Balasan Pedas Alenta

1133 Kata
Natla sungguhan menunggu Dami hingga siuman. Ia ingin memastikan bahwa lelaki itu memang Dami—musuhnya di sekolah dulu. Begitu masuk ke dalam kamar rawat Dami, dengan cepat Natla menerobos masuk lebih dulu. Dan benar saja, lelaki itu memang Dami. Oh, ya Tuhan! Natla membulatkan mata dan bibirnya kompak. Davian sebagai kembaran Natla jadi ingin mengundurkan diri saja. Dari dulu ada saja kelakuan saudara kembarnya selalu aneh-aneh. Cuma karena Dami yang menolong Alenta dari kecelakaan di panggung, Natla sampai sebegitunya. Memang kenapa sih? Yang namanya manusia tidak akan selamanya buruk. Mungkin karena mereka dulu masih remaja. Sekarang mereka sudah jauh lebih dewasa. Lagi pula itu cuma masa lalu. Tidak perlu diingat lagi hal buruk mengenai Dami. Alenta berdiri kaku di belakang Davian dan Rindu. Ia ingin mengucapkan terima kasih. Tapi ia teringat reaksi Dami waktu itu. Pasti, lelaki itu akan lebih ketus padanya. Atau, bisa jadi ia disalahkan karena sudah membuat Dami celaka. "Kalian...," Kedua mata Dami menatap ketiga orang di depannya. Davian mengangguk pelan. "Lo apa kabar?" Dami mendengkus. "Lo tanya kabar saat gue lagi ada di rumah sakit?" Intonasi suara Dami terdengar sinis. Begitu pun dengan ekspresi wajahnya yang tidak bersahabat sama sekali. Tidak heran kalau itu Dami. Yang salah memang Davian. Ia menanyakan kabar seseorang di tempat yang salah. "Gue bilang apa." Natla menekan kata-kata yang keluar dari mulutnya. "Dulu buruk, sampai sekarang pun sama. Emang dasarnya Dami aja nggak bisa dibaikin!" "Gue denger lo ngomong apa ya." Dami menegur Natla. Natla bersedekap. Suasana berubah ramai seketika. "Oh! Bagus! Gue sengaja emang. Dari dulu gue nggak pernah basa-basi sama orang kayak lo!" Rindu berdeham lalu menyenggol lengan Natla. Memberi isyarat agar tidak membuat masalah. Mereka sedang berada di rumah sakit. Kalau Natla keras kepala mengajak Dami bertengkar, bisa-bisa mereka diusir oleh satpam. "Kayak nggak mungkin banget manusia macem Dami mau repot nolongin orang," cerocos Natla. "Pasti ada alasannya kenapa Dami mau nolongin Alenta. Ya, kan?!" Dami dan Natla tidak pernah akur sejak zaman sekolah. Hal seperti ini justru tidak bisa disebut keributan dibanding zaman mereka dulu. Biasanya, Dami dan Natla menyelesaikan masalah mereka dengan balapan motor. Siapa yang kalah, berarti dia lebih hebat. "La." Rindu dan Davian memegangi lengan Natla. "Apa sih?" Natla mengibaskan tangan keduanya. "Gue bilang soal fakta! Jangan karena dia udah menyelamatkan Alenta. Lo berdua jadi mikir nih orang udah berubah!" "Lo tuh, ya!" Davian mencekal tangan Natla lalu membawanya pergi. "Gue susul Davi dulu, ya, Len?" Rindu berpamitan pada Alenta sebelum menyusul si kembar keluar ruang rawat Dami. Kini tinggal Dami dan Alenta di satu ruangan. Alenta belum mau menggerakkan badannya barang sedetik saja. Ia sibuk bertanya pada dirinya. Apa hal pertama yang harus ia lakukan setelah Dami siuman? Meminta maaf sekaligus berterima kasih karena sudah menyelamatkannya? Lalu, bagaimana reaksi Dami? "Gue minta maaf." Tiga kata itu keluar dari mulut Alenta. Dami berada di atas ranjang rumah sakit. Seluruh pandangannya ia tujukan hanya pada Alenta. Tidak ada senyum, tidak ada reaksi selain menatap perempuan di depannya dengan tajam. "Sekaligus... gue mau berterima kasih." Kalimat terakhir Alenta otomatis membuat Dami tertawa. Alenta sedikit mengangkat wajahnya. Sesaat, pandangan keduanya saling bertemu. Perasaan geram yang Dami rasakan telah berada di puncak. Sementara Alenta merasa sangat bersalah. Dua kali Dami menolong Alenta, dua kali Dami celaka. Pertama hanya tangannya saja yang terluka. Kali ini malah lebih parah daripada kemarin. Bahkan kepalanya harus mendapatkan beberapa jahitan karena tertimpa lampu panggung yang besar dan berat. Sebenarnya, siapa Alenta di mata Fano? Tidak jelas hubungannya apa. Entah pacar, teman, atau cuma sekadar kenalan Fano saja. Sepertinya, Dami lebih mudah membenci Alenta ketimbang menyukainya. Wajahnya saja yang cantik, tapi sangat lemah! Menjaga dirinya sendiri saja tidak bisa! Oh, atau mencelakakan diri sendiri adalah hobi Alenta, ya? Haha, bisa saja! Tidak ada yang tahu kalau diam-diam Alenta ingin membunuh dirinya setelah Fano dinyatakan meninggal. Dasar bodoh! "Lo nggak ada hobi lain emang?" "Hmm?" Alenta menatap Dami agak bingung. Dami tersenyum sinis. "Selain hobi mencelakakan diri sendiri. Hobi lo apa lagi? Apa lebih ektrem dari ini?" ejeknya. "Maksud lo apa?" tanya Alenta. "Dua kali gue nolong lo. Dua kali gue celaka karena lo. Sebenernya lo siapa sih? Kenapa setiap lo muncul, pasti ada aja hal yang bisa bikin orang sial!" Kata-kata Dami terdengar pedas. Alenta yang selalu tenang sempat menunjukkan ekspresi terkejut. Dami mengatakannya begitu lancar, keluar dari mulutnya secara alami. Alenta menunduk sesaat. Kedua matanya memejam untuk beberapa detik. Perkataan Dami barusan begitu menusuk di d**a. Mereka baru bertemu dua kali, tetapi Dami mengatainya sebagai pembawa sial. Memang siapa yang minta diselamatkan? Apa Alenta memohon agar Dami mau berkorban demi dirinya? Tidak. Alenta tidak pernah memohon. Mau itu Dami atau bukan. Tiga detik setelah diam, Alenta mengangkat dagu dan balas menatap Dami. Kali ini tatapan Alenta kembali dingin. "Gue nggak tahu, gue ada salah apa sama lo." Alenta meremas kesepuluh jarinya. "Kita baru dua kali ketemu, tapi lo udah bilang gue pembawa sial. Tunggu. Gue mau tanya ke lo." "Apa?" Alenta menjilat bawah bibirnya sejenak. Kemudian, ia bertanya pada Dami. "Kenapa lo nolongin gue?" Dami merapatkan bibir. "Kenapa lo marah, lo bilang gue pembawa sial, gue ini, gue itu. Padahal gue nggak minta lo selamatkan! Apa kita kenal sebelumnya? Nggak. Okay. Mungkin kejadian di parkiran murni kesalahan gue. Saat itu gue kurang hati-hati sama orang di sekitar sampai ada orang mau nusuk gue, pun, gue nggak sadar. Tapi kecelakaan di panggung, apa itu juga salah gue? Kalau lo nggak mau nolongin gue, lo cukup lihat dan biarin gue terluka. Apa susahnya? Nggak bakal susah karena kita nggak saling kenal!" Alenta hilang kesabaran. Ia benci disalahkan. Ia hanya ingin meminta maaf dan berterima kasih kepada Dami. Kalau Dami meminta Alenta meminta bertanggungjawab dengan membayar biaya rumah sakit, Dami tidak perlu khawatir. Tiara sudah mengurusnya. Alenta orang yang cukup tahu diri, kok. Ketika ada seseorang yang menyelamatkan dirinya, ia harus mengucapkan terima kasih. Ia juga akan bertanggungjawab jika orang itu jadi terluka karena menolongnya. Lalu, Alenta harus apa? Dami saja malah menyikapi ucapan terima kasihnya sangat sinis. "Sebutin aja lo maunya apa. Hadiah? Uang?" Alenta bersedekap. Rasa bersalahnya berubah kesal. Dami mendelik. Ia siap membuka mulutnya namun ditahan Alenta. "Kalau ucapan maaf sama terima kasih gue aja lo tolak. Lo ngatain gue pembawa sial. Lalu, lo mengharapkan apa emang? Bilang aja. Lo nggak perlu khawatir gue nggak bisa sediain apa yang lo mau." Dami jadi tersinggung. Balasan dari Alenta terdengar lebih pedas dari kata-katanya tadi. Kedua mata Dami tertuju lurus pada Alenta. Kelima jarinya terkepal, menahan diri agar tidak membanting barang di sekitarnya. Alenta mengeluarkan sebuah kartu nama lalu meletakkannya di atas meja nakas. Sebelum perempuan itu pergi, Alenta mengatakan sesuatu yang memancing emosi Dami. "Lo bisa hubungi manajer gue setelah ini. Sebutin aja hadiah atau uang dalam jumlah besar sekali pun. Gue pasti bakal kasih. Karena lo...," Tatapan Alente tampak mencibir Dami. "Udah menyelamatkan nyawa gue."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN