Tidak menunggu sampai keesokan harinya, Adam menceritakan kejadian di restoran tadi saat makan bersama dengan Alenta dan Tiara. Reaksi Abra cuma berdecak. Sementara Raka malah mengibaskan tangan seolah hal seperti ini sudah biasa terjadi.
Karena faktanya memang begitu. Dami tetaplah Dami.
"Hatinya udah kebas apa gimana?" tanya Adam sambil berdecak.
"Belum aja ketemu sama yang bisa cairin," sambung Abra.
"Kalau itu pasti, Bang. Tinggal nunggu waktunya aja kapan." Adam berkata sok tahu. "Nggak selamanya Bang Dami bakal gitu terus. Tapi... gue khawatir sekalinya nemu orangnya, Bang Dami malah ditolak."
"Heh!" tegur Raka siap menapit kedua ujung bibir Adam.
Si bontot kelewat jujur kadang. Raka dan Abra sering mewanti pada Adam agar tidak terlalu jujur saat mengatakan sesuatu. Ah, baiklah. Mengatakan hal jujur memang penting. Tapi, kita harus melihat kondisi, dong. Tidak bisa asal ceplas-ceplos kalau tidak ingin kena tinju orang.
"Reaksi manajernya Alenta gimana, Dam?" Abra melipat satu kakinya ke atas kursi.
"Ya marah dong, Bang! Mukanya kayak shock! Gue kalau ada di posisi manajernya Alenta juga bakal bereaksi yang sama!" dengkus Adam tampak menggebu-gebu.
Raka tahu-tahu memukul kepala Adam. "Lo, sih! Harusnya lo nggak perlu nebak Dami buang bingkisannya atau nggak!"
Adam memegangi kepalanya. "Iya, Bang. Ya ampun. Gue juga nyesel nebak begitu. Gue pikir Bang Dami bakal nunjukin reaksi gimana, gitu.... nggak tahunya malah diiyain. Kan, bangke!"
Gantian Abra yang memukul kepala Adam. "Kalau orang yang lo ajak bercanda si Raka, sih, gue yakin bakal balas bercanda. Lah, itu si Dami!" cibir Abra.
Adam menepuk kepalanya. Ia baru menyadari siapa yang hendak ia ajak bercanda. Benar kata Abra. Kalau orangnya Raka, jelas akan dibalas dengan candaan. Atau bisa jadi bisa lebih mencairkan suasana. Tapi, bodohnya Adam, yang diajaknya bercanda malah Dami. Orang paling sensi sedunia. Orang yang paling mudah terpancing emosinya.
"Habis itu, Dami minta maaf?" tanya Abra pada Adam.
"Mana mungkin," sahut Raka. "Paling pasang ekspresi datar terus pergi."
Adam beranjak dari kursi lalu bertepuk tangan bak orang menonton konser musik. "Emang nggak diragukan lagi kalau lo temennya Bang Dami!"
Raka menepuk bahunya seolah bangga. "Sampai ke luar sama dalamnya Dami, pun, gue paham!"
Dasar sinting!
Abra memilih melipir ke pojok menjauhi rekan kedua rekan bandnya itu. Abra rasa, di antara semua anggota Missing You, Adam yang paling cocok sama Raka. Selalu nyambung. Ada saja yang dibahas. Kadang tertawa seperti orang gila, padahal, tidak jelas apa yang sedang kedua lelaki itu tertawakan.
***
"Jadi?"
Walau ekspresi wajah Alenta menunjukkan ketidaksukaan, Rayan tetap percaya diri memperkenalkan lelaki di sampingnya sebagai bodyguard sang adik.
"Namanya Rivano." Rayan berdeham sekali lalu menujuk si bodyguard. "Vano, bodyguard kamu...."
"Vano?" gumam Alenta.
Nama Vano selalu memberi reaksi berlebih. Biarpun Vano yang ini beda dari Fano-nya, tapi namanya sama. Ia jadi teringat lelaki itu. Orang yang telah mengingkari janjinya sendiri dengan pergi untuk selamanya.
Tiga detik setelahnya Alenta tersadar. Sosok Vano menatapnya datar, sama sekali tidak menunjukkan keramahan sedikit pun.
"Aku udah bilang kan." Alenta menegaskan suara. "Nggak perlu sewa bodyguard, Kak!"
"Perlu." Rayan tidak mau kalah. Ia tetap pada pendiriannya menyewa bodyguard untuk menjaga sang adik. "Kamu nggak bisa jamin bakal ada kejadian kayak waktu itu atau nggak. Coba pikir lagi, Len. Apa yang dilakuin sama Kakak itu salah? Kakak cuma pengin kamu baik-baik aja."
"Tapi menurut aku ini berlebihan. Ak—"
"Cuma kamu satu-satunya yang Kakak punya. Setelah kehilangan Papa sama Mama, Kakak nggak mau kehilangan anggota keluarga lagi. Coba pikirin lagi apa ini salah?"
Kata-kata Rayan meluluhkan hati Alenta dalam hitungan detik saja. Alenta teringat mendiang kedua orang tua mereka. Sebelum Rayan akhirnya menikahi Tasya, ia dan Rayan hanya tinggal berdua saja. Sungguhan tanpa orang tua.
Mama dan Papa mereka sama-sama yatim-piatu. Jelas setelah orang tuanya meninggal, Alenta dan Rayan tidak memiliki siapa pun selain mereka sendiri. Sesampainya kembali ke Indonesia, teman-teman mendiang mamanya memberi banyak perhatian. Setiap kali Rayan harus pulang lembur karena bekerja sepulang kuliah, Alenta dititipkan ke salah satu teman mereka. Alenta sempat protes kenapa ia dititipkan? Kan, ia bukan anak kecil lagi. Sementara itu, Rayan hanya takut kehilangan anggota keluarganya lagi. Itu saja. Setelah kehilangan Papa lalu Mama, rasanya sangat sakit. Untuk melewati proses akan bangkit, butuh perjuangan keras yang tentu orang lain tidak akan tahu.
"Okay." Alenta bersedekap. "Aku setuju dikawal bodyguard. Tapi ada syaratnya," katanya.
"Apa? Sebutin aja."
Alenta melirik Rivano sepintas kemudian lurus ke Rayan. "Cuma sebulan." Alenta meluruskan satu jari. "Lewat dari sebulan nggak terjadi apa-apa sama aku kayak yang Kakak takutkan. Aku nggak mau dikawal pake bodyguard lagi. Gimana?"
Rayan tampak berpikir sebentar sebelum memberi jawaban. "Bukannya Kakak berharap kamu kenapa-kenapa. Misal terjadi sesuatu sama kamu, kamu harus menuruti semua permintaan Kakak. Apa pun itu...."
"Hmm. Aku setuju." Alenta mengangguk kecil.
***
"Woah! Siapa? Gebetan?" seru Tiara mengikut lengan Alenta.
"Bodyguard." Alenta menjawab malas-malasan.
Tiara menghadang langkah Alenta. "Nyerah juga lo?" tanyanya. "Padahal kemaren sampai berantem sama gue gara-gara bahas bodyguard!"
Alenta mendorong salah satu lengan Tiara. Ditatapnya perempuan itu tajam. Tiara balas menatap Alenta dengan kedua mata yang sengaja dilebarkan. "Gue lagi malas bahas itu lagi. Gue akhirnya mau juga pake syarat."
"Syarat apaan?" tanya Tiara.
"Lewat sebulan nggak ada terjadi hal buruk sama gue, saat itu juga Kak Rayan harus berhenti menyewa bodyguard."
"Tapi, kalau lo ada apa-apa sebelum sebulan perjanjian?" Buru-buru Tiara menambahkan, "Bukan. Hmm... bukan berarti gue doain lo dalam bahaya. Tapi, kita nggak tahu apa yang bakal terjadi. Iya, kan?"
Alenta memilih tidak menghiraukan ocehan Tiara. Rivano, atau Vano, bodyguard Alenta duduk di kursi depan, sementara Alenta ada di belakang. Ekspresinya masih sama, datar, minim sekali. Tiara sudah hafal. Kalau begini artinya Alenta sedang dalam suasana hati yang kurang baik.
Persyaratan yang Alenta ajukan agak bagaimana ya... Rayan menyewa Vano agar bisa menjaga adiknya. Tapi, dalam perjanjian menyebutkan. Kalau terjadi sesuatu kepada Alenta sebulan sebelum masa perjanjian habis, Alenta harus menuruti apa pun permintaan kakaknya. Termasuk tetap dikawal bodyguard dalam waktu yang tidak ditentukan.
"Tapi cakep lho, Len." Tiara berbisik di telinga Alenta, sengaja menggoda perempuan itu.
"Terus?" tanya Alenta, sinis.
"Ya.... nggak apa-apa sih. Gue cuma ingetin lo aja kalau bodyguard-nya cakep. Siapa tahu bisa kayak cerita di FTV. Si artis jatuh cinta sama bodyguard-nya sendiri," ejek Tiara lalu tertawa.
"Udah ketawanya? Kalau belum puas, jangan berhenti, Ra. Gue suka denger lo ketawa," sindir Alenta sarkas.
Tiara meluruskan pandangan. Diam-diam memerhatikan bodyguard Alenta dari tempat duduknya. Tiara mengulum senyum. Beruntung sekali menjadi Alenta, ya. Sudah dianugerahi wajah cantik, bertalenta, di kelilingi lelaki tampan pula. Bukankah hidup Alenta nyaris sempurna?
Sempurna? Ha! Saking sempurnya, Alenta hampir gila setelah kehilangan kedua orang tuanya. Saking sempurnanya, Alenta sempat ingin mengakhiri hidup setelah kehilangan sosok Fano. Apa itu bisa disebut sempurna kalau Alenta saja kehilangan banyak orang yang disayanginya?
Orang lain hanya melihat dari penampilannya saja. Mereka mana tahu bagaimana proses untuk bertahan hidup. Mereka tidak akan tahu. Mungkin juga tidak ingin tahu.
To be continue---