Hantu Baru

1252 Kata
Alenta tidak habis pikir ada manusia semacam Dami di dunia ini. Bermulut pedas, egois, dan yang paling parah tidak bisa menghargai orang. Maksud Tiara itu baik. Tujuan Tiara mengirimi Dami bingkisan untuk berterima kasih karena sudah menolong Alenta. Tapi... dengan begitu santai Dami mengatakan jujur kalau bingkisan dari Tiara telah dibuangnya ke tempat sampah. Oh, astaga! Alenta berharap tidak akan pernah berhubungan dengan lelaki itu. Terlepas Dami telah menolongnya sampai dua kali, Alenta lebih memilih tidak ingin berurusan dengan lelaki bernama Dami itu. Tiara mengomel di sepanjang perjalanan pulang. Ada baiknya juga Dami mengatakan hal tadi. Dengan begini Tiara jadi tahu kalau Dami memang kurang waras. Selama ini Tiara sering memintanya untuk berpikiran positif tentang Dami. Mungkin Dami begini, mungkin begitu makanya agak sinis menanggapi ucapan terima kasih Alenta. Sekarang, bagaimana? Sudah tahu kalau Dami sangat menyebalkan, bukan? "Kayak orang sawan lo, Ra," ujar Alenta setengah menahan tawa geli. Karakter Tiara berbanding balik dari Alenta. Kalau Alenta bisa menyikapi sesuatu lebih tenang tanpa membuat keributan. Beda lagi sama Tiara. Perempuan itu berhenti mengoceh dan mengutuk Dami—entah sadar atau malah tidak sadar. Lagi pula siapa yang tidak tersinggung kalau diperlakukan seperti tadi? Niat baik Tiara malah tidak dihargai sama sekali. Kalau pun tidak menyukainya, bingkisannya pun sudah dibuang, apa harus dikatakan dengan jujur di depannya orangnya? Kan tidak perlu. Karena selain bisa membuat tersinggung, rasanya juga kurang sopan. Apa Dami tidak pernah dididik orang tuanya selama ini? "Gue pikir selama ini cuma perasaan lo aja. Gue berusaha selalu positif sama orang. Mau orang itu niat jahat atau balik baik ke gue, ya gue berusaha untuk tetap baik. Tapi, yang tadi beneran bikin gue shock!" Tiara menggerakkan bibirnya mirip bebek. Tidak memberi jeda barang sebentar saja. Tiara membenci orang bermuka dua. Tapi lebih tidak menyukai orang seperti Dami. Apa yang keluar dari mulut lelaki itu sangat menyakitkan hati. Tidak perlu jadi orang yang palsu, tapi tidak perlu sejujur itu juga. Cukup diam, dipendam, dan ucapkan terima kasih sekali pun tidak menyukai pemberian orang lain. "Lain kali gue nggak mau berurusan sama orang kayak gitu lagi!" Tiara menoleh lalu mengangkat dua jari membentuk huruf V. "Ngeri banget gue! Itu, temen-temen bandnya apa nggak makan hati mulu punya vokalis begitu! Astaga," maki Tiara. "Mereka kelihatan baik-baik aja kok." Alenta bergumam, kemudian menambahkan, "Lo lihat sendiri semua temen bandnya khawatir banget waktu Dami kejatuhan lampu dari panggung." Tiara mendesis panjang. "Tapi... siapa tahu itu cuma pencitraan doang. Lo tahu sendiri orang-orang di dunia entertain kayak gimana, kan?" Alenta menggeleng, menepuk bahu Tiara pelan. "Nggak semua kali, Ra. Mungkin temen-temen band dia udah hafal. Udah maklum sama tabiatnya Dami." Tiara menunjukkan ekspresi ngeri sekaligus heran. "Mending gue out kalau punya rekan kayak Dami!" *** "Apa lo nggak penasaran sama kehidupan lo semasa hidup dulu?" Pertanyaan Fano membuat Naomi kepikiran. Iya, ya. Selama ini Naomi sibuk bermain di sana-sini. Pergi dari satu tempat ke tempat lain sambil memerhatikan para manusia dengan berbagai macam karakter. Seperti apa dirinya semasa hidup? Naomi menarik napas panjang. Aish. Naomi tidak suka dibuat banyak berpikir begini. Sama saja menguras isi kepalanya! "Mungkin... gue meninggal waktu masih sekolah?" gumam Naomi menarik ujung seragam di tubuhnya. "Lo lihat aja baju gue, nih. Bisa jadi gitu...." Fano memerhatikan Naomi dari samping. Naomi selalu santai dan ceria. Sepertinya semasa hidup perempuan itu tidak pernah memiliki masalah. Setiap hari tertawa, mengomel, berceloteh dari hal penting sampai tidak penting. "Lo beneran nggak mau cari tahu soal penyebab kematian lo, Nom?" tanya Fano dengan raut wajah penasaran. Ia pikir hanya manusia saja yang bisa amnesia. Ternyata hantu pun bisa. Tapi, kenapa ya? Ada penjelasan medisnya, tidak? "Gue penasaran sebenernya." Kepala Naomi manggut-manggut. "Tapi.... keinginan gue buat nggak mau cari tahu lebih besar." "Kenapa?" tanya Fano bingung. Naomi menunjukkan ekspresi berbeda dalam sekejap. Yang semula ceria, kini berubah murung. "Penyebab kematian orang beda-beda. Ada yang sakit menahun, ada yang kecelakaan, bunuh diri, atau malah dibunuh.... kayak lo," cuman Naomi. Kembali teringat penyebab kematiannya sendiri. Fano mematung lebih dari lima detik. Ia sibuk menanyakan kenapa Naomi tidak penasaran kenapa bisa meninggal. Padahal, ada yang lebih penting daripada penasaran dengan kehidupan hantu lainnya. Kenapa Fano tidak mencari orang yang membunuhnya saja? "Lebih baik kayak gini nggak, sih?" tanya Naomi agak mendongakkan kepala. "Kalau penyebab kematian gue cuma bikin sedih, buat apa diingat lagi?" Fano tertawa mencibir. "Nggak ada kematian yang nggak bikin sedih, Nom." "Iya, sih." Naomi mengangguk setuju. "Cuma, apa enaknya ingat hal yang bikin sakit?" Fano diam sambil berpikir. Ada sesuatu yang membuatnya tidak berhenti kepikiran. Salah satunya: kenapa ia dan Naomi jadi arwah penasaran tidak jelas begini? Luntang-lantung setiap hari. Pasti ada yang membuat mereka tetap tinggal di dunia. Entah itu apa. Tapi yang jelas pasti ada hubungannya dengan kematian mereka. Kalau Fano jelas. Ia meninggal karena dibunuh. Sementara Naomi.... perempuan itu saja lupa masa lalunya. Bagaimana bisa tahu apa yang terjadi sebelum meninggal. "Ah, lo. Kenapa bahas yang berat, sih!" Naomi menepuk paha Fano lalu berdiri. "Gue paling males bahan sesuatu yang bikin otak gue mikir mulu!" Fano ikutan berdiri. Ya mau bahas apa lagi memangnya? Tidak ada hal menyenangkan untuk dijadikan bahan obrolan. Mau bahas Alenta pada Naomi, perempuan itu akan menceramahinya seperti kemarin. Katanya, Fano harus belajar menerima kematiannya mulai sekarang. Keduanya berjalan beriringan di atas trotoar. Naomi meminta Fano agar tidak membahas penyebab kematiannya lagi. Lebih baik mencari topik yang lebih seru. Naomi cuma takut. Bagaimana kalau penyebab kematiannya karena dibunuh? Naomi menggeleng. Bersumpah akan memaki Fano jika ia sampai terbayang sampai keesokan harinya. "Tunggu." Fano menahan sebelah bahu Naomi lalu menunjuk seseorang dari seberang jalan. "Apaan? Gue tonjok lo ya bahas kayak tadi!" umpat Naomi. "Bukan, anjir," balas Fano. "Lo lihat... cowok di seberang itu." Satu jari Fano menunjuk ke seberang. Kedua matanya menyipit kala memerhatikan orang itu. "Yang mana?" Naomi memanjangkan leher mencari objek yang ditunjuk Fano. "Itu. Lo ikutin jari gue nunjuk ke mana," ujar Fano. "Oh, dia. Cowok yang gendut itu?" tanya Naomi. "Hantu baru kayaknya." "Bener kan!" seru Fano. "Lo udah bisa bedain mana hantu sama manusia sekarang?" "Bukan. Tapi beberapa hari yang lalu gue lihat jenazah cowok itu di rumah sakit!" "Ha? Yang bener?" Fano mengangguk. "Iya. Makanya gue tahu kalau cowok itu hantu!" "Samperin, yuk!" Naomi menyambar tangan Fano. "Mau ngapain?" Fano menolak. "Buat diajak kenalan. Kasian. Dia hantu baru, pasti linglung. Lo aja udah beberapa bulan meninggal belum bisa bedain mana hantu sama bukan!" cibir Naomi. Dalam sekali kedip saja Fano dan Naomi berpindah ke seberang tempat si lelaki yang dilihat Fano tadi. Naomi menepuk bahunya lalu menyapa sangat ramah. "Halo! Hantu baru ya? Kenalin, gue Naomi. Lo siapa?" Diam-diam Fano mencibir. "Hantu, pun, juga bisa ngajak kenalan ya?" Naomi menyikut perut Fano. "Hantu baru?" tanya si lelaki kelihatan tambah linglung. "Iya. Lo hantu baru. Ah, gue tahu. Lo pasti belum sadar kalau udah meninggal ya?" Naomi menatap si lelaki dengan prihatin. Tiba-tiba lelaki tadi jatuh terduduk di bawah. Kepalanya menunduk lesu lalu menangis. Naomi duduk berjongkok di depan lelaki itu berusaha menghibur. Hal seperti ini adalah hal lumrah. Bukan pertama kali pemandangan semacam ini terjadi. "Yang sabar ya." Naomi berbisik sambil menepuk punggung lelaki itu. "Awalnya emang aneh. Nggak terima kenapa lo harus meninggal. Tapi, ini udah takdir lo. Dan lo harus terima," tambah Naomi. Fano jadi teringat pada dirinya saat pertama kali tahu ia telah meninggal. Ia marah, sedih, ia tidak bisa menerima kenapa dirinya harus mati. Apalagi penyebabnya karena dibunuh. Tapi, seperti yang dikatakan Naomi pada lelaki itu. Bahwa itu sudah menjadi takdirnya. Tidak bisa ia, Naomi atau hantu lainnya tolak. To be continue---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN