Di tangannya sekarang ada gambar sketsa lelaki yang membunuh Fano. Walau hanya sekadar gambar badannya saja, setidaknya Dami tahu manusia seperti apa yang tega membunuh manusia lain tanpa alasan jelas.
Dami mengira pembunuhan itu dilakukan musuh Fano. Ia pun bertanya ke Fano. Apa mempunyai musuh selama ini? Jawaban Fano iya. Kemudian lelaki pecinta warna merah muda itu menjawab lagi. "Itu lo." Sambil menunjuk ke Dami.
Dami mendengkus dan mengibaskan tangan ke udari. Dari semasa menjadi manusia sampai menjadi hantu, Fano tidak ada bedanya. Mana pernah bisa serius. Dami sedang mencari tahu siapa yang telah membunuh Fano. Tapi jawaban lelaki itu malah menjengkelkan.
Lho, apa salah jawaban Fano? Karena selain Dami, Fano tidak merasa memiliki seorang musuh. Selama ini ia hidup dengan baik. Bersosialisasi dengan banyak orang sangat baik. Kalau pun seseorang membunuhnya karena dendam, itu karena masalah apa? Bertengkar dengan orang saja tidak pernah!
"Ck! Sana lo jauh-jauh!" usir Dami menggosok kulit kepalanya.
Gerak-gerik aneh Dami barusan diketahui Raka. Cuma Raka yang begini memang. Padahal ia ketakutan setelah mendengar cerita hantunya Fano. Tapi, bisa-bisanya Raka malah mengungsi ke apartemen Dami! Saat ditanya bagaimana Winona dan Areas kalau ditinggal? Raka bilang abangnya sudah pulang sejak tadi pagi. Lagi pula, di rumah ada Bibi, kok. Lagian, Winona sama Areas bukan anak kecil lagi. Bahkan Areas lebih berani ketimbang Raka! Baru mendengar cerita hantu Fano saja sudah ketar-ketir. Bagaimana kalau melihat wujudnya secara langsung?!
Hih! Amit-amit!
"Heh!" Raka beringsut di sebelah Dami. Lelaki itu mengangkat kedua kakinya ke atas sofa sambil menengok ke kanan lalu ke kiri. "Lo ngomong sama siapa? Hantunya Fano, ya? Dia ada di sini?"
"Eh! Kok, dia tahu gue?" sambung Fano menunjuk dirinya sendiri.
"Iya! Dia tahu lo. Dan lo, iya, Fano ada di sebelah gue sekarang!" jawab Dami geram.
Menghadapi Raka saja sudah sering membuatnya pusing. Apalagi ditambah Fano!
"Lho, kok, bisa?" tanya Fano penasaran. "Lo cerita sama Raka ya? Dam?"
Dami memijat kepalanya. Kedua matanya memejam sela dua detik. Raka terus menempelinya ke mana-mana. Mereka terlalu lengket jika dilihat orang lain. Jangan sampai besok ada gosip yang beredar kalau mereka berdua saling menyukai. Atau yang paling parah, dibilang pacaran! Astaga! Tidak!
Karena Raka sudah tahu mengenai hantu Fano, Dami tidak perlu menahan diri lagi saat akan bicara atau mengusir Fano seperti tadi. Dami tahu mulut Raka tidak akan bocor ke mana-mana. Raka cukup bisa dipercaya, kok. Walau modelannya tidak terlalu meyakinkan.
"Dam," panggil Raka. Kedua matanya memerhatikan kertas sketsa di tangan Dami. "Gambar siapa tuh? Lo sendiri yang gambar?"
Raka menarik kertas sketsa itu dari tangan Dami. Sepasang mata Raka mengerjap. Menggerakkan kertas di tangan ke kanan ke kiri lalu pandangannya fokus ke punggung tangan lelaki dalam sketsa.
"Ini tatto, kan?" tanya Raka menunjuk ke kertas.
"Iya," jawab Dami. "Itu sketsa orang yang bunuh Fano."
Raka menurunkan kertasnya dan terbengong. "Fano udah inget orang yang bunuh dia?!"
"Cuma posturnya." Dami menggeleng lesu. "Fano cuma inget postur tubuh sama itu...," Pandangan Dami menunjuk ke tatto yang ada di punggung tangan si pembunuh dalam sketsa.
"Hmm...." Raka bergumam panjang. "Kayaknya gue pernah lihat, deh."
Dami menyambar kertas sketsanya hingga Raka terkejut. "Ingetan lo aja nggak pernah meyakinkan." Dami mencibir Raka. "Umur sendiri aja suka lupa. Sekarang lo ngaku pernah lihat?"
Bibir Raka mengerucut. "Eh, Dam! Gue bukan lupa sama umur. Tapi karena wajah gue terlalu imut, kadang gue suka lupa kalau umur gue udah tiga puluhan!"
Dami menanggapi ocehan Raka dengan tawa sinis. "Percaya sama lo sama aja sesat! Udah sana lo pulang! Keberadaan lo di sini bikin tambah sempit apartemen gue!"
"Heh!" Raka beranjak dari sofa dan meletakkan kedua tangan ke pinggang. "Apartemen segini besarnya lo bilang sempit? Otak lo, tuh, yang sempit!" maki Raka tambah kesal karena ditinggal Dami ke kamar.
Fano yang melihat Raka dan Dami saling adu mulut, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kalau dipikir, menjadi Raka harus ekstra sabar memiliki teman seperti Dami. Kadang Dami suka tidak tahu diri. Sudah baik ditemani Raka biarpun Dami sinis, ketus, dan cuek, Raka tetap setia, lho. Dami aja kurang bersyukur.
Mencari teman yang baik dan setia, tuh, susah di zaman sekarang. Makanya jangan pernah disia-siakan.
***
Ditemukannya mayat seorang perempuan di pembuangan tempat sampah!
Seketika semua orang menjadi gempar! Apalagi setelah tahu identitas si korban!
Nirmala Lencana. Aktris populer yang dikabarkan hilang satu bulan yang lalu, kini malah ditemukan sudah tak bernyawa. Seorang pekerja pengangkut sampah menemukan mayat Nirmala pertama kalinya di dalam tong sampah. Mayat perempuan itu sudah kaku. Terdapat banyak luka di sepanjang tubuhnya. Segera, lelaki itu menelpon polisi untuk melaporkannya.
"Gila!" pekik Tiara menggeleng tidak percaya.
Tiara menaikkan volume TV yang menyala. Ia menyambar setoples keripik dari atas meja sembari menonton acara berita yang menyiarkan pembunuhan Nirmala Lencana. Hampir semua stasiun TV dan sosial media dikuasai oleh berita pembunuhan perempuan itu. Tiara menaikkan kedua kakinya ke sofa lalu melipatnya. Merasa kurang puas, Tiara menambah volume-nya lagi.
Sudah lewat satu bulan Nirmala dinyatakan menghilang. Setelah ada drama beberapa pihak menuduh Alenta dan Dami—dalang di balik menghilangnya Nirmala, kini perempuan itu telah ditemukan. Walaupun sudah dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
Tiara menatap layar TV-nya prihatin. Ia melihat keluarga Nirmala, termasuk Ibu perempuan itu menangis meraung-raung sambil digandeng adik perempuan Nirmala. Tiara merasa tidak tega. Membayangkan betapa hancurnya perasaan seorang Ibu saat anaknya dinyatakan meninggal. Apalagi karena dibunuh.
"Kini, kasus hilangnya Nirmala telah berubah menjadi kasus pembunuhan. Polisi akan mengusut kasus ini hingga tuntas...." Pembaca berita perempuan itu menutup acaranya.
"Ya, harus!" seru Tiara geram sendiri. "Gue emang sempat kesel. Nirmala yang hilang, Alenta yang dituduh! Tapi... kalau kayak gini, gue ikut nggak tega. Kasian banget si Nirmala. Mana masih muda..."
Siapa yang mengira Nirmala akan ditemukan dalam keadaan mengenaskan? Dibunuh, jasadnya dibuang ke tempat sampah. Tiara bergidik. Menggosok kedua lengannya sendiri. Membayangkan betapa tersiksanya Nirmala sebelum meninggal, pasti sangat menyaksikan. Di saat semua orang mencari tahu keberadaan perempuan itu, justru Nirmala mengalami hal mengerikan.
Kira-kira siapa yang membunuh Nirmala, ya? Beberapa orang berspekulasi kalau Nirmala kabur untuk liburan secara diam-diam. Yang Tiara dengar, Nirmala dipaksa bekerja oleh keluarga dari semenjak zaman perempuan itu masih remaja.
Tiara menarik napas lalu mengembuskannya. Daripada kesal, sekarang Tiara malah prihatin. Bisa jadi sikap Nirmala yang semena-mena selama ini karena perempuan itu kurang perhatian. Pasti sangat stress jika selalu dituntut bekerja oleh keluarganya. Dari zaman Nirmala muda, Nirmala sudah bekerja keras. Di saat anak-anak seusianya bisa pergi bersama teman-teman ke sana sini, tidak dengan Nirmala.
Sekarang jenazah Nirmala sedang diotopsi. Tinggal menunggu hasilnya saja. Tiara berdoa, semoga kasus Nirmala segera diusut sampai tuntas. Sampai pelaku ditemukan dan diadili.