Sejumlah orang dipanggil untuk dimintai keterangan oleh polisi. Dalam daftar terdapat nama Dami dan Alenta. Ha! Keterangan apa memangnya? Bukannya mereka sedang mempersempit daftar tersangka pembunuhan Nirmala?
Baik Dami mau pun Alenta menjawab santai dan tenang. Keduanya menjawab sesuai kesaksian mereka. Tanpa ditambahi atau dikurangi. Seperti yang semua orang tahu. Alenta dianggap sebagai dalang utama Nirmala menghilang. Bahkan Alenta juga pernah dipanggil ke kantor polisi. Namun, karena tidak ada bukti bahwa Alenta-lah yang menculik Nirmala, Alenta dibiarkan pulang.
"Saya dengar, Anda batal membintangi film yang sama dengan saudari Nirmala?" tanya petugas menginterogasi Alenta.
"Iya." Alenta menganggukkan kepala.
"Saya dengar juga, proyek lainnya juga dibatalkan. Pasti Anda tidak punya kegiatan, kan? Selama tidak memiliki jadwal, apa yang Anda lakukan?" tanya petugas lagi.
"Di rumah," jawab Alenta tenang.
"Tidak pernah pergi ke mana pun?"
Alenta sedikit mengangkat dagu. Kedua mata mereka saling beradu. Alenta tahu, ia sedang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan Nirmala.
"Saya pergi ke makam teman saya. Ah, ya, saya juga pergi ke pantai beberapa hari yang lalu."
Petugas bertanya, "Ke pantai? Untuk apa?"
Dalam hati Alenta tertawa sinis. "Untuk apa?" gumam perempuan itu dengan nada mengejek. "Jelas untuk menenangkan diri. Memangnya kalau Bapak ada di posisi saya, Bapak didepak dari pekerjaan, apa yang akan Bapak lakukan selain ingin menenangkan diri? Apa pergi ke pantai patut untuk dicurigai?"
Petugas itu diam sejenak. Walau Alenta tampan tenang dan santai, tapi kata-kata yang keluar dari mulut perempuan itu selalu nyelekit. Alenta juga tenang, sama sekali tidak gugup.
"Anda pergi ke makam siapa?" Si Petugas bertanya lagi. Kesepuluh jarinya berada di atas keyboard laptop bersiap mengetik jawaban Alenta.
"Fano.... teman saya," gumam Alenta sedih.
"Ke pantai?"
"Dami."
Jawaban Alenta menarik perhatian si petugas. Lelaki itu menarik tangannya dari keyboard laptop lalu menatap Alenta penuh selidik.
"Kenapa? Apa ada yang aneh pergi ke pantai bersama seorang teman?" Alenta bertanya balik.
"Setelah dari pantai. Anda pergi ke mana?"
"Ke rumahnya Raka. Teman satu band Dami," jawab Alenta.
"Apa ada orang yang bisa memastikan Anda sungguh di rumah saja?" tanya petugas sambil mengetik jawaban Alenta sebelumnya.
"Banyak." Kepala Alenta terangguk sangat yakin. "Di rumah ada Kakak ipar sama Bibi di rumah. Ah, ya, Bapak juga bisa tanya ke bodyguard saya atau manajer saya. Karena selama saya tidak memiliki kegiatan, mereka berusaha menghibur saya di rumah."
"Hmm..." Petugas mengangguk-angguk sambil terus mengetik.
Pintu ruangan terbuka. Seorang petugas lebih muda masuk ke dalam lantas mendekati rekannya. Petugas muda itu menundukkan punggung kemudian berbisik ke telinga rekannya.
"Apa?" tanyanya agak terkejut.
"Iya, Pak," jawab si petugas muda.
Petugas yang telah menginterogasi Alenta tampak mengerutkan dahinya. Alenta menatap lelaki itu sejenak kemudian membuang pandangannya ke tempat yang lain. Alenta yakin, mereka pasti menemukan sesuatu tentang kasus Nirmala.
***
Dami baru saja sampai ke gedung apartemennya. Di luar, tepatnya di depan pintu unitnya berdiri seorang lelaki tua. Dami mendengkus. Dalam hati ia menggerutu, untuk apa lelaki tua itu datang kemari?
"Minggir." Dami mengatakannya sangat dingin.
Sontak, si lelaki tua itu berjalan ke pinggir dan berdiri di sana sambil menunggu Dami membuka pintu apartemennya.
"Papa mau bicara sama kamu."
Suara berat sang Papa menghentikan langkah Dami. Ia berdiri di tengah-tengah pintu. "Apa?" tanyanya ketus.
Begini sikap Dami pada papanya sejak dulu. Tidak memiki sopan santun sama sekali. Tatapannya selalu tajam, intonasi suaranya terlalu dingin. Padahal yang sedang Dami ajak berbicara itu papanya. Bukan orang lain.
"Nggak ada yang nyuruh Anda masuk!" tegur Dami.
"Jadi, kamu mau semua orang di apartemen ini melihat kita berdebat?" balas papanya marah.
Berdebat? Haha, Dami ingin tertawa sekarang! Mana pernah mereka berdebat, sih? Yang benar adalah bertengkar! Bukan berdebat!
Dami kekeuh membiarkan papanya di luar daripada harua mengajaknya masuk ke dalam apartemen. Lagipula, sejak kapan mereka menjadi dekat sampai papanya ingin masuk ke dalam apartemennya? Jangan kira Dami akan memgiakannya. Karena, Dami tidak sudi lantai apartemennya diinjak oleh lelaki pendosa seperti orang di depannya ini!
"Papa kemari bukan mau berdebat."
"Bertengkar." Dami menyela, kemudian mengkoreksinya dengan cepat. "Kita nggak pernah berdebat. Tapi bertengkar. Selama ini Anda sudah membuang saya. Kenapa sekarang datang seolah Anda kenal saya?"
"Dam! Jangan kurang ajar sama Papa!" sentak papanya.
"Haha!" Dami tahu-tahu tertawa. Suara tawanya sangat keras. "Saya kurang ajar juga belajar dari seseorang."
"Siapa?"
"Anda," jawab Dami sambil menunjuk ke papanya.
Jika benci ada levelnya, maka kebencian Dami akan berada di peringkat paling atas. Ah, tidak, tapi di atasnya lagi karena kebenciannya pada sang Papa sudah tidak terbendung! Papanya itu pembunuh! Pembunuh mamanya!
"Lebih baik Anda segera pergi dari sini. Saya sudah bilang, tidak ada yang mengharapkan kedatangan Anda kemari," tegas Dami.
Papanya mulai geram! Anak ini memang kurang ajar!
Ia datang kemari bukan untuk mengajak Dami berdebat, apalagi bertengkar seperti kata anak sulungnya. Justru ia datang kemari karena khawatir kepada Dami. Ia sudah melihat berita di TV dan media online mengenai kasus pembunuhan Nirmala yang malah menyeret nama Dami. Bocah itu memang keras kepala dan susah diatur. Tapi, ia yakin bahwa Dami bukan pelakunya.
"Papa nggak mau basa-basi." Lelaki tua itu menarik napas lebih dulu. Kemudian, ia melanjutkan, "Jujur sama Papa, Dam. Kamu bukan pelaku pembunuhan Nirmala, kan?"
Dami tersenyum sinis. Sudah ia tebak kenapa papanya datang kemari. Ternyata, lelaki tua itu ingin menanyakan hal ini. Dami belum lupa, kalau Papa dan kedua orang tua Nirmala berteman sejak dulu. Pasti papanya mau marah lantas menuduhknya sebagai pembunuh Nirmala.
"Kalau pun saya membunuh orang, jelas bukan Nirmala target saya." Dami menatap papanya tajam dan dingin. "Tapi.... Anda. Ya, Anda. Orang yang sudah membunuh istrinya sendiri lalu membangun keluarga lagi, haha!"
"Dam!" sentak papanya lalu mengangkat tangan hendak menampar Dami.
"Apa? Pukul aja!" teriak Dami.
Seketika, kesadaran lelaki itu kembali. Ia menurunkan tangannya mengurungkan niat untuk menampar Dami.
Dami selalu menyebutnya sebagai pembunuh mamanya! Demi Tuhan, papanya sama sekali tidak membunuh mamanya Dami atau siapa pun itu!
"Sampai kapan kamu mau nyebut Papa sebagai pembunuh Mama kamu? Papa bukan pembunuh, Dam! Mukul Mama kamu saat masih hidup aja nggak pernah!"
Kepala Dami terangguk. "Iya, benar. Anda memang tidak pernah membunuhnya dengan kedua tangan Anda. Tapi, Anda membunuh Mama saya dengan cara paling kejam! Karena sifat buruk Anda, karena Anda main gila bersama perempuan lain, itu sama seperti membunuh Mama saya perlahan. Dan itu cara paling mengerikan!"
Papanya terdiam, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kata-kata Dami barusan berhasil menohok dadanya. Ia teringat bahwa dulu, ia secara terang-terangan berselingkuh di depan mendiang mamanya Dami. Ia merasa pernikahan mereka hanya percuma. Dipertahkan, pun, cuma menyakiti perasaan mereka saja. Ia tidak pernah mencintai mamanya Dami. Ia tidak bisa membalas perasaan cinta wanita itu. Lalu, untuk apa dipertahankan? Ia tahu. Jika mereka terlalu bersama, maka akan lebih lama mereka saling menyakiti diri.
"Sampai kapan pun, saya akan membenci Anda. Apa pun yang akan Anda lakukan untuk saya, itu semua tidak akan berarti di mata saya," tambah Dami sebelum menutup pintu apartemennya.