"Damiii?" pekik Natla tidak percaya.
Natla menarik lengan Alenta menjauhi ruang perawatan Dami. Bukan cuma perempuan itu saja yang merasa tidak yakin jika lelaki yang menolongnya adalah Dami. Astaga! Ini pasti salah! Apa kepala Dami barusan kejatuhan sesuatu sampai mau mengorbankan dirinya untuk orang lain?
"Gue nggak salah lihat, kan?" gumam Rindu.
Alenta kebingungan kenapa teman-temannya terlihat kaget jika yang menyelamatkannya adalah Dami. Memangnya kenapa? Okay, baiklah. Dami memang sangat angkuh dan ketus. Tapi kenyataannya ya Dami orang yang telah menyelamatkannya.
"Oh, gue lupa." Davian menyadari kebingungan Alenta. "Lo berdua, nih. Jelas Alenta nggak tahu siapa itu Dami."
Berikutnya, Rindu juga menyadari. Perempuan berambut panjang itu menepuk sebelah bahu Natla kemudian mengatakan, "Ya jelas, La! Alenta nggak tahu kalau kita kenal Dami. Dia masuk ke sekolah pas Dami udah out, kan!"
"Kalian ngomongin apa sih?" tegur Alenta pada teman-temannya.
Natla manggut-manggut ketika mengingatnya. Ia menjelaskan kenapa mereka semua mengenali Dami. Bukan karena Dami vokalis Missing You. Mereka mengenal lelaki itu karena dulu pernah sekolah di tempat yang sama. Namun sebelum kelulusan, Dami memilih keluar dari sekolah, lalu tidak kedengaran lagi kabarnya. Setelah Natla dan lainnya lulus, tidak lama Dami muncul di TV bersama Missing You. Dulu Missing You belum terkenal seperti sekarang. Masih merintis karir di awal.
"Ah..." Alenta bergumam pelan. Pantas saja Natla dan kedua temannya tidak percaya setelah melihat siapa yang menolongnya.
"Terus, gimana sama keadaan Dami?" tanya Natla sambil bersedekap.
"Lukanya lumayan parah sampai kepalanya harus dijahit." Alenta menjelaskan sembari menggosok lengannya. "Tinggal nunggu Dami siuman aja."
Rindu mengajak Alenta duduk sambil menunggu. Diikuti oleh si kembar Natla dan Davian. Rindu menjelaskan kalau tadinya ia menelpon ke nomor Alenta namun yang mengangkat teleponnya adalah Tiara. Dari Tiara, Rindu mengetahui bahwa ada kecelakaan di atas panggung. Rindu pun panik, takut terjadi sesuatu kepada Alenta. Sebelum pergi, ia menelpon Davian mengabari hal ini. Jadilah mereka kemari bersama-sama ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, hanya ada Alenta yang mereka temui. Benar-benar sendirian. Entah pergi ke mana Tiara. Rindu bertanya apa Alenta baik-baik saja? Atau ada anggota tubuhnya yang terluka sembari memutar badan perempuan itu. Wajah sendu Alenta dihiasi senyum sepintas lalu menggeleng. Alenta mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. Tergores sedikit pun tidak. Rindu, Natla, dan Davian menarik napas lega. Mereka khawatir Alenta terluka.
Natla, Davian dan Rindu menjadi saksi perubahan Alenta setelah Fano meninggal. Walau pada dasarnya Alenta memang pendiam dan tidak banyak bicara. Tapi kematian Fano berdampak pada kehidupan Alenta. Perempuan itu jadi lebih pendiam, tidak banyak bicara jika tidak ditanya. Ekspresi wajahnya selalu begitu-begitu saja. Melihat temannya terus sedih, Rindu dan yang lain selalu mencari cara untuk menghibur Alenta. Tapi sampai hari ini, Alenta masih tetap saja murung. Entah harus melakukan cara bagaimana lagi agar perempuan itu bisa seperti sediakala.
"Makasih," gumam Fano menyunggingkan senyuman sedih. "Walau gue udah pergi, lo semua masih setia nemenin Alenta. Maaf, gue nggak bisa tepatin janji gue ke lo semua."
Fano merindukan kebersamaan mereka. Seperti saat-saat masih sekolah dulu. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama. Kapan momen itu akan datang lagi? Fano menggeleng, memandangi teman-temannya begitu sedih.
"Gue masih belum percaya." Natla mengepalkan tangan lalu berdiri.
"Nggak percaya apa?" tanya Davian pada saudara kembarnya.
"Dami gitu, lho! Dami!" Natla menunjuk ke pintu ruang perawatan Dami. "Orang yang nolong Alenta itu Dami, Dav!"
Davian bersedekap. "Ya terus kenapa kalau itu Dami?"
"Tahu lo, La," sambung Rindu. "Yang namanya orang tuh pasti berubah. Dulu boleh aja dia buruk. Tapi di masa depan siapa tahu memang mau berubah jadi lebih baik."
Davian manggut-manggut tanda setuju.
Natla mengangkat sebelah tangannya ke udara. "Rin, lo nggak inget Dami kayak gimana?! Rasanya aneh banget dia mau baik sama orang!"
"Lo tuh, ya." Davian berdiri lalu menoyor kepala Natla. "Berisik. Mending lo duduk, dan kita tunggu sampai Dami siuman."
Natla mengerucutkan bibir. Ia mengusap kepalanya yang baru saja ditoyor Davian. Natla mengatakan sesuai fakta. Di zaman sekolah dulu, Dami itu badung. Dami itu licik dan jahat! Tanyakan saja pada orang yang dulunya satu sekolahan sama Dami. Dami kayak gimana? Pasti yang keluar soal kejelekkannya saja!
"Apa?" Davian mendelik, bersiap mendamprat kembarannya.
Tidak bisa dibiarkan. Natla masih penasaran apakah lelaki yang di dalam sungguhan Dami atau bukan. Natla akan menunggu sampai lelaki itu siuman!
***
Fano menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari sosok Naomi. Lima menit yang lalu hantu perempuan itu ada di sampingnya. Sekarang tahu-tahu pergi entah ke mana.
Fano itu hantu baru. Belum banyak hantu-hantu yang dikenalnya selain Naomi. Bukan cuma itu saja. Terkadang Fano malah lupa kalau dirinya itu hantu. Dulu saat pertama kali melihat Naomi ada di rumah Alenta, bisa-bisanya Fano mengira perempuan itu manusia. Dengan polosnya Fano bertanya apa Naomi bisa melihat wujudnya? Naomi mengerutkan dahi kemudian mengangguk. Fano girang bukan main. Ia pikir, ia bisa meminta bantuan Naomi untuk menjaga Alenta dari orang jahat. Tapi setelah tahu kalau Naomi itu juga hantu, pupus sudah harapan Fano. Sepertinya, Tuhan memang menunjuk Dami sebagai perantaranya. Buktinya, cuma Dami yang bisa melihat wujudnya.
Di sebuah lorong, Fano berpapasan dengan dua orang petugas rumah sakit berseragam warna putih. Dua orang lelaki itu mendorong sebuah brankar kemudian berhenti ke sebuah ruangan. Fano berhenti sejenak, memandangi papan nama di atas pintu. Fano bergidik. Kedua tangannya ia lipat. Pantas saja bulu-bulu halus di tangannya jadi berdiri. Ternyata, ruangan yang ia lewati adalah kamar mayat.
"Kasian ya." Obrolan mulai berlangsung di antara dua petugas tersebut. "Masih muda, udah dipanggil sama Tuhan."
Petugas satunya menggeleng. "Yang namanya kematian nggak bisa dipatok sama usia. Tetangga gue, paginya kelihatan sehat, sorenya tahu-tahu meninggal."
"Hih!" Si petugas pertama bergidik lagi.
"Udah, ah. Lo jangan ngobrol mulu. Buruan pindahin!" kata petugas satunya lagi, yang badannya lebih tinggi dan berambut hitam lebat.
Fano mengintip ke dalam kamar mayat. Mengikuti langkah dua petugas rumah sakit dari belakang. Seperti yang dikatakan petugas yang tinggi itu. Usia manusia tidak ada yang bisa ditebak. Kematian seseorang tidak bisa diprediksi. Apalagi dipatok dari berapa usianya. Lihat Fano sekarang. Usianya masih di awal dua puluhan tapi jadi arwah penasaran. Tidak jelas mau ke mana, harus apa setelah dirinya meninggal.
Kain penutup jenazah tanpa sengaja jatuh ke lantai. Fano memekik kemudian menunjuknya. Salah satu petugas segera membungkuk dan memungutnya. Sesaat, Fano menatap jenazah di depannya. Kepalanya agak ia miringkan, bergumam sendiri saat kedua matanya menatap wajah si jenazah.
Seorang lelaki, bertubuh agak gemuk, kira-kira dua atau tiga tahun di atas usia Fano. Untuk sekarang Fano melupakan Naomi. Tadinya ia pergi untuk mencari hantu perempuan itu. Tapi berpapasan dengan dua petugas rumah sakit sambil mendorong sebuah jenazah masuk ke dalam kamar mayat, Fano jadi penasaran lantas ikut masuk.
"Kayaknya gue pernah lihat orang ini, deh." Fano bergumam sembari menggaruk ujung kening. "Atau cuma perasaan gue doang?"
Dua petugas tersebut segera menyelimuti jenazah. Setelah dirasa pekerjaannya sudah beres, kedua petugas itu bersiap pergi dari kamar mayat.
"Ah! Cuma perasaan gue doang kali ya." Fano mengangkat wajahnya. Ia kembali teringat apa yang seharusnya ia lakukan. Yaitu mencari Naomi.
Fano berjalan menembus pintu kamar mayat yang telah ditutup. Sembari berjalan menjauhi pintu, Fano masih kepikiran jenazah tadi. Siapa ya? Apa sebelum meninggal, Fano dan lelaki itu pernah bertemu?