Berbagi Cerita, Berbagi Rasa Sakit

1216 Kata
Susah sekali menjelaskan pada orang-orang. Alenta baik-baik saja. Alenta tetap hidup sampai hari ini. Untuk apa sampai menyewa bodyguard? Alenta tidak membutuhkannya. Alenta bisa menjaga dirinya sendiri. Ia sudah dewasa, bukan anak kecil yang ke mana-mana harus diawasi. Alenta membanting pintu kamarnya. Ia sangat kesal sekarang. Tiara sama berlebihannya seperti sang Kakak. Okay, baiklah. Panjang-pendeknya usia seseorang tidak bisa ditebak. Hari ini masih sehat, besok mana tahu jatuh dari motor lalu meninggal. Ya, kan? Begitu pun dengan kejadian penusukan waktu itu. Alenta yakin hal seperti itu tidak akan datang lagi. Lagi pula, Alenta pergi ke mana pun selalu bersama Tiara dan asistennya. Mereka cukup ramai untuk mengantisipasi orang yang mau melakukan kejahatan, kok. Siapa yang akan berani melukainya kalau Alenta di kelilingi banyak orang? Fano melihat dan mendengar perdebatan antara Tiara dan Alenta tadi. Fano jadi sedih karena Alenta jadi salah paham pada manajernya sendiri. Fano setuju dengan pendapat Tiara. Kita tidak tahu apa orang jahat itu akan kembali atau tidak. Bisa saja karena gagal mencelakai Alenta, orang itu sedang merancang rencana baru. Alenta duduk di tepi ranjang. Tatapan dingin perempuan itu berubah sendu dalam sekejap mata. Alenta membuka laci, mengeluarkan bingkai foto dari sana. Fano tersenyum sedih. Itu fotonya bersama Alenta. Kenapa Alenta tidak memajang di atas mejanya lagi? Kenapa ditaruhnya ke dalam laci? Kematian Fano berdampak besar pada kehidupan Alenta. Setelah Alenta berhasil mencapai keinginannya sebagai seorang penyanyi, Alenta justru harus kehilangan Fano untuk selamanya. Apa benar kata orang? Saat mencapai sesuatu, kalian harus melepaskan hal berharga juga. Setetes air mata jatuh ke bingkai foto yang dipegang Alenta. Dengan ekspresi wajah yang nelangsa, Fano duduk berjongkok di bawah kaki Alenta. Hati Fano sakit setiap kali melihat Alenta begini. Mau sampai kapan Alenta menangisinya? Sebanyak apa pun air mata yang Alenta teteskan, tidak akan bisa mengembalikan nyawa Fano. "Hati gue sakit lihat lo begini, Len." Fano menengadahkan wajahnya. "Masa depan lo masih panjang. Jangan menghabiskan waktu lo cuma buat nangisin orang yang udah meninggal." Air mata Alenta berjatuhan banyak. Kedua matanya memejam. Dalam hitungan ketiga, isakkan Alenta lolos, menyayat hati Fano. Tapi, jika Fano diberi pilihan, Fano lebih senang Alenta lebih cepat melupakannya. Mungkin, dengan mencari pacar? Ha! Bodoh! Segampang itu Fano mengucapkannya. Padahal jelas tidak akan rela melihat Alenta bersama lelaki lain. Sebanyak itu Fano menyayangi Alenta. Sebanyak itu cinta Fano untuk Alenta. Rela melakukan apa saja demi Alenta-nya. "Pembohong." Alenta menggerakkan bibirnya. "Mana janji lo? Katanya, lo mau nemenin gue sampai kita sama-sama tua. Segampang itu lo pergi, Fan?" Fano menekuk kedua kakinya. Berkali-kali Fano berusaha memegang tangan Alenta, namun tidak bisa. Fano berteriak bak orang frustrasi. Ia sampai menjambak rambutnya sendiri. "Gue nggak bohong. Lihat, Len. Lihat gue, please," mohon Fano memelas. "Gue masih ada di samping lo. Gue ada di dekat lo...." Percuma. Seperti yang dibilang Naomi, tidak peduli sekeras apa suara Fano, Alenta tidak akan bisa mendengarnya. Merasakannya pun tidak. Itu sama saja membuang waktu dan tenaga. "Kalau aja gue diberi pilihan. Gue lebih baik nggak jadi penyanyi daripada harus kehilangan lo," bisik Alenta memeluk bingkai fotonya. "Buat apa gue punya semuanya, tapi gue kehilangan lo...." Cairan hangat itu meluncur begitu mudah. Hanya sekali mengedipkan mata saja, air mata Fano berjatuhan di pipi. Kalian boleh mengoloknya sebagai lelaki cengeng. Silakan. Fano menangis karena ia mempunyai hati. Sekian lama mereka bersama, walau hanya berstatus sebagai teman, Fano sangat menyayangi Alenta. Fano hanya ingin Alenta bahagia. Itu saja.... "Gue kesepian, Fan...." isak Alenta. Ada sesuatu yang menusuk di dadanya. Fano merasakan sakit yang amat luar biasa. Ini lebih sakit dari ditusuk lebih dari satu kali lalu meninggal. "Gue cuma mau lo ada di sini, Fan. Cuma itu... apa permintaan gue sulit?" gumam Alenta parau. "Begitu pun sama gue, Len. Selain itu.... gue cuma pengin lo bahagia. Ada, atau tanpa gue sekali pun...." *** Dami sedang menggila. Baru beberapa hari sembuh, Dami membuat teman-temannya keheranan. Bagaimana tidak, seharian penuh lelaki itu bermain alat musik tanpa berhenti. Mulanya untuk latihan sebelum tur mereka dimulai. Tapi, setelah latihan selesai, Dami tidak beranjak dari tempat duduknya dan terus memainkan gitar tanpa berhenti. "Lo lihat jarinya Bang Dami udah luka?" Adam protes pada yang lebih tua. Pasalnya Raka meminta mereka membiarkan Dami. Apa saja yang dilakukan Dami, tidak perlu diganggu atau minta dihentikan. Selama itu bukan hal kriminal, tidak perlu dipermasalahkan. "Sedalam apa luka hati temen lo, Bang?" tanya Abra. "Hah?" Raka menengok, mulutnya terbuka lebar. Sepintas, Abra balas menatap Raka. "Gue yakin jadi Bang Dami itu nggak gampang. Effort-nya pasti kenceng buat tetap hidup sampai sekarang." Raka memukul d**a Abra lalu nyengir. "Sok tahu lo!" Untuk saat ini, Abra dan Raka terlibat obrolan serius. Adam cuma bisa memandangi Dami ngeri. Dami bermain gitar seperti orang kesurupan. Ingin sekali meminta lelaki itu berhenti, tapi jelas tidak akan didengernya. Dami itu keras kepala. Susah sekali dibujuk. "Gue kebalikannya Dami." Abra mulai bercerita. "Dari kecil, Ibu gue nggak tahu pergi ke mana. Kata orang-orang, Ibu gue kabur sama cowok lain." Abra tersenyum sinis. Rasanya ia benci sekali mengetahui fakta dilahirkan dari rahim perempuan jahat seperti ibunya. Raka menepuk bahu Abra. Lelaki itu cukup tahu sikon. Untuk sekarang Raka tidak akan melucu, tidak akan bertingkah menyebalkan. "Buat besarin gue, sekolahin gue, ngasih gue uang jajan tiap hari tanpa kekurangan, semua itu dilakuin sama Ayah gue. Dan gantinya, gue kehilangan banyak waktu berdua sama Ayah." Abra menunduk selama dua detik lantas mendongak. "Sakitnya sampai hari ini. Entah yang dibilang itu fakta atau bukan, buat gue nyakitin banget. Lo bayangin aja, lo dilahirin dari perempuan jahat. Demi cowok lain, perempuan itu pergi ninggalin keluarganya." Kalau dipikir lagi, semua anggota Missing You jarang membahas soal kehidupan pribadi. Waktu mereka sudah banyak tersita dengan berbagai kegiatan. Setelah jadwal mereka selesai, mereka pulang dan akan bertemu untuk latihan atau jadwal baru. Sesekali mereka bercanda, tapi tidak bisa dibilang sering juga. "Gimana gue ya," sahut Adam yang duduk di ujung sofa sambil melipat kedua kakinya. "Lo kenapa emang?" tanya Raka. Tahu-tahu Adam nyengir. "Sampai sekarang, gue nggak tahu wajah orang tua gue kayak gimana." "Hah?" Raka dan Abra kompak melongo. Kedua lelaki itu menggeser tempat duduknya, menghimpit Adam yang ada di tengah-tengah sekarang. "Durhaka lo, Dam." Raka menepuk paha Adam. "Orang tua sehat di rumah padahal." Adam mengerucutkan bibirnya. "Mereka bukan orang tua kandung gue, Bang." "Kok, bisa?" sahut Raka. "Gue dulu tinggal di panti. Sampai akhirnya gue diadopsi sama pasangan sama suami-istri yang kelewat baik. Ya, orang tua gue sekarang." "Walau lo nggak tahu siapa orang tua lo. Tapi lo termasuk anak yang beruntung bisa diasuh sama keluarga yang sehat dan sayang sama lo. Kalau kata anak zaman sekarang, tuh, nggak toxic!" timpal Abra. "Bener, sih." Adam manggut-manggut. "Selagi mereka masih ada, sayangin mereka ya, Dam." Raka memberi pesan. Tidak jauh berbeda dari nasib teman-temannya. Raka dibesarkan oleh kakaknya. Kedua orang tuanya meninggal sejak Raka masih SMP. Kakak lelakinya harus bekerja keras di usia muda. Karena selain Raka, masih ada dua adiknya lagi yang harus diberi makan dan di sekolahkan. Memang benar kata orang ya. Yang kelihatannya baik-baik saja bukan berarti memang baik. Orang lain cuma sekadar melihat, memerhatikan, tidak tahu bagaimana proses seseorang melewati masa kritisnya. Masa paling berat. Raka, Abra dan Adam kompak mengamati Dami yang belum berhenti. Mungkin, bagi penggemar di luar sana mereka dibesarkan dari keluarga harmonis. Tapi siapa yang tahu kalau dari setiap anggota Missing You justru menyimpan cerita sedih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN