"Karena Dami lagi masa istirahat, gue bakal atur ulang jadwal Missing You. Ya, palingan sampai Dami agak baikan." Sammy, manajer Missing You menyampaikan pesan begitu semua anggota ada di tempat.
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, Dami telah diperbolehkan pulang. Semua anggota Missing You sekaligus manajer mereka datang menjemput Dami.
Sebagai teman Dami yang paling setia sekaligus satu-satunya, Raka bersikeras menjaga Dami di apartemen. Sammy sedang mengatur ulang jadwal Missing You. Tidak mungkin perusahaan memaksa Dami tetap beraktivitas, sementara kondisi kesehatannya tidak memungkinkan. Sekuat apa pun Dami. Dami tetaplah manusia yang butuh istirahat saat sakit. Apalagi kepalanya mendapat beberapa jahitan. Masih mau ngotot mau beraktivitas?
Raka meletakkan roti bakar dan segelas s**u di atas meja. Karena ia tidak bisa memasak, ia hanya bisa membuatkan roti bakar untuk sarapan Dami. Itu pun agak gosong sedikit. Yang penting Raka sudah mau berusaha. Harus di apresiasi dong!
"Lo makan, deh. Biar cuma satu dua gigit yang penting perut lo keisi biar bisa minum obat." Raka mengambil duduk di samping Dami.
Dami menatap hasil karya Raka yang tidak meyakinkan. Makanan macam apa yang dibuat lelaki itu untuknya? Visualnya saja mengerikan! Kalau Dami nekat memakannya, bisa-bisa ia sakit perut dan masuk rumah sakit lagi!
"Jangan dilihat tampilannya doang. Rasanya...,"
"Enak?" tebak Dami.
"Nggak tahu." Raka menggeleng lalu nyengir.
Dami mendengkus. Ia mendorong piring berisi roti bakarnya. "Gue nggak mau ambil risiko lagi."
"Gue bikinnya pake tenaga lho, Dam." Raka menunjuk roti bakar buatannya.
"Nggak ada yang minta lo buatin." Dami menatap Raka kemudian melengos. "Lagian gue nggak laper. Lo makan sendiri sana."
"Tapi lo harus minum obat," sahut Raka.
"Gue nggak butuh!" seru Dami pergi ke kamarnya.
Dami pergi ke kamarnya meninggalkan Raka sendiri di ruang tamu. Beruntung Dami memiliki teman sebaik dan sesabar Raka. Mau seburuk apa sifat Dami, sepedas apa pun kata-katanya, Raka tetap berada di sisi lelaki itu sebagai teman yang menerima Dami apa adanya. Tidak peduli Dami berasal dari keluarga kaya, Dami tampan, Dami begini dan begitu. Entah kenapa Raka justru tidak tega meninggalkan Dami.
Dami jadi keras begini juga karena ada alasan di baliknya. Sejujurnya Dami itu anak baik. Hanya saja, seseorang telah melukainya begitu dalam hingga membentuk Dami yang baru. Dami yang keras kepala, dingin, tidak tersentuh oleh orang baru.
Ada cerita di balik kesuksesan Missing You sekarang. Jangan kira semua anggota Missing You selalu akur. Tidak pernah bertengkar. Karena pada nyatanya mereka—khususnya Dami dan beberapa anggota pernah bertengkar. Hampir saja Missing You bubar.
Kalian tahu Abra, kan? Nah. Dulu Abra dan Dami pernah bertengkar hebat. Kalian tahu sendiri bagaimana tabiat Dami. Abra yang baru mengenal Dami pun kaget. Mengira bahwa Dami tidak menyukai Abra. Mereka pun bertengkar. Abra sangat menggebu-gebu ingin memukul Dami. Sementara Dami, lelaki itu cuma memandangi Abra yang tengah dipegangi anggota lain. Abra memaki Dami, ia merasa dimusuhi selama ini. Raka memberi pengertian, tetapi Abra pergi begitu saja setelah mengatakan dirinya akan keluar dari Missing You. Kata Abra juga, lebih baik Missing You bubar saja jika tidak bisa menghargai satu sama lain.
Raka menggelengkan kepalanya. Menurunkan satu kakinya ke lantai lantas menarik piring dari atas meja. Raka menggigit roti bakar buatannya. Baru menggigit ujungnya saja, Raka malah melepehnya. Sambil meletakkan rotinya ke piring lagi, Raka menggerutu sendiri. "Bener. Beruntung bukan Dami yang makan. Pahit banget, anjir!"
***
"Bodyguard? Buat apa?"
Pagi itu, meja makan yang ceria berubah hening sejenak. Alenta baru saja akan menyendokkan nasi ke dalam mulutnya, tetapi berhenti dan meletakkannya kembali ke piring.
"Kak, nggak usah berlebihan." Alenta mendesah panjang.
Suasana hatinya jadi buruk. Kakaknya berniat membayar seorang bodyguard untuk menjaganya cuma karena ia hampir ditusuk orang dan nyaris tertimpa lampu beberapa hari yang lalu.
"Kakak lihat, aku baik-baik aja." Alenta merentangkan tangannya. "Aku nggak perlu bodyguard. Buat aku itu berlebihan!"
"Nggak ada yang berlebihan kalau itu demi keselamatan kamu, Len." Rayan jadi ikutan berhenti menyuapkan makanannya.
Tasya berada di tengah-tengah perdebatan antara Kakak dan adik. Ibu beranak satu itu heran melihat keduanya saling berdebat di meja makan. Memang tidak bisa ya mereka menahannya setelah selesai sarapan? Yang satu dikira berlebihan, satunya lagi susah sekali diberitahu.
Memangnya Kakak mana yang tidak khawatir mendengar adiknya hampir ditusuk orang? Kalau saja Tiara tidak bercerita pada Rayan, mungkin Alenta akan memendamnya sampai hari ini. Rayan melakukan ini karena sayang pada adiknya. Karena peduli pada adiknya. Rayan sadar bahwa dirinya tidak bisa bersama Alenta selama dua puluh empat jam. Maka dari itu Rayan berniat menyewa seorang bodyguard untuk menjaga Alenta di mana pun dan kapan pun.
Alenta menolak ide kakaknya. Menurut adik iparnya, itu terlalu berlebihan. Alenta yakin kejadian penusukan seperti waktu itu hanya akan menjadi terakhir kalinya. Tidak akan terjadi lagi. Kakaknya tidak perlu khawatir.
"Nggak bisa." Rayan mendorong piringnya ke pinggir.
Tasya mengatupkan bibir. Jika Rayan sudah marah, ia pun tidak berani ikut campur. Hanya saja, Alenta sudah sekali dibujuk. Adik iparnya sangat keras kepala. Apalagi setelah Fano meninggal. Ah, setiap mengingat mendiang Fano, Tasya jadi ikut sedih. Fano orang baik, kenapa lebih cepat dipanggil Tuhan?
Suara tangis anaknya menghentikan perdebatan Rayan dan Alenta. Tasya segera menggendong putrinya yang baru berusia enam bulan. Barusan saja anteng, tahu-tahu menangis lagi.
"Ada hantu di rumah ini kali ya," gumam Tasya sambil menepuk b****g putrinya.
Naomi terbahak dengan cepat. Tasya mengatakannya dengan sangat tepat. Anaknya menangis karena memang melihat hantu. Yaitu Fano!
"Ratu jadi sering nangis sekarang ya, Sya?" tanya Alenta melihat wajah keponakannya.
"Iya nih, Len. Padahal biasanya nggak gini." Tasya menjawab sambil terus menenangkan Ratu.
Rayan beranjak dari kursi dan mengambil alih gendongan putrinya. "Biar sama aku aja, Sya."
"Nggak usah. Kak Rayan bentar lagi mau pergi ke rumah sakit." Tasya menggeleng. "Aku nggak apa-apa. Digendong bentaran pasti udahan nangisnya."
Fano dan Naomi ada di sana. Bahkan di hari-hari sebelumnya mereka ada di sekitar keluarga Alenta. Fano yang diam-diam mengajak Ratu berbicara malah berakhir membuat bocah itu menangis histeris. Bukan maksud Fano membuat Tasya kesusahan. Fano cuma ingin bermain dengan Ratu. Karena selain Dami, Ratu juga bisa melihatnya.
"Ayo pergi." Naomi menepuk sebelah bahu Fano.
Fano kelihatan enggan pergi. Naomi berdecak. "Lo nggak kasian sama ibunya? Karena lo, dia jadi kurang istirahat."
"Padahal gue cuma pengin ngajak main," gumam Fano.
"Main apaan sampai bikin anak orang nangis? Gila kali lo ya. Ayo, buruan pergi!" Naomi menarik tangan Fano.
Naomi mengumpulkan seluruh tenaganya agar bisa membawa Fano pergi dari sana. Bocah perempuan itu terus menangis hingga wajahnya berubah merah. Naomi jadi tidak tega.
"Ayo!" seru Naomi. "Jangan jadi hantu nggak ada ahlak lo, ya!"
Mau tidak mau Fano mengikuti Naomi pergi. Lama-lama ia tidak tega juga. Tasya kelihatan kesusahan menenangkan Ratu. Fano memilih pergi bersama Naomi di sampingnya.