Cuma Lo Keluarga Gue

1199 Kata
"Halo!" Senyuman lebar Dimas di depan pintu mengubah ekspresi wajah Dami. Lelaki itu tidak membalas sapaan sang adik. Tidak juga mengusirnya. Justru Dami berjalan ke pinggir memberi ruang Dimas untuk masuk ke dalam. "Mau minta uang buat beli apa lagi?" Dami mengatakannya tanpa basa-basi. Dimas menyengir. Menepuk punggung kakaknya sambil tertawa. "Jelek banget gue di mata lo ya, Bang. Padahal alasan gue datang kemari bukan cuma mau minta tambahan uang jajan." Dami mengempaskan bokongnya ke atas sofa diikuti oleh Dimas di sampingnya. Uang adalah salah satu alasan Dimas datang menemui Dami. Bocah itu lebih suka menghabiskan waktunya bersama seorang teman daripada dengan kakaknya sendiri. Dimas beralasan bahwa Dami kurang asyik. Segala sesuatunya dianggap serius. Sesekali coba bercanda, tertawa, ya apa saja daripada sehari memberengut tidak jelas. "Mau beli apa lagi lo? Hal nggak berguna lagi?" cibir Dami. Dimas menanggapinya dengan tertawa masam. Tidak pernah sekali pun Dimas balas marah walaupun sikap Dami sering ketus padanya. Ya..... bagaimana sih. Sejak lahir Dami memang begitu. Tidak pernah beramah tama pada orang lain. Egois, mau menang sendiri. Dan segala macam sifat buruk Dami diperparah setelah Ibu mereka meninggal. Lalu, tidak menunggu waktu lama sang Ayah menikah lagi dengan seorang janda beranak dua. Dami yang keras, egois, pemarah, kian memberontak. Setiap hari membuat masalah di sekolah. Pergi balapan liar, tawuran, disenggol sedikit langsung mencak-mencak. "Cepet lo mau minta apaan. Nggak usah basa-basi, deh." Dimas mendecakkan lidah. "Permintaan gue nggak susah kok, Bang." "Bulan lalu lo minta dibeliin motor baru juga bilangnya bukan permintaan yang susah," sindir Dami. Seketika Dimas menunjukkan perubahan ekspresi di wajahnya. "Gue cuma minta lo sehat terus. Kalau lo suntuk atau kesepian, lo bisa telepon gue, ya?" Kedua alis Dami saling bertaut. Dahinya mengernyit. Dalam hati ia bertanya, "Ada angin apa Dimas mengatakan hal barusan? Apa adiknya sedang demam? Atau mabuk?" "Gue ke sini cuma mau pastiin lo masih hidup atau nggak." Dimas nyengir. Lima menit yang lalu tampak serius, lima menit setelahnya kembali sumringah. "Yang gue anggap keluarga cuma lo, Bang. Kalau lo kenapa-kenapa, gue jadi sebatang kara." Dami mengeraskan rahang. "Kalau lo anggap cuma gue keluarga lo yang tersisa. Kenapa lo nggak keluar dari rumah aja? Buat beliin lo hunian, gue mampu, Dim. Ngasih lo uang jajan, fasilitas dan segalanya, pun, gue masih sanggup. Sangat sanggup. Lo cuma perlu angkat kaki dari rumah itu doang!" Dimas tidak menyangka kalau reaksi Dami akan seperti ini. Bukannya terharu, Dami malah naik darah! Oh, astaga! *** Di usianya yang telah dewasa, Alenta merasa hidupnya jauh lebih diatur ketimbang saat masih belia. Dulu bahkan masih SMA, Alenta bisa pergi ke mana-mana bersama seorang teman. Walau Rayan akan bertanya siapa nama temannya, di mana tempat tinggalnya, mereka akan pergi ke mana, Alenta bisa melenggang bebas. Tidak perlu diikuti pergi ke sana kemari dan dijaga oleh seorang bodyguard. Malam ini Alenta akan menghadiri sebuah konser seorang penyanyi senior yang ia kenal. Alenta akan pergi ditemani Tiara pada awalnya. Tapi, karena Rayan tahu semua jadwal Alenta yang dimintanya dari Tiara, maka Rayan sudah memberi warning. Alenta boleh pergi asal ditemani bodyguard. Oh, astaga. Alenta menarik napas panjang dan berat. Ia cuma pergi menonton konser. Tidak akan memakan waktu lama karena Alenta tidak bisa menonton konsernya hingga selesai. Cuma, kenapa harus pergi bersama bodyguard, sih?! Alenta banyak cemberut beberapa hari terakhir. Selain karena Dami, Rayan adalah salah satunya. Ditambah lagi Rivano, bodyguard-nya yang menurut Alenta menyebalkan. Kalian harus tahu. Rivano bukan cuma menyebalkan. Tapi mengherankan. Tiara pun mengatakan hal yang sama. Setiap kali mereka bertatap muka atau tanpa sengaja saling menatap, Rivano dengan segera membuang tatapannya ke objek lain. Cara bicaranya yang kaku dan agak judes. Oh ya, satu lagi, Alenta tidak mungkin salah mengartikannya. Rivano, tampaknya tidak menyukainya. "Ha?" Itu respons Tiara kala Alenta menceritakan bagaimana setiap kali Rivano menatapnya. "Salah lihat kali lo. Dia kan bodyguard lo. Tugasnya ya jagain lo. Jadi harus kelihatan tegas dan garang!" Alenta menggeleng lalu berdecak. "Lo harus lihat sendiri, Ra. Nggak mungkin gue salah." Tiara bersedekap, menyunggingkan senyum mengejek Alenta. "Nggak ada manusia yang serba tahu. Orang yang otaknya dari lahir pinter aja masih bisa salah nebak kalau diberi pertanyaan." "Yang ini beda, Ra," desah Alenta memijat keningnya. Kepala Tiara manggut-manggut. Sambil menepuk sebelah bahu si artis, Tiara mengatakan dengan nada prihatin. "Setelah jadwal lo kelar semua, lo bisa liburan dua atau tiga hari. Nggak usah yang jauh-jauh. Bali atau Jogja?" "Liburan buat apa?" Sebelah alis Alenta naik ke atas. "Buat.... piknik," bisik Tiara. Si bodyguard—Rivano berjalan di belakang Alenta dan Tiara. Sadari tadi lelaki itu menolehkan kepalanya ke sana kemari seperti memerhatikan sesuatu. Alenta ada di depan sibuk mengobrol bersama sang manajer. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. "Lo yang bikin jadwal gue, dan lo tahu ada banyak kerjaan yang nunggu. Lo mau gue pergi liburan?" tantang Alenta. "Gue mau aja liburan, tapi dalam jangka panjang. Liburan dua atau tiga hari mana kerasa." Tiara berpindah di depan Alenta. Berjalan mundur sembari mengoceh tidak henti. "Lo sadar nggak, kalau akhir-akhir ini lo berpikiran negatif mulu sama orang lain." "Masa?" Alenta bergumam. "Gue nggak merasa begitu." "Tapi gue merasa lo begitu," balas Tiara tidak mau kalah. "Pertama Dami...," Tiara merapatkan kedua bibirnya. Ia jadi teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu. Iya, saat mereka tidak sengaja bertemu di sebuah toko pakaian. Mereka makan bersama setelah belanja, hingga akhirnya membahas bingkisan yang diberikan Tiara sebagai ucapan terima kasih karena telah menolong Alenta. Bukan disambut baik, apalagi mengucapkan balasan terima kasih. Dami justru membuang bingkisan dari Tiara ke dalam sebuah tempat sampah! Bayangkan saja, jika kalian memberi sebuah bingkisan pada seseorang, lalu seseorang itu mengatakan bahwa bingkisan dari kalian malah dibuang ke tempat sampah sebelum ia lihat. Woah! Tiara sampai terbengong. Antara percaya dan tidak. Tiara pikir, orang seperti Dami hanya ada di dalam sebuah novel atau film. Ternyata nyata ya. Dan wujudnya semacam Dami. Kedua sudut bibirnya Alenta tertarik, membentuk senyuman sinis. "Kenapa? Lupa sama kejadian di restoran?" Alenta seolah sedang menahan tawanya. "Perlu gue ingatkan lagi, Ra?" "No, thanks!" Tiara mengulurkan sebelah tangannya. Obrolan mereka berhenti sampai di sana. Di kanan kiri banyak orang. Ada yang dari bergerombol sampai datang sendirian. Tempatnya konsernya sangat ramai. Untuk mengantre masuk saja harus desak-desakkan. "Oh, sori!" pekik seorang lelaki lalu menunduk menarik ujung topinya. Tiara dengan segera menegur si lelaki. "Mas, kalau jalan hati-hati ya. Di sini banyak orang." "Udah... nggak apa-apa." Alenta menegur Tiara. "Cuma nggak sengaja kena senggol doang." "Iya." Tiara menekan suaranya. "Tapi yang gue lihat, Mas ini nabrak lo lumayan kenceng. Gue aja sampai kaget!" "Gue nggak apa-apa, Ra," kata Alenta. Perempuan itu memindahkan pandangannya pada lelaki yang menabrak bahunya tadi. "Saya nggak apa-apa kok, Mas. Saya juga jalannya nggak lihat-lihat." Si lelaki itu sekali lagi menundukkan kepala kemudian mendongak. Alenta sempat menatap mata lelaki itu lantas balas tersenyum tipis. "Lo beneran nggak apa-apa, Len?" tanya Tiara memastikan. Tiara menengok ke belakang mencari keberadaan Rivano. "Bodyguard lo mana sih? Jagain lo di tempat kayak gini aja nggak bisa!" Alenta ikut menoleh dan mencari Rivano. "Tuh." "Mana?" Tiara memanjangkan leher. Alenta menepuk-nepuk bahu manajernya. "Gue saranin, lo beli kacamata kuda. Rivano ada di sana, tuh." Sialan! Tiara menyenggol lengan Alenta lantas berjalan lebih dahulu. Alenta tertawa geli melihat tingkah Tiara. Perempuan itu sangat berisik! To be continue---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN