lalu kembali bersikap baik.
Kenapa? Apa lo mulai berpikir buat luluh?
Dami tanpa sadar mengacak rambutnya sampai Alenta menatap ke arahnya. Walau Alenta tidak bertanya, namun dari raut wajah perempuan itu kentara sedang penasaran.
"Jadi, lo maunya gimana?" tegur Alenta. "Lo mau nahan laper sampai kapan emang? Gue cuma mau bantu lo doang. Tolong sekali aja lo jangan berburuk sangka sama orang."
Dari cerita Raka dan Dimas waktu itu, Alenta menangkap Dami memang orangnya kurang ramah. Suka berburuk sangka pada orang lain. Semua orang dianggap buruk seperti dirinya. Oh, ya Tuhan! Alenta bukan bermaksud mengolok Dami. Tapi memang kenyataan begitu. Apa Dami menganggap semua orang punya perangai yang sama buruknya seperti dirinya?
"Mau gue kelaperan atau nggak itu bukan urusan lo," ujar Dami. "Lebih baik lo pergi dari sini, karena gue nggak mau kena sial lagi kayak yang udah-udah!"
Alenta menelan ludah susah payah. Ia disebut sebagai pembawa sial lagi. Alenta menahan diri agar tidak terpancing emosinya. Ia mengepalkan kelima jarinya tanpa kentara lalu menunduk selama dua detik untuk meredam emosi.
Ia ingat tujuannya kemari. Ia teringat berapa kali Dami menyelamatkan nyawanya walau ia tidak meminta. Sudah seharusnya Alenta bertanggungjawab. Toh, yang dikatakan Dami tidak sepenuhnya salah. Ia memang pembawa sial. Siapa pun yang ada didekatnya pasti akan mengalami nasib buruk.
Alenta mengangkat kepalanya setelah dua detik menunduk. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku. Sambil memilih menu untuk Dami, perempuan itu mengatakan, "Gue pesanin lo makanan sebelum gue pulang. Terserah mau lo makan atau buang nantinya."
"Gue minta lo pergi! Bukan pesanin gue makanan! Hei!" teriak Dami begitu Alenta keluar kamarnya dengan santai.
***
"Mau sampai kapan lo lihatin mereka?" tanya Naomi sambil bertopang dagu.
Di depan mereka sekarang ada mamanya Fano dan teman-teman lelaki itu. Dua orang perempuan serta satu lelaki tampan. Ya, Tuhan.... akhir-akhir ini Naomi jadi sering melihat lelaki tampan. Oh! Lebih tepatnya setelah bertemu dengan hantunya Fano.
"Yang cowok namanya siapa?" Naomi menunjuk teman lelaki Fano.
"Davian," jawab Fano.
"Cakep, ya," gumam Naomi senyum-senyum.
"Nggak usah ganjen," cibir Fano. "Di sebelahnya, tuh. Tuh..." Satu jari lelaki itu menunjuk ke Rindu. Naomi mengikuti ke mana ujung jari Fano menunjuk. "Pacarnya Davian."
"Yaaaah...." Naomi mendesah kecewa.
Fano menatap Mama dan ketiga temannya penuh kerinduan. Selain berat meninggalkan Alenta, Fano sama beratnya meninggalkan keluarga dan teman yang sangat baik padanya. Padahal ia sudah meninggal, tapi Rindu, Natla dan Davian masih sering kemari menjenguk mamanya. Ketiga temannya itu datang menghibur orang tuanya.
Ada setetes air mata yang jatuh. Fano menyeka air mata yang jatuh. Biarpun Fano lelaki, tetapi hatinya sangat lembut. Coba tanya apa hobi Fano. Menonton drama dan film. Bahkan Fano tidak pernah merasa gengsi meneteskan air mata saat ada adegan sedih.
Fano dibesarkan Mama seorang diri. Papanya sudah meninggal dari kecil. Selain Mama, Fano memiliki seorang Kakak. Mama yang pekerja keras. Walau sibuk bekerja untuk membiayai kehidupannya dan sang Kakak, Mama tidak pernah lupa memberi perhatian dan kasih sayang secara utuh.
"Woah. Sebelum jadi hantu, lo salah satu manusia yang beruntung." Naomi mengoceh. "Lo punya Alenta, temen-temen, dan keluarga yang sayang banget sama lo. Nggak heran kalau lo berat ninggalin mereka semua."
Kedua bahu Naomi turun dengan lesu. Ia jadi bertanya pada dirinya. Kalau keluarganya memang masih ada, apa akan sesedih seperti orang tua Fano? Seperti teman-teman Fano? Apa hidup Naomi semasa hidup sama beruntungnya seperti lelaki itu?
"Nggak ada orang tua yang nggak sedih kehilangan anaknya." Fano bergumam sedih. "Begitu pun keluarga lo. Walau ingatan lo nggak tersisa, tapi gue yakin keluarga yang lo tinggalin pasti selalu inget lo. Pasti mereka sedih saat tahu lo meninggal."
Naomi tersenyum getir. Tiba-tiba dadanya terasa sesak, begitu pun kedua matanya. Seperti ada sesuatu yang mendesak ingin keluar.
Untuk pertama kalinya Naomi menangis. Entah apa alasan yang mendasarinya sampai meneteskan air mata. Kalau memang yang dikatakan Fano itu benar, ia ingin melihat Mama atau papanya sekali saja. Tidak bisakah Tuhan mengembalikan ingatannya walau cuma sedetik saja?