Perdebatan

1381 Kata
"Mau apalagi lo kemari?" Raka baru saja sampai, tapi malah diberi sambutan kurang tidak enak oleh Dami. "Gue ke sini buat ngerawat lo yang lagi sakit, Dam." Dami melirik Raka sepintas. "Gue nggak ngomong sama lo." Otomatis Raka memutar kepalanya ke sekitar. Tiba-tiba saja bulu-bulu halus di tangannya kompak berdiri. Kalau bukan dirinya, siapa yang sedang diajak bicara? Di apartemen cuma ada Raka dan Dami. Dan yang baru datang itu dirinya. Tanpa Raka sadari, mereka tidak hanya berdua. Ada sosok Fano yang tidak bisa Raka lihat. Cuma Dami yang bisa melihatnya. Tidak heran kalau Raka jadi heran. Ini bukan kali pertama Dami ketahuan bicara sendirian. Sebelumnya sudah pernah. Anggota Missing You sampai heran termasuk Raka. Adam pun menyarankan agar membawa Dami pergi ke psikolog atau psikiater. Terkadang Raka pun khawatir pada Dami. Secara fisik, Dami terlihat baik-baik saja. Tapi, secara mental? Kehilangan ibunya di usia remaja, papanya yang ketahuan selingkuh saat ibunya masih hidup. Hanya selang beberapa hari ibunya meninggal, papanya malah menikah lagi. Anak mana yang tidak patah hati? Anak mana yang tidak marah saat tahu ibunya disakiti? Apalagi itu ayahnya sendiri. "Gue baru inget, gue belum ngucapin terima kasih ke lo." Fano mengikuti Dami di belakang Raka. "Gue nggak butuh ucapan terima kasih dari lo," maki Dami. "Lah? Kapan gue bilang terima kasih ke lo? Yang ada, harusnya lo yang terima kasih ke gue! Gimana sih!" balas Raka. "Bukan sama lo, anjing!" balas Dami. Mulai hilang kesabaran. "Gue bilang terima kasih, karena lo udah nolongin Alenta." Fano terus mengoceh. "Apa salahnya emang? Kok, lo jadi kesel?" Dami berteriak sembari mengacak rambutnya sendiri. Raka jadi mundur teratur. Seram juga kalau Dami tiba-tiba mengamuk saat mereka cuma berdua di sini. Sementara Fano, orang yang dimaksud Dami, malah tampak santai sembari mencibir Dami. "Dengar ya—" "Iya, gue denger Dam." Raka tahu-tahu menyahut. "Kalau lo ada masalah, lo cerita ke gue. Jangan dipendam sendiri karena itu nggak baik." Kepala Dami nyaris akan pecah. Yang satu hantu, satu lagi manusia, tapi sama-sama cerewetnya. Dami ingin memanfaatkan waktu luangnya untuk beristirahat dengan tenang. Tapi diganggu dua mahluk ini! "Duduk dulu, Dam." Raka membawa Dami duduk di sofa. "Lo mau ngopi atau teh? Eh, jangan. Yang gue dengar, teh nggak baik diminum sama obat. Katanya bisa nggak manjur," oceh Raka. Fano berpindah di bawah kaki sofa. Duduk seperti anak anjing sambil menengadahkan kepalanya menatap Dami yang duduk di atas sofa. "Waktu lo nyelametin Alenta di panggung kemaren, gue baru sadar kalau lo itu keren! Lo ganteng!" "Lo jadi homo sekarang?" cibir Dami. Raka melongo. "Nggak! Gue baik sama lo karena lo temen gue. Apaan! Enak aja bilang gue homo!" "Temen lo nyahut mulu sih!" tunjuk Fano ke Raka. Raka berdiri, menyilang kedua tangan dengan ekspresi wajah yang shock. "Jadi, lo mikir gue baik ke lo selama ini karena suka?" Raka bergidik. "Astaga, Dam! Sadar, oi! Gue sama lo nih temenan dari dulu. Bisa-bisanya lo mikir gue suka sesama jenis? Apalagi orangnya itu lo! Ya nggak mungkin kali!" "LO BISA DIEM NGGAK, SIH?!" jerit Dami sembari memegangi kepalanya. Fano dan Raka tersentak kaget. Dami tahu-tahu berteriak sampai Raka nyaris jumpalitan karena suara Dami yang besar. "Pergi lo!" Dami mendorong bahu Raka dan Fano. "Ada lo malah bikin gue makin stress! Pergi!" usir Dami. "Dam! Kenapa lo malah ngusir gue?!" protes Raka. "Lo marah karena gue ternyata nggak suka sama lo?" pekiknya sembarangan. "Diem lo, setan!" maki Dami. "Temen lo masih manusia, Dam. Yang hantu, gue, nih!" Dami membuka pintu kemudian mendorong keduanya bersamaan. "Jangan muncul lagi di depan gue setelah ini!" Brak! Raka dan Fano kompak mengelus d**a lalu menggelengkan kepala. Dami makin lama makin menjadi-jadi sepertinya. Suasana hatinya bak roller coaster. Lima menit lalu kelihatan tenang, lima menit setelahnya seperti orang kesetanan. *** Alenta tidak habis pikir saja pada kakaknya. Untuk apa sampai menyewa seorang bodyguard untuk menjaganya? Ia belum bisa dibilang selebriti yang memiliki nama besar sampai pergi ke mana-mana harus dikawal. Bisa-bisa Alenta ditertawakan oleh penyanyi atau selebriti yang namanya lebih populer. Tasya mengatakan agar Alenta menurut saja apa kata Rayan. Bagaimanapun, Rayan hanya ingin Alenta baik-baik saja. Jangan sampai ada kejadian waktu lalu. Siapa yang tidak ngeri mau ditusuk orang? Siapa pun orangnya, kalau mendengar salah satu anggota keluarganya ada yang mau mencelakai, pasti akan khawatir. Sama seperti Rayan. Setiap hari Rayan sibuk di rumah sakit. Kadang pulang larut, atau bisa jadi pulang dua atau tiga hari kemudian karena ada banyak jadwal operasi. Belum lagi kalau mendapat panggilan darurat dari rumah sakit? Otomatis jarang di rumah. Terkadang Tasya ingin protes pada suaminya. Tapi, kan, itu sudah profesinya. Tasya sudah siap dengan konsekuensi sebelum dinikahi lelaki itu. Rayan kekeuh ingin menyewa bodyguard. Sementara Alenta tidak kalah kekeuh menolak. Tasya jadi pusing! Lebih baik ia menjadi penengah saja. Kita lihat, siapa yang bakal menang. "Halo, Mama muda!" Seseorang menyapa Tasya dari belakang. Tasya menengok sepintas kemudian balas menyapa. "Mau jemput Alen, Kak?" tanya Tasya. Seseorang yang menyapanya adalah Tiara, manajer Alenta. Perempuan itu menghampiri Tasya sampai ke dapur. Tasya tersenyum sekilas sebelum melanjutkan pekerjaan di dapur. "Nggak juga sih. Jadwal Alenta agak sore nanti. Mau ketemu pihak rumah produksi," jawab Tiara. Tiara duduk di kursi panjang yang ada di dapur. Sambil mengobrol dengan Tasya, perempuan itu mengunyah potongan buah di hadapannya. "Alen jadi ambil tawarannya?" tanya Tasya. Tiara mengangguk. "Hmm. Itu pun gue bujukinnya matu-matian!" Tasya menepukkan telapak tangannya ke apron yang membalut tubuh bagian depannya. "Semangat ya, Kak! Sama Alen, tuh, susah-susah gampang. Lo tahu sendiri sejak Fa—" "Udah dateng lo?" sapa Alenta di ambang pintu dapur. Tasya menyikut lengan Tiara. Kedua perempuan itu saling melempar pandang. Hampir saja Tasya kelepasan membahas soal Fano. Hingga hari ini, nama Fano sangat sensitif bagi Alenta. Hanya dengan mendengar nama lelaki itu, suasana hati Alenta akan memburuk. "Iya. Gue mau numpang makan sekalian." Tiara mengalihkan obrolan. "Gue lagi males masak, tapi lagi doyan makan, haha!" Alenta menatap Tiara kurang dari dua detik. Alenta memasuki dapur, bergabung dengan manajer dan Kakak iparnya. Suasana berubah hening seketika. Tasya kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan dapur, sementara Tiara, perempuan itu asyik mengunyah buah sembari bermain ponsel. "Oh, ya." Alenta memegangi gelas di tangan dan memutar badan. "Apa?" tanya Tasya. "Lo bisa bantuin gue bujuk Kak Rayan nggak, sih?" Tasya mengatupkan bibir lantas menggeleng. "Sya, lo, kan, pawangnya Kak Rayan. Gue yakin lo bisa bujuk Kakak gue. Mau, ya?" Tasya menggeleng lagi. "Len." Kakak ipar Alenta menatap dengan serius. "Bukannya gue nggak mau bantuin lo. Tapi, Kakak lo ada benernya. Menurut gue, ini nggak berlebihan, kok." "Kalian lagi bahas apaan sih?" Tiara menyudahi makan buahnya. "Emang Rayan mau ngapain sampai Alenta nyuruh lo bantu bujuk, Sya?" Alenta meletakkan gelasnya ke atas meja dapur. "Karena lo, Kak Rayan mau sewa bodyguard." "Buat jagain siapa? Tasya? Anjir! Segitu bucinnya Kakak lo sama Tasya sampai mau sewa bodyguard segala!" "Bukan." Kedua mata Alenta berubah tajam. "Terus?" Tiara mengarahkan pandangannya ke belakang Tiara. Tasya memberi isyarat kepadanya. "Buat lo?" tebaknya. "Siapa lagi?" Alenta bersedekap. "Karena lo cerita gue mau ditusuk orang, Kak Rayan jadi mau sewa bodyguard!" "Salah gue di mana, Len? Gue cerita ke Rayan ya wajar. Rayan, tuh, Kakak lo. Kalau ada apa-apa sama lo, gue wajib ngasih tahu Rayan." "Tapi gue nggak apa-apa sekarang," gumam Alenta. "Lo, Kak Rayan dan semuanya, gue harap jangan bahas lagi soal itu. Gue yakin kejadian kayak gitu bakal jadi yang pertama dan terakhir." "Lo seyakin itu." Tiara turun dari kursi. "Kita nggak tahu apa yang bakal terjadi, Len. Bisa aja lo selamat waktu itu. Gimana kalau mungkin besok, lusa, atau minggu depannya orang itu berniat nusuk lo lagi?" "Jangan berlebihan." Alenta bergumam dingin. "Len...." desah Tiara kemudian mendengkus. "Lo hampir ditusuk orang, lho! Ditusuk! Masih bisa santai? Nggak takut? Atau lo sengaja mau celakain diri sendiri?" "Ra?" Suasana agaknya berubah. Tasya dengan cepat melerai perdebatan di antara si artis dan manajernya. Sepertinya Tiara tanpa sadar menjadi emosional. Tasya berdiri di tengah-tengah Alenta dan Tiara. Merentangkan kedua tangan sembari membujuk. "Nggak perlu berantem. Len," Tasya menoleh ke Alenta. "Okay. Gue bakal bantu lo bujuk Rayan. Tapi gue nggak janji bakal berhasil." Alenta menarik napas dan mengembuskannya. "Hmm... makasih, Sya." "Iya, Len." Tasya mengangguk kecil. Alenta pergi dari dapur meninggalkan Tasya serta Tiara. Tasya menggelengkan kepala merasa keheranan. Alenta selain lebih dingin, jadi mudah tersinggung. "Lo harus banyak-banyak sabar ya, Ra." Tasya mengelus lengan Tiara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN