Bayangan pahit di masa lalu kembali menghantui Dami. Kehadiran papanya selain tidak diinginkan, pasti akan memberi dampak buruk kepadanya. Dami bukan hanya tidak bisa memaafkan papanya karena sudah membuat mamanya meninggal akibat terus disakiti hatinya. Tapi, juga karena Dami terus disalahkan atas apa yang tidak pernah dibuatnya. Puncaknya, ketika Dami dituduh membuat adik tirinya jatuh dari tempat tidur.
Waktu itu Dami masih SMA. Ia baru saja pulang sekolah. Sesampainya di dalam, ia melihat adik bayinya sudah berada di lantai dan menangis kencang. Dami masuk, ia berniat menolong adiknya. Namun, ia terkejut mendapati adik tirinya yang lain sedang berdiri di sudut kamar sembari menatap adik bayi mereka yang menangis tambah kencang.
Dami mempunyai tiga adik tiri. Dua di antaranya perempuan—hasil pernikahan ibu tirinya dengan suami terdahulu. Dan, setelah wanita itu menikah bersama papanya Dami, tidak lama, ibu tirinya dinyatakan hamil. Berbeda reaksi yang ditunjukkan papanya ketika mendengar ibu tirinya hamil. Papanya sangat senang! Katanya, apa pun jenis kelamin si jabang bayi akan diterima dengan suka cita.
Dami jadi teringat reaksi papanya ketika mamanya Dami hamil Dimas. Papanya mengancam mamanya. Katanya, jika bayi yang dilahirkan bukan bayi lelaki, maka papanya akan menalak mamanya. Tapi, apa yang terjadi? Walau mamanya berhasil melahirkan dua anak lelaki, papanya masih semena-mena. Tetap bermain gila dengan perempuan lain.
Kembali ke masa lalu. Dami yang dituduh menjatuhkan adik bayinya ke lantai. Ia sudah menjelaskan kalau itu adalah perbuatan Arata—salah satu adik tirinya yang ia curigai menjatuhkan adik bayi mereka. Arata dan Dami memiliki jarak usia dua tahun saja. Saat itu Arata masih duduk di bangku tiga SMP.
Plak!
Refleks, Dami memegangi pipinya lalu mendengkus marah. Walau tamparan itu telah diterimanya sejak beberapa tahun yang lalu, tapi rasa sakitnya masih tersisa di hati. Sangat sakit. Dami tidak akan melupakan seumur hidupnya.
Setelah apa yang dilakukan papanya ke Dami selama ini. Sekarang... tahu-tahu datang kemari dan sok peduli padanya? Ha! Apa papanya tidak ingat apa yang dilakukannya kepada Dami sejak dulu? Dami berusaha menjelaskan bahwa bukan ia yang membuat adik bayinya jatuh. Tapi, yang diterima Dami adalah sebuah tamparan di pipi.
Kalau papanya saja tidak percaya padanya dari dulu. Apalagi sekarang? Atau, papanya sedang berbasa-basi padahal papanya percaya bahwa Dami-lah yang membunuh Nirmala?
Jika Dami memiliki keinginan membunuh perempuan itu, ia sudah melakukannya sejak dulu. Tidak perlu menyekap Nirmala selama itu. Dami hanya perlu sedikit waktu membunuh perempuan itu agar tidak terlalu merepotkannya!
***
Pembunuh Nirmala telah ditemukan!
Setelah penemuan mayat Nirmala menggemparkan satu Indonesia. Dalang di balik pembunuhan Nirmala tidak kalah mengejutkannya. Tidak disangka, tidak pernah diduga siapa pun sebelumnya. Sekali pun itu keluarganya sendiri.
Dalang itu.... Karen. Manajer Nirmala sendiri. Orang yang sudah menemani Nirmala sejak masih merintis dari awal hingga anak mereka tumbuh sebagai selebriti paling populer dan kaya raya walau usianya masih sangat muda.
Bahkan, usia Nirmala belum genap dua puluh lima tahun.
Sebelum diketahui bahwa tersangka pembunuhan Nirmala adalah Karen. Orang-orang justru menuduh Alenta sebagai dalang. Diduga karena motif cemburu. Nirmala jauh lebih sukses dan populer. Penggemarnya ada di mana-mana. Bisa saja Alenta tidak terima, kan?
Itu kata salah satu penggemar Nirmala di media sosial.
Namun, nyatanya apa? Si pembunuh malah dari orang terdekat sang korban.
Tiara akan tertawa hingga terbahak melihat para penggemar Nirmala dan netizen akan menahan malu karena telah menuduh Alenta sebegitunya. Dampak yang mereka lakukan membuat Alenta kehilangan beberapa proyeknya. Salah satunya: debut di sebuah film. Alenta ditendang begitu saja setelah kasus hilangnya Nirmala banyak diperbincangkan orang-orang.
Berita di TV menyebutkan motif Karen. Kenapa Karen tega membunuh artisnya sendiri. Padahal yang diketahui semua orang, Nirmala dan Karen sangat dekat. Sudah seperti saudara kandung.
"Karen sudah merencanakan pembunuhan pada Nirmala sejak setahun yang lalu."
Keempat anggota Missing You, Alenta dan Tiara berada di satu ruangan yang sama. Dami, Raka, Alenta serta manajernya berada di atas sofa. Adam duduk di lantai sambil melipat kakinya. Sementara Abra, lelaki paling kalem itu berdiri di samping sofa sembari meletakkan sebelah tangannya ke pinggung sofa.
Dengan tenang, mereka semua menonton berita di TV.
"Pelaku sengaja mengganti isi pil diet yang dikonsumsi korban. Setelah diperiksa lagi isi dari pil-nya, ditemukan adanya amfetamin yang dicampur glucosa. Amfetamin memberikan efek insomnia, gelisah, bahkan si korban akan mengalami halusinasi."
"Dari keterangan dari seorang psikiater yang menangani Nirmala. Nirmala mengeluh mengalami insomnia dan gelisah. Puncaknya, Nirmala berhalusinasi bahwa Nirmala sedang diikuti seseorang."
Seorang anggota kepolisian menjelaskan di depan banyak wartawan. Mulai dari mengganti isi pil diet, membayar orang untuk menghabisi nyawa Nirmala tapi gagal. Dan, puncaknya, Nirmala disekap, lalu nyawanya dihabisi oleh Karen sendiri. Polisi juga menyebutkan apa motif Karen melalukannya. Yaitu kesal karena Nirmala telah banyak bersikap kurang ajar padanya. Karen menjelaskan bahwa sikap Nirmala selama ini sangat berbeda dengan apa yang ditampilkan di depan layar dan di depan penggemar.
"Woah," seru Raka, lantas menggelengkan kepala.
Raka yakin tidak akan ada yang menduga. Kalau pelaku pembunuhan Nirmala adalah menejernya sendiri.
"Kayak nonton film yang ada plot twist, ya?" tanya Raka kepada teman-temannya. "Siapa yang tahu kalau yang bunuh Nirmala, itu manajernya sendiri!"
Tiara mengernyitkan dahi. Saat Raka menyebut dalangnya si manajer, Raka malah mengarahkan pandangannya ke Tiara.
"Gue nggak bakal bunuh Alen, kali! Lagi pula, Alen sama Nirmala itu beda!" seru Tiara tidak terima.
"Nggak baik ngomongin orang yang udah meninggal," lerai Abra.
"Temen lo, nih!" Tiara mendelik ke Raka.
Ada fakta baru yang mereka ketahui barusan. Kalau dulunya, Tiara dan Raka berada di sekolah yang sama. Dari gelagat yang ditunjukkan keduanya secara kompak, sih, Raka dan Tiara pasti pernah memiliki hubungan spesial. Misal, mantan gebetan? Atau mantan pacar?
"Gue nggak nuduh lo padahal," kata Raka membela diri. "Lo aja yang sensitif mulu kayak ibu-ibu lagi hamil muda!"
Bugh!
Tiara melenpari Raka dengan bantalan sofa. "Gue belum nikah!"
"Gue juga!" balas Raka, ikut meninggikan intonasi suaranya.
"KENAPA KALIAN NGGAK NIKAH AJA KALAU GITU?!"
Tahu-tahu, di bawah sana, Adam menyahut sebal. Dari tadi kedua manusia itu sangat ribut! Adam sampai pusing mendengarnya!
"Bener juga ya," sambung Abra sambil manggut-manggut.
Beda dari manusia di depannya. Entah kenapa, Fano malah merasa ada yang janggal pada kasus pembunuhan Nirmala. Tapi, Fano belum menemukan jawabannya.
"Gimana perasaan lo setelah pembunuh Nirmala yang sebenernya udah ketangkap?" tanya Tiara pada Alenta yang duduk di sebelahnya.
Alenta menarik napas sejenak. Kedua bahunya terangkat. "Gue nggak tahu."
Sontak, para lelaki menatap ke arah Alenta. Pertanyaan Adam mewakili teman-temannya. "Kenapa? Kan, dengan begini, Mbak Alenta sama Bang Dami nggak bakalan dituduh lagi sama penggemarnya Nirmala."
Dami dan Fano secara kompak memerhatikan Alenta dari tempat masing-masing.
Alenta menarik napas lagi. "Kayaknya cuma perasaan gue aja. Ya, mungkin gitu." Alenta mengakhiri topik obrolan mereka.