"Ke mana aja lo beberapa hari ini?" tanya Dami. Lelaki itu duduk di salah satu kursi di dalam kamar. Pandangannya kosong, namun kedua telinga dan matanya bisa merasakan kehadiran Fano. Mulanya raut wajah Fano lesu. Begitu mendengar pertanyaan Dami, lelaki itu malah tertawa, kemudian menyahut, "Pertanyaan lo berasa posesif banget sama gue." Dami melirik Fano sekilas. "Ada yang lucu? Masih bisa lo ketawa?" Seketika Fano berhenti tertawa. Aura Dami sangat dingin. Tatapannya, cara bicaranya, woah! Fano jadi merinding! Padahal Fano yang hantu, tapi kenapa Dami lebih menyeramkan kepada dirinya? Ia berani bertaruh, jika ada seseorang yang bisa melihatnya selain Dami, mungkin orang itu tidak akan takut padanya. "Jujur sama gue. Lo dateng dan sempat nolong Alenta, kan?" tanya Dami lagi.

