"Ada apaan sih?" tanya Winona sambil menjinjitkan kedua kakinya.
Ia dan Areas baru sampai ke sekolah. Padahal sepasang anak kembar itu datang sepuluh menit lebih awal dari biasanya, karena, Abang mereka harus pergi ke kantor pagi-pagi sekali. Minta diantar Raka? Harus gelud dulu. Adu mulut dulu karena Raka akan bangun siang saat tidak ada jadwal bersama Missing You.
Areas menggeleng sebagai jawaban. Winona mengekor di belakang saudara kembarnya sambil bertanya. Ada apa? Kenapa? Karena selain beberapa murid yang berseragam sepertinya, juga ada banyak polisi dan orang-orang mengenakan pakaian penutup warna putih. Salah satu orang yang berpakaian putih berjalan mondar-mandir lalu memotret sesuatu. Sedangkan beberapa orang yang berpakaian sama duduk berjongkok di bawah.
Tiba-tiba seorang petugas berpakaian polisi menghadang langkah sepasang anak kembar itu dan murid lainnya yang hendak mendekat ke garis Police Line. Winona sontak melangkah mundur sambil memegangi lengan Areas. Winona tersentak, nyaris mengumpat karena tidak sengaja kakinya diinjak Areas.
"Sakit, b**o! Kaki lo gede!" maki Winona memukuli punggung Areas penuh emosi.
"Gue nggak sengaja!" balas Areas membela dirinya.
Penjagaan sangat ketat. Winona masih penasaran apa yang terjadi di bawah sana. Gadis berusia tujuh belas tahun itu menengok ke kanan ke kiri. Ia menjawil salah satu murid di sebelahnya lalu bertanya, "Ada apa rame-rame emang?"
Murid perempuan yang lebih pendek dari Winona tersebut menjawab, "Pak Nano meninggal karena dibunuh." Suara murid perempuan itu sangat pelan. Winona sampai harus membungkukkan punggung dan mendekatkan telinganya agar bisa mendengar.
"Hah? Dibunuh?!" teriak Winona tanpa sadar.
Semua orang sontak menatap Winona termasuk saudara kembarnya—Areas. Padahal teman mereka tadi sudah memberi isyarat agar tidak membuat keributan. Tapi karena pada dasarnya Winona suka membuat keributan di mana-mana, ya, jelas tidak akan menurut semudah itu. Tetap saja teriak berlebihan sampai semua orang menatap ke arah Winona dengan tatapan sebal.
Areas membungkam bibir Winona. Meminta agar Winona diam dan berhenti membuat keributan.
"Kok, bisa?" Winona masih membungkuk dan berbisik ke temannya.
"Gue nggak tahu pastinya kenapa Pak Nano dibunuh. Yang nemuin si Angel sama Agni semalam," jelasnya.
Winona mengerutkan dahi. "Angel yang songong itu?"
Teman Winona mengangkat kedua bahunya. "Iya mungkin," balasnya. "Pokoknya Angel sama Agni."
Areas tahu-tahu menyahut. "Lo bilang, Angel sama Agni yang nemuin mayatnya Pak Nano semalam. Ngapain mereka malam-malam ke sekolah?"
Murid perempuan itu bersedekap. "Denger-denger sih, mau uji nyali."
Winona langsung terbahak. "Haha! Uji nyali? Songong banget! Mampus! Malah nemu mayat, biar kapok mereka!"
Areas mendelik lantas membungkam mulut Winona sekali lagi. "Lo dikasih tahu bandel banget! Harus pake bahasa apa lagi supaya lo paham, sih?!"
Cowok remaja itu lantas menyeret saudara kembarnya meninggalkan kerumunan. Terlalu lama membiarkan Winona di sana malah bahaya. Bisa-bisa mereka kena omel petugas-petugas tadi karena sudah membuat kericuhan saat penyelidikan berlangsung.
"Areas! Tangan lo bau!" jerit Winona, meronta-ronta saat Areas mendekap bahunya terlalu kuat.
***
Karena cerita Dami semalam, Raka harus menderita insomnia. Raka mengubah posisi tidurnya ke sisi kanan lalu ke kiri sembari memandangi sekitar rumah. Ya, Raka sungguhan tidur bersama si kembar di ruang tengah beralaskan sebuah karpet bulu. Itu pun, Raka sengaja tidur di tengah-tengah adik kembarnya. Areas ada di kiri, dan Winona ada di kanan. Raka sungguh menderita! Ia jadi terbayang seperti apa wujud hantu Fano.
"Apa sih, lo, Bang!" protes Abra menyikut pipi Raka.
"Tahu, nih! Dateng-dateng aneh banget! Lo kenapa, Bang? Meriang? Minum obat sana. Jangan lupa makan dulu!" sambung Adam ikut heran.
Kalau saja Dami tidak mengancamnya agar tidak menceritakannya kepada siapa pun. Raka pasti akan menceritakannya pada Adam dan Abra, agar ia tidak ketakutan sendirian. Sekarang Raka malah suka parno sendiri. Ia jadi sering membayangkan di mana posisi Fano saat berada di sekitar Dami. Di kanan atau di kiri? Atau..., perlahan, Raka mengangkat kepalanya dan menatap ke langit-langit studio. Raka bergidik, lalu memeluk dirinya sendiri. Bibirnya komat-kamit tidak jelas.
"Amit-amit, ya ampun!" Raka menggosok belakang lehernya.
Adam memiringkan badan. Sebelah tangannya ia letakkan ke kening Raka. "Nggak panas kok, Bang," ujar lelaki itu ke Abra.
"Mungkin Bang Raka terlalu stress ngurusin Winona sama Areas dua hari ini. Kan, kemaren-kemaren Bang Damar lagi luar kota," tambah Abra, mendapat anggukan dari Adam.
"Heh, heh," seru Raka menepuk bahu Abra dan Adam secara bergantian. "Lo berdua pernah lihat hantu, nggak, sih?"
"Hantu?" gumam Abra santai. Lelaki itu menjejalkan sebelah tangannya ke saku celana. Ia meneguk kopi di gelasnya sebelum menjawab. "Hmm..., kayaknya pernah. Tapi itu udah lama. Waktu gue masih kecil."
Raka menengok ke Adam. "Lo, gimana?"
Adam menggaruk kepalanya. "Sering," gumam lelaki itu agak cengengesan.
Raka memukul bahu Adam, kesal. "Gue lagi serius!"
"Gue juga serius! Malah gue lihat hantu di rumah lo terakhir kali!" seru Adam ikut kesal.
"Hah?" Raka terbengong.
Abra masih santai, seolah cerita Adam sama sekali tidak menarik untuk disimak. Abra meletakkan gelas kopinya lalu duduk di samping Raka—tengah membeliakkan mulut dan sepasang matanya kompak.
"Mingkem, Bang." Abra membantu Raka mengatupkan bibir.
Raka tambah parno sekarang. "Lo jangan ngadi-ngadi, ya! Sembarangan! Sejak kapan rumah gue ada hantunya?!" seru Raka sambil menunjuk Adam menggebu-gebu.
Adam sampai dilempari botol bekas air mineral oleh Raka. Adam pun menjelaskan, "Dari dulu gue sering lihat begituan, Bang. Tapi ya nggak setiap hari. Cuma sesekali, kayak nggak sengaja, gitu."
"Lo lagi bercanda atau nggak, Dam?" tanya Abra, agaknya lelaki itu antara yakin dan tidak.
"Gue kelihatan lagi bohong sama lo berdua?" tanya Adam menunjuk hidungnya sendiri.
"Iya," jawab Abra, datar.
Adam mendecakkan lidah. Ia kemudian menggulung lengan kemejanya, bersiap cerita ke dua temannya. "Sekilas, gue lihat ada sosok cowok yang ngikutin Alenta dari pertama masuk rumah lo, Bang."
"Hah?" seru Raka. Namun kali ini tidak bengong. Seketika Raka teringat kata-kata Dami. Kalau hantu lelaki itu adalah Fano. Teman baik Alenta. Jangan-jangan yang dilihat Adam itu... Fano?
"Lo lihatnya lama, nggak?" tanya Abra lagi.
"Kan, udah gue bilang lihat sekilas doang. Ya bentaran. Habis itu ya nggak lihat lagi," jawab Adam.
"Lo nggak takut? Kemaren, lo kelihatannya santai banget. Malah bercanda mulu sama kita, sama si kembar juga! Bohong ya lo?" tuduh Raka menunjuk Adam.
Adam tampak santai. Ia meneguk sisa air minumnya di botol. "Selama hantunya masih kelihatan normal, nggak yang wajah rata atau yang serem gitu, gue biasa aja sih. Apalagi ini bukan pertama kalinya gue lihat hantu."
Abra menepuk bahu Raka tiba-tiba. Lelaki itu tersentak dan nyaris memukul hidung Abra karena terlalu terkejut. "Gue kaget, anjing! Udah tahu gue lagi parno sekarang!" maki Raka sambil mengelus dadaanya.
Abra jadi serbasalah. Padahal ia berniat menenangkan Raka. Tapi, ia hampir kena tampar malahan.
"Tumben lo nanya beginian, Bang? Biasanya lo lebih suka ngajak kita gibah," celetuk Adam.
"Lah, sekarang kita juga lagi gibah, Dam." Abra menambahkan. Nada suaranya terdengar santai. Seolah yang dikatakan adalah hal biasa. "Gibahin hantu, maksudnya! Haha," tawa Abra.
"Kurang waras ya lo berdua," maki Raka tambah kesal.
"Kita belajar dari lo, kan." Adam menyahut, lantas mengajak Abrar high-five bersama lantas terbahak.
***
Dami berada di dalam mobilnya. Di samping kursi kemudinya ada sosok Fano. Tengah menatap kosong ke sebuah jalanan yang sepi.
"Di sana tempat gue ditusuk si pembunuh." Satu jari Fano menunjuk ke arah jalan tersebut.
Dami memerhatikan ke sekitar. Tempat ini jauh dari keramaian. Hanya ada beberapa pengendara mobil yang lewat. Dan di tempat kejadian Fano ditusuk seseorang hingga meninggal—ada di ujung jalan dan sepi. Akan sangat jarang orang lewat di sana.
Keduanya turun dari mobil. Dami mendekat ke tempat kejadian perkara. Walau jalanan mulai normal kembali, Dami perlu tahu di mana tempat Fano dibunuh. Siapa tahu ia menemukan petunjuk.
"Lo inget wajah orang itu?" tanya Dami.
Fano diam dan berpikir. "Gue cuma inget postur tubuhnya doang, Dam. Kalau wajahnya, gue nggak inget jelas kayak gimana."
Akan sangat sulit jika Fano tidak mengingat rupa si pembunuh. Kalau cuma berdasarkan postur tubuh, itu tidak akan cukup.
"Lagian, mana gue tahu kalau orang itu mau bunuh gue." Fano berceloteh. Ia duduk berjongkok di pinggir jalan. "Tahu-tahu aja gue ditusuk. Gue belum siap, dong. Ditambah lagi badan orang itu lebih gede dari gue!"
"Gimana dashcam di mobil lo? Mobil orang itu... pasti ada di depan mobil lo, kan?" Dami seolah sedang menerawang pada kejadian naas yang menimpa Fano. "Kalau mobil orang itu ada di depan sesuai cerita lo. Pasti waktu dia nyamperin lo, orang itu ketangkep sama dashcam mobil lo, dong?"
Fano menunduk. Kelima jarinya saling mengepal. "Rekaman dashcam-nya hilang. Bisa jadi setelah bunuh gue, orang itu ambil rekamannya."
Pupus sudah harapan Dami. Mereka bisa saja menemukan siapa pembunuh itu sebenarnya. Tapi, sangat sulit mendapatkan bukti. Fano pun tidak ingat rupa si pembunuh. Dami membalikkan badan, berpikir keras bagaimana caranya agar ia mendapat satu bukti saja.
"Lo masih inget posturnya kayak gimana?" tanya Dami setelah lama diam.
Fano mengangguk yakin.
"Oke." Dami menjentikkan jarinya. "Kita pergi dari sini. Gue tahu ke mana kita harus cari petunjuk."
Dami dan Fano kembali ke mobil. Fano bertanya-tanya ke mana Dami akan membawanya pergi ke mana? Fano mengatupkan bibirnya. Lebih baik Fano diam dan menurut saja daripada mereka nanti bertengkar seperti waktu itu.