Untuk Kedua Kali

1165 Kata
Terjadi penembakan brutal di sebuah acara konser. Semua penonton hingga si penyanyi di atas panggung kompak berlarian sejak tembakan pertama. Tembakan kedua dan selanjutnya diarahkan secara acak. Tanpa sengaja Fano mendengar berita penembakan itu dari acara radio. Seketika ia teringat Alenta yang pergi ke sebuah konser bersama Tiara dan bodyguard-nya. Fano berjingkat, meninggalkan Naomi yang sibuk memerhatikan sepasang kekasih sejak tadi. "Fan!" seru Naomi begitu menyadari kepergian Fano. Naomi menyusul lelaki itu sesekali meneriaki namanya. Fano tidak menghiraukan teriakkan Naomi. Sekarang yang sedang ia pikirkan adalah Alenta. Ia berharap itu konser penyanyi lain, berbeda dari didatangi Alenta. Sementara di tempat lain, di sebuah rumah sakit, Alenta merasa De Ja Vu. Baru beberapa waktu lalu ia menunggu dengan gelisah. Orang itu sedang ditangani dokter, dan dirinya menunggu sampai dokter dan suster keluar. Tiara memegangi kedua bahu Alenta dari arah belakang. Sebagian baju perempuan itu terdapat bercak darah. Alenta menunduk kemudian memijat keningnya dan berjalan mondar-mandir. "Gue yakin Dami bakal baik-baik aja." Ya. Itu harapan Alenta memang. Kalau sampai terjadi sesuatu kepada Dami karena dirinya, Alenta tidak akan bisa memaafkan diri sendiri. Dami telah menolongnya untuk yang ketiga kali. Dan selama tiga kali itu pula Dami jadi celaka. Bahkan sebelum kejadian ini, lelaki itu sudah lebih dulu masuk rumah sakit. Kepalanya mendapat beberapa jahitan. Lalu sekarang? Dami masuk ke dalam ruang operasi dikarenakan terkena tembakan di perutnya akibat menolong Alenta. Padahal Alenta sudah memperingatkan Dami untuk tidak menolongnya lagi. Dami mengolok Alenta sebagai pembawa sial dan sebagainya. Kenapa? Kalau tahu Alenta pembawa sial, seharusnya Dami menjauhinya. Bukannya malah mendekat. Lalu olokan Dami selama ini pada dirinya itu apa? Dami kelihatan kesal, juga menyesal setelah membantu Alenta melewati hal bahaya—tapi justru Dami yang terluka. Tapi, herannya, Dami malah tidak kapok juga. Baru beberapa waktu lalu menghinanya, namun yang dilakukan Dami sekarang tidak berhenti membuat Alenta heran. Kejadiannya terjadi begitu cepat. Konser yang ia datangi terjadi kericuhan karena disebabkan seseorang datang membawa pistol lalu menembakkannya ke arah lampu di atas panggung. Setelah mendengar lampunya pecah, tentu saja orang-orang sibuk menyelamatkan diri. Mereka berbondong-bondong pergi keluar sembari berdesakkan. Bukan cuma penonton yang kabur, tetapi sang penyanyi dan seluruh orang di panggung pun ikut pergi. Alenta terjebak di antara kerumunan orang yang sibuk kabur. Ia terpisah dari Tiara. Rivano ada di luar gedung konser digelar. Tadinya Rivano akan ikut masuk ke dalam, tetapi Alenta menahannya dan mengatakan hanya ia dan Tiara saja yang bisa masuk. Rivano menyipitkan dahi. Lelaki itu bertanya dengan wajah dingin. "Saya bisa beli tiket untuk masuk." Satu jari Alenta menunjuk ke loket. "Lo nggak baca kalau tiket udah habis?" Kedua mata Rivano ikut ke mana ujung jari Alenta menunjuk. "Mendingan lo tunggu di luar sampai konser selesai. Karena mau dipaksa masuk sekali pun, lo tetep nggak bisa karena nggak ada tiket." Itu hanya alasan Alenta saja. Tiket yang diberikan adalah tiket undangan yang bisa digunakan oleh beberapa orang. Itu pesan si penyanyi yang mengundangnya. Tapi karena Alenta sudah sebal pada Rivano sejak awal, Alenta sengaja mengatakan harus mempunyai tiket untuk masuk. Dan beruntung tiket sudah terjual habis. Rivano tidak bisa beralasan lagi untuk mengikutinya ke mana-mana. Jadilah ia dan Tiara hanya berdua ke dalam menyusul para penonton yang masuk dengan tertib satu per satu. Siapa sangka akan ada kejadian seperti ini. Ketika si penyanyi menyanyikan lagu pertama, Alenta dan seluruh penonton menikmati. Hingga di pertengahan lagu, seseorang itu muncul dan merusak segalanya. Alenta bingung harus pergi ke arah mana karena tidak ada penerangan. Sementara teriakkan orang-orang malah membuat Alenta jadi lebih panik. Suara tembakan makin menjadi-jadi. Saat terdengar tembakan sekali lagi—yang entah ke berapa. Tubuh Alenta seperti didorong oleh seseorang. Suaranya terlalu bising hingga membuat Alenta tidak bisa fokus. Tahu-tahu tubuhnya jatuh, punggungnya menabrak seseorang. Dan.... Alenta bisa melihat Dami ada di bawah kakinya dengan perut yang berdarah-darah. Alenta menjerit seketika. Dami memegangi perutnya walau kedua matanya hampir memejam. Dami tampak sekarat. Alenta berjalan merangkak menghampiri lelaki itu. Ia menepuk pipi Dami seolah membangunkannya. Tapi Dami tidak bergerak. Sama sekali tidak merespons panggilannya. Dan sekarang di sini lah Dami. Di sebuah rumah sakit untuk ditangani. Karena menolongnya, Dami harus mendapat luka tembakan tepat di perutnya. Alenta dibawanya duduk oleh Tiara. Alenta menunduk, memandangi jari-jarinya yang merah—darah milik Dami. "Kenapa dia nolongin gue lagi?" gumam Alenta. Suaranya tercekat. Ia tahu tidak seharusnya mengatakan hal ini, sementara orang yang telah menolongnya sedang berjuang di meja operasi. Fano melihat sendiri Alenta baik-baik saja. Ia belum tahu kalau Alenta diselamatkan oleh Dami... Tubuh Fano berpindah di samping Alenta. Tiara menenangkan perempuan itu. Untuk mengatakan kalau Dami akan baik-baik saja rasanya berat. Masalahnya, kali ini luka yang Dami dapatkan bukan luka ringan. Bukan telapak tangannya yang tersayat, bukan juga kejatuhan lampu seperti waktu itu. Dami ditembak. Entah bisa melewati masa kritisnya atau tidak, mereka semua belum tahu. Belum bisa ditebak. "Lagi?" gumam Fano tidak percaya. Dami yang menyelamatkan Alenta? Sulit dipercaya. Tidak mungkin orang yang menolak membantunya menjaga Alenta, justru menolong Alenta untuk ketiga kalinya. Fano membungkukkan punggung, bertanya apa benar Dami yang telah menyelamatkan perempuan itu? Alenta tidak menjawab. Tentu saja. Alenta tidak bisa melihat wujud Fano yang sekarang. "Gue harus gimana kalau dia kenapa-kenapa, Ra?" tanya Alenta sedih. "Gue nggak bisa nebak maksud Dami apa. Dia kayak benci sama gue, tapi dia nolong gue sampai tiga kali. Dan ini yang kedua kalinya masuk rumah sakit karena nolong gue!" Jika Alenta tidak menemukan jawabannya apa. Bagaimana dengan Tiara? Bahkan, Fano, juga tidak paham. Dami memang susah ditebak. Obrolan Alenta dan Tiara berhenti. Di ujung lorong sana muncul dua orang lelaki. Mereka sedang berjalan ke arahnya. Salah satu dari lelaki itu sudah tidak asing. Sebelumnya ia sudah bertemu. Tapi, lelaki satunya lagi siapa? Tampak lebih muda, cuma Alenta agak ragu kalau itu Adam, anggota Missing You paling muda. "Mana Bang Dami!" seru lelaki lebih muda itu. "Heh, sabar Dim." Raka menarik kedua bahu lelaki itu ketika akan merapat ke sebuah pintu. "Gue mau lihat Bang Dami! Bang Dami selamat, kan? Dia nggak apa-apa, kan?" cerocosnya. Raka menyadari sejak awal ada Alenta di sana. Ia mendekati Alenta kemudian menanyakan detil kejadian yang sebenarnya. Alenta pun menjelaskan tanpa dilebihkan atau dikurangi. Seperti sebelumnya, ia tidak akan balas marah jika memang orang-orang dekat Dami menyalahkannya. Karena bagaimanapun, Dami terluka karena Alenta. "Anak itu kenapa sih," gerutu Raka. "Siapa?" Alenta mendongak, menurunkan tangannya dari leher. Raka balas menatap Alenta. "Ha? Oh, nggak." "Bang Dami...." Dimas merengek seperti anak kecil. Baru kemarin ia mengatakan agar Dami tidak terluka. Cuma Dami keluarga yang dimiliki Dimas sekarang. "Gue... minta maaf." Walau lebih mirip bisikan, Raka bisa mendengar suara Alenta. Ia menengok lalu menunduk hidungnya sembari bertanya, "Lo ngomong sama gue? Kenapa minta maaf kalau lo nggak ngelakuin apa-apa?" Alenta diam sejenak. "Karena gue udah bikin temen lo masuk ke rumah untuk yang kedua kalinya. Oh, juga kejadian di parkiran." "Ada apa sama parkiran?" tanya Dimas. Raka memberi isyarat agar Alenta tidak menjawab lewat kerjapan matanya. Alenta dengan cepat menyadari. Ia merapatkan bibir dan membiarkan Raka menjelaskan pada Dimas, adiknya Dami. To be continue---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN