Tiara dan Alenta tidak bisa saling marah lebih dari satu hari. Kemarin mereka berdebat sengit sampai dilerai oleh Tasya. Tidak butuh waktu lama, keesokan harinya kedua perempuan itu sudah berbaikan. Walau Tiara meminta maaf lebih dulu karena merasa dirinya yang salah, Alenta pun tidak bisa tidak memaafkan manajernya yang sudah ia anggap seperti teman.
Alenta berjalan di belakang Tiara sembari bersedekap. Mengikuti langkah Tiara sembari menunjuk dari satu toko baju ke toko baju lainnya. Tiara ini hobi belanja. Jika orang lain mengurangi stress dengan banyak makan, berbeda dari Tiara. Perempuan itu akan pergi berbelanja. Jika pergi sendirian, Tiara tidak akan berhenti belanja sampai kartunya limit.
"Menurut lo bagus warna biru atau merah?" Tiara menenteng dua gaun di tangan kanan dan kirinya.
"Lo beneran minta saran?" tanya Alenta sesekali mendorong gantungan baju di sampingnya.
Tiara tersenyum sumringah. "Iya, dong. Bagus yang mana?"
"Biru," tunjuk Alenta cepat.
Tiara mengangkat gaun birunya lebih tinggi. Selama tiga detik penuh memandangi gaun pilihan Alenta. Perempuan itu mengangguk, mengatakannya dengan mantap. "Oke. Gue ambil merah!"
Alenta mendengkus lalu menggeleng heran. Ia malas tiap kali Tiara meminta saran padanya. Bukannya tidak mau. Tapi Tiara agak nyeleneh. Alenta memberi saran ini, yang dipilih malah lain. Contohnya saja seperti barusan. Alenta menunjuk biru, tetapi pilihan Tiara jatuh ke gaun berwarna merah.
"Gue bayar dulu," kata Tiara mendekati meja kasir.
Sementara Tiara pergi membayar, Alenta memilih menunggu di depan pintu sembari membaca isi pesan dari Tasya. Kakak iparnya kemarin berjanji mau membantunya membujuk Rayan. Alenta tetap yakin dengan pendiriannya bahwa ia tidak ingin dijaga seorang bodyguard.
Panggilan telepon masuk ke nomornya. Nama Tasya tertera di layar ponsel. Alenta mengangkatnya, berjalan ke pinggir menjauhi beberapa orang yang berkerumun memilih pakaian.
"Lo bujukin Kak Rayan terus ya?" pinta Alenta.
"Gue nggak janji, Len. Kakak lo nggak ngomong apa-apa semalam." Suara Tasya tampak ragu. "Tapi gue coba lagi ya. Tapi, kalau emang nggak berhasil, lo jangan marah. Mungkin buat yang ini, Rayan beneran khawatir banget."
Kepala Alenta bersandar ke kaca toko. "Makasih udah bantu bujukin Kak Rayan ya, Sya."
"Iya, Len. Lo lagi di mana sekarang?"
"Oh, ini...." Kedua mata Alenta menemukan dua orang lelaki. Sepertinya mereka akan masuk ke dalam toko. "Gue lagi diajak belanja sama Tiara. Eh, udah dulu ya."
Alenta mengakhiri panggilan dengan cepat. Di belakangnya, Tiara tampak girang menenteng tas belanjaannya. "Gue udah, nih! Mau makan dulu sebelum lanjut belanja, Len?"
"Hmm." Alenta mempercepat langkahnya.
Dua orang lelaki tadi berjalan menuju ke arah pintu toko yang sama dimasuki Tiara dan Alenta. Mulanya Alenta mempercepat langkah menghindari salah satu lelaki tadi. Tapi sialnya, Tiara dan teman si lelaki—yang tidak ingin dilihat Alenta malah saling menunjuk bak bertemu teman lama.
"Hei, halo," sapa Tiara ramah.
"Oh, masih inget sama kita ya, Mbak?" tanya teman si lelaki.
"Sama kalian nggak perlu diinget-inget lagi. Siapa yang nggak kenal sama anggota Missing You emang?" canda Tiara.
Ya. Dua lelaki itu Dami dan Adam.
"Bisa cepet nggak, Ra? Lo bilang mau makan sebelum lanjut belanja, kan?" bisik Alenta.
Kedua mata Adam berbinar senang. "Eh! Mau makan juga? Boleh gabung?" sambar Adam kelewat santai. Tidak tahu saja ada dua orang yang mengutuknya sekarang. "Biar lebih rame. Makan berdua doang sama Bang Dami nggak seru! Banyak diemnya ntar."
Tanpa meminta persetujuan Alenta, Tiara dengan cepat mengiakan. "Boleh."
***
Mungkin Adam masih terlalu muda untuk memahami situasi sekarang. Tapi Tiara? Perempuan itu seperti sengaja membuat Alenta dan Dami berada di meja makan yang sama. Duduk saling berhadapan pula.
Tiara dan Adam sepertinya tipikal orang yang sama. Mereka banyak bicara, sama sekali tidak canggung biarpun ini kali pertama mereka makan bersama. Adam banyak bertanya pada Tiara dan Alenta. Tiara menanggapinya sangat ramah. Beda dengan Alenta yang menjawab ala kadarnya. Hanya ada dua. Ya atau tidak. Dan bonusnya anggukkan kepala yang ringan.
Dami meneguk air putih di gelasnya. Raut wajahnya berubah memberengut sebal begitu menemukan Alenta di toko pakaian tadi. Akh, sial. Seharusnya Dami tidak perlu berbaik hati kepada Adam. Bocah itu akhir-akhir ini jadi menyebalkan. Lebih menyebalkan dari si cerewet Raka!
Adam tahu-tahu pergi ke apartemennya. Bocah itu datang sendiri kemudian merengek ingin ditemani membeli jaket baru. Dami bilang tidak ingin pergi. Namun Adam malah berguling di lantai sambil terus merengek tanpa henti. Kepala Dami hampir pecah mendengar rengekkan Adam! Dimas, adik Dami yang masih SMA saja tidak pernah merengek begini padanya. Kesannya malah terlalu cool cenderung jaim. Disebut bocah, pun, tidak akan terima.
"Oh ya, Kak," ujar Adam meluruskan pandangan ke Alenta. "Gue nggak pernah lihat lo lagi malam itu. Pergi ngunjungin Bang Dami aja nggak. Atau lo datang jenguk waktu gue sama yang lain udah pulang?"
Alenta menatap Dami dua detik. Alenta masih terlihat tenang walau sempat terkejut mendengar pertanyaan Adam barusan.
Omong-omong soal malam itu, iya, di hari yang sama Dami dibawa ke rumah sakit, tidak ada orang yang tahu kalau Alenta dan Dami bertengkar setelahnya. Saat itu cuma ada mereka berdua di ruang perawatan. Alenta juga tidak berniat menceritakannya pada Tiara.
"Alenta banyak jadwal besoknya," sahut Tiara lalu menjejalkan potongan daging ke dalam mulutnya. "Maaf ya kita nggak sempat jenguk lo lagi. Tapi gue udah kirim bingkisan ke alamat Dami, kok. Lo udah terima bingkisan dari gue, Dam?"
Dami mengangguk tanpa mau bersuara.
Alenta sontak menengok pada Tiara yang ada di sebelahnya. "Lo kirim bingkisan ke di—Dami?" Alenta berdeham sekali.
"Iya. Atas inisiatif gue emang. Karena gue pikir lo sibuk banget. Buat makan sama minum aja sering lupa. Apalagi kirim bingkisan buat orang yang udah nyelamatin lo."
Uhuk!
Dami terbatuk setelahnya. Adam di sebelahnya segera menyodorkan minumannya ke Dami. "Minum, Bang."
"Gimana, Dam? Lo suka sama bingkisan dari gue?" tanya Tiara. Perempuan ini sungguh menyebalkan!
"Gue nggak tahu," jawab Dami.
Jawaban Dami membuat yang lain keheranan. Katanya Dami sudah menerima bingkisan dari Tiara. Saat ditanya apa ia menyukainya, Dami menjawab tidak tahu.
"Kenapa nggak tahu? Tapi lo tahu apa isinya, kan?" tanya Tiara lagi.
"Belum sempat gue buka." Dami menegakkan punggung lalu mengusap ujung bibirnya.
"Bang." Adam menyikut lengan Dami. "Lo bilang gini bukan karena bingkisannya lo buang, kan?"
Dami menoleh. Tatapan matanya masih sama dingin seperti hari-hari biasanya. "Ya."
Adam membulatkan bibir. Tadinya ia berniat ingin bercanda. Tapi jawaban Dami sungguh di luar ekspetasinya.
"Lo buang?" pekik Tiara tidak percaya.
Adam menggelengkan kepala tanda sadar. Ia menunduk lalu menepuk keningnya pelan. Bisa-bisanya Dami mengatakan sejujur itu padahal ada orangnya di depan mereka. Astaga! Adam menyesal pergi berdua dengan Dami! Tidak ada Raka yang akan menjadi penengah. Adam lupa kalau Dami suka sekali membuat masalah karena mulutnya yang pedas dan kelewat jujur.
"Nggak bisa menghargai orang itu udah jadi kebiasaan lo, ya?" cibir Alenta.
"Maksud lo?" Dami balas bertanya.
"Oh, okay." Alenta ikut menegakkan punggung lalu bersedekap. "Penilaian gue tentang lo emang nggak salah. Lo orang paling nggak berperasaan yang pernah gue temui."
To be continue---