"Kamu emang anak nggak tahu diuntung!"
Dami menyeringai sinis. "Untung?" Lelaki itu tertawa terbahak seolah makan sang Ayah adalah hal lucu. "Dilahirkan dari keluarga kalian sama sekali nggak bikin aku merasa jadi anak yang beruntung! Apa? Mau marah? Nggak terima? Nggak bisa. Karena itu sesuai fakta!"
Sejak kapan ia menjadi anak yang beruntung? Lahir dan dibesarkan oleh keluarga tanpa cinta. Ibunya meninggal karena terus-terusan disakiti oleh ayahnya. Apa pernah ayahnya mencintai ibunya sejak masih hidup? Tidak. Ayahnya memperlakukan ibunya bukan seperti seorang istri atau Ibu dari kedua anaknya. Ayahnya pulang-pergi sesuka hati. Mana pernah memikirkan kebahagiaan anak dan istri. Ha! Masih berani memaki Dami dengan kalimat, "Anak tidak tahu diuntung?"
"Nggak ada yang minta kalian ke sini. Setelah aku putusin buat angkat kaki dari rumah, itu artinya aku bukan lagi anggota keluarga kalian," tekan Dami.
"Bang!" Dimas berusaha melerai pertengkaran Kakak dan ayahnya.
"Diam kamu, Dimas!" bentak ayahnya, menatap tajam si bungsu.
Alasan Dami pergi dari rumah ya ini. Siapa yang akan tahan tinggal bersama lelaki berengsek seperti ayahnya? Anak mana pun tidak akan mau. Jika Dami diberi pilihan lahir dari keluarga mana, tentu ia akan memilih terlahir dari keluarga lain yang lebih menghargai kehadirannya. Yang lebih memerhatikan keluarga. Bukan seperti ayahnya. Yang tidak tahu diuntung! Sudah memiliki anak dan istri yang mau bersabar, tapi dibalasnya dengan hal yang menyakitkan.
Bagi Dami, cinta itu tidak ada. Tidak nyata. Sifatnya hanya sementara. Setelah bosan, cinta akan pergi dan diganti oleh orang baru. Oh, tidak. Pada dasarnya Ayah dan ibunya menikah tanpa cinta. Ya... sejenis perjodohan keluarga. Tapi bodohnya sang Ibu malah jatuh cinta pada ayahnya. Dan... apa balasan ayahnya untuk ibunya? Tidak ada selain membuat luka. Luka yang diberikan ayahnya terlalu dalam. Saking dalamnya, ibunya berakhir meninggal.
Dami ingin tanya. Apa salah tindakan yang Dami lakukan? Apa Dami bisa disebut anak durhaka, kalau orang tuanya saja memberi contoh buruk! Jangan salahkan Dami jika pada akhirnya memilih pergi meninggalkan rumah. Memilih memutuskan hubungan keluarga. Saat ibunya meninggal, ayahnya tidak terlihat sedih, apalagi merasa bersalah.
"Pintunya ada di sana," tunjuk Dami ke pintu. "Selama nggak ada yang mengundang kalian kemari, tolong jangan datang dan nunjukin wajah kalian."
Kedua mata Dami berubah lebih tajam dan merah. Ayah, Ibu serta dua saudara tirinya menatap marah. Mereka merasa tidak terima karena diusir Dami dari ruang perawatannya. Ditatapnya Dimas yang serbasalah. Ia yang meminta ayahnya datang menjenguk Dami dengan tujuan ingin mereka berbaikan. Bukannya baikan, hubungan keluarganya semakin memanas.
"Pa!" Dimas berteriak dan menahan lengan ayahnya.
"Papa nyesel ngikutin kemauan kamu, Dimas!" sentak ayahnya marah.
Dimas balas menatap Dami setelah Ayah dan keluarga barunya pergi meninggalkan ruang perawatan Dami. Kakaknya tampak tidak peduli. Dami terlihat cuek walau Dimas sudah mencak-mencak.
"Sana, kejar keluarga baru lo." Dami mengibaskan sebelah tangan ke udara.
"Egois lo, Kak! Gue udah susah payah bawa Papa ke sini. Giliran Papa mau sedikit ngalah sama lo, tapi reaksi lo malah kayak gini! Mau sampai kapan lo musuhin Papa?"
"Selamanya," jawab Dami cepat.
Dimas menggeleng tanpa sadar. Ia tidak menyangka bahwa Dami masih dendam pada ayahnya sampai sekarang. Kejadian itu sudah berlalu. Baik Dami dan Dimas sudah jauh lebih dewasa. Mereka bukan anak ingusan yang apa-apa selalu terbawa emosi.
"Mendingan lo pulang ikut Papa lo sana. Gue paling benci diganggu sama orang yang gue benci," gumam Dami tambah sinis.
Dimas berbalik memunggungi Dami. Ia memilih menyusul ayahnya ketimbang harus berlama-lama di sini. Jika Dimas memaksa, bisa jadi mereka akan bertengkar. Ia akan mengalah sekali lagi. Bertengkar pun percuma. Dami tidak akan berubah secepat itu. Ia tahu tabiat kakaknya bagaimana.
Alenta sontak melangkah mundur kala seorang lelaki muda tahu-tahu muncul di ambang pintu. Alenta menyunggingkan senyum canggung. Balasan Dimas cuma menganggukkan kepala kemudian pergi meninggalkan kamar perawatan Dami dengan wajah yang memberengut kesal. Bukannya yang barusan Dimas adiknya Dami? Ada apa? Alenta bertanya dalam hati. Tadi Dimas sangat mengkhawatirkan Dami. Tapi ketika mereka bertemu lagi, Dimas menunjukkan perubahan ekspresi yang kontras.
Selepas kepergian Dimas dan keluarga ayahnya, Dami berharap tidak ada orang datang menjenguknya kalau cuma untuk memancing emosinya. Dami lebih baik sendirian di rumah sakit tanpa ditemani, daripada harus bertemu orang-orang yang dibencinya. Hanya akan membuatnya kehabisan energi saja.
Baru saja mulutnya terkatup, seseorang masuk ke dalam kamar perawatannya. Kali ini bukan Dimas atau ayahnya. Bukan juga Ibu dan kedua saudara tiri Dami. Melainkan Alenta. Orang yang telah menyebabkan dirinya dirawat di rumah sakit!
Alenta menelan ludahnya gugup. Sebelum nekat menemui Dami kemari, Alenta telah memperkirakan akan seperti apa reaksi lelaki di depannya ini. Kalau tidak dimaki ya dibentak. Kali ini Alenta mengesampingkan egonya. Melupakan kata-kata buruk mengenai dirinya seperti waktu itu.
"Gue ke sini mau minta maaf ke lo. Ini udah yang ketiga kalinya lo nolongin gue," gumam Alenta.
Dami menatap Alenta lurus ke depan. Kedua mata hitam Dami sama sekali tidak berkedip. Bibirnya mengatup rapat seolak tidak berniat mengatakan sepatah kata pun.
"Gue akui, gue salah kemaren. Nggak seharusnya gue balas marah sama lo." Alenta mendongak, mengangkat dagu sedikit demi sedikit sampai kedua matanya menatap mata Dami. "Lo bener... gue emang pembawa sial."
Deg!
Seketika kalimat buruk yang telah terancang di otak Dami buyar. Saat Alenta mengiakan bahwa dirinya adalah pembawa sial, Dami merasakan tubuhnya membeku selama tiga detik. Ada rasa bersalah yang tahu-tahu datang.
"Berapa kali lo celaka karena gue?" Terselip senyuman tipis dari raut wajah sedih Alenta. "Tiga kali. Sekali tangan lo tersayat, dua kali lo dirawat di rumah sakit. Gue minta maaf. Emang gue aja yang nggak bisa jaga diri."
Tidak ada yang tahu apa yang Alenta rasakan ketika Fano meninggal akibat dirampok. Alenta marah karena Fano tidak bisa menepati janjinya. Tapi ia jauh lebih merasa bersalah. Diam-diam Alenta menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi kepada Fano. Andai saja Fano tidak pergi untuk melihat acara final, mungkin lelaki itu akan baik-baik saja sekarang. Andai saja Alenta tidak mengancam jika Fano tidak hadir, Fano tidak akan pergi. Benar kata Dami. Alenta cuma pembawa sial. Siapa yang dekat dengannya, orang itu akan celaka.
"Sekarang, lo setuju apa yang gue bilang, kan?"
Berengseknya, Dami malah mengiakan. Dami tidak berniat menghibur Alenta.
Kepala Alenta mengangguk. "Gue baru sadar."
Dami merapatkan kedua bibir sekali lagi. Diam-diam ia merasa bersalah. Tidak seharusnya ia mengiakan. Sekarang, rasa bersalah Alenta jauh lebih tinggi. Entah apa yang akan dilakukannya sebentar lagi. Entah menyalahkan diri lebih banyak, atau malah menutup diri dari orang-orang sekitar.
Alenta jadi berpikiran. Apa benar ia pembawa sial selama ini?
"Udah, kan?" tegur Dami. "Kalau udah minta maaf, lo bisa pergi sekarang."
"Gue ke sini bukan cuma mau minta maaf." Alenta menggigit bibir bawahnya sepintas. "Kalau lo nggak keberatan, gue bisa bantu rawat lo selama sakit. Kata Raka, lo nggak mau ada pembantu atau pelayan di apartemen. Karena gue yang udah bikin lo gini, gue nggak keberatan bantu urus lo..."
"Lo mau ngurus gue?" Dami tertawa sinis. "Lo berniat bikin gue sial berkali-kali?"
Alenta mengatupkan bibir. Ia memejamkan kedua matanya selama tiga detik lalu menarik napas. Ia tidak boleh marah. Karena, faktanya ia memang pembawa sial.
To be continue---